Liburan Berunjung Dapat Jodoh

Liburan Berunjung Dapat Jodoh

Chapter 1

"Ah, Ray, apa kamu tidak takut kita akan ketahuan jika melakukannya di kantor mu, ah... Pelan-pelan, sayang," lirih seorang wanita.

Di sebuah perusahaan besar, tepatnya di ruang manajer, ada dua orang pasangan yang sedang melakukan hubungan kotor diam-diam. Di balik itu, ada seorang wanita yang sangat gembira karena ia sudah menyelesaikan pekerjaannya di luar kota dan berencana untuk kembali untuk mengejutkan pacarnya yang sekarang sedang bekerja di perusahaan yang sama dengannya.

Tepat saat ia sampai di depan pintu ruangan kerja milik pacarnya, ia mendengar dari balik pintu suara pacarnya dan suara sahabatnya yang sedang melakukan sesuatu yang ia curigai. Dengan hati yang curiga, ia mencoba menenangkan hatinya dan sekali helaan nafas, ia membuka pintu ruangan kerja milik pacarnya yang tidak terkunci itu dengan kuat.

Terlihat pacarnya dan sahabatnya sedang berciuman dengan pakaian yang sudah berantakan. Mereka yang mendengar ada yang membuka pintu kerja miliknya. Pria itu langsung berteriak marah tanpa mengetahui siapa yang masuk.

"Lancang sekali masuk tanpa izin ku!" teriaknya sambil membalikan tubuhnya dan melihat ke arah pintu masuk. Tubuh kedua orang yang berselingkuh itu langsung menegang dan membatu sejenak; mereka buru-buru merapikan baju dan rambut mereka berdua.

"Sayang, kenapa kamu bisa pulang? Kenapa tidak menghubungi aku?" ucap pria itu gugup; ia pelan-pelan mendekat Tiffany. Tiffany yang baru pulang bertugas dinas dari luar berniat untuk mengejutkan pacarnya itu, tapi malah dia yang dikejutkan oleh perselingkuhan pacar dan sahabatnya sendiri.

"Tania! Ray! Apa yang sedang kalian lakukan?!" teriak Tiffany kepada mereka berdua yang masih salah tingkah karena ketahuan.

"Sayang, sayang, aku mohon jangan marah dulu, aku bisa menjelaskan, aku dan Tania hanya sedang—"

"Sedang apa, sialan! Sedang bermain di belakang ku? Brengsek!" PLAK! Satu tamparan melayang di pipi Ray. Usai dia menampar Ray, Tiffany langsung meninggalkan mereka berdua, menembus kerumunan orang-orang yang sudah berkumpul di depan pintu ruangannya Ray.

"Tiffany?!" teriak Tania merasa bersalah.

"Kalian apa yang kalian lihat, ha! Bubar! Pergi dari sini!" usir Ray kepada seluruh karyawan yang sedari tadi berdiri dan menonton mereka. Tidak banyak juga yang merekam kejadian tersebut. Karena malu, Tania berlari keluar dari ruangan, meninggalkan mereka yang masih merekam dan membicarakannya.

"Aku tidak menyangka, wanita yang berlagak baik di hadapan orang-orang bisa melakukan hal yang kotor, bahkan merebut pacar sahabatnya sendiri," sindir seorang wanita karyawan. Lalu dijawab lagi oleh mereka-mereka yang suka bergosip.

Berita buruk itu tidak berhenti-hentinya menyebar ke seluruh perusahaan. Ray dan Tania bahkan sudah berusaha memperbaiki nama baik mereka di tempat kerja, namun banyak karyawan yang sudah terlanjur jijik dengan perbuatan mereka, selalu menghindar atau menjauh saat mereka ingin mendekati. Tania yang dulunya punya banyak teman, kini tidak ada yang ingin berteman dengannya. Juga Ray, pekerjaannya mulai terancam. Ia dinasehati oleh atasannya atas perlakuannya beberapa hari yang lalu, dan atasan memintanya untuk bisa mengakhiri semua masalah tersebut. Jika masalah tersebut dan karyawan selalu protes untuk menurunkan jabatannya, maka mau tidak mau, Ray akan dipecat.

Dan sampai sekarang, Tiffany tidak masuk kerja, sehingga membuat orang-orang mulai menanyakan keberadaannya.

...----------------...

Di rumah Tiffany, tepatnya di kamarnya, Tiffany yang baru bangun, jam 10.24, dengan mata yang sembab seperti orang yang baru habis menangis, ia bangun dari kasur dan menuju ke kamar mandi dengan tubuh yang lemas. Seluruh kamarnya berantakan dengan banyak sekali robekan foto kenangan bersama Ray dan tisu bekas yang digunakan untuk menyeka air matanya.

Sesampainya di dalam kamar mandi, ia memiliki kaca kecil di atas wastafel tempat cuci muka miliknya. Ia menatap wajahnya dengan malas di depan cermin itu. "Tiffany bodoh! Kenapa kamu menangis hanya karena pria brengsek itu?"

"Tidak, kamu menangis karena kamu bodoh."

"Jika begini terus, aku tidak akan bisa melupakannya."

"Apakah aku harus mengundurkan diri? Jika tidak, aku akan selalu melihat kedua pasangan kotor itu setiap hari."

"Haaaah! Aku baru pulang dari dinas kerja, dan mendapatkan mantan pacar dan sahabatku sendiri berselingkuh. Luar biasa sekali hidupku ini!"

"Sepertinya aku butuh liburan!" "Yaah, benar, pekerjaan yang melelahkan dan hubungan yang berantakan ini harus ku jauhi. Dimana ponselku?" lirih Tiffany.

Setelah mencuci mukanya agar terlihat segar, ia keluar dari kamar mandinya dan mencari ponsel miliknya di atas kasur. Ponsel berwarna biru muda itu sudah ia dapatkan di atas kasurnya. Ia menghilangkan mode jangan ganggu. Pada saat mode hening tersebut dihilangkan, ribuan pesan masuk langsung menghantam ponselnya.

Kebanyakan pesan yang masuk dari Ray, sisanya dari teman-temannya, termasuk Tania. Namun, semua pesan yang banyak itu ia abaikan, ia fokus mencari tiket liburan ke luar negeri.

Saat ia kesulitan memilih tiket di ponselnya, ia beranjak mencari laptop mini miliknya. Sementara ponselnya digunakan untuk menelfon Alfaro, teman kerjanya. Teleponnya pun terhubung ke Alfaro.

Saat itu Alfaro sedang sibuk bekerja dan masih sempat mengangkat telepon dari Tiffany.

"Tiffany? Akhirnya ia menghubungiku," ucap Alfaro, dan langsung mengangkat panggilan dari Tiffany.

Tiffany yang belum menyadari bahwa Alfaro sudah mengangkat teleponnya, ia masih sibuk mencari minuman dingin di dapur dan buru-buru kembali ke kamarnya.

Ia langsung menghidupkan laptop mini di atas meja kerja di dalam kamarnya.

"Halo Tiffany?" panggil Alfaro berkali-kali.

Karena Tiffany tidak menjawabnya, ia khawatir Tiffany sedang melakukan hal yang akan melukai dirinya. Ia pun panik dan terus memanggil Tiffany.

Untung saja, Tiffany cepat menyadari bahwa Alfaro sudah menjawab panggilannya.

"Halo Fero? Maaf? Apa aku mengganggumu?" tanya Tiffany.

"Aaah, syukurlah kamu menjawabku, Tiffany! Kamu sangat membuatku takut! Sekarang kamu di mana? Kamu tidak ingin melakukan percobaan bunuh diri, kan, pada saat kamu tahu Ray selingkuh dengan Tania?"

"Apa! Gak lah gila! Aku tidak sebodoh itu!" ucap Tiffany, merasa kesal saat Alfaro membahas perselingkuhan mantan pacarnya dan sahabatnya kembali.

"Hah, baiklah, sekarang kamu di mana? Dan kapan kamu akan kembali bekerja? Bos sudah menanyakan keberadaan mu hari-hari ini," ujar Alfaro, merasa lega.

"Tidak."

"Apa maksudmu tidak!?"

"Aku tidak bisa bekerja dengan dua orang penghianat yang masih berada di perusahaan, aku akan mengundurkan diri. Aku menghubungimu untuk meminta bantuan, Alfero. Tolong buatkan surat pengunduran diriku dan berikan kepada bos. Selesai itu, aku akan pergi beberapa hari dari kota ini. Aku mohon, Alfero... Kamu adalah satu-satunya sahabat yang masih bisa kupercayai," pinta Tiffany kepada Alfero.

"Apa!? Tidak! Aku tidak ingin kamu keluar dari perusahaan ini hanya karena kesalahan Ray dan Tania! Tiffany, sadarlah, kamu tidak harus menghindar. Ada aku, ada teman-teman yang lain juga yang siap melindungimu," ucap Alfero, mencoba menasehati Tiffany.

"Terima kasih, Alfero, tapi keputusanku sudah bulat. Aku mohon, bantu aku untuk yang terakhir kalinya, aku mohon, Alfero..." bujuk Tiffany lagi.

Saat ini, Tiffany yang masih berbicara dengan Alfero, duduk di kursi kerja di dalam kamarnya, sambil mengutak-atik laptop mininya untuk melihat penjualan tiket pesawat. Alfero terdiam, mencoba berpikir terlebih dahulu sebelum menjawab Tiffany lagi. Sampai Tiffany sendiri yang menyadari Alfero dari lamunannya.

"Alfero! Bagaimana? Kenapa kamu hanya diam? Aku mohon... Bantu aku untuk kali ini, Alfero..." ucap Tiffany lagi.

Dan usaha Tiffany tidak sia-sia, Alfero luluh dengan permohonan Tiffany. Ia akan memikirkan kelanjutannya nanti, yang terpenting sekarang, ia harus menenangkan hati Tiffany.

"Baiklah, Tiffany, aku akan membantumu. Kamu istirahat saja, jika kamu membutuhkan sesuatu, hubungi aku. Jangan pendam perasaanmu sendiri, aku selalu di sampingmu, Tiffany," ucap Alfero, meyakinkan Tiffany.

"Aaah, terima kasih, Alfero. Aku akan mematikan telepon ini sekarang. Sekali lagi, terima kasih, dah..." pungkas Tiffany, langsung mematikan panggilannya.

...----------------...

Dan di tempat kerja, Alfero sedang berpikir keras tentang keinginan Tiffany. Ia benar-benar tidak menginginkan Tiffany keluar, apalagi hanya karena alasan perselingkuhan pacar dan sahabatnya. Tapi Alfero tidak bisa berbuat apa-apa, ia hanya bisa menaruh ponselnya kembali di atas meja kerja dan menghela nafas panjang, sambil menyadarkan tubuhnya di sandaran kursi hitam.

...********BERSAMBUNG********...

Terpopuler

Comments

Mrs.Riozelino Fernandez

Mrs.Riozelino Fernandez

gak usah teriak say...hadapi dengan elegan,tanpa harus putus urat saraf...

2025-02-20

1

Mrs.Riozelino Fernandez

Mrs.Riozelino Fernandez

aaaah....indahnya karma...apa yang kamu tanam itu yang akan kamu tuai...

2025-02-20

1

Tiara Bella

Tiara Bella

aku mampir Thor....

2025-02-25

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!