Juan Dinhara Pratama, putra bungsu dari keluarga Pratama. Juan pria tampan, energik, sang petualang cinta yang di gandrungi banyak wanita.
Tapi petualangan cinta Juan terancam berakhir ketika sang bunda memaksa Juan untuk menjaga seorang gadis cupu yang sama sekali tidak masuk dalam kriteria wanitanya.
Apakah gadis cupu bernama Nikki Hara Syahputra yang merupakan putri dari sahabat Via sang ibunda Juan mampu menaklukkan hati si playboy petualang cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvi Barta Jadul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengikuti lomba
Nafasmu kini adalah hembusan terakhir nafas orang lain. Maka dari itu berhentilah mengeluh. Belajarlah untuk selalu mensyukuri hidup dengan apa yang telah kau miliki.
~Ay Alvi~
Juan menemani Emily hingga waktu makan siang tiba. Bahkan pemuda itu melewatkan kelas pertama kuliahnya. Juan hanya menitipkan absen pada Farrel sahabatnya, karena ia sendiri terlalu sibuk dengan kekasih barunya.
Emily mengajak Juan untuk makan siang di sebuah restauran terkenal. Gadis itu juga yang memilihkan menu makanan yang akan mereka pesan. Juan sendiri nampak tidak terlalu peduli, ia memang bukan tipe pemilih terhadap makanan. Selama makanan itu sehat dan bisa di makan, Juan tidak akan menolaknya.
"Ju," panggil Emily manja, gadis cantik bermata biru itu sedang menatap lekat-lekat wajah Juan yang kini telah resmi menjadi kekasihnya.
"Ehm ...," jawaban yang keluar dari mulut Juan karena pemuda itu tengah sibuk mengunyah makan siangnya.
"Nanti malam kita pergi ya!" ajak Emily, gadis itu ingin terus-menerus berada di samping Juan. Seolah takut jika ia lengah akan ada wanita yang merebut kekasihnya yang tampan tersebut.
Hampir semua mahasiswa New York University mengenal siapa Juan dan mengetahui sifat pemuda tersebut. Pemuda tampan yang berasal dari keluarga kaya raya yang memiliki kebiasaan bergonta-ganti pacar dalam tempo satu bulan.
Maka dari itu, Emily berniat untuk menjadikan Juan miliknya selamanya, ia ingin menghilangkan kebiasaan Juan. Gadis itu berkeinginan untuk menjadi satu-satunya kekasih pria tampan tersebut hingga ke jenjang yang lebih serius.
"Ayolah!" Emily mulai merengek karena Juan tak merespon ucapannya.
"Nanti malam ada race, aku tidak bisa pergi bersamamu." Juan menjawab setelah menghabiskan makan siangnya.
"Boleh aku ikut?" tanya Emily menatap Juan dengan memelas dan berharap Juan mau mengajaknya.
Juan menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan kekasih barunya tersebut.
"Tapi kau datang sendiri, Aku tidak bisa menjemput dan mengantarmu pulang," jawab Juan menyebutkan syarat jika Emily berniat datang ke race.
Emily mengangguk antusias, gadis itu sangat senang Juan memperbolehkannya untuk datang ke race, tidak perduli harus datang dan pulang sendiri bagi Emily yang terpenting adalah bisa selalu berdekatan dengan Juan.
Sementara itu di kampus, Hara tengah berada di kantin saat Jodi kembali menghampirinya setelah mereka berpisah di kelas tadi.
Pemuda itu nampak membawa sebuah selebaran yang berisi tentang pengumuman lomba balap yang di adakan di luar kota New York.
"Apa kau berminat?" tanya Jodi menyodorkan selebaran itu pada Hara yang saat ini tengah sibuk mengaduk-aduk minumannya.
Hara meraih selebaran yang di berikan oleh Jodi, gadis itu membaca dengan seksama apa yang tertera di sana. Pengumuman lomba balap berskala besar dengan iming-iming hadiah yang menggiurkan. Tentu gadis itu sangat tertarik, namun ia juga terlihat ragu-ragu.
"Kenapa?" tanya Jodi yang melihat jelas keragu-raguan di wajah sahabatnya tersebut.
Hara nampak bingung bagaimana ia harus menjelaskan masalah yang kini mengusik hatinya. Pasalnya kini gadis itu tinggal di kediaman keluarga Pratama, tentu akan sulit bagi Hara untuk meminta izin keluar kota tanpa alasan yang jelas.
"Aku bingung," jawab Hara.
"Apa yang membuatmu bingung?" tanya Jodi lagi.
Hara menundukkan kepalanya, gadis itu kembali mengaduk-aduk minuman yang sedari tadi belum sempat ia habiskan.
"Bingung bagaimana harus meminta izin pada Aunty Via," jelas Hara menatap serius ke arah Jodi meminta pria tersebut memberikan solusi untuk masalah yang tengah di hadapinya.
