Hujan mempertemukan mereka yang putus asa dengan pilihan yang seharusnya tidak pernah ada.
Di satu sore terburuk dalam hidupnya, Viona menemukan sebuah halte tua yang tak pernah ada dan seorang pria misterius yang menawarkan cara untuk mengubah segalanya.
Di Halte Takdir, Viona harus memilih: payung untuk kembali ke masa lalu dan memperbaiki kesalahan fatal, atau pena untuk menulis masa depan sempurna tanpa kegagalan. Namun setiap keajaiban menuntut harga yang kejam, kenangan paling bahagia, atau perasaan yang membuatnya tetap manusia.
Akankah Viona berani mengubah takdirnya? Atau justru memilih menolak keajaiban demi mempertahankan dirinya sendiri?
Penuh emosi, fantasi modern, dan dilema yang menusuk, ikuti kisah tentang pilihan hidup yang tidak semua orang sanggup menanggung akibatnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nameika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GALERI DETIK YANG BUSUK
"Lo jangan berani-berani manggil gue pake nama itu! Ibu gue nggak kayak gini, dan rumah ini... rumah ini bau bangkai!"
Viona berteriak, suaranya pecah menghantam dinding ruang tamu yang catnya mulai mengelupas seperti kulit mati. Ia mencengkeram setengah patahan pena emas di tangannya hingga buku jarinya memutih, merasakan ujung tajam logam itu menggores telapak tangannya. Di hadapannya, sosok yang menyerupai Elena tetap duduk tenang. Jemari wanita itu bergerak lincah memainkan jarum rajut, meski benang yang digunakannya bukanlah wol, melainkan untaian syaraf berwarna kelabu yang berdenyut pelan. Wajahnya yang rata tanpa mata itu menengadah, seolah-olah ia bisa mencium ketakutan yang menguar dari pori-pori Viona.
"Vio, sayang... bicaramu kasar sekali. Ayah sudah menunggumu di bawah sejak jam dinding ini berhenti berdetak," Elena menyahut. Suaranya datar, tanpa intonasi, mirip derit pintu tua yang dipaksa terbuka.
Viona mundur teratur. Kakinya terasa berat, seolah-olah karpet di bawahnya berubah menjadi lumpur yang menghisap. Ia melirik ke arah cermin besar di sudut ruangan. Di sana, si kembaran bayangan—The Unwritten—masih berdiri dengan senyum pemenang. Sosok itu tidak lagi hitam pekat; ia mulai mencuri warna dari kulit Viona, membuat bayangannya sendiri terlihat lebih hidup sementara raga asli Viona kian memucat, transparan bagai uap di atas kaca.
"Lo pikir gue bakal masuk ke jebakan lo lagi? Lukas! Julian! Kalian di mana?!" Viona berteriak, namun hanya gema suaranya sendiri yang memantul kembali, hampa dan dingin.
"Mereka sedang diproses, Nirmala. Teman teknisimu itu sedang dijadikan roda gigi, dan si penagih utang... dia sedang membayar bunga terakhirnya di peron yang lain," si kembaran bayangan berbisik dari balik kaca. Tangan bayangan itu menyentuh permukaan cermin, menciptakan riak air yang menyebarkan aroma karat yang menyengat.
Ruangan itu mendadak berguncang. Langit-langit rumah retak, meneteskan cairan kental berwarna perak yang berbau ozon. Tanpa peringatan, lantai di bawah kaki Viona meluruh, berubah menjadi tangga spiral yang terbuat dari susunan jam dinding yang sudah pecah kacanya. Aroma kayu busuk dan tinta basah menyeruak dari kegelapan di bawah sana.
Viona tidak punya pilihan. Gravitasi di tempat itu seolah menarik paksa jantungnya menuju dasar tangga. Dengan langkah gemetar, ia menuruni anak tangga yang berderit nyaring, seolah-olah setiap langkahnya menginjak tulang belulang waktu.
Di dasar tangga, ia tidak menemukan gudang bawah tanah yang ia kenal. Ia berdiri di sebuah koridor yang tak berujung, diapit oleh ribuan tabung kaca raksasa yang berisi cairan hitam pekat. Di dalam tabung-tabung itu, potongan memori manusia melayang-layang seperti spesimen laboratorium: tawa seorang bayi, teriakan kecelakaan, tangis perpisahan, semuanya membeku dalam keheningan yang menyesakkan.
"Selamat datang di tempat tinta diproduksi, Vio," sebuah suara berat bergema dari ujung koridor.
Sosok pria muncul dari balik kabut tinta. Itu Nathan Mahendra, namun bukan Nathan yang hangat maupun Nathan yang berjubah compang-camping. Pria ini mengenakan jas lab putih yang bersih, namun tangannya berlumuran cairan hitam yang tidak bisa hilang. Matanya bersinar dengan cahaya perak yang dingin, persis seperti mata para pengarsip.
"Ayah?" Viona berbisik, napasnya tersengal.
"Ayahmu sedang sibuk menulis ulang akhir yang lebih baik, Nak," pria itu menjawab. Ia berdiri di depan sebuah meja besar yang di atasnya terletak sebuah mesin rumit berisi jutaan jarum perak. "Kamu tahu kenapa aku mencurimu dari laboratorium Ordo sepuluh tahun lalu? Bukan karena aku mencintaimu, tapi karena kamu adalah wadah tinta yang paling murni. Aku butuh kamu untuk menghapus kegagalanku."
Viona merasakan dunianya runtuh untuk kesekian kalinya. "Jadi... semua kasih sayang itu... semua perlindungan di bawah hujan... itu cuma bohong?"
Nathan tertawa pelan, sebuah tawa yang terdengar seperti gesekan logam. "Perlindungan itu nyata, Viona. Tapi tujuannya adalah untuk menjaga agar tinta di dalam nadimu tetap stabil sampai hari ini. Dan sekarang, The Unwritten sudah bangun. Kamu sudah tidak berguna lagi."
Tiba-tiba, dari dalam salah satu tabung kaca di samping Viona, sebuah tangan memukul dinding kaca dengan keras. PRANG! Tabung itu pecah, menumpahkan cairan hitam yang membanjiri lantai. Lukas terjatuh dari dalam tabung, tubuhnya gemetar hebat, kabel-kabel cahaya masih menempel di sekujur punggungnya.
"V-Vio... lari..." Lukas merintih. Wajahnya pucat pasi, matanya berputar liar mencoba mencari fokus. "Ini bukan Ayah lo... ini... ini program 'Legacy' yang ditinggalin Arsitek..."
"Lukas! Lo nggak apa-apa?!" Viona berlutut, mencoba melepaskan kabel-kabel di tubuh sahabatnya.
"Jangan sentuh dia, atau frekuensinya akan menghancurkanmu!" Nathan gadungan itu membentak. Ia mengangkat sebuah tongkat perak, dan seketika kabel-kabel di tubuh Lukas mengeluarkan percikan listrik biru yang menyakitkan.
"Hentikan! Ambil aja penanya, tapi lepasin Lukas!" teriak Viona sambil menyodorkan patahan pena emas.
Si kembaran bayangan—The Unwritten—tiba-tiba muncul dari kegelapan di belakang Nathan. Ia merebut patahan pena itu dengan gerakan secepat kilat. Begitu dua patahan pena emas itu bersatu di tangannya, sebuah ledakan energi hitam menghantam seluruh koridor. Tabung-tabung kaca lainnya mulai retak.
Viona merasakan tubuhnya kian memudar. Ujung jemarinya mulai berubah menjadi butiran debu safir yang terbang menuju arah si kembaran. Si kembaran kini memiliki wajah yang sepenuhnya nyata—wajah Viona yang penuh ambisi, tanpa keraguan, tanpa empati.
"Vio, liat gue!"
Suara berat Julian terdengar dari langit-langit koridor yang runtuh. Pria itu terjun dari kegelapan, menghujamkan patahan rangka payung birunya tepat ke meja mesin Nathan. Ledakan bunga api perak menyambar ke segala arah.
"Julian! Lo masi hidup!" Lukas berseru dengan sisa tenaganya.
Julian berdiri di antara Viona dan Nathan gadungan. Tubuhnya dipenuhi luka robek, jas hujannya sudah compang-camping, namun matanya memancarkan tekad yang membara. "Gue nggak bakal mati sebelum gue nagih utang nyawa sama program sampah ini!"
"Kalian tidak bisa menghentikan penulisan ulang ini," Nathan gadungan berkata dengan tenang. "Origin sudah menyetujui bab baru. Jakarta yang kalian kenal akan dihapus lima menit dari sekarang."
Di dinding koridor, sebuah jam pasir raksasa muncul. Pasirnya tidak turun ke bawah, melainkan naik ke atas, menghilang ke dalam kekosongan. Itu adalah jam hitung mundur menuju penghapusan total.
Viona menatap tangan Lukas yang menggenggam pergelangan kakinya, lalu menatap Julian yang bersiap mati demi melindunginya. Sebuah kekuatan baru muncul dari rasa sakit yang paling dalam di hatinya. Ia menyadari bahwa selama ini ia mencari validitas dari ayahnya, dari ibunya, dari takdirnya. Namun, validitas itu ada di depan matanya—pada orang-orang yang memilih untuk hancur bersamanya.
"Lo bilang gue cuma wadah tinta?" Viona berdiri tegak. Cahaya safir di tubuhnya mendadak meledak, menahan proses pemudarannya. "Kalau gitu, gue bakal pake tinta ini buat nulis akhir yang nggak pernah lo sangka, Pak Tua."
Viona merebut kembali pena emas yang sudah menyatu dari tangan si kembaran bayangan dengan kekuatan yang tidak masuk akal. Ia tidak menusukkan pena itu ke musuhnya. Ia menusukkan pena itu ke jantungnya sendiri untuk kedua kalinya, namun kali ini ia memutar arah putarannya ke kanan—arah "Penerimaan".
"Vio! Apa yang lo lakuin?!" Lukas menjerit.
Seluruh koridor tabung kaca itu mulai mencair. Sosok Nathan gadungan berteriak saat tubuhnya terurai menjadi barisan kode digital yang rusak. Si kembaran bayangan mencoba mencakar wajah Viona, namun ia justru terserap masuk ke dalam tubuh Viona, menyatu kembali menjadi satu jiwa yang utuh.
Viona merasa kesadarannya meluas. Ia bisa melihat setiap rintik hujan di Jakarta, setiap detak jantung ibunya yang eyeless, dan setiap penyesalan yang tersimpan di halte bus. Ia mengangkat tangannya, dan seluruh cairan hitam di koridor itu berubah menjadi jembatan cahaya yang menembus langit-langit Origin.
"Ayo jalan! Sebelum pintunya nutup!" Viona menarik Lukas dan Julian naik ke jembatan cahaya tersebut.
Mereka melesat menembus kegelapan, kembali menuju dunia nyata. Namun, tepat sebelum mereka mencapai ujung cahaya, sebuah tangan besar yang terbuat dari rangkaian jam kuno muncul dari bawah, mencengkeram jembatan cahaya itu hingga retak.
Suara Alfred, Sang Penjaga yang seharusnya sudah mati, terdengar merayap dari kedalaman.
"Kamu pikir memaafkan dirimu sendiri sudah cukup untuk membayar tiket keluar dari sini, Nirmala?"
Viona menoleh ke bawah, dan di sana, di tengah badai jam kuno, ia melihat sosok Nathan Mahendra yang asli—Nathan yang berjubah compang-camping—sedang dirantai oleh Alfred.
"Vio... jangan noleh... jalan terus!" Nathan asli berteriak, namun suaranya terputus saat Alfred menarik rantainya.
Lukas menatap Viona dengan cemas. "Vio, kita nggak bisa ninggalin Bokap lo lagi!"
Viona menatap pintu keluar yang sudah di depan mata, lalu menatap ayahnya yang tersiksa di bawah sana. Ia mengepalkan tangannya yang masih memegang pena emas yang kini bersinar putih murni.
"Gue nggak bakal ninggalin siapa-siapa lagi, Lukas. Kasih gue payung birunya."
Julian menyerahkan patahan rangka payung biru itu. Viona menyatukan pena emas dan rangka payung tersebut, menciptakan sebuah senjata yang tidak pernah ada dalam catatan Ordo: Pena Pelindung Realitas.
"Lo mau tiket, Alfred? Ini tiketnya!"
Viona melepaskan ledakan energi dari senjatanya ke arah Alfred, namun ledakan itu justru membuka sebuah pintu rahasia di dalam Origin yang menyingkapkan sesuatu yang jauh lebih mengerikan daripada Ordo Chronos.
Di balik pintu itu, berdiri ribuan orang yang wajahnya persis seperti Viona, semuanya sedang memegang pena dan siap untuk menulis di atas buku yang berjudul: "Kematian Nirmala Putri Mahendra".
"Vio... kenapa mereka semua... mirip lo?" Lukas berbisik dengan ngeri.