NovelToon NovelToon
PULANG UNTUK SESUATU YANG TAK PERNAH PERGI

PULANG UNTUK SESUATU YANG TAK PERNAH PERGI

Status: tamat
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Berbaikan / Tamat
Popularitas:76
Nilai: 5
Nama Author: ilonksrcc

Raka pulang setelah delapan tahun menghilang di Singapura. Bukan karena rindu kampung halaman, tapi karena mimpi yang terus berulang mimpi tentang Maya, sepupunya yang dulu selalu jadi lawan debatnya, teman sekaligus musuh dalam satu tubuh.

Tapi yang dia temukan bukan Maya yang dia kenal. Maya yang dulu ceplas-ceplos kini diam seperti kuburan. Maya yang dulu penuh api kini hanya menyisakan abu. Ditinggal suami tanpa penjelasan, harus membesarkan dua anak sendirian, dan terjebak dalam kesendirian yang dia jaga ketat seperti benteng.

Raka datang dengan niat hanya sebentar. Cukup untuk memastikan sepupunya baik-baik saja. Cukup untuk menghilangkan rasa bersalah karena pergi tanpa pamit delapan tahun lalu. Tapi hidup punya rencana lain.

"Kadang, yang paling kita hindari adalah tempat kita seharusnya kembali. Dan orang yang paling kita lawan adalah cinta yang tak pernah benar-benar pergi."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilonksrcc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4: PINTU TERKUNCI

Langit mulai gelap ketika aku sampai kembali di depan rumah Maya. Suasana sore yang biasanya ramai dengan anak-anak bermain sekarang terasa suram, seolah-olah seluruh kompleks ikut berduka atas apa yang terjadi di dalam rumah itu.

Kinan sudah menungguku di balik pagar, wajahnya pucat dan mata masih merah. Begitu melihatku, dia langsung membuka pagar.

"Mama masih nangis, Om," bisiknya, suaranya gemetar. "Adek ketok pintu, Mama cuma bilang 'nanti'."

Aku membelai kepala Kinan pelan. "Kamu sudah makan belum?"

Dia menggeleng. "Adek tungguin Mama. Takut Mama lapar nanti."

Anak lima tahun. Seharusnya dia yang dilayani, bukan melayani. Seharusnya dia yang ditunggu, bukan menunggu.

"Oke, kita masak lagi ya," kataku sambil masuk ke rumah. Suasana di dalam masih seperti tadi sunyi, berat, dan penuh dengan sisa-sisa pertengkaran kami. "Kamu bantu Om."

Kami kembali ke dapur. Kali ini aku memasak lebih banyak nasi goreng dengan telur dan sosis, ditambah sup sayuran sederhana. Kinan berdiri di sampingku dengan serius, sesekali mengambilkan bumbu atau mengaduk-aduk nasi di wajan kecil yang kubuatkan khusus untuknya.

"Om, kenapa Mama marah sama Om?" tanyanya tiba-tiba sambil memandangku dengan mata polos.

Pertanyaan sederhana yang sulit dijawab.

"Karena... Om pernah buat kesalahan ke Mama adek," jawabku, berusaha jujur tapi tidak terlalu detail. "Dulu Om pergi lama sekali tanpa bilang. Itu bikin Mama adek sedih."

"Seperti Papa?"

Napasku tersendat. "Ya... mirip seperti itu."

"Tapi Om balik kan?" Kinan menatapku penuh harap. "Papa nggak balik-balik."

"Aku balik, Nak," kataku, dan kali ini aku yakin dengan kata-kataku sendiri. "Om tidak akan pergi lagi tanpa pamit."

Setelah makanan siap, aku menatanya di atas nampan. Ada dua piring satu untuk Kinan, satu untuk Maya. Lalu aku juga membuatkan teh hangat dengan madu.

"Kinan makan dulu di sini," perintahku. "Om bawa ini ke Mama."

Aku berjalan ke kamar Maya. Pintunya masih tertutup rapat. Aku mengetuk pelan.

"Maya? Aku bawa makanan."

Tidak ada jawaban.

"Maya, tolong. Buka pintu."

Diam.

Aku mengetuk lagi, sedikit lebih keras. "Kalau kamu tidak mau lihat aku, tidak apa. Tapi makan dulu. Demi Kinan."

