Adelia itu cuma murid biasa, menurutnya.
Namun siapa sangka, justru banyak yang mengincar pacar Vero itu. Tapi, kedatangan dari yang namanya mantan memang merusak kisah pacaran.
Ditambah lagi kehadiran Ravi sebagai pangeran kesiangan, justru berhasil membuat seorang Adelia Morva Agustina si cewek kasar jatuh ke dalam pelukannya.
Tapi, cinta monyet itu memang ngeri-ngeri sedap sensasinya. Apalagi, kalau penunggu di penantian mereka justru akhir tak terduga.
IG : miqaela_isqa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isqa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menonton
Sore harinya Adel, Ria dan Mega sudah berkumpul di rumah Andin. Mereka berencana menginap, jadi masing-masing sudah membawa baju ganti untuk besok pagi.
Saat sedang ngumpul main kartu Remi, “Del, kamu pacaran sama Vero?” tanya Andin.
“Gak ah, kita cuma temanan kok,” jawabku seadanya.
“Serius cuma temanan? Sampai nungguin dan antarin kamu pulang cuma bilang temanan?” tanya Ria heran.
“Iya itukan wajar,” tukasku acuh tak acuh.
“Waahh, tapi kalau kamu benaran pacaran bakal menarik tuh,” tukas Mega.
“Kenapa?” tanyaku heran.
“Si Vero kan ada penggemarnya, Sabina dari kelas kami dan Aurel dari kelas 10-1,” jawab Mega.
“Eh serius?! Si Sabina?! Gak nyangka banget,” tukas Ria seolah tak percaya.
“Memang kenapa si Sabina itu? Segitunya sama dia,” tanyaku heran.
“Kamu gak tahu? Dia kan incaran para senior sejak MOS, apalagi itu si sekretaris OSIS kak Ariel juga ngincarin dia,” pungkas Andin.
“Ooh, populer dong ya, jangan-jangan dia yang disukai Vero,” sambung Adel.
“Hah! Vero suka sama dia?! Kamu yakin?!” tanya Mega.
“Gak tahu, dia bilang dia suka sama seseorang,” sambungku menjelaskan.
“Jangan-jangan kamu lagi yang disukainya,” sahut Andin.
Adel pun memegang kepalanya dengan kedua tangannya, “Aahhh! Aku gak percaya dan gak mau berharap!”
“Eeh!? Jadi kamu benaran suka sama dia?!” ledek Ria.
“Gak tahu ah! Jangan bahas dia lagi!” tukasku bingung dengan ocehan mereka.
“Pasti gak kebayang gimana wajah si Sabina sama Aurel kalau seandainya kalian pacaran,” tambah Andin.
“Iya tuh, si Sabina pasti kayak nenek sihir, di cuekin Vero tambah jadi nenek lampir!” celoteh Mega membuat semuanya tertawa.
“Kruuuukk.... Kruuuggkk...” bunyi perut Andin pun mengejutkan penonton.
“Woi apaan tuh!” teriak Mega tertawa.
🎵“Cacing-cacing di perut curi semua nutrisi,”🎵 nyanyi si Ria. Aku pun juga ikutan tertawa mendengar nyanyian Ria.
“Ya sudah makan yuk,” ajak Andin.
“Gak ah, aku sudah makan sebelum kesini,” balas Ria.
“Aku juga,” sambungku.
“Aku juga sudah makan,” sambung Mega menambahkan.
“Lah, kalau kalian sudah makan terus aku gimana?!” oceh Andin.
“Ya makan sajalah kamu sendiri!” si Ria pun emosi bercanda.
“Makan bareng dong, aku bikinin mie goreng!” ajak Andin menawarkan.
“Oh boleh deh! Aku mie kuah ya!” ocehku mengiyakan tawarannya.
“Enak juga tuh, aku mie goreng saja!” sambung si Ria.
“Enak banget ya, temanin aku dong! Kita bikin sama-sama!” celoteh Andin.
“Iya-iya!” sahut Mega. Lalu kami semua pun keluar kamar dan menuju ke dapur Andin. Dirumah, Andin hanya tinggal bersama papanya dan kakak laki-lakinya, ibunya sudah tiada saat ia masih SD.
