NovelToon NovelToon
Aku Dan Jam Ajaibku

Aku Dan Jam Ajaibku

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita / Komedi / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:11k
Nilai: 5
Nama Author: Hafidz Irawan

Sifa (18 tahun) hanyalah gadis lulusan SMA yang 'kasat mata'. Di dunia yang memuja kekayaan dan penampilan, Sifa yang miskin, culun, dan polos adalah target empuk. Hidupnya adalah serangkaian kesialan: di-bully habis-habisan oleh duo sosialita kejam Rana dan Rani sejak sekolah, dikucilkan tanpa teman, dan harus bekerja serabutan demi ibunya. Tak ada yang spesial dari Sifa, kecuali hatinya yang seluas samudra.
Hingga suatu sore di taman kota, takdir melempar sebuah jam tangan butut ke pangkuannya.
Siapa sangka, benda rongsokan itu adalah "Chrono", asisten AI super canggih dari masa depan yang bisa melakukan apa saja—mulai dari memanipulasi data, mengubah penampilan, hingga meretas sistem perusahaan elit NVT tempat Sifa bekerja sebagai staf rendahan!
Dengan bantuan jam ajaib yang sarkas dan kocak itu, Sifa mulai membalas dendam pada Rana dan Rani dengan cara yang elegan. Namun, kekacauan dimulai saat Adi, CEO NVT yang tampan namun dingin, mulai menaruh curiga... sekaligus menaruh hati

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hafidz Irawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Singa Tua dan Jalur Tikus Digital

Ruang rapat Divisi Logistik terasa jauh lebih dingin daripada ruang rapat direksi kemarin. Bukan karena AC-nya, tapi karena tatapan mata dua puluh orang staf senior yang kini duduk mengelilingi meja oval.

Aku berdiri di ujung meja, memegang spidol whiteboard dengan tangan yang sedikit berkeringat. Ini adalah rapat perdana yang kupimpin sebagai Asisten Manajer Operasional. Di hadapanku duduk bapak-bapak dan ibu-ibu yang umurnya dua kali lipat umurku, yang sudah makan asam garam dunia logistik sejak aku masih belajar jalan.

Dan yang paling mengintimidasi duduk tepat di sebelah kananku. Pak Bambang. Senior Supervisor yang sudah mengabdi 20 tahun di NVT. Rambutnya sudah memutih, wajahnya keras, dan dia menatapku dengan sorot mata meremehkan yang tidak ditutup-tutupi.

"Jadi..." Pak Bambang membuka suara, nadanya berat dan sinis. "Mbak Sifa... eh, Bu Sifa sekarang ya? Mau ngajarin kita apa hari ini? Cara main lempar sepatu?"

Beberapa staf lain terkikik pelan, menutup mulut dengan tangan. Insiden sepatu tadi pagi rupanya sudah jadi legenda urban di lantai ini.

Wajahku memanas. "Maaf soal insiden tadi pagi, Pak Bambang. Itu kecelakaan. Sekarang kita fokus ke agenda kerja."

"Agenda kerja?" Pak Bambang mendengus, menyandarkan punggungnya angkuh. "Begini lho, Bu Sifa yang terhormat. Logistik itu bukan mainan anak SMA. Ini soal rute, soal cost, soal lead time. Kita lagi ada masalah besar hari ini. Kiriman 500 unit Motherboard ke Surabaya nyangkut di jalur Pantura karena jembatan Comal ambles lagi sejam yang lalu. Truk kita kejebak macet total 10 kilometer."

Pak Bambang menunjuk peta digital di layar monitor yang menunjukkan garis merah tebal di sepanjang jalur utara Jawa.

"Klien minta barang sampe jam 5 sore ini. Kalau telat, kita kena denda 200 juta. Nah, Bu Asisten Manajer yang dipilih langsung sama CEO, punya solusi apa? Mau nyuruh truknya terbang kayak sepatu Ibu?"

Tantangan terbuka. Suasana ruangan menegang. Semua mata tertuju padaku, menunggu aku gagap dan menangis lari keluar ruangan.

Aku menelan ludah. Ambles di Comal? Itu bencana logistik. Jalur alternatif selatan pasti sudah macet parah karena limpahan kendaraan. Kereta api logistik jadwalnya sudah lewat pagi tadi. Pesawat kargo? Biayanya bisa tiga kali lipat dan butuh booking H-1.

Otakku buntu. Aku baru hari pertama kerja, mana hafal jalur tikus Pantura?

"Deteksi tekanan darah naik. Kortisol meluap. Lo mau nyerah sama Aki-aki sombong ini, Fa?" suara Chrono tiba-tiba berdengung tenang di kepalaku.

"Aku nggak tau harus apa, Chrono! Ini jalan buntu! Macet total!" teriakku dalam hati.

"Nggak ada jalan buntu di kamus gue. Yang ada cuma rute yang belum ditemuin Google Maps. Gue baru aja hack satelit pemantau cuaca dan CCTV lalu lintas dinas perhubungan di radius 500 km dari Comal."

"Terus?"

"Analisis data menunjukkan: Jalur selatan macet. Jalur utara lumpuh. TAPI... ada satu anomali. Liat jalur laut. Ada kapal Roro kargo kecil milik swasta, KM. Bintang Laut, yang baru aja sandar darurat di pelabuhan Tegal karena kerusakan mesin ringan. Mereka lagi bongkar muat sebagian barang biar kapal enteng."

"Kapal rusak? Apa gunanya?"

"Dengerin dulu. Kapal itu tujuannya Surabaya. Mesinnya udah bener barusan (gue sadap komunikasi kaptennya). Mereka bakal berangkat 30 menit lagi dan mereka butuh muatan tambahan buat nutup rugi operasional. Truk kita yang kejebak macet itu posisinya cuma 2 kilometer dari jalan tikus menuju pelabuhan Tegal."

Mataku berbinar. Jalur laut via kapal "numpang"!

Aku menarik napas panjang, menegakkan bahu. Aku menatap Pak Bambang lurus-lurus. Rasa takutku perlahan hilang, berganti dengan keyakinan.

"Pak Bambang," suaraku keluar tenang dan tegas, mengejutkan diriku sendiri. "Bapak bilang jalur darat macet total, betul. Jalur udara mahal dan telat, betul."

Aku berjalan ke arah laptop yang terhubung ke proyektor.

"Tapi Bapak lupa satu elemen: Air. Laut."

"Laut?" Pak Bambang tertawa meremehkan. "Kapal Pelni jadwalnya besok, Neng! Mau dikirim pake rakit?"

"Bukan Pelni," aku mengetik sesuatu di laptop (dibantu Chrono yang mengalirkan data ke jariku). Di layar peta, muncul titik biru berkedip di pelabuhan Tegal.

"KM. Bintang Laut. Kapal kargo swasta. Posisi saat ini: Sandar di Pelabuhan Tegal. Status: Ready to depart 30 menit lagi menuju Tanjung Perak, Surabaya. Estimasi sampai: Jam 4 sore. Masih masuk deadline."

Pak Bambang mengerutkan kening, menatap layar tak percaya. "Bintang Laut? Saya nggak pernah denger jadwal kapal itu. Itu kapal liar?"

"Bukan liar, Pak. Itu kapal charter yang tadi pagi docking darurat tapi sekarang sudah sehat. Kapasitas kargonya kosong 40 persen. Dan truk kita..." aku menunjuk titik merah kemacetan. "...posisinya di sini. Di KM 120."

Aku menarik garis virtual di peta.

"Kalau supir truk kita, Pak Ujang, disuruh putar balik 500 meter, lalu ambil jalan desa Suka Maju yang tembus ke belakang pelabuhan Tegal, dia bisa sampai di dermaga dalam 15 menit. Kita pindahkan muatan Motherboard ke kapal itu. Biayanya... hmmm..."

"Biaya nego: 5 juta rupiah. Kaptennya lagi butuh duit buat beli solar," bisik Chrono.

"...Biayanya cuma 5 juta rupiah, Pak. Jauh lebih murah daripada denda 200 juta. Dan barang sampai tepat waktu."

Hening. Ruang rapat itu senyap. Para staf senior saling pandang, lalu menatap layar, lalu menatapku.

Pak Bambang terdiam seribu bahasa. Dia segera mengeluarkan HP-nya, menelepon jaringannya di pelabuhan Tegal untuk verifikasi.

"Halo, Dul? Iya, ini Bambang... Cek di dermaga 3, ada KM Bintang Laut nggak? Hah? Ada? Mau berangkat ke Surabaya setengah jam lagi?"

Wajah Pak Bambang berubah pucat. Dia menutup telepon pelan. Dia menatapku seolah aku baru saja melakukan sihir.

"Gimana, Pak?" tanyaku sopan namun menusuk. "Masih mau nunggu macet atau kita eksekusi rencana 'Anak SMA' ini?"

Pak Bambang berdehem keras, berusaha menutupi rasa malunya. Egonya sebagai senior terluka, tapi profesionalitasnya harus mengakui bahwa solusi itu brilian.

"Ehm. I-idenya... boleh juga. Lumayan cerdik," gumam Pak Bambang kaku. Dia menoleh ke staf admin. "Woy! Tunggu apa lagi?! Telepon Pak Ujang sekarang! Suruh puter balik ke jalan desa Suka Maju! Booking slot di kapal itu!"

Ruangan itu langsung sibuk. Suara telepon, ketikan keyboard, dan koordinasi cepat menggantikan suasana tegang tadi.

"Siap, Bu Sifa! Pak Ujang udah gerak!" lapor seorang staf muda dengan antusias.

"Bu, Kapten kapal setuju harga 5 juta! Kita aman!"

Aku menghela napas lega, menyandar ke meja. Kakiku lemas saking tegangnya tadi.

Pak Bambang berjalan mendekatiku. Aku menahan napas, siap dimaki lagi. Tapi ternyata, pria tua itu mengulurkan tangannya.

"Saya tarik ucapan saya soal sepatu terbang tadi," kata Pak Bambang, suaranya pelan tapi tulus. "Kamu punya insting logistik yang tajam. Jarang ada orang yang kepikiran cek kapal charter dadakan kayak gitu. Biasanya anak baru taunya cuma teori buku."

Aku menjabat tangan kasar Pak Bambang. "Terima kasih, Pak. Saya masih harus banyak belajar dari Bapak. Tadi itu cuma... kebetulan saya baca berita pelabuhan."

"Kebetulan yang menyelamatkan kita dari rugi ratusan juta," Pak Bambang tersenyum tipis, senyum pertamanya padaku. "Selamat datang di tim, Bu Asisten Manajer. Tapi awas ya, besok jangan pake sepatu longgar lagi."

Aku tertawa renyah. "Siap, Pak!"

Rapat dibubarkan dengan tepuk tangan kecil dari beberapa staf. Aku keluar ruangan dengan perasaan melayang. Aku berhasil. Aku bukan cuma "pacar bos", tapi aku bisa kerja.

Di lorong sepi, aku mencium layar jam tanganku.

"Makasih, Chrono. Kamu penyelamatku."

"No problem. Tapi inget, Fa. Gue cuma ngasih data. Yang punya nyali buat ngomong dan ngambil keputusan di depan singa tua itu... itu elo sendiri. Gue bangga sama lo, Nona Koala."

Aku tersenyum lebar.

Di kejauhan, dari balik pintu ruangannya yang sedikit terbuka, Adi ternyata memperhatikan semuanya. Dia melihat bagaimana Sifa memimpin, bagaimana dia menaklukkan Pak Bambang.

Adi tersenyum bangga, lalu mengetik pesan singkat di WhatsApp.

Mas Adi CEO 👔:

"Saya denger ada yang abis nyelametin kiriman Surabaya pake jalur laut rahasia? Hebat. Bonus poin buat Bu Asisten. Nanti malem saya traktir sate taichan sebagai hadiah. Jangan bawa sepatu cadangan ya. 😜"

Aku membaca pesan itu sambil berjalan menuju lift. Hari ini, sepatu terbangku mungkin jadi lelucon, tapi otakku baru saja jadi legenda.

Sifa irawan eh maksud nya sifa adistya baru saja naik level.

1
💕𝓴𝓪𝓼𝔂𝓬𝓱𝓪𝓷❀ ⃟⃟ˢᵏ
pasti cantik
Suo
karena sendal. jepit doang loh, bener bener si chrono😭
Kim Umai
aku salah fokus, lintah berbalut gaun gak tuh🤧
Panda%Sya🐼
Senyum plastik😭 itu gimana ya bayangin nya, dia senyum tapi terbang gitu bibirnya kayak filter di tiktok 😭😭
Panda%Sya🐼
Ngaku juga kan lo🤭
Panda%Sya🐼
kek cicak gak sih 😭🤣
only siskaa
satu keluarga jahat smua otaknya heran 😤
j_ryuka
ikut satu bakar Bakaran
j_ryuka
maulah
j_ryuka
kok mas 🙏
j_ryuka
kayaknya Rani sama Rana ini kayak iblis sama peri 🤣tapi karena di dekat iblis dia kayak iblis juga 🤣🙏
j_ryuka
dengan kebaya pun kita memancarkan wanita Indonesia sesungguhnya
Ria Irawati
karma di bayar kontan gk tuh
j_ryuka
tau promo aja 🤣
pojok_kulon
Mampus senjata makan tuan 🤭🤭
pojok_kulon
Ya Allah siapa lagi yang memfitnah Sifa
SarSari_
Dunia Sifa mulai berwarna sejak ada chrono, dan Rana cuma jadi latar antagonisnya 🔥🤭
💕𝓴𝓪𝓼𝔂𝓬𝓱𝓪𝓷❀ ⃟⃟ˢᵏ
wkwkwk🤣🤣🤣🤭🤭🤭🤭, ngakak banget aku
Panda%Sya🐼
percaya amat buk 😌
Panda%Sya🐼
Ini mah mau manggil makhluk halus 🤧
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!