Inilah kisah cinta Rudi dan Vina yang berliku. Pasangan kekasih yang sudah lima tahun menjalani jalinan, tiba-tiba dipisahkan oleh sebuah insiden yang menimpa Vina dan menjadi aib bagi keluarga besarnya.
Setelah tiga tahun, Vina kembali ke keluarganya di sebuah kampung nelayan di pesisir selatan Provinsi Lampung. Alangkah terkejutnya dia ketika mendapati Rudi telah sangat berubah, yaitu menjadi pemuda yang alim dan sehari-hari mengajar anak-anak mengaji. Bisa disebut bahwa Rudi telah menjadi seorang ustaz baru.
Perubahan mantan kekasihnya itu membuat cinta lama Vina kepada Rudi kembali tumbuh.
Namun, tidak seperti tiga tahun yang lalu bahwa Rudi adalah miliknya seorang, tetapi kini ada beberapa wanita yang telah dekat dengan Rudi. Misalnya, Kulsum putri Ustaz Barzanzi, Bulan si pengusaha muda nan kaya, dan Alexa janda muda.
Namun, Vina merasa bahwa Rudi adalah miliknya dan dia harus memilikinya kembali.
Temukan intrik-intrik cinta yang seru di novel "Rudi adalah Cintaku".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rudi Hendrik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RAC 12: Pendekar Mabuk Dari Pesisir
*Rudi adalah Cintaku (RAC)*
Londo Cafe. Salah satu kafe ilegal yang dilegalkan di bawah perlindungan “orang kuat”. Lokasinya di tempat yang tersembunyi, yaitu di belakang Bioskop Gunung Agung dan terlindung dari jalan gang samping bioskop.
Namun, lokasi Londo Cafe sudah menjadi rahasia umum, terlebih di pinggir jalan raya dan jalan gang samping bioskop dipasang plang yang hanya berbunyi “Londo”. Bisa dikata bahwa 90% masyarakat tahu bahwa plang itu maksudnya Londo Cafe.
Satu di antara beberapa poin yang membuat tempat hiburan malam itu ternama dan sering menjadi topik gurauan masyarakat, adalah para pelacurnya yang semuanya mengenakan wig rambut pirang dengan berbagai model, sehingga seperti perempuan londo yang merupakan tafsir dari wanita Belanda. Padahal semua pelacurnya hanya impor dari luar provinsi, bukan dari luar negeri. Dijamin tidak ada perempuan dari dalam provinsi, alasannya untuk menjaga maruah perempuan pribumi.
Hampir seratus persen pelanggan hidung belang yang datang ke kafe itu adalah untuk bercumbu dengan wanita londo kawe, minimal minum sambil peluk atau sekedar toel-toel yang empuk-empuk.
Namun, ada satu pelanggan baru yang justru marah-marah jika ada PSK yang datang mencoba merayunya.
“Pergi sana! Jangan dekat-dekat! Perempuan cantik semuanya setan mesum!” teriak-teriak pemuda ganteng yang lebih ganteng di bawah cahaya lampu kafe yang selalu remang-remang.
Cewek penjual lubang mana yang berani mendekat jika harus dicaci maki. Bahkan papi mami alias mucikarinya, juga mental.
Pemuda yang hanya ingin minum saja itu tidak lain adalah Rudi Handrak. Dia menjadi pelanggan baru kafe ternama tersebut.
Sejak musibah yang menimpa Vina dan pembuangannya ke Jakarta, Rudi menjadi pemuda yang liar, uring-uringan, gampang marah dan sebagai pendekar mabuk yang tidak tahu jurus mabuk.
Rudi selalu datang seorang diri ke Londo Cafe dalam kondisi yang belum mabuk. Bukannya Aziz dan Sandro yang tidak mau menemani, tetapi memang Rudi tidak mau ditemani, apalagi sampai kedua sahabatnya itu ikut mabuk, meski keduanya suka minum bir sesep.
Biasanya, Aziz dan Sandro hanya bertugas menjemput di tengah malam atau di waktu subuh. Yang kebanyakan menjemput adalah Aziz, karena Sandro lebih sering turun melaut yang waktu kerjanya dari sore hingga pagi.
Rudi akan memulai aktivitas mabuknya kisaran di atas jam sembilan malam. Dia datang, booking satu meja, pesan bir, lalu sambil minum dia akan tenggelam menikmati lagu remix atau dangdut koplo yang sangat kencang.
Para wanita pedagang lubang, mucikari, pelayan hingga keamanan, sampai hapal muka Rudi meski tidak tahu namanya. Pasalnya, sudah seminggu lamanya dia datang dan mabuk setiap malam.
Seperti pada malam yang kedelapan, Rudi sudah duduk bersandar di punggung kursinya dengan kepala terdongak maksimal ke belakang sambil menceracau.
“Vina benciku. Lima tahun kita pacaran, semua badanmu sudah saya ciumi, tapi kenapa saya yang diperkosaaa!”
Celoteh Rudi yang tanpa sadar mengungkap rahasia dan juga terkadang tidak memahami apa yang sedang dia ucapkan.
“Pala cucur sialan kuadrat!” makinya sambil membangunkan kepala untuk tegak, tetapi dia justru oleng mau jatuh seperti anak besar sedang belajar naik sepeda.
Namun, untung dia cepat berpegangan pada tepian meja, sehingga menahan olengnya.
“Sudah saya bilang, jangan colek-colek saya, pala cucur sialan!” teriak Rudi marah sambil berdiri gontai dan menengok ke kanan dan kiri dengan tatapan juling. Dia mengira ada yang mendorongnya sehingga dirinya nyaris jatuh.
“Hahahak!” tawa seorang wanita cantik berlesung pipi, anehnya dia memakai jilbab dan busana Muslimah warna hitam dengan celana gombrong jenis palazo warna putih.
Memang aneh jika ada seorang wanita berhijab masuk ke tempat pelacuran seperti itu. Wanita yang bernama asli Barada itu hanya lewat. Dia didampingi oleh seorang pria berbadan tegap dan berotot, berkaos hitam dan berambut cepak. Celana lorengnya seolah-olah menunjukkan identitasnya.
Masuknya Barada dan rekannya menjadi pusat tatapan curiga bagi semua orang. Mereka bisa menduga siapa adanya kedua orang itu. Namun, karena tidak ada alarm peringatan dari keamanan atau manajemen kafe, mereka bergeming di posisinya masing-masing.
Mendengar dia ditertawakan oleh seorang wanita berhijab, Rudi jadi murka.
“Hei! Hei!” teriak Rudi memanggil gadis cantik berjilbab itu.
Namun, wanita berjilbab tetap berjalan terus masuk ke dalam kafe, menjauhi meja Rudi.
“Jangan lari, Perempuan Bunglon! Di sini bukan tempat kerja perempuan jilbaban!” teriak Rudi sambil berlari sempoyongan mencoba mengejar Barada.
Ternyata, Rudi berhasil menangkap lengan kanan Barada.
Dak dak!
“Aaak! Aduh aduh aduh, Vina Vina Vina!” jerit Rudi sambil buru-buru memegangi kedua tulang keringnya yang terkena tendangan singkat oleh ujung sepatu jenis kitten heels milik Barada.
“Hahaha!” tawa Barada sambil berlalu pergi meninggalkan Rudi yang menggosok-gosok kedua tulang keringnya.
Sejumlah pelanggan dan wanita penjual lubang sempat terkejut melihat perkelahian singkat itu. Namun, kemudian suasana kembali normal. Personel keamanan kafe yang berbadan besar-besar pun tidak bertindak apa-apa melihat perkelahian singkat itu. Sebelumnya para keamanan kafe sudah diberi tahu tentang siapa Barada dan rekan rambut cepaknya.
“Perempuan bunglon sialan! Perempuan bunglon pala cucur!” maki Rudi dengan marahnya sampai memukul-mukul lantai kafe. “Mana kopi surgaku? Mana kopi surgaku?”
Rudi mencari-cari minumannya yang ada di mejanya, tetapi dia justru mencari di lantai di sekitar tempat dia duduk berselonjor seperti anak hilang.
“Kopi surgamu ada di meja, Pendekar Mabuk!” teriak seorang mucikari yang tertawa melihat tingkah Rudi yang seperti orang linglung.
“Hihihi!” tawa beberapa wanita yang cantiknya karena bedak dan cahaya remang-remang.
Rudi memandang ke sekelilingnya, mencoba mencari mejanya. Syukur, dia masih mengenali meja dan botol-botol minumannya yang posenya tidak teratur.
Dia lalu merangkak untuk mencapai kursi kebesarannya.
Rudi terus minum, sepuas-puasnya sampai dia mabuk akut. Seiring itu, malam terus melarutkan diri.
Hingga pada ketika Rudi sudah tidak bisa berdiri dengan sempurna dan berjalan pun serong kanan serong kiri, ditambah celotehan dan teriakannya sudah mulai mengganggu pengunjung lain atau para wanita pedagang lubang, maka dua personel keamanan datang menciduknya dan menyeretnya menuju pintu keluar.
“Eh eh eh! Jangan macam-macam. Kalian tidak tahu sedang memperkosa siapa. Aku adalah Pendekar Mabuk dari Pesisir!” celoteh Rudi, tapi tidak berusaha melawan, karena memang dia sudah tidak bisa memberontak.
Kedua personel keamanan kafe itu tidak peduli dengan celotehan Rudi. Mereka menyeret Rudi sampai ke parkiran dan mendorongnya hingga menabrak motornya sendiri.
“Asu calabai!” maki Rudi dalam bahasa Bugis yang berarti “anjing banci”. “Jangan lari kamu, Asu Calabai!”
Rudi berusaha berdiri sambil menunjuk kedua personel keamanan yang pergi meninggalkannya. Namun, Rudi justru jatuh lagi. Kedua kakinya seolah-olah tidak memiliki otot untuk berdiri. Akhirnya dia sibuk sendiri untuk mencoba berdiri. Namun, ia selalu gagal dan gagal lagi.
Akhirnya, Rudi menyerah. Ia pun memilih memeluk ban depan motornya. Kedua tangannya dia masukkan ke lubang velg. Ia tempelkan bibirnya pada ban sepeda motornya.
“Vina benciku, saya rinduuu,” ucapnya lirih sambil memeluk mesra ban motornya. “Vina benciku, saya rinduuu.”
Kalimat itu terus ia ucapkan berulang-ulang tanpa lelah, seolah-olah ia ingin mengejar rekor dunia.
“Ya Allah, Rudi!” sebut Sandro yang muncul sambil menghentikan sepeda motornya. Dia membonceng Aziz.
“Vina benciku, saya rinduuu,” ucap Rudi semakin lirih, seolah tidak mendengar atau menyadari kehadiran dua orang sahabatnya.
“Rudi! Rudi, sadar!” sebut Sandro sambil menepak-nepak pipi kanan Rudi.
Sementara Aziz melepaskan kedua tangan rudi dari ban.
“Eh eh e, siapa kamu?!” tanya Rudi terkejut, tapi pasrah ketika tubuhnya diberdirikan dan dipapah. “Kamu Asu Calabai, ya?!”
“Ambil kunci motornya di celana, Ndro!” suruh Aziz kepada Sandro.
Sandro lalu merogoh saku celana jeans Rudi. Didapatinya kunci sepeda motor Rudi.
“Enggak ada hp-nya, Ziz?” tanya Sandro.
“Sejak Rudi nyebur di laut, hp-nya sudah rusak. Dia belum beli hp lagi,” jawab Aziz.
“Hp baru yang dia beli buat ganti hp-nya Vina dikasih ke Vina?” tanya Sandro yang waktu itu menemani Rudi beli hp baru.
“Saya enggak tahu itu,” jawab Aziz. “Udahlah, kamu bantu dulu naikkan Rudi ke motor!”
Sandro membantu Aziz menaikkan Rudi ke motor. Lalu Aziz duduk di depan posisi Rudi. Kedua tangan Rudi dirangkulkan ke perut gendut Aziz, sementara kepalanya disandarkan di bahu. Ternyata, kedua sahabat Rudi itu sudah menyiapkan tali untuk mengikat badan Rudi menyatu dengan badan Aziz. Itu bermaksud agar Rudi tidak jatuh ke belakang saat sepeda motor jalan.
Sandro kemudian membawa sepeda motor Rudi. Mereka pun menuju pulang. Saat itu sudah jam dua malam. (RH)