Memiliki kepribadian yang susah untuk bergaul atau sering disebut introvert membuat Jasson lelaki tampan yang berprofesi sebagai dokter ini tidak memiliki wanita disisinya. Dikenal sebagai lelaki dingin dan acuh terhadap seluruh wanita yang mencoba mendekatinya, Entah itu memang karna tidak pernah mendekati wanita atau memang dia yang tidak tertarik kepada wanita tersebut, Hingga ada akhirnya dia datang mengunjungi pasien akibat pasien tidak mau kerumah sakit jadi terpaksa dia yang turun tangan mendatangi rumah pasien tersebut.
"Menjadi suamiku saja bagaimana?" Tiyara Watsons.
"Hah?" Jasson Drean
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tari channel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mulutnya sangat tajam
"Dia adalah orang baru dihidupku namun sepertinya aku sangat hawatir dengannya"
"Entah masalalu apa yang pernah terjadi terhadap anda dan nona saya juga tidak mengetahui" ucapan Dery terngiang ngiang dibenaknya saat ini.
"Maksud dari ucapan lelaki tadi apa? Apakah aku pernah bertemu dengannya dikehidupan lalu?" tanya Jasson dengan wajah bingungnya.
Jasson nampak diam, Dahinya mengerut dan menatap tajam wanita yang masih belum sadarkan diri itu. "Aku tidak pernah bertemu dengan wanita manapun dikehidupan lalu kecuali Quenza yang memang sejak kecil berteman denganku, Jika aku bertemunya disekolah?....." Jasson nampak berpikir keras memikirkan kapan dia pernah bertemu dengan wanita itu.
"Aku sama sekali tidak ingat satupun dengan teman sekolahku, Aku hanya ingat dengan Quenza karna dia sudah aku anggap sebagai adikku sendiri" ucap Jasson dengan memegang kepalanya akibat tidak menemukan jawaban.
"Lelaki itu sangat nakal"
"Iya, Dia menyebabkan kematian ayahnya"
"Dia memang sangat tampan namun dia terlalu nakal dan keras"
"Dia berbicara sangat jarang namun sekalinya dia berbicara akan bisa membuat lawan bicaranya mati"
"Mulutnya sangat tajam"
"Pantas saja aku tidak memiliki teman, Memang tidak ada yang ingin berteman denganku hingga saat aku meminta pertolongan kepada mereka, Mereka tidak ada yang mau begitupun dengan orang tua mereka hingga papa ditembak hingga mati oleh bajingan itu, Papa Jasson akan berjanji untuk membalaskan dendam papa terhadap orang yang sudah menghabisimu termasuk itu paman Fredi sekalipun" guman lelaki itu dengan rahang yang mengeras akibat mengingat apa yang terjadi
bertahun tahun lalu.
"Putri kecilku kenapa kau bisa disini?" tanya Watsons Fredi Jaya saat putrinya berada ditempat terlarang itu.
"Ayah, Apa yang ayah lakukan disini? Tempat ini sangat berbahaya" jawab Tiyara Watsons.
"Nona, Huh, Huh" Dery nampak ngos ngosan sedari tadi mengejar anak dari tuannya itu.
"Bagaimana bisa kau membiarkannya kemari" teriak Watsons Fredi Jaya.
"Maafkan saya tuan, Saya...."
Dorrrr
Watsons langsung melindungi putrinya yang masih berumur tiga belas tahun itu dari tembakan yang ditembakkan oleh musuh. "Bawa putrimu pergi Watsons" teriak Drean Polen.
Tiyara yang saat ini mengenakan masker dan juga topi menoleh kearah suara begitupun dengan Dery. "Paman Drean" ucap Tiyara dengan mata yang membulat saat melihat Drean yang sudah dipenuhi darah diwajahnya.
"Bawa gadis kecil itu pergi" teriak Drean lagi.
Dorrrr
"Paman" mata Tiyara membulat saat melihat satu tembakan tepat tertembak dikepala orang yang disebutnya sebagai paman itu.
"Bawa Tiyara pergi dan jaga dia baik baik" ucap Watsons.
"Baik tuan, Ayo nona" ajak Dery dengan melindungi Tiyara dari serangan tiba tiba.
"Berani kau menganggu orangku" teriak Watsons dan langsung memberikan tembakan namun hanya terkena anak buah saja bukan bosnya.
Dorrrr
Tiyara yang mendengar suara tembakan yang sangat kencang menoleh kebelakang dan terlihat ayahnya pula yang saat ini sudah ditembak oleh musuh. "Ayah" teriak Tiyara.
"Nona anda tidak boleh kesana" ucap Dery dengan menahan Tiyara.
"Kau berbicara kepadaku saat ini? Lepaskan aku" teriak Tiyara yang memberontak namun Dery tetap saja tidak melepaskannya hingga terus berteriak dan memberontak beberapa kali dia akhirnya terlepas.
"Ayah" teriak Tiyara yang langsung berlari kearah ayahnya.