"Mengapa Kau harus minta izin padanya?' tanya Jodi kebingungan, pemuda itu belum mengetahui kalau saat ini Hara telah tinggal bersama dengan keluarga Pratama.
"Saat ini Aku tinggal bersama dengan mereka," jawab Hara menenggak habis minuman di hadapannya.
"Apa?!" Jodi terkejut, pemuda itu hampir saja menyemburkan minumannya ke arah Hara.
"Ba-bagaimana mungkin kau bisa tinggal bersama dengan mereka?" tanya Jodi penasaran.
"Papi yang memintaku untuk tinggal dengan keluarga Aunty Via. Selama Papi bertugas di Afrika, beliau menitipkanku padanya." Hara menjawab sembari bangkit dari duduknya untuk kembali menuju ke kelas mengikuti jadwal kuliah terakhir untuk hari ini.
Jodi pun ikut beranjak, dia masih ingin mengorek informasi tentang bagaimana Hara bisa tinggal bersama keluarga Pratama yang terkenal kaya raya tersebut.
"Lalu, bagaimana rasanya tinggal di sana?" tanya Jodi mensejajarkan langkahnya dengan Hara agar bisa jalan berdampingan dengan sahabatnya tersebut.
"Bagaimana apanya?" Hara balik bertanya, namun gadis itu tetap meneruskan langkahnya.
"Ya ... Bagaimana rasanya tinggal bersama dengan keluarga konglomerat?" Jodi memperjelas pertanyaannya agar gadis itu mengerti apa yang sebenarnya ingin ia ketahui.
"Ha ... ha ... ha"
Hara tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan sahabatnya itu. Entah mungkin Jodi terlalu banyak menonton drama sehingga mempunyai daya imajinasi yang tidak biasa.
"Mengapa Kau tertawa? Aku serius dengan pertanyaanku," gerutu Jodi kesal karena Hara menertawakannya.
Hara menutup mulutnya dengan pergerakan kedua telapak tangannya.
"Upss ... Maaf, aku tidak bermaksud menertawakanmu," sesal Hara, gadis itu tidak bermaksud menyinggung perasaan sahabatnya tersebut.
Hara menghentikan langkahnya ketika akan memasuki ruang kelas. Matanya menatap serius ke arah Jodi.
"Tidak ada bedanya, sama seperti keluarga lainnya," jawab Hara pada akhirnya, gadis itu tidak tega membiarkan Jodi penasaran.
"Yang membuat beda adalah ...." Hara menghentikan ucapannya untuk kembali mengundang rasa ingin tahu Jodi.
Sejak dahulu mereka memang sangat akrab, Hara suka sekali mengerjai Jodi yang sikapnya terlalu ingin tahu untuk ukuran seorang pria. Berbanding terbalik dengan dirinya yang selama ini terlalu cuek dan acuh untuk ukuran seorang wanita.
Mungkin inilah yang membuat persahabatan mereka bertahan hingga sekarang. Mereka selalu saling melengkapi satu sama lain. Hara yang sembrono dan terkesan lamban di lengkapi dengan Jodi yang terlalu berhati-hati dan sangat cepat pergerakannya.
"Apa yang membuat beda?" Jodi kembali bertanya, pemuda itu terlalu penasaran dengan penjelasan Hara yang hanya setengah-setengah.
"Yang membuat beda adalah ...."
"Ayo pulang sekarang!" ajak Juan yang tiba-tiba sudah berada di samping mereka, Jodi dan Hara sendiri tidak tahu sejak kapan pemuda itu berada di sana.
"Aku masih ada kelas, Kau pulanglah terlebih dahulu," sahut Hara menolak ajakan Juan.
"Mana bisa? Mommy akan marah jika Aku tidak pulang bersamamu," ucap Juan melirik ke arah Jodi, seolah mempunyai ide selama menunggu Hara menyelesaikan jadwal kuliahnya.
"Aku akan menunggumu hingga selesai," ucap Juan, kemudian Juan merangkul bahu Jodi dan mengajak pemuda itu untuk ikut bersamanya.
Jodi ingin menolak, tapi tangan Juan telah melingkar kokoh di lehernya membuat pemuda itu kesulitan untuk bergerak.
"Aku akan menunggu di kantin dengannya," tambah Juan yang langsung menggeret Jodi tak memberikan kesempatan pemuda itu untuk menolak.
Hara hanya dapat menggelengkan kepalanya melihat hal tersebut. Gadis itu bergegas masuk kelas untuk mengikuti mata kuliah yang selanjutnya.
******
Terimakasih telah membaca TERJERAT CINTA si CUPU, Ay juga mau ucapkan terimakasih untuk yang sudah memberikan like, coment dan juga votenya.
Jangan lupa untuk mampir di karya Ay yang lainnya.
•AKU MENCINTAIMU
•AKU MENCINTAIMU 2
•TAKDIR CINTA
Salam sayang dari Ay si Author recehan 😘😘😘😘