Shen Kuo Yu, bilioner wanita yang tewas di puncak kejayaannya karena kebocoran jantung, ia terbangun di tubuh Liu Xiao Xiao- gadis malang yang disiksa oleh keluarga angkatnya. Takdir pahit menantinya. Ia dipaksa menggantikan saudari tiri nya untuk menjadi pengantin pengganti dan menikahi Pangeran Keempat yang konon buruk rupa dan berhati kejam.
Shen Kuo Yu akan menaklukan Pangeran itu dan menjadikan nya bidak untuk membalas dendam pada Keluarga Liu yang memperlakukan nya seperti binatang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24 : Rencana
Zhi Chen tetap menatap ke luar jendela, sudut bibirnya sedikit terangkat—sebuah pemandangan langka yang untungnya tertutup oleh topeng peraknya.
"Pangeran," panggil Xiao Xiao pelan, memecah kesunyian.
Zhi Chen menoleh. "Hm?"
"Mengenai gandum tadi... saya butuh bantuan Anda untuk mengatur sistem distribusi di gerbang kota. Saya ingin rakyat tahu bahwa ini adalah hadiah dari paviliun kita, namun jangan biarkan prajurit istana pusat ikut campur. Jika mereka terlibat, mereka akan mengklaim ini sebagai kemurahan hati Kaisar."
Zhi Chen mengangguk paham. "Aku akan menempatkan Gu Po dan pasukan elitku. Mereka akan memakai seragam tanpa lambang istana utama, hanya lambang pribadiku. Rakyat tidak akan salah mengenali siapa yang mengisi perut mereka."
Xiao Xiao tersenyum puas. Ia menyandarkan punggungnya pada bantalan sutra kereta yang empuk. Namun, karena guncangan kereta yang melewati jalanan berbatu, tubuh Xiao Xiao sedikit oleng ke arah Zhi Chen. Secara refleks, Zhi Chen mengulurkan tangannya, menangkap bahu Xiao Xiao agar tidak terbentur dinding kereta.
Sentuhan itu berlangsung selama beberapa detik. Telapak tangan Zhi Chen yang kasar dan hangat terasa menembus kain tipis hanfu Xiao Xiao. Untuk pertama kalinya, Xiao Xiao merasakan desiran aneh di dadanya—rasa aman yang belum pernah ia rasakan, bahkan di kehidupan sebelumnya sebagai Shen Kuo Yu yang mandiri.
"Maaf," bisik Zhi Chen sembari menarik tangannya kembali setelah posisi Xiao Xiao stabil.
"Terima kasih... Pangeran," jawab Xiao Xiao, sedikit memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan semburat merah di pipinya.
Sore harinya, saat mereka baru saja memasuki gerbang paviliun utama, Mao berlari menyambut dengan wajah yang penuh keringat.
"Nona! Pangeran! Ada kiriman darurat dari kediaman Jenderal Liu!" Mao menyodorkan sebuah kotak kayu kecil yang dibungkus kain merah darah.
Alis Xiao Xiao bertaut. Ia mengambil kotak itu dan membawanya masuk ke dalam aula. Zhi Chen mengikuti di belakang, matanya menatap kotak itu dengan penuh selidik. Sebagai pria yang sudah tahu bahwa Jenderal Liu adalah pemain watak yang licik, ia curiga ini adalah perintah baru bagi Xiao Xiao untuk melakukan sesuatu yang berbahaya.
Xiao Xiao membuka kotak itu di atas meja. Di dalamnya terdapat sebuah tusuk konde emas berbentuk burung merak—perhiasan yang seharusnya milik putri kandung Jenderal Liu—dan sebuah surat singkat.
“Tugasmu hampir selesai. Pastikan Pangeran Keempat tetap berada di pihak kita saat perjamuan musim dingin nanti. Jangan biarkan identitas aslimu tercium, atau nyawa keluargamu di perbatasan menjadi taruhannya.”
Xiao Xiao meremas surat itu hingga hancur di telapak tangannya. Matanya berkilat marah. Ia merasa muak dijadikan pion, apalagi dengan ancaman terhadap "keluarga" yang bahkan tidak ia kenali di kehidupan ini.
"Apa isinya?" tanya Zhi Chen datar, meskipun ia bisa menebak isinya dari perubahan raut wajah Xiao Xiao.
Xiao Xiao mengatur napasnya, kembali ke wataknya yang tenang. Ia tidak ingin Zhi Chen tahu bahwa ia terancam. "Hanya pesan dari Ayah... beliau merindukan saya dan mengingatkan agar saya menjaga kesehatan Anda, Pangeran."
Zhi Chen menatap punggung Xiao Xiao yang tegang. Ia tahu gadis itu sedang berbohong. Ia ingin sekali mengatakan bahwa ia sudah tahu semuanya, bahwa Xiao Xiao tidak perlu takut pada ancaman Jenderal Liu karena ia akan melindunginya. Namun, Zhi Chen menahan lidahnya. Ia tahu wanita sehebat Xiao Xiao tidak akan suka dikasihani; dia lebih suka berjuang dengan caranya sendiri.
"Begitu rupanya," sahut Zhi Chen pelan. Ia melangkah mendekat, berdiri tepat di belakang Xiao Xiao. "Jika Jenderal Liu merindukanmu, mungkin kita harus mengundangnya ke perjamuan musim dingin nanti. Mari kita tunjukkan padanya betapa 'baiknya' keadaanmu di sini."
Xiao Xiao berbalik, menatap mata Zhi Chen yang dalam. "Anda ingin mengundang Ayah saya?"
"Tentu saja. Sebagai menantu yang baik, aku harus berterima kasih secara langsung karena dia telah mengirimkan... putri yang sangat luar biasa untukku," ujar Zhi Chen dengan penekanan pada kata 'luar biasa'.
Xiao Xiao tersenyum tipis, merasa tertantang. "Jika itu keinginan Anda, Pangeran, maka saya akan menyiapkan perjamuan yang tidak akan pernah dilupakan oleh Ayah saya."
Malam itu, di bawah cahaya lilin paviliun yang tenang, Xiao Xiao mulai menyusun rencana baru. Bukan lagi rencana dagang, melainkan rencana untuk melepaskan diri dari jeratan Jenderal Liu selamanya. Ia tidak tahu, bahwa di sisi lain ruangan, Zhi Chen juga sedang merencanakan sesuatu untuk membalas Jenderal Liu karena telah berani mengancam wanita yang ia anggap sebagai 'rekan' itu.
***
Happy Reading❤️
Mohon Dukungan
● Like
● Komen
● Subscribe
● Ikuti Penulis
Terimakasih ^_^ ❤️