Beberapa detik berlalu. Lalu kudengar suara kunci berputar pelan. Pintu terbuka selebar celah. Aku tidak melihat wajah Maya dia berdiri di balik pintu.

"Taro di luar," suaranya serak, parau karena terlalu lama menangis.

"Aku tidak akan pergi sampai kamu ambil," kataku tegas tapi lembut.

"Raka"

"Kinan khawatir. Dia belum makan karena mau tungguin kamu. Kamu mau dia tambah sedih?"

Diam lagi. Lalu tangannya muncul dari balik pintu tangan yang kurus, dengan kuku yang masih ada bekas tinta. Aku meletakkan nampan di tangannya. Tanganku sengaja menyentuh tangannya sebentar, dan aku merasakan betapa dingin jari-jarinya.

Dia menarik nampan itu, lalu pintu tertutup lagi. Tapi kali ini tidak terkunci. Itu progress kecil, tapi tetap progress.

Aku kembali ke dapur. Kinan sedang makan dengan lahap, tapi matanya sesekali melirik ke arah kamar Maya.

"Tenang, Mama sudah ambil makanannya," kataku sambil duduk di hadapannya.

"Terima kasih, Om," bisik Kinan.

 

Sekitar jam setengah enam, Bima pulang. Anak laki-laki delapan tahun itu masuk dengan seragam sekolah masih lengkap, tas berat di punggungnya. Wajahnya tampak lebih dewasa dari usianya ada garis kelelahan di sekitar mata yang seharusnya tidak ada di wajah anak seusianya.

Begitu melihatku, dia berhenti di pintu. "Siapa Anda?"

"Saya Raka. Sepupu Mama kamu," jawabku sambil berdiri. "Kamu pasti Bima."

Dia mengangguk, tapi tidak bersikap ramah. Matanya memindai ruangan seperti mencari sesuatu atau lebih tepatnya, mencari seseorang. "Mana Mama?"

"Di kamar. Sedang istirahat."

"Kinan?"

"Di dapur, baru habis makan."

Bima melepas sepatu dengan rapi, meletakkan tasnya di kursi. Gerakannya teratur, seperti orang dewasa kecil. "Anda akan tinggal di sini?"

Pertanyaan langsung. Jujur. Aku menghargai itu.

"Belum tahu. Tergantung Mama kamu."

Dia mengangguk lagi, lalu berjalan ke kamar Maya. Dia tidak mengetuk hanya berdiri di depan pintu dan berkata pelan, "Ma, Bima pulang."

Pintu terbuka. Kali ini Maya keluar. Wajahnya masih bengkak, tapi dia sudah mencoba tersenyum untuk anaknya. "Pulangnya telat hari ini?"

"Ada kegiatan ekstrakurikuler, Ma," jawab Bima sambil memeluk ibunya sebentar. "Apa Mama baik-baik saja?"

"Baik-baik saja," Maya membelai kepala Bima. "Mandi dulu, terus makan. Om Raka sudah masak."

Bima melirikku sekali lagi sebelum pergi ke kamar mandi. Maya berdiri di sana sebentar, menatapku. Ekspresinya tidak lagi marah hanya lelah, sangat lelah.

"Terima kasih untuk makanan," ucapnya pendek.

"Ada lagi di dapur. Untuk Bima."

Dia mengangguk, lalu pergi ke dapur. Aku mengikutinya dari jauh, tidak ingin membuatnya tidak nyaman. Dari ruang tamu, aku bisa melihatnya menyiapkan makanan untuk Bima, sementara Kinan sudah selesai makan dan sedang mencuci piringnya sendiri di wastafel kecil kebiasaan yang seharusnya tidak dimiliki anak lima tahun.

Bima keluar dari kamar mandi dengan baju santai. Dia langsung duduk di meja makan, mulai makan tanpa banyak bicara. Maya duduk di seberangnya, menatap anaknya makan dengan ekspresi yang sulit kubaca campuran antara cinta, bangga, dan rasa bersalah.

Aku merasa seperti pengamat di kehidupan mereka. Seperti orang asing yang tidak sengaja melihat ke dalam rumah orang lain. Tapi ini bukan rumah orang lain ini rumah sepupuku. Ini keluarga yang seharusnya juga keluargaku.