Cuma sekarang kakaknya sedang kuliah dan ayahnya juga sedang bekerja sebagai dokter gigi. Tapi untungnya ada bibi pembantu yang bekerja di rumah Andin dari pagi sampai sore, jadi ia tidak akan kesusahan untuk masak atau pun mengurus urusan rumah tangga yang lain.
Aku memotong daun bawang, bawang merah, bawang putih, Ria bertugas membuat mie goreng dan Mega membuat mie kuah.
Sedangkan Andin mengurus perlengkapan memasak yang kurang. Kami memasak enam bungkus mie, tiga mie goreng dan tiga mie kuah.
Akhirnya setelah menyelesaikan masakan mie yang sudah di idam-idamkan, kami pun puas dan bangga. Bagaimana tidak, itu karena perwujudan mie nya mirip dengan iklan-iklan yang ada di tv loh, walau rasanya gak jelas juga. Dan kami pun langsung membersihkan dapur si Andin yang agak berantakan jadi rapi, walau wajan yang di pakai belum dicuci.
Kami memakan mie dengan lahap dan nikmat, walau tak disangka jika mie kuah lezat yang dimasak Mega sangat pedas luar biasa, sehingga bibirku terasa menebal alias monyong memakannya.
“Mega, pedas banget,” ocehku.
“Gak kok biasa saja pedasnya,” tukas Mega heran.
“Masa iya gak pedas,” jawabku seolah tak percaya perkataan Mega, padahal ingusku sudah terpeleset jatuh karena pedas yang kurasakan.
“Andin pun mencoba mie kuah punyaku, anj*r pedas banget, diare gue nih!” pekiknya sambil menghembus-hembuskan napas mie nya.
Si Ria juga mencobanya, “wuuiiih gila lidah lo Ga! Kayak sirup cabai tahu gak! Tapi enak!” puji Ria. Ia malah ketagihan sedangkan aku merana, walau pun pedasnya ngegas mulutku, tapi tetap tak bisa ditahan untuk memakannya, seolah-olah perutku memanggil-manggil mie kuah itu untuk memandikannya dengan kehangatan dan menyelimutinya dengan kepedasan.
Tanpa diduga kami pun menghabiskan semua mienya, perutku pun terasa agak begah, tubuh berkeringat dan kepala mulai berat. Pertanda kalau kantuk sudah mendekat, akhirnya kami tidak bisa tertidur karena mangkuk-mangkuk dan peralatan masak belum dicuci.
Kami sudah menyelesaikan semuanya, setelah selesai berberes kami berempat pun nonton tv di ruang tamu. Tak disangka film yang disajikan dan ditonton si tuan rumah Andin, adalah film yang tidak begitu menarik mata dan hati.
Seperti yang semua orang tahu, tidak semua penonton menyukai film di mana adegan radius mobil masih 6 meter dan sudah membunyikan klaksonnya tit..! tiiiiittt..! tapi tokohnya sudah berteriak duluan sebelum ditabrak bukannya lari, tentu saja tidak akan disukai semua penonton.
Tidak juga adegan romantis dirimu terpeleset kulit pisang dan ditangkap pemuda tampan membahana sambil tatap-tatapan selama lebih dari 1000 detik akan menyentuh kami para penonton.
Kami ingin yang menantang, menantang! Pilihan pun dijatuhkan pada film india yang tariannya menggoda.
Tapi tak sampai satu jam kami sudah merasa bosan, “ke kamarku saja yuk,” ajak Andin. “Di laptopku ada film yang lebih bagus,” tambahnya.
“Pemainnya cantik gak?” tanya Ria.
Seharusnya dia tanyakan ganteng gak?! Karena dia seorang perempuan.
“Ganteng oon! Bukan cantik!” tukasku padanya.
“Tenang saja! Ada roti sobeknya!” oceh Andin sambil mengacungkan jempolnya. Dengan langkah riang kami mengekori Andin kekamarnya, sesampainya di kamar ia langsung mengeluarkan laptop dan menghidupkannya.
