Kinara tak menyangka jika kedatangannya di acara reuni akan membawa bencana bagi kehidupan selanjutnya. Bertemu dengan pria yang dulunya membuat hidupnya tertekan.
Hingga ia memutuskan untuk pergi dari kehidupan sang pria. Dan kali ini, pertemuan dirinya dan pria masa lalunya membawa duka lara untuk dirinya.
"Aku sudah lama menunggu kehadiranmu! Biarkan malam ini menjadi saksi rasa sakit hatiku padamu Kinara."~ Edgar Regantara
"Kau tak tau bagaimana rasanya jadi aku, Mungkin dengan cara kamu membalaskan dendam padaku! Rasa sakit hatimu lenyap bersamaan dengan luka yang akan aku bawa pergi" ~Kinara Saqeel Ardav
Sanggupkah Kinara melewati semua itu, melewati hal tak terduga dari masa lalunya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mhaya Yanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PMR 35
"Sayang, ayo bangun. Buka matamu , Ra," ujar Edgar yang terus saja menggenggam tangan Kinara. wanita itu masih setia terpejam dengan selang infus yang menempel di punggung tangannya.
Edgar merasakan pergerakan pada tangan yang digenggamnya. Matanya melihat kearah jari jemari milik Kinara yang mulai bereaksi disana. Senyumannya terbit bahkan tanpa sadar air matanya setetes turun ke pipinya.
"Ra, kamu sudah sadar. Buka matamu, Sayang," ungkap Edgar menatap lamat wajah Kinara dengan penuh kecemasan.
Mata itu bergerak pelan, bahkan terbuka sedikit demi sedikit kala Edgar terus saja berbicara.
"Ra, syukurlah. Kamu sudah sadar," Papar Edgar mengecup sekilas dahi Kinara dengan penuh rasa syukur.
Mata Kinara terbuka sempurna kala mendapat sebuah ciuman dadakan dari Edgar. Ia berusaha menyesuaikan cahaya yang masuk kedalam indera penglihatannya setelah beberapa jam tertidur dengan nyaman.
"Ed, aku dimana?" tanya Kinara dengan suara lemahnya, matanya menatap sekitar dan berhenti pada infus yang berada di sebelahnya.
Tanpa Edgar menjawab- pun Kinara tau jika dirinya tengah berada dirumah sakit dengan infus yang tergantung disana.
"Kamu dirumah sakit," sahut Edgar mengelus lembut rambut Kinara.
"Bagaimana keadaannya,Ed?" tanya Kinara to the point. Ia yakin jika Edgar mengerti akan maksutnya.
"Di-a! maaf ,Ra. Anak kita tidak bisa diselamatkan," tukas Edgar menatap nanar wajah Kinara yang sudah terdiam.
Tatapan wanita itu seketika kosong bahkan terlihat jelas disana jika Kinara tengah menetralkan rasa keterkejutannya.
"Ra," panggil Edgar lagi kala wanita itu tak bersuara, pandangannya lurus keatas seperti enggan menatap kearah Edgar yang berada disampingnya.
"Kamu harus ikhlas ya! Jangan bersedih." ungkap Edgar dengan suara lirihnya.
"Mari kita bercerai, Ed." mendengar ucapan Kinara sontak saja mata Edgar membulat.
Bukan itu yang ingin didengar oleh indera pendengarannya. Ia ingin mendengar sesuatu yang bisa menguatkan dirinya setalah apa yang menimpanya bukan malah memperkeruh suasana.
"Ra, kita baru saja terkena musibah. Kenapa kamu berbicara seperti itu," sarkas Edgar dengan penuh ketidakpercayaannya.
Kepalanya menggeleng seakan ia kecewa atas apa yang diucapkan Kinara.
"Untuk apa kita bersama kalau hanya untuk membuat salah satu diantara kita sakit bahkan dia yang gak bersalah menanggung akibatnya. Apa kau tak tau, Ed. Aku ibunya tapi ibumu dengan tega menganiaya ku bahkan membunuh malaikat ku. Dimana pikiranmu ,Ed." Kinara membentak Edgar dengan penuh emosinya.
Edgar memang tak bersalah akan hal ini, namun sosok ibu yang dipanggil Edgar membuatnya harus menimbang-nimbang langkah apa yang akan diambilnya selanjutnya.
Sudah cukup korban jiwa yang dibantai oleh Regina, Kinara tidak ingin ada lagi korban selanjutnya.
"Aku harus bagaimana, Ra. Agar kamu bis____."
Brakk...
Brukkk...
Akhhh...
Mata Edgar dan Kinara melihat kearah seseorang yang sudah terpelanting diatas keramik. Wajah lebam dan penuh luka terlihat jelas dikulut wanita itu .
"Dad, aku mohon maafkan aku," ucap Wanita itu yang secepat kilat memegang kaki Regantara dengan penuh penyesalannya.
Ya, seseorang yang telah membuka kasar pintu ruangan Kinara adalah Regantara dengan mendorong kasar tubuh Regina. Wanita itu berkali-kali meminta ampun namun tidak sekalipun digubris oleh Regantara.
"Setalah apa yang kau lakukan, Regina," pekik Regantara dengan suara meninggi.
Edgar dan Kinara hanya menyimak tanpa mau ikut campur dengan apa yang dilakukan Regantara pada Regina , apalagi wanita itu masih berstatus istrinya.
Bersambung...
mengandung bawang iya,emosi iya
gado2 😁