Ketika ada yang telah mengisi hati Amara, datanglah seseorang yang membuatnya kembali ke kisah masa lalu yang ingin di lupakan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Arafa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
curiga
Di sebuah rumah mewah yang tampak sunyi, seorang Arsaka tengah memikirkan banyak kejadian yang akhir akhir ini menimpa, tentang Amara yang sering di ikuti oleh kejadian buruk yang datang silih berganti. Mulai dari gaun yang rusak, karyanya yang di klaim orang, kecelakaan, sampai kena jambret tadi. Sungguh kasihan sekali Amara. Arsaka bertekad untuk mencari tahu apa yang terjadi. Apalagi penjambret yang tadi mengaku kalau dia hanya orang bayaran, setelah di paksa tentunya.
Dia jadi teringat, cerita Lala tentang pertemuan Amara dengan keluarga Adit. Sepertinya di mulai dari sana deh, tapi apa iya ini ada hubungan nya dengan keluarga Adit?. Untuk mencari tahu lebih banyak lagi, Dia pun menghubungi seseorang untuk di mintai pertolongan.
" Halo pak selamat malam, ada yang bisa saya bantu? ". Suara dari seberang telfon terdengar saat panggilan baru saja terhubung.
" Saya mau kamu selidiki seseorang. Profilnya nanti saya kirim. pokoknya saya mau tahu semua tentang dia termasuk dengan siapa saja dia punya hubungan. Baik bisnis maupun urusan pribadinya ". Arsaka langsung memberikan perintah tanpa bisa di bantah.
" Siap pak, akan segera saya laksanakan".
" Bagus. segera lakukan".
Panggilan terputus dan Arsaka langsung mengirim profil Adit untuk si selidiki kepada Ikhsan, asisten pribadi nya yang sangat dia percaya.
Setelah semua tentang Adit di ketahui, barulah akan dia pikirkan cara untuk mengusut semua kejadian ini. Tak akan Arsaka biarkan siapa pun menyakiti Amara. Inilah janji Arsaka untuk menebus kesalahan yang pernah dia lakukan pada Amara dulu. Apalagi kini hatinya sudah terpaku pada Amara. Dia hanya ingin memastikan kebahagiaan untuk Amara.
tok tok
Suara pintu di ketuk dari luar kamar membuat Arsaka segera membukanya.
" Aku boleh masuk kan? ". mbak Sofia berdiri di depan pintu kamar menunggu di persilahkan.
" Emang ada apa kak? ".
" Ada yang pengen kakak omongin. Soal Amara".
" Kalu git masuk aja kak"..
" Kalau soal dia aja cepet kamu".
Araaka hanya tersenyum.
" Ada apa kak? ". Tanya nya saat Sofia telah susuk di sofa si dalam kamar.
" Duduk lah dulu, Santai aja".
" Aku lagi nggak bisa santai kak. Udah ngomong aja sekarang ".
" Kenapa? Ada masalah apa? kerjaan atau? ".
" Bukan. Kerjaan semua beres kok".
" Terus apa? ".
" Kakak duluan aja mau ngomong apa? ".
" Apa kamu tahu kalau kasus gaun rusak itu masih belum bisa menembus hukum? ".
" Tahu kak. Kayaknya ada orang besar si baliknya. Kalau tidak, nggak mungkin banget sampai ribet gini".
" Selidiki dong Arsaka".
" Lagi dalam proses kak, tunggu aja hasilnya ".
" Wah, emang gercep banget kamu".
" Biasa aja kok".
" Apa kamu ada sesuatu sama Amara? ".
" Ada apa emang? . Nggak ada apa pun".
" Bohong kamu".
" Beneran".
" Kamu pikir kakak bodoh, nggak tahu yang kamu rasakan. Orang kelihatan banget kok. Kamu mana pernah seperhatian ini sama orang".
" Udan lah kak".
" Nggak. Kakak nggak akan berhenti sebelum jamu ceritakan semua".
Inilah keras kepala nya keluarga ini, semua sama saja.
" Nggak akan".
" kalian begitu akan ku tunggu sampai kamu bisa cerita. Tapi Jangan kelamaan, mungkin aja kakak bisa bantu kamu. Kalau kelamaan ntar keburu di ambil orang".
" Kalaupun aku ada sejuta rasa untuk dia, kayaknya nggak akan di terima deh".
" Jangan putus asa dong. Kakak dukung 100℅ kalau kamu sama dia".
" Tapi kak..... " Akhirnya ku ceritakan masa kebersamaan kami dulu pada kaka Sofia.
" Kamu gila? keterlaluan banget kamu".
Responnya sungguh di luar dugaan. " Orang kaya dia kamu mainin gitu aja Arsaka? ".
" Aku mengaku salah. Dan asal kakak tahu, penyesalan itu selalu membayangi ku waktu ada di Singapura. Aku baru sadar kalau aku juga terjebak permainan sendiri. Aku mulai menaruh hati padanya. Tapi kini, walaupun dia sudah bisa memaafkan ku, tapi dia nggak akan percaya gitu aja sama aku".
" Habis kamu keterlaluan sih. Kalau aku jadi dia, aku nggak akan lagi kenal sama kamu. Kamu masih beruntung dia tidak membencimu.
Arsaka menarik nafas panjang dan membuangnya.
" Aku tahu. Makanya aku akan melindunginya dari jauh, akan mencintainya dalam diam. dan akan memberinya bahagia dengan cara yang ku pilih".
Kak Sofia hanya diam mencerna perkataan Arsaka.
" Oh iya kak, tadi Amara hampir kena jambret lho, untung aja jambret nya ketangkap".
" Kok bisa? di mana? terus keadaan dia gimana".
" Ya bisa lah. Semua bisa saja terjadi. Dia baik-baik aja kok. Tapi anehnya waktu ku tanya kenapa dia jadi jambret, dia bilangan kalau dia cuma orang suruhan. Menurut kakak siapa ya yang nyuruh? ".
" Mana kakak tahu. Nggak mungkin dia ada musuh kan? . Emang dia lagi deket sama seseorang ya? ".
" Iya ada. sudah di lamar malah, tapi belum di terima".
" Serius kamu? ".
" Ngapain bohong. nggak penting ".
" kok kamu biasa aja sih? ".
" Udah ku bilang. Fokusku adah kebahagiaan dia. Kalau dia bahagia sama orang lain ya nggak apapa. Tapi kayaknya nih cowok kurang beres kak. Makanya aku lagi menyelidikinya ".
" Nggak beres gimana?".
" Menurut pengamatan ku, hal buruk datang terus setelah Amara ketemu sama keluarga cowok itu".
" Jangan berprasangka buruk deh "..
" Makanya aku selidiki dulu sebelum bertindak".
" iya bener. Eh besok dia libur deh, ajak jalan gih. Jangan kalah sama cowok itu. Siapa tahu kamu jadi berkesempatan sama dia".
" Nggak deh kasihan kakinya belum bener bener pulih, mending ke rumah dia".
" Uhh. maunya".
hahaha
Arsaka tertawa lepas.
" Ya udah kakak keluar dulu ".
Sofia meninggalkan kamar adiknya.
Ke esokan harinya, Arsaka datang ke rumah Amara. Dia tiba saatnya Amara sedang menyiram bunganya di halaman. sementara Lala sedang pergi bersama temannya.
" pagi Ra.... ". sapa Arsaka lembut saat melihat Amara ada di halaman.
" Ngagetin aja kamu Ar".
" itu karena kamu ngelamun. Lagi mikirin apa? ".
" Nggak siapa juga ngelamun.
" Nggak ngaku lagi".
" Lagi ngapain? nyiram ya?".
" Seperti yang kamu lihat".
" Ish.... Kamu . Udah dulu deh, ngobrol dulu juk".
Aku hanya mengikutinya duduk di teras.
" Kamu udah sehat kan? ".
" Sehat kok".
" Bagus deh".
Kami pun mengobrol banyak. Tentang kejadian akhir akhir ini. Tentang kecurigaan ku, yang tentu dia melarangku berprasangka buruk.
Jadi aku akan selidiki sendiri nanti.