Setelah Bima selesai makan, Maya mulai membereskan meja. Aku memberanikan diri masuk ke dapur.

"Biar aku saja," kataku sambil mengambil piring dari tangannya.

Dia tidak menolak. Hanya mundur selangkah, memberiku ruang. Kinan sudah pergi ke kamar bersama Bima, meninggalkan kami berdua di dapur kecil yang tiba-tiba terasa sempit.

Aku mencuci piring dengan pelan, memberi waktu pada Maya untuk bicara jika dia mau. Tapi dia hanya berdiri di sana, bersandar di pintu dapur, menatapku dengan tatapan kosong.

"Tadi Kinan telepon aku," akhirnya aku memecah keheningan. "Dia bilang kamu mengunci diri di kamar."

Maya menghela napas. "Aku... tidak sengaja membuatnya takut."

"Aku tahu."

"Dan aku tidak sengaja membuatmu kembali ke sini."

Aku berhenti mencuci, menoleh padanya. "Kamu tidak membuatku kembali, Maya. Aku yang memutuskan untuk kembali."

"Kenapa sekarang?" suaranya lembut, penuh rasa ingin tahu yang tulus. "Kenapa setelah delapan tahun?"

Aku mengeringkan tangan dengan lap. Pertanyaan itu membutuhkan jawaban yang jujur. Dan mungkin, inilah waktunya untuk jujur.

"Dulu aku pergi karena tidak kuat melihatmu menikah," aku mulai, suaraku pelan. "Aku tahu itu egois. Aku tahu itu salah. Tapi saat itu, rasanya seperti pilihan satu-satunya."

Maya diam, mendengarkan.

"Di Singapura, aku mencoba melupakan. Mencoba membangun hidup baru. Dan untuk beberapa saat, aku pikir berhasil. Punya pekerjaan bagus, punya apartemen kecil, punya teman-teman. Tapi..."

"Tapi?"

"Tapi selalu ada yang kurang. Selalu ada rasa hampa. Dan waktu Ibu bilang tentang perceraianmu... tiba-tiba, semua alasan untuk tetap di sana hilang. Karena alasan utamaku pergi kamu sudah menikah sudah tidak ada lagi."

Maya menutup mata sebentar. "Jadi kamu kembali karena aku sudah cerai?"

"Bukan seperti itu," aku cepat menyanggah. "Aku kembali karena... karena aku sadar bahwa lari tidak menyelesaikan apa-apa. Aku kembali karena kamu keluarga. Karena kamu dan anak-anakmu penting bagiku."

"Penting seperti apa, Raka?" dia membuka mata, menatapku langsung. "Penting seperti sepupu? Atau... lebih dari itu?"

Ruangan terasa semakin sempit. Pertanyaan itu menggantung di antara kami, berat dengan makna dan konsekuensi.

"Aku tidak tahu, Maya," jawabku jujur. "Selama ini aku berusaha tidak memikirkan itu. Karena memikirkannya terasa salah. Tapi yang aku tahu adalah: aku tidak bisa meninggalkanmu lagi. Tidak ketika kamu sedang seperti ini."

Air mata mulai menggenang di matanya lagi, tapi kali ini dia tidak berusaha menahannya. "Aku takut, Ra."

"Aku tahu."

"Aku takut kamu akan pergi lagi. Aku takut akan terbiasa dengan keberadaanmu lalu kamu pergi. Aku takut anak-anak akan semakin terluka. Mereka sudah ditinggal satu laki-laki dalam hidup mereka. Aku tidak mau mereka kehilangan lagi."

Aku melangkah mendekat, pelan, memberinya waktu untuk mundur jika tidak nyaman. Tapi dia tetap di tempatnya.

"Aku tidak akan berjanji hal-hal besar," kataku, sekarang hanya berjarak satu langkah darinya. "Karena janji bisa diingkari. Tapi aku akan berusaha. Berusaha untuk konsisten. Berusaha untuk ada. Dan jika suatu hari aku harus pergi untuk alasan apa pun aku akan bilang. Aku akan pamit. Tidak seperti dulu."

