Anjeli Pranita, putri cantik pak Burhan yang biasa di sapa Anjeli. Gadis cantik dengan julukan kembang desa rela putus sekolah semenjak insiden yang membuat Keseharian ayahnya hanya bisa duduk di kursi roda yang usang pemberian tetangganya. Anjeli adalah gadis yang pintar di bidang akademik, murah senyum dan ceria. Namun, kepergian ibunya bersama laki-laki lain dengan alasan sudah capek hidup miskin dan ditambah kondisi ayahnya, menghilangkan senyum dan keceriaan di wajahnya akibat luka yang ditoreh ibunya untuk mereka. Anjeli si gadis sederhana harus menjadi kuat dan tahan banting di umurnya yang masih 16 tahun. Suatu hari, Anjeli yang menjadi tulang punggung untuk keluarga sedang mengais rezeki sebagai kuli panggul di pasar menggantikan pekerjaan bapaknya sebelum kecelakaan. Pagi itu tanpa sengaja Anjeli bertemu seorang nenek yang sedang kelaparan, ia yang memang memiliki hati yang baik memberikan bekal untuk makannya kepada sang nenek itu. Dari pertolongan itu Anjeli diberikan sebuah cincin usang oleh sang nenek sebagai bentuk kebaikan Anjeli. Cincin apakah yang diberikan oleh sang nenek itu kepada Anjeli????? Apakah ada keajaiban untuk Anjeli dan keluarganya??? Yukkkkk….,ikuti cerita Anjeli….
8
Pagi itu, Anjeli memulai harinya dengan ritual yang kini menjadi jantung kehidupannya. Sebelum matahari benar-benar naik, ia sudah berada di kebun belakang, berjongkok di atas tanah yang kemarin sempat tampak mati. Karung pupuk yang sudah ia rendam di Ruang Ajaib semalam kini telah ia keluarkan. Anehnya, kotoran ayam itu tidak lagi berbau menyengat. Aromanya berubah menjadi seperti bau tanah hutan setelah hujan segar dan penuh nutrisi.
Anjeli mencampurkan pupuk itu ke petak tanah yang gersang dengan tangan telanjangnya. Ia tidak merasa jijik; baginya, setiap butir tanah ini adalah harapan.
"Kak, Aris bantu siram ya?" Aris muncul dengan ember kecilnya. Wajahnya ceria, dan di kantong bajunya terselip pensil warna hijau yang baru dibelikan Anjeli kemarin.
"Boleh, Sayang. Tapi siramnya pelan-pelan di bagian pinggir saja ya, supaya akarnya tidak kaget," pesan Anjeli lembut.
Sambil memperhatikan adiknya yang asyik menyiram, Anjeli beralih ke petak kangkung yang sudah siap panen. Kangkung-kangkung ini tidak ia beri ekstrak cepat, sehingga pertumbuhannya normal, namun karena air siramannya mengandung sedikit Air Rohani, daun-daunnya tampak lebih lebar dan batangnya sangat renyah.
Anjeli mulai memanen kangkung itu satu per satu. Ia tidak mencabutnya sampai akar, melainkan memotong batangnya agar nanti bisa tumbuh kembali. Ia mengikatnya dengan tali bambu dengan sangat rapi. Ada sekitar dua puluh ikat kangkung yang terlihat sangat cantik.
"Ris, tolong ambilkan keranjang di dapur untuk kakak, dek" pinta Anjeli.
Setelah keranjang siap, Anjeli mengajak Aris ke warung Mak Odah. Namun, di tengah jalan, mereka berpapasan dengan Pak Burhan yang sedang berjemur di teras depan.
"Mau ke pasar, Nak?" tanya Pak Burhan.
"Iya, Yah. Mau antar kangkung ke Mak Odah. Ayah mau titip sesuatu?"
Pak Burhan menggeleng, tersenyum melihat kedua anaknya begitu rukun. "Hati-hati di jalan. Ris, jaga Kakakmu ya."
"Siap, komandan!" Aris memberi hormat dengan gaya jenaka, membuat Anjeli dan Pak Burhan tertawa kecil.
Sesampainya di warung Mak Odah, kangkung Anjeli langsung ludes dalam waktu kurang dari lima belas menit. Pelanggan warung yang sudah tahu kualitas sayuran Anjeli rela mengantre.
"Ini uangnya, Njel. Lima puluh ribu rupiah untuk dua puluh ikat. Mak kasih bonus lima ribu karena kangkungmu buat warung Mak makin laris," kata Mak Odah sambil menyerahkan uang kertas.
