Suaminya berkhianat dan selalu mengabaikan nya, Calista malah tak sengaja bermalam dengan seorang Office Boy hotel tempat dia dijebak.
"Kamu masih perjaka?" tanya Calista pada lelaki tampan yang tidur dengan nya.
"Ya, Nona."
"Baiklah, aku akan bertanggung jawab! Kita akan jadi kekasih!" tutur Calista dengan serius, dia adalah orang yang selalu bertanggung jawab pada hal yang telah ia lakukan.
"Tapi saya hanya seorang Office Boy miskin."
"Aku nggak perduli latar belakang mu, aku hanya harus bertanggung jawab telah mengambil keperjakaan mu! Aku orang yang berpikiran sangat kuno, dimana keperawanaan atau keperjakaan sangat penting!"
Siapa sangka, ternyata lelaki itu bukan lah seorang OB biasa... akan tetapi seorang Bos besar misterius yang menyembunyikan identitas aslinya dari Calista dan pria itu mencintai Calista dengan ugal-ugalan!
Bagaimana rasanya dikhianati dan diabaikan suami lalu diceraikan, namun malah dicintai secara ugal-ugalan oleh kekasih misterius?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter - 18.
Malam itu dengan penuh kelembutan, Ravindra terus memeluk Calista menenangkan wanitanya. Bahkan sampai pagi, dia tak memejamkan mata sedetik pun untuk menjaga Calista.
Mata Calista terbuka, dia menguap kecil dan merenggangkan tubuhnya sedikit dalam pelukan hangat Ravindra. "Umm..."
"Sudah bangun kucing manis ku..." Ravindra terkekeh melihat wajah bantal Calista yang terlihat imut seperti gadis SMA.
"Sudah pagi?" tanya Calista.
"Iya, ayo pergi cuci muka. Aku gendong ke kamar mandi dan bantu kamu mandi."
"Kamu baru bangun atau nggak tidur lagi?" tanya Calista seraya bangun dari baringan dan menatap Ravindra dengan mata setengah terbuka.
"Aku nggak bisa tidur lagi, jadi hanya memandangi mu yang tidur. Aku sudah merasa segar hanya dengan memandang mu, jadi nggak ngantuk lagi."
"Gombal...!" wanita itu memukul pelan da da bidang kekasihnya.
"Ngomong-ngomong, kapan sidang perceraian mu? Aku ingin segera meresmikan pernikahan kita." Ravindra menggenggam ujung rambut bergelombang milik Calista dan memainkan nya menggulungnya tanpa sadar.
"Kenapa, kamu merasa kita berdua kotor karena melakukan hubungan diluar nikah?" tanya Calista tanpa maksud apapun, dia sadar hubungan mereka adalah salah. Seharusnya, mereka kembali melanjutkan hubungan setelah dia resmi bercerai dari Andrean.
"Tidak juga! Aku nggak ingin menjadi orang yang sok suci, tapi aku juga tak ingin terus menerus berhubungan dengan mu dengan hubungan yang tak bersih. Jadi... aku hanya ingin kamu segera terlepas dari hubungan mu dengan laki-laki lain dan hanya menjadi milikku."
"Baiklah, aku akan hubungi Andrean nanti siang untuk menanyakan masalah persidangan. Aku kira, demi menjaga image nya sebagai publik figur... Andrean akan meminta perceraian kami di rahasiakan seperti pernikahan kami dan menjalani persidangan tertutup. Sabar ya!"
"Oke, aku akan selalu sabar menunggu."
Paginya, keduanya pun berpisah setelah memesan sarapan di dalam kamar. Ravindra beralasan harus bekerja, sedangkan di dalam kamar Calista mencoba menelepon Andrean namun ponsel laki-laki itu tidak aktif.
*
*
*
Di ruangan gelap dan sempit serta gelap tanpa ada cahaya lampu ataupun jendela, Andrean terengahh-engahh kehabisan nafas. Dia terus disiksssa sepanjang malam, saat fajar baru lah pwnyiksaan padanya berhenti. Entah siapa yang menyikssanya, dia pun tidak tahu apa kesalahan nya.
Kriet!
Pintu ruangan terbuka dari luar, seketika Andrean menutup matanya yang terluka karena sinar lampu masuk membuat matanya kesakitan.