"Sayang kenapa kau kemari? Pergilah bersama Dery" ucap Watsons dengan mengusap wajah anaknya dengan tangan yang dipenuhi oleh darah itu.
"Tidak, Ayah akan....."
Dorrr
"Tidak akan aku biarkan kau menyakiti anakku" ucap Watsons dengan masih bisa bergerak dan melindungi anaknya dari tembakan hingga saat ini dadanya pula terkena tembakan.
"Pergilah sayang jangan pikirkan ayah" ucap Watsons.
"Ayah Tiyara...."
"Bawa Tiyara pergi dan jaga dia baik baik" ucap Watsons kepada Dery dan kembali berusaha bangkit untuk melenyapkan musuh yang tersisa.
"Ayo nona" Dery langsung menarik tangan Tiyara dan membawanya pergi dari sana namun mata Tiyara tak henti hentinya menoleh kebelakang.
Tubuh Watsons yang sudah dipenuhi oleh peluru dan lemah membuatnya bertahan dengan hanya dapat menembak beberapa musuh namun masih belum bisa menghabisi bosnya hingga akhirnya tubuhnya tumbang dan langsung meninggal ditempat. "Ayah" teriak Tiyara dengan air mata yang langsung mengalir saat melihat ayahnya yang sudah tidak sadar itu.
"Hah? Papa" mulut yang bergetar menyebut ayahnya terdengar oleh telinga Tiyara membuat Tiyara menoleh kearahnya dan terlihat ada lelaki disana yang nampak ketakutan dengan seseorang bertubuh kekar mendekat dengan membawa pisau panjang mendekat kearah lelaki itu.
"Ayah dan paman sudah..... Tidak akan aku biarkan ada orang lagi yang mati didalam pertarungan bisnis bodoh ini" ucap Tiyara dan langsung melindungi lelaki yang kemungkinan berumur tujuh belas atau sembilan belas tahun.
Settt
"Ah" Tiyara nampak kesakitan. Bagaimana tidak, Pisau yang seharusnya terkena tubuh lelaki yang ketakutan itu malah terkena dirinya akibat melindungi lelaki itu.
"Nona" teriak Dery. Tiyara tidak memperdulikannya dan memeluk lelaki remaja itu tanpa ragu.
Dorrrr
Satu tembakan berhasil ditembakkan oleh wanita itu tepat dibagian dada lelaki bertubuh kekar yang menyerangnya. "Nona" teriak Dery yang langsung menghampiri Tiyara.
"Ayah" teriak Tiyara.
Jasson langsung mengangkat kepalanya dan menoleh kearah suara. Nafas yang nampak naik turun dengan cepat terdengar jelas oleh Jasson membuat Jasson langsung berdiri dari duduknya dan menghampiri Tiyara yang saat ini duduk diatas ranjang. "Ah **** aku bermimpi kejadian itu lagi" umpat Tiyara dengan menundukkan kepalanya.
"Kau tidak apa apakan?" tanya Tiyara dengan memegang tangan suaminya tersebut.
"Hah? Seharusnya aku yang bertanya, Kenapa kau langsung berteriak?" tanya Jasson kembali dengan mengambil air yang ada disamping ranjang itu.
"Minumlah agar tenang" ucap Jasson dengan memberikan minuman itu. Tiyara menerimanya dan meminum sedikit minuman itu.
"Terima kasih" ucap Tiyara. Jasson menjauhkan minuman itu dan meletakkannya kembali ketempatnya.
"Apa yang terjadi sehingga kau nampak ketakutan?" tanya Jasson dengan wajah bingungnya.
"Tidak terjadi apa apa, Hanya saja tadi aku bermimpi....."
"Mimpi apa?" tanya Jasson saat ucapan wanita itu terhenti.
"A-aku bermimpi tentang....." Tiyara kembali menghentikan ucapannya.
"Tentang apa?" tanya Jasson yang masih dibuat penasaran akan wanita itu.
"A-aku bermimpi tentang hantu tadi, Mereka mengejarku dengan rombongan i-itu sangat mengerikan" jawab Tiyara dengan wajah ketakutan berbohong dengan apa yang ia mimpikan.
"Aneh sekali siang siang buta seperti ini bermimpi seperti itu hingga berkeringat" ucap Jasson dengan mengambil beberapa tisyu dan menghapus keringat yang menetes didahi wanita itu.
"Bagaimana bisa memprediksi mimpi, Mimpi itu tidak peduli siang atau malam mau bermimpi hantu" jawab Tiyara dengan menurunkan selimut dari tubuhnya.
"Kenapa kau meminum obat magh?" tanya Jasson dengan wajah datarnya dan membuang tisyu bekas mengelap peluh Tiyara tadi.
"Hah? Kapan aku meminum obat magh?" tanya Tiyara kembali dengan wajah bingungnya.
tapi smngat ya thor
tiyara selalu melindungi jasson
aku mampir karna liat Poto Lucas ngupil wkwkwk🤣🤣
yakin bakal kubaca semua novel otot deh kalo gini😂