Anjeli menerima uang itu dengan syukur. Di rumah, ia memiliki sebuah celengan bambu yang ia sembunyikan di bawah dipan tempat tidurnya. Setiap uang yang ia dapat, ia bagi menjadi tiga bagian, satu untuk keperluan dapur dan sekolah Aris, satu untuk modal bibit, dan sisanya yang paling besar ia masukkan ke celengan untuk membayar hutang ibunya.
Siang harinya, saat Anjeli sedang duduk di teras sambil menemani Aris menggambar, sebuah motor berhenti di depan rumah. Ternyata itu Pak Hendra. Kali ini ia tidak datang dengan mobil besarnya, melainkan motor biasa agar tidak terlalu menarik perhatian warga desa.
"Selamat siang, Anjeli. Pak Burhan," sapa Pak Hendra sopan.
Anjeli berdiri, sedikit gugup. "Siang, Pak Hendra. Ada apa ya, Pak?"
"Saya cuma lewat. Sekalian ingin bertanya, apakah ada panen tomat lagi? Hotel tempat saya menyetor sangat menyukai tomat yang kemarin. Mereka bertanya apakah bisa dikirim secara rutin," kata Pak Hendra sambil duduk di kursi kayu panjang di teras.
Anjeli menatap kebun belakangnya yang kini sedang iaistirahatkan. "Maaf, Pak Hendra. Untuk tomat, sepertinya saya belum bisa panen dalam waktu dekat. Tanah saya terbatas, dan saya ingin menjaganya tetap sehat. Saya tidak mau memaksakan tanaman."
Pak Hendra mengangguk paham. Ia melihat ada kebijaksanaan dalam diri gadis remaja ini. "Saya hargai itu. Petani yang baik adalah yang mencintai tanahnya, bukan yang hanya mengejar uang. Baiklah, kalau kangkung bagaimana? Saya lihat kangkungmu di warung Mak Odah juga sangat bagus."
"Kalau kangkung, saya bisa sediakan sepuluh ikat setiap tiga hari sekali, Pak. Skalanya masih kecil sekali, mungkin tidak cukup untuk hotel Bapak," jawab Anjeli jujur.
Pak Hendra tertawa kecil. "Sepuluh ikat pun saya ambil, Njel. Untuk konsumsi pribadi saya dan keluarga di rumah. Saya ingin anak-anak saya makan sayuran sehat seperti ini. Ini, saya bayar di muka untuk tiga kali pengiriman ke depan."
Pak Hendra menyerahkan uang seratus ribu rupiah. Anjeli sempat ragu, namun Pak Hendra memaksa.
"Anggap saja ini investasi supaya kamu semangat merawat kebunmu," ujar Pak Hendra sebelum berpamitan.
Malam itu, suasana di rumah terasa sangat hangat. Anjeli memasak nasi hangat, kangkung tumis terasi, dan sepotong ikan asin yang ia beli dari pasar.
"Ayah, tadi Pak Hendra titip salam. Dia sangat suka sayuran kita," cerita Anjeli sambil menyuapi ayahnya.
Pak Burhan mengunyah dengan nikmat. "Alhamdulillah. Ayah senang dengarnya. Oh iya, Nak. Tadi Ayah coba berdiri sebentar sekali. Mungkin hanya tiga detik sebelum Ayah duduk lagi karena gemetar. Tapi rasanya kaki Ayah tidak mati rasa lagi."
Mendengar itu, Aris bertepuk tangan. "Ayah hebat! Nanti kalau Ayah sudah bisa jalan, kita main bola di lapangan ya?"
Anjeli tersenyum, namun matanya berkaca-kaca. Ia menatap cincin di jarinya yang bersinar redup di bawah cahaya lampu minyak. Uang di bawah kasurnya mulai terkumpul, kesehatan ayahnya membaik, dan adiknya kini punya pensil warna.
Meskipun jalannya masih panjang untuk melunasi sepuluh juta rupiah, dan meskipun ia harus terus bersandiwara dengan pupuk kotoran ayam untuk menutupi keajaiban Air Rohani, Anjeli merasa hatinya sangat penuh. Semua lelahnya di kebun, semua peluhnya saat mencangkul tanah berbatu, terbayar tuntas setiap kali ia melihat senyum di wajah ayah dan adiknya.
Ia tahu, ia tidak butuh keajaiban besar yang instan. Keajaiban-keajaiban kecil setiap hari seperti inilah yang sebenarnya ia butuhkan untuk tetap kuat.
semangat updatenya 💪💪