Kami pun duduk berkumpul di atas tempat tidur Andin, ia mulai membuka folder yang berisi film-film tabungannya. Luar biasa! Ada lebih dari 15 judul film di laptopnya, “yang ini sudah kutonton sama ini,” tukas Andin sambil menunjuk empat film yang sudah dilihatnya.
“Yang lain? Belum ditonton?!” tanya Mega heran.
“Belumlah!” jawab Andin.
“Terus ngapain disimpan kalau gak dilihat?!” sambung Ria.
“Iya gak sempat,” jelas Andin.
“Bilang saja takut! Nih judul film hantu, mental kerupuk saja mau nonton sendiri!” ocehku panjang lebar. “Mmmm!” balas Andin sambil memanyunkan bibirnya.
Film pun mulai diputar, beberapa adegan pun mulai berlangsung...
“Apaan nih! Ini roti boy bukan roti sobek!” oceh Mega.
“Iya nih, kacau nih anak! Gak bisa bedain roti boy roti sobek!” sambung Ria.
“Oh, ada kok, sampingannya roti sobek!” pungkas Ria.
“Terus bintangnya roti boy? Aaakhhh!!! Kacau nih film!” tukas Ria. Aku hanya tertawa karena menurutku bintang utamanya lumayan tampan, setidaknya postur roti boy cukup menawan.
“Ooh tapi lumayan, bintangnya ganteng,” oceh Mega sesuai sepemikiran denganku.
Adegan film terus berlanjut...
“Woi... Woi... Woi...!!” pekikku.
“So hot!!!” pekik Mega tak jelas.
🎵“Baiklah pemirsa-pemirsa, bagi yang di bawah umur, ditegaskan untuk tidak membaca, subtitle dan menontonnya, woa...woa...woa...woa...”🎵 celoteh Ria menyanyikannya dengan mengcover irama lagu shape of you dari Ed Sheeran.
Kami berempat menonton melotot pada adegan yang disuguhkan. Adegan begini begitu uwik...uwik...uwik... di luar dugaan itu, yang seharusnya tak pantas ditonton kami yang masih di bawah umur pun membuat kami terbelalak.
“Gila! Ceweknya kok gitu banget diciumnya!” pekik Andin.
“Iya! Aku saja gak sampai segitunya ciuman,” tukas Mega.
“Anj**rrr si Mega!!!” pekik hatiku tak percaya mendengar ocehannya.
“Gila! Sudah pernah lo Meg?!” tanya Andin tak percaya.
“Ya kalau ciuman sudah pernahlah! Tapi gak kayak gini parahnya, cuma nempel-nempel saja!” jelas Mega.
“Dasar bocah! Itu namanya lo dicium! Bukan ciuman!” celoteh Ria.
“Emang apa bedanya?” tanyaku berotak polos.
“Bedalah! Kalau dicium bibir saling nempel, kalau ciuman nih kayak di film!” tunjuk Ria pada film di laptop. “Ini baru ciuman! Pakai goyang-goyang lidah!” oceh Ria panjang lebar sambil nunjuk-nunjuk film yang diputar.
“Gila Ri! Kok lo bisa tahu!” pekik Andin kaget dengan ajaran Ria sensei yang meleset.
“Iya tahulah! Aku tuh maniak komik, yang kayak gini sih sudah biasa!” ledeknya.
Aku pun melongo mendengar ocehan Ria, “makanya sekali-kali itu baca komik biar dapat pencerahan!” tambahnya.
“Ya ampun Ri, level bacaanmu Ri!” tukas Mega.
“Salah! Kalian saja yang ketinggalan jaman!” oceh Ria sambil meledek kami yang masih memakai otak polos.
💙💙💜💜❤️❤️💜💜🌷🌷💜💜💕💕💕💜💜💜♥️♥️♥️💜💜💜💙💙💜💜💜
beli jaringan aja 🤣🤣🤣♥️♥️♥️💕💕❤️❤️🌷🌷💕💕♥️♥️
🤣🤣🌷🌷🌷💙💙💜💜♥️♥️♥️💕💕💕❤️❤️🌷🌷💙💙💜💜
♥️♥️♥️🌷🌷🌷💜💜💜💜💜