Maya mengangguk pelan, air mata mengalir di pipinya. "Aku ingin percaya kamu."

"Kamu tidak harus percaya sekarang. Lihat saja tindakanku. Nilai dari apa yang kulakukan, bukan dari apa yang kukatakan."

Dia mengusap air matanya dengan punggung tangan. "Kamu mau tinggal di mana?"

"Hotel dulu."

"Tidak," dia menggeleng. "Hotel mahal. Kamu bisa... kamu bisa tidur di ruang tamu. Sofanya bisa dibuka jadi tempat tidur."

Tawaran itu mengejutkanku. Setelah semua yang terjadi, dia masih mau memberiku kesempatan.

"Kamu yakin?" tanyaku.

"Tidak," jawabnya jujur. "Aku tidak yakin tentang apa pun sekarang. Tapi... lebih baik kamu di sini daripada di hotel. Lebih baik Kinan dan Bima punya seseorang di rumah selain aku."

Aku mengerti. Ini bukan tentang mempercayaiku sepenuhnya. Ini tentang kebutuhan praktis. Tentang keamanan anak-anak. Tentang tidak ingin sendirian.

"Oke," aku setuju. "Aku akan tidur di sofa. Dan besok, kita bicara tentang... aturan. Tentang batasan."

Maya mengangguk. "Aturan. Ya, kita butuh itu."

Dia pergi ke lemari di ruang tamu, mengambil sprei dan selimut. Aku membantunya membuka sofa menjadi tempat tidur. Kami bekerja dalam diam, tapi kali ini diamnya tidak tegang hanya... fokus.

Setelah tempat tidur siap, Maya berdiri di sana sebentar, memandangiku.

"Raka," ucapnya.

"Iya?"

"Terima kasih sudah kembali."

Dan sebelum aku sempat menjawab, dia sudah berbalik dan pergi ke kamarnya, menutup pintu dengan pelan.

Aku berdiri di ruang tamu yang gelap, hanya diterangi cahaya lampu jalan dari jendela. Sofa yang baru saja kami siapkan terasa seperti simbol—bukan tempat tidur yang nyaman, bukan kamar pribadi, tapi sebuah awal.

Awal yang rapuh. Awal yang penuh ketidakpastian.

Tapi tetap saja, sebuah awal.

Aku berbaring di sofa, menatap langit-langit. Pikiranku melayang ke lima tahun lalu, ke hari pernikahan Maya. Aku ingat bagaimana dia tersenyum, tapi matanya tidak. Aku ingat bagaimana dia melihatku di tengah resepsi, seperti bertanya sesuatu tanpa kata. Dan aku ingat bagaimana aku berbalik, pergi, dan naik pesawat ke Singapura keesokan harinya tanpa pamit.

Mungkin andai saat itu aku tetap di sana. Andai aku mengatakan sesuatu. Andai aku jujur tentang perasaanku.

Tapi hidup tidak berjalan dengan "andai". Hidup berjalan dengan "sekarang". Dan sekarang, aku di sini. Dia di kamar sebelah. Anak-anaknya tertidur. Dan ada kesempatan kecil, rapuh, tapi ada untuk memperbaiki yang rusak.

Telepon bergetar di saku. Pesan dari Ibu: "Bagaimana Maya?"

Aku membalas: "Sedang istirahat. Aku menginap di ruang tamunya."

Balasan cepat: "Hati-hati, Nak. Jangan terburu-buru."

Aku tersenyum tipis. Ibu selalu tahu.

Lalu pesan lain masuk, kali ini dari nomor Singapura. Bosku: "Raka, kapan kembali? Proyek baru butuh konfirmasimu."

Aku menatap pesan itu lama. Ini kenyataan. Hidupku di Singapura tidak akan berhenti karena keputusanku pulang. Ada tanggung jawab, ada komitmen, ada kehidupan yang sudah kubangun.

Tapi malam ini, di sofa yang agak keras di ruang tamu sepupuku yang sedang berduka, aku tahu jawabannya.

Aku belum tahu kapan kembali. Atau apakah akan kembali sama sekali.

Karena untuk pertama kalinya dalam lima tahun, aku merasa... pulang.

Dan itu adalah perasaan yang tidak ingin kulepaskan lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!