"Ketika cinta datang disituasi yang salah"
Rieta Ervina tidak pernah menyangka, jika keputusannya untuk bekerja pada Arlan Avalon, pria yang menjadi paman dari suaminya justru membuat ia terjebak dalam lingkaran cinta yang seharusnya tidak ia masuki.
Pernikahan tanpa cinta yang awalnya ia terima setulus hati berubah menjadi perlawanan saat Rieta menyaksikan sendiri perselingkuhan suaminya bersama wanita yang menjadi rekan kerjanya. Dan di saat yang sama, paman dari suaminya justru menyatakan peraasaannya pada Rieta.
"Cinta ini adalah cinta yang salah, tapi aku tidak peduli." Arlan.
Apa yang akan Rieta lakukan setelahnya? Akankah ia menerima cinta yang datang? Atau tetap bertahan pada pernikahan bersama suami yang sudah mengkhianati dirinya?
Ikuti kisah mereka...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4. Godaan yang Datang.
Waktu seolah berhenti berjalan, tubuh Rieta berubah kaku setelah mendengar kalimat frontal yang Arlan ucapkan yang membuat pikirannya berkelana.
"Membangunkan sesuatu ... Apa maksudnya?"
Rieta mendorong dada Arlan menjauh, tetapi pria itu tidak melepaskan Rieta begitu saja. Kedua tangan Arlan justru melingkari pinggang Rieta erat, menahan wanita itu menjauh.
"Lepaskan aku, Paman," pinta Rieta terus bergerak di pangkuan Arlan dalam usahanya melepaskan diri.
Arlan kian mengeratkan tangannya, menarik wanita di pangkuannya lebih dekat, dan kembali mendekatkan wajahnya pada Rieta, kemudian berbisik. "Jika kamu terus bergerak seperti itu, kamu benar-benar akan membangunkannya."
"Apa yang Paman bicara ...," kata Rieta terputus, kedua matanya membulat saat ia merasakan sesatu yang keras menyentuh pahanya.
Serta merta Rieta mendorong sedikit kasar dada Arlan, segera turun dari pangkuan pria itu dengan wajah merah menahan marah, lalu melangkah menjauh.
"Kamu tidak bisa pergi begitu saja setelah apa yang sudah kamu lakukan, Rie," cegah Arlan menahan pergelangan tangan Rieta sembari menunjuk pakaiannya yang sudah basah.
"Lepaskan pakaian Paman dan aku akan mencucinya, apakah itu cukup?" sahut Rieta berusaha menahan kekesalan yang mulai ia rasakan.
"Di sini?" tanya Arlan dengan alis terangkat.
Arlan berusaha untuk tidak menyemburkan tawa kala melihat wajah kesal Rieta. Untuk pertama kali baginya, melihat wajah kesal Rieta justru membuat ia ingin terus menggoda istri dari keponakannya.
"Apa yang sedang kalian lakukan?"
Suara Nyonya Melani cukup untuk membuat Rieta tersentak dan segera menarik tangannya dari genggaman Arlan. Keduanya serempak mengarahkan pandangan ke sumber suara, hanya untuk menemukan sosok Nyonya Melani berdiri di ambang pintu ruang makan dengan tatapan menyelidik.
"M-Mama ..." wajah Rieta berubah panik, takut jika ibu mertuanya salah paham padanya. Berbeda dengan Arlan yang tetap terlihat tenang seolah tidak ada yang terjadi.
"Rie menumpahkan minuman ke pakaianku, dan dia menawarkan diri untuk membersihkannya," jawab Arlan kembali pada sikap datarnya.
"Apakah itu benar, Rie?" tanya Nyonya Melani.
Kepala Rieta menunduk. "Benar, Ma. Aku tidak sengaja."
Arlan bangun dari duduknya, melepaskan jas yang ia kenakan dan memberikannya pada Rieta.
"Ambil kemejanya di kamarku." ucap Arlan seraya melangkah maju. "Aku tidak mungkin melepaskan kemejaku di sini bukan?" imbuhnya berbisik.
Rieta menoleh dengan gerakan cepat, menatap tajam pada pria yang kini juga tengah menatapnya dengan senyum tipis di bibir Arlan. Napas Rieta berhembus kasar, kenatara ia menahan amarah yang kian bergejolak di hatinya menyadari pamannya sengaja mempermainkan dirinya. Tetapi pria itu seolah tak peduli dan berlalu begitu saja meninggalkan dirinya masih bersama sang ibu mertua.
"Kalau begitu, cuci saja jasnya. Lain waktu, jangan lakukan kesalahan seperti itu lagi selama dia tinggal di sini. Arlan tidak suka jika pakaian yang dia pakai kotor," ucap Nyonya Melani.
"Baik, Ma," sahut Rieta.
Nyonya Melani melangkah menuju dapur, lalu berlalu pergi dengan segelas air di tangan menuju kamarnya. Sementara Rieta menatap jas hitam yang kini sudah berada ke tangannya, kembali mengatur napas dan pergi ke kamarnya sendiri.
.
.
.
Keesokan harinya, Rieta mengetuk pintu kamar yang Arlan tempati dengan membawa jas serta kemeja yang sudah ia cuci di tangannya. Membuka pintu itu perlahan setelah mendapatkan ijin dari pemilik kamar, lalu melangkah masuk.
"Paman, aku ke sini untuk mengantarkan pakaian yang sudah dicu-ci."
Kalimat Rieta terjeda singkat tepat saat badannya berbalik dan melihat pemandangan yang seharusnya tidak ia lihat. Arlan berdiri di samping tempat tidur hanya mengenakan handuk yang melilit di pinggangnya, bulir air masih membasahi tubuhnya yang terpahat sempurna, sementara satu tangan pria itu tengah menggosok rambutnya yang masih basah dengan gerakan santai.
"Kenapa Paman tidak bilang jika belum berpakaian?" protes Rieta segera membalikkan badan membelakangi pamannya.
"Karena pakaianku ada padamu, kamu lupa?" jawab Arlan tanpa beban sembari melemparkan handuk di tangannya ke sofa.
"Letakkan itu di atas tempat tidur," sambungnya dengan nada perintah.
Rieta mendengus kesal, berjalan mundur untuk menghindari pemandangan di belakangnya dan meletakkan pakaian sang paman di atas tempat tidur, kemudian melangkah menuju pintu tanpa menoleh lagi. Akan tetapi, gerakannya saat akan menarik pintu tertahan saat tangan Arlan justru mendorong pintu kamar dari belakang Rieta hingga pintu itu tertutup rapat.
"Apa yang Paman lakukan?" Rieta bertanya gugup, tidak berani berbalik ketika kedua tangan Arlan sudah mengurung tubuhnya.
Kedua tangan Rieta masih berusaha menarik pintu, tetapi usahanya sia-sia, pintu itu tetap bergeming.
"Kenapa terburu-buru sekali? Setidaknya ..." Arlan membungkuk, mendekatkan bibirnya ke telinga Rieta. "Bantu aku berpakaian sebelum kamu keluar."
"Paman gila!" maki Rieta tanpa sadar, lalu membalikkan badan hingga tatapan mereka bertemu dengan jarak wajah yang teramat dekat.
Jantung Rieta berdetak lebih cepat, tubuhnya terhimpit diantara sang paman dan pintu, sedang kedua tangannya yang semula bergerak mendorong Arlan menjauh kini terkunci di atas kepalanya.
"Paman mau apa?" tanya Rieta dengan kegugupan yang kian terasa, gelisah bercampur takut mulai merayap ke dalam hatinya dengan pemikiran tentang apa yang akan Arlan lakukan terhadapnya.
"Kau tahu?" ucap Arlan kian mengikis jarak. "Kamu terlihat cantik ketika marah."
"Lepaskan aku atau aku akan teriak," ancam Rieta.
"Teriaklah," tantang Arlan tersenyum. "Mereka hanya akan menyudutkanmu jika melihatmu masuk ke dalam kamarku saat aku belum berpakaian."
Rieta terdiam, apa yang Arlan katakan benar adanya. Lagipula, siapa dirinya di rumah ini?
Arlan mengunci kedua tangan Rieta di atas kepala wanita itu, sementara satu tangannya yang lain menelusuri tubuh Rieta tanpa menyentuh, dan berakhir mendarat di dagu Rieta.
Tatapan keduanya saling mengunci, Arlan menatap manik mata Rieta lekat, turun ke bibir wanita itu, dan kembali menatap mata Rieta. Dan saat itulah Rieta melihat sorot berbeda dari mata itu, bukan lagi sorot dingin dan datar seperti sebelumnya, melainkan sorot yang tidak bisa ia pahami.
"Ada banyak hal yang tidak kamu ketahui tentang keluarga palsu ini, Rie. Dan saat kamu mengetahui kebenaran itu, kamu bisa datang padaku."
Selesai mengatakan itu, Arlan melepaskan kedua tangan Rieta, lalu melangkah mundur. Kesempatan yang Rieta gunakan untuk membuka pintu kamar dan melangkah keluar.
Namun, mau tak mau apa yang Arlan ucapkan mulai mengganggu pikirannya.
"Apa maksudnya?"
. . . .
. . . .
To be continued...