NovelToon NovelToon
Serpihan Yang Patah

Serpihan Yang Patah

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat
Popularitas:936
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Dua tahun terjebak dalam neraka pelecehan dan ancaman sang kakak ipar, Markus, membuat Relia kehilangan jiwanya—terlebih saat kakak kandungnya sendiri memilih berkhianat. Di titik nadir, Relia berhasil melarikan diri dan bertemu Dokter Ariel, seorang psikiater sekaligus CEO yang menjadi pelindungnya. Melalui pernikahan yang awalnya berlandaskan rasa aman dari ancaman Markus, Ariel membimbing Relia menyembuhkan trauma parah dan kecemasannya. Ini adalah kisah tentang keberanian seorang wanita untuk memecah keheningan dan merebut kembali hidup yang sempat terenggut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Aroma antiseptik yang tajam menusuk indra penciuman adalah hal pertama yang menyambut kesadaran Relia.

Cahaya lampu neon di langit-langit terasa begitu menyilaukan, memaksa matanya kembali terpejam rapat.

Di sekitarnya, sayup-sayup terdengar suara gesekan kain dan bisikan-bisikan rendah yang bernada prihatin.

Suster Maya berdiri di samping brankar, tangannya bergetar saat mengganti perban di punggung Relia.

Setiap kali ia melihat bilur-bilur merah kebiruan yang menghitam di kulit gadis itu, hatinya mencelos.

"Dokter Rendy, lihat ini," bisik Maya sambil menunjukkan KTP yang ditemukan di saku kecil pakaian Relia semalam.

"Namanya Relia. Tapi KTP ini sudah mati sejak tiga tahun lalu. Seolah-olah dia memang sengaja dihilangkan dari dunia luar."

Dokter Rendy menghela napas berat, matanya menatap grafik monitor jantung yang tidak stabil.

"Luka fisiknya bisa kita obati, Maya. Tapi lihat matanya saat pingsan tadi. Itu bukan sekadar rasa sakit, itu trauma yang sangat dalam. Kita tidak bisa menangani ini sendirian."

Lanjut dokter Rendy menghubungi dokter Ariel yang masih berada di kasur empuknya.

Telepon genggam di atas nakas bergetar hebat, memecah keheningan kamar Ariel.

Dengan mata yang masih berat, ia meraih ponselnya.

Melihat nama "Rendy" di layar, Ariel langsung terduduk tegak.

Sebagai psikiater, ia tahu panggilan sepagi ini dari UGD jarang sekali membawa kabar baik.

"Ya, Ren? Ada apa?" suara Ariel serak khas bangun tidur.

"Riel, maaf mengganggu waktumu. Aku punya pasien baru. Perempuan, sangat muda, ditemukan pingsan di depan UGD tadi pagi sekitar jam tiga. Ia mempunyai luka fisik yang sangat mengerikan, tapi itu bukan masalah utamanya," suara Rendy terdengar bergetar di seberang sana.

"Maksudmu?"

"Dia menunjukkan gejala trauma akut. Setiap kali ada laki-laki yang mendekat, detak jantungnya melonjak drastis di monitor. Dia bahkan belum bicara sepatah kata pun sejak sadar sebentar tadi. Aku butuh kamu ke sini segera. Secara klinis dia stabil, tapi secara mental dia hancur berkeping-keping."

Bip!

Ariel mematikan ponselnya dan segera ia bangkit dari tempat tidur menuju ke kamar mandi.

Ariel membasuh wajahnya dengan air dingin yang seolah menembus hingga ke tulang, mencoba mengusir sisa-sisa kantuk sekaligus mendinginkan kepalanya yang mulai dipenuhi spekulasi medis.

Di dunia psikiatri, kasus penganiayaan berat yang disertai trauma terhadap lawan jenis biasanya membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk pulih.

Sepuluh menit kemudian, ia sudah memacu mobilnya membelah sisa-sisa gerimis pagi menuju rumah sakit.

Ariel melangkah dengan tenang, namun matanya yang tajam mengamati suasana koridor yang sunyi.

Sebelum masuk, ia berhenti di depan pintu kamar 302.

Melalui kaca kecil di pintu, ia melihat sosok mungil yang sedang meringkuk di atas ranjang.

Relia tampak sangat kecil di tengah selimut putih yang lebar.

Ia tidak berbaring, melainkan duduk meringkuk dengan lutut didekap erat ke dada.

Matanya tidak berkedip, menatap lurus ke arah jendela, namun Ariel tahu gadis itu tidak sedang melihat pemandangan di luar.

Ia sedang terjebak di dalam ingatannya sendiri.

"Selamat pagi, Dokter Rendy," sapa Ariel pelan saat melihat sejawatnya itu keluar dari ruang perawat.

"Ah, Riel. Syukurlah kau cepat sampai," Rendy mengusap wajahnya yang lelah.

"Dia baru saja histeris saat perawat pria mencoba mengganti cairan infusnya. Kami harus memberikan sedatif ringan, tapi ia menolak untuk tidur lagi. Dia hanya diam seperti patung."

"Berikan aku rekam medisnya, dan tolong jangan biarkan staf pria masuk ke kamarnya untuk sementara waktu. Biarkan perawat wanita saja."

Ariel mengambil napas dalam, lalu perlahan membuka pintu kamar Relia.

Ia tidak masuk dengan langkah lebar seperti dokter pada umumnya.

