Sinopsis
Norden adalah kota mati bagi Noah, sampai Alice datang. Gadis misterius dari ibu kota itu menyewa jasa Noah untuk memperbaiki villa tua yang terasingkan di atas bukit.
Pada awalnya hanya hubungan kerja biasa, namun kesepian menyatukan mereka. Di tengah dinginnya angin utara, kedekatan itu terasa begitu nyata bagi Noah.
Namun, tepat ketika Noah merasa hidupnya mulai berubah, Alice menghilang dalam semalam.
Tanpa jejak, tanpa pesan. Hanya ada sebuah amplop tebal berisi uang yang tertinggal di meja bengkel Noah. Apakah kedekatan mereka selama ini nyata? Atau bagi Alice, Noah hanyalah sekadar "hiburan" yang kini sudah dibayar lunas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuh! No!, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Garis yang Terlampaui
(POV: Noah)
Aku tidak tidur malam itu.
Bukan karena takut, tapi karena tubuhku menolak rileks. Ada sesuatu yang terasa salah—bukan berbahaya, tapi mendesak. Seperti mesin yang bunyinya sedikit berubah, memberi tahu bahwa sesuatu di dalamnya tidak bekerja sebagaimana mestinya.
Pagi-pagi sekali, aku turun ke pelabuhan untuk mengambil suku cadang. Kabut masih tebal.
Kapal-kapal terlihat seperti bayangan tanpa bentuk.
Saat aku kembali, aku melihatnya lagi.
Mobil hitam itu.
Terparkir di ujung jalan menuju bukit. Mesin mati.
Kaca gelap. Terlalu bersih untuk Norden.
Aku tidak langsung berhenti. Aku lewat begitu saja, tapi aku memperlambat laju, memperhatikan dari sudut mata.
Dua orang di dalam.
Tidak turun. Tidak bergerak.
Menunggu.
Aku tahu satu hal dengan pasti: ini bukan urusan bisnis biasa.
Dan meski Alice tidak memintanya, aku tidak bisa berpura-pura bahwa ini bukan urusanku juga.
(POV: Alice)
Aku merasa diawasi bahkan sebelum melihat apa pun.
Perasaan itu menempel di kulit, membuat udara terasa lebih berat. Aku menutup tirai lebih rapat, lalu menyadari betapa sia-sianya itu.
Ketika aku melihat mobil hitam itu dari lantai dua, lututku melemas.
Mereka tidak masuk. Tidak memaksa. Tidak mengetuk.
Itu lebih buruk.
Mereka menunggu.
Aku mengambil ponsel, jari-jariku kaku. Aku membuka kontak Noah, lalu menutupnya lagi.
Aku yang memilih ruang.
Aku yang berkata tidak ingin melibatkannya.
Namun kini, dunia tidak memberiku pilihan elegan.
Aku menekan tombol panggil.
(POV: Noah)
Teleponku berdering saat aku masih di truk, beberapa ratus meter dari bengkel.
Nama Alice muncul di layar.
Aku langsung mengangkatnya.
“Aku melihat mobil itu,” katanya tanpa pembukaan.
“Aku juga,” jawabku.
Ada jeda. Lalu, “Mereka masih di sana.”
“Aku tahu.”
“Dan aku takut.”
Aku menepi.
“Aku akan ke atas,” kataku. “Sekarang.”
“Aku tidak—”
“Ini bukan soal melanggar ruang,” potongku pelan.
“Ini soal keselamatan.”
Ia tidak membantah lagi.
(POV: Alice)
Ketika Noah tiba, mobil itu masih ada.
Ia berdiri di halaman vila, menatap ke arah jalan.
Posturnya tenang, tapi aku bisa melihat ketegangan di bahunya.
“Kau tidak harus melakukan ini,” kataku.
“Aku tahu,” jawabnya. “Tapi aku memilih melakukannya.”
Kami masuk ke dalam.
Kami tidak duduk.
Kami menunggu.
Lima belas menit kemudian, mobil itu akhirnya bergerak. Perlahan. Seolah ingin memastikan kami melihatnya pergi.
Aku hampir runtuh ke lantai.
(POV: Noah)
Mereka pergi.
Untuk sekarang.
Namun ini bukan kemenangan. Ini pengukuran.
Mereka ingin melihat reaksiku. Reaksi Alice. Siapa saja yang terlibat.
Dan sekarang, aku terlibat.
“Alice,” kataku, “mereka akan kembali.”
Ia mengangguk, wajahnya pucat.
“Apa rencanamu?” tanyanya.
Aku menghela napas. “Aku tidak tahu. Tapi kita tidak bisa berpura-pura ini akan hilang sendiri.”
Kata kita menggantung di udara.
Ia tidak mengoreksinya.
(POV: Alice)
Aku tidak ingin menyeretnya lebih jauh.
Namun kenyataannya sudah jelas: garis itu telah terlampaui, bahkan sebelum aku menyadarinya.
“Aku mungkin harus pergi,” kataku pelan.
Noah menatapku tajam. “Dipaksa?”
“Aku tidak tahu. Tapi mereka tidak akan berhenti.”
Ia berjalan ke jendela, menatap jalan kosong.
“Kalau kau pergi karena takut,” katanya, “itu bukan pilihan. Itu penyerahan.”
Aku menutup mata.
“Aku lelah,” bisikku.
Ia menoleh, ekspresinya melunak. “Aku tahu.”
(POV: Noah)
Aku tidak menawarkan solusi heroik.
Aku hanya mengatakan kebenaran.
“Jika kau ingin pergi, aku tidak akan menahanmu,” kataku. “Tapi jika kau ingin bertahan—setidaknya untuk sekarang—kau tidak sendirian.”
Ia menatapku lama.
“Ini berbahaya,” katanya.
“Semua hal yang berarti selalu begitu,” jawabku.
Aku tidak yakin apakah itu nasihat atau pengakuan.
(POV: Alice)
Aku tidak menjawabnya hari itu.
Namun ketika malam turun, dan lampu vila menyala satu per satu, aku menyadari sesuatu yang tidak bisa kutarik kembali.
Aku tidak lagi sendirian menghadapi dunia.
Dan itu berarti, apa pun yang terjadi setelah ini, akan meninggalkan bekas—pada kami berdua.