"Siapa disana...? Lepaskan aku!"
Tak tak tak
Orang itu berdiri menjulang tinggi di atas Andrean yang terkapar tak berdaya di lantai dingin, bahkan giginya masih terdengar bergemeletuk saking kedinginan nya.
"Bagaimana...!? Apa sangat sakit? Begitu pun, Nona Adele! Dia sangat kesakitan di rumah sakit karena tingkah mu yang tak tahu diri ! Dia mengalami pendarahan tapi kau malah mengabaikan nya!!! Kau pikir kau siapa...?!"
Tangan kanan Tuan Cakra itu menendaaang tubuh tergolek Andrean, sampai Andrean mengeraang penuh rintih kesakitan dan memohon ampun baru lah orang itu berhenti.
"Ampun... uhukkkk... maafkan aku..."
"Maaf? Kau pikir hanya dengan meminta maaf, semuanya akan selesai?!" Orang bernama Doni itu meludah tepat dia wajah babak belur Andrean.
Andrean tampak jijikkk, namun dia tak bisa berbuat apapun karena tak punya tenaga untuk melawan.
"Nona Adele harus disuntik penenang karena manusia busuk macam kau...! Kalau bukan karena Nona Adele sangat mencintai mu dan menginginkan mu... Tuan Cakra nggak akan pernah mengijinkan mu ada di hidup Nona Adele! Tapi sialnya, Tuan Cakra akan selalu mengabulkan permintaan putrinya! Tapi, ingat ini! Saat Nona Adele tak menginginkan mu lagi.... saat itu lah kau akan kehilangan nyawamu! Tuan Cakra mengampuni mu kali ini, tapi kalau kau masih berani menyakiti perasaan Nona Adele sampai dia terus bersedih... bersiaplah mati dan membusuk di neraka!!!" Doni mengangkat kakinya, mengiinjaak kepala Andrean lalu meneekaan kapalanya ke lantai membuat Andrean menjerit kesakitan.
"Argghhtttt! Ampunnnn...." lolong Andrean.
Setelah puas, Doni memanggil anak buahnya untuk membawa segera Andrean ke rumah sakit. Tak lama dia mendapatkan telepon dari nomer anak buahnya yang diperintahkan menyerang Calista tapi belum ada kabar sejak semalam.
Doni gegas mengangkat panggilan. "Halo, bagaimana? Wanita itu sudah mati?! Kemana saja kalian baru melapor padaku...?!"
📞 "Jadi kau yang memerintahkan para bajingaannn ini untuk membunuh wanitaku...!!! Tunggulah dan pastikan kau memeriksa sekitarmu, karena pembalasan ku datang tanpa bisa kau duga!"
Tuttttt....
Panggilan mati!
Tubuh Doni tiba-tiba saja merinding, mendengar suara dingin nan tajam dari seberang telepon.
*
*
*
Di perusahaan, Ravindra mematikan ponsel pemilik si penyerang. Sebelum datang k perusahaan dia sudah mengghajjar lagi para penyerang di ruangan bawah tanah, dimana ada buaya paling ganas yang ia pelihara. Setelah nama orang yang memerintah penyerangan pada Calista disebutkan oleh mereka, keenam orang itu ia lempar pada buaya untuk dimakan hidup-hidup.
"Cakra! Jadi kau berani menyentuh wanitaku, setelah putrimu juga menyakiti nya!" mata Ravindra berkilat tajam. "Bram!"
"Ya, Tuan."
"Hancurkan perusahaan Cakra dan bisnisnya satu persatu...!!!"
"Tuan, kita terlibat bisnis dengannya di bidang makanan. Bagaimana?"
"Kau pikir aku akan rugi hanya kehilangan bisnis dengannya...!!"
"Baiklah, Tuan. Saya akan segera mengurus nya hari ini juga!"
Setelah Bram keluar ruangan, Tuan Rahardian masuk dengan wajah dingin. Dia baru mendapatkan laporan jika Calista masih berstatus istri orang di mata hukum karena belum resmi bercerai secara negara. Ekspresi Tuan Rahardian tak sedap dipandang, entah apa yang akan dia katakan pada putranya yang tergila-gila pada istri orang itu.
Ah, paparazzi emang menyebalkan 🤔😅
Pasti dia pikir, Bara ada hubungan dengan Calista 😅