Ia masuk dengan langkah yang sangat ringan, hampir tanpa suara, seolah takut akan memecahkan sesuatu yang sangat rapuh.

Ariel tidak langsung mendekati ranjang Relia. Ia menarik kursi kayu di sudut ruangan, menjaga jarak sekitar tiga meter dari Relia.

Ia duduk di sana, tidak membawa papan catatan, tidak membawa stetoskop.

Suasana hening selama hampir sepuluh menit. Dan hanya ada suara detak jam dinding dan hembusan napas Relia yang pendek-pendek.

"Nama saya Dokter Ariel," ucapnya lembut.

"Saya tidak akan mendekat jika kamu tidak mengizinkan. Di ruangan ini, kamu yang memegang kendali, Relia."

Mendengar namanya disebut, bahu Relia sedikit menegang.

Ia tidak menoleh, namun jemarinya semakin kuat mencengkeram kain selimut hingga buku-buku jarinya memutih.

Relia langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya terbelalak lebar seolah ia baru saja melakukan kesalahan fatal yang akan merenggut nyawanya.

"M-mas Markus akan membunuhku jika aku bicara. Dia selalu menyumpal mulutku saat memperkosa ku..." bisik Relia lirih nyaris tak terdengar, namun setiap katanya menghantam ulu hati Ariel seperti godam.

Ariel memejamkan matanya sejenak. Secara otomatis, otaknya yang terlatih mulai menyusun kepingan-kepingan informasi tersebut.

Ia membayangkan kegelapan pukul dua pagi, aroma hujan, dan kain hitam yang dingin merenggut hak bicara seorang gadis muda.

Ia membayangkan rasa sesak saat napas tertahan, dan rasa sakit yang dipaksakan masuk ke dalam tubuh yang tak berdaya.

Hening menyelimuti ruangan itu, namun bagi Ariel, keheningan ini terasa sangat bising dengan jeritan batin Relia.

"Relia,"

Ariel membuka matanya, menatap gadis itu dengan ketulusan yang tak tergoyahkan.

Ia tetap tidak bergerak dari kursinya, menjaga jarak aman yang diinginkan Relia.

"Markus tidak ada di sini. Pintu itu tertutup, dan ada petugas keamanan di depan. Dia tidak bisa lagi menyentuhmu."

Relia mulai terisak sampai tubuhnya berguncang hebat.

"Dia akan tahu, dia selalu tahu. Mbak Sarah juga dia bilang aku harus bersyukur..."

Ariel mengepalkan tangannya di bawah lutut agar emosinya tidak terlihat.

Kemarahan profesionalnya membuncah. Pengkhianatan dari seorang kakak kandung seringkali lebih menghancurkan daripada siksaan fisik itu sendiri.

"Kamu tidak perlu bersyukur untuk neraka, Relia," suara Ariel mengeras namun tetap lembut.

"Apa yang mereka lakukan padamu adalah kejahatan. Dan fakta bahwa kamu berdiri di sini, bernapas, dan berhasil melarikan diri itu adalah bukti bahwa kamu jauh lebih kuat daripada mereka berdua."

Relia mendongak pelan, rambutnya yang berantakan menutupi sebagian wajahnya yang lebam.

Untuk pertama kalinya, matanya bertemu dengan mata Ariel.

Ada keraguan yang amat sangat di sana, namun juga ada secercah harapan yang sangat kecil, sekecil lubang jarum.

"A-apakah aku akan tetap kotor?" tanya Relia dengan suara yang sangat rapuh.

Ariel merasakan tenggorokannya tercekat saat mendengar perkataan dari Relia.

"Kotoran itu ada pada tangan mereka yang menyentuhmu tanpa hak, bukan padamu. Kamu adalah korban yang selamat, Relia. Dan tugas saya di sini adalah membantu kamu mencuci bersih semua ingatan buruk itu sampai kamu merasa utuh kembali."

Relia kembali menunduk, tangisnya pecah tanpa suara.

Ia menangis hingga bahunya naik turun, mengeluarkan beban dua tahun yang ia simpan sendiri di balik kain penyumpal itu.

Ariel membiarkannya karena dalam psikologi, karena ini adalah catharsis pembersihan emosi.

Ia membiarkan Relia menangis sampai gadis itu kelelahan, sementara ia tetap setia duduk di sudut ruangan, menjadi saksi pertama atas keberanian Relia memecah keheningan

1
Uthie
Awal cerita yg sudah sangat mengerikan 😰
Mundri Astuti
lagi napa ngga diborgol si, kan dah bahaya banget ...dari kemarin nafsu banget mau bunuh relia juga ..
Mundri Astuti
si Markus bener" ya, masih belum jera..miskinin sekalian dia biar ngga bnyk gaya ma ga berkutik
Mundri Astuti
usut sampe tuntas Ariel, siapa" aja dibelakang Markus yg ngebantu melrikan diri ..ringkus juga si Sarah.
mudah"an relia selamat
Herdian Arya
mungkin itu lebih baik, kalaupun lahir juga akan menderita punya bapak kelainan mental seperti Markus.
Mundri Astuti
lah relia kan belum nikah sama Markus, jatuhnya anak diluar nikah calon bayi relia, dan itu nasabnya pada ibu
my name is pho: iya kak.
total 1 replies
Herdian Arya
saking bencinya dengan Markus dan sarah pengen tak kremasi hidup hidup tuh 2 manusia iblis.
my name is pho: sabar kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!