Nara tumbuh dengan luka ditinggalkan setelah orang tuanya bercerai. Trauma itu terbawa hingga pernikahannya, membuat ia mencintai terlalu berlebihan dan akhirnya kehilangan suaminya.
Di balik perpisahan mereka, Nara menyimpan sebuah rahasia ia hamil, namun memilih menyembunyikan benih itu demi melindungi dirinya dan sang anak dari luka yang sama.
Takdir membawanya kembali bertemu Albi, sahabat lama yang memilih menjadi ayah bagi anak yang bukan darah dagingnya. Di sebuah desa yang tenang, mereka membangun keluarga sederhana, hingga penyakit leukemia merenggut Albi saat anak itu berusia sembilan tahun.
Kehilangan kembali menghantam Nara dan anaknya, sampai masa lalu datang menyapa mantan suami Nara muncul tanpa tahu bahwa ia adalah ayah biologis dari anak tersebut.
Penasaran saksikan selanjutnya hanya di Manga Toon dan Novel Toon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Makan malam sudah selesai, dengan cepat Albi membereskan sisa makanan tadi, tangannya lincah seolah sudah terlatih.seolah pekerjaan itu bukan sesuatu yang memberatkannya. Nara memperhatikan dari tempat duduknya merasa canggung dengan keheningan yang tiba-tiba terasa lebih tebal.
"Boleh aku membantumu?" tanya Nara.
"Sudah duduk saja, ini tugasku," sahut Albi.
Nada itu tidak mengusir, hanya menenangkan. Nara mengangguk, tapi matanya masih mengikuti setiap gerakan Albi. Ada sesuatu dalam caranya bergerak terlatih, rapi, seperti orang yang sudah lama hidup sendiri.
Nara ragu sejenak. Pertanyaan itu sudah mengendap sejak sore. "Bi," panggil Nara pelan.
Lelaki itu menoleh dan menghentikan langkahnya. "Iya."
Nara ragu sejenak. Pertanyaan itu sudah mengendap sejak sore. “Kenapa… sampai sekarang kamu belum menikah?”
Albi tidak langsung menjawab. Senyum kecil terbit di bibirnya, lalu memudar. Ia memejamkan mata sesaat, seolah sedang menata napas. Tidak mudah baginya merangkai masa depan yang ia sendiri tak yakin bisa menepatinya.
“Ada banyak hal,” jawabnya akhirnya. “Dan tidak semuanya bisa dipaksa.”
Nada suaranya tenang, tapi ada sesuatu yang tertinggal di sana, sesuatu yang tidak ia lanjutkan.
"Bi ... Maaf," ucap Nara cepat. "Kalau aku lancang."
Albi terkejut ia langsung membuka matanya perlahan. "Tidak masalah, santai saja," sahutnya terdengar ringan, namun Nara merasa tidak enak sendiri.
Ia mengenal Albi cukup lama untuk tahu kapan sahabatnya sedang menutup pintu rapat-rapat.
“Apa kataku salah?” tanya Nara lirih. “Soalnya… aku tahu kamu bukan orang yang sembarangan.”
Albi kembali meraih piring terakhir, membilasnya pelan. “Tidak salah,” katanya. “Kadang cuma… belum waktunya.”
“Belum waktu untuk menikah?”
Albi mengangguk tipis. “Belum waktu untuk berjanji terlalu jauh.”
Nara terdiam. Kalimat itu terasa aneh, tapi juga jujur. Seolah Albi sedang berkata: aku tahu batasanku.
Mereka kembali hening. Suara air mengalir terdengar pelan. Setelah selesai, Albi mengeringkan tangannya dan duduk berhadapan dengan Nara.
“Kamu nggak perlu merasa sungkan di sini,” katanya. “Anggap saja rumah sendiri.”
Nara menunduk. “Aku takut merepotkan.”
Albi tersenyum. “Orang yang merepotkan biasanya banyak minta. Kamu tidak.”
Kalimat itu membuat dada Nara menghangat.
Di luar, malam turun perlahan. Bunga-bunga di halaman terlihat samar diterpa cahaya lampu. Nara menatap ke luar, lalu kembali memandang Albi.
“Bi,” katanya pelan. “Terima kasih.”
“Untuk apa?”
“Untuk… tidak banyak bertanya.”
Albi tersenyum, kali ini lebih dalam. “Kadang yang orang butuhkan bukan jawaban. Tapi tempat.”
Nara mengangguk. Dalam diam, ia menyadari
ia berada di dekat seseorang yang memahami arti tidak memaksa hidup, dan tanpa mereka sadari kedekatan itu mulai tumbuh bukan dari cinta, melainkan dari pengertian yang tidak menuntut penjelasan.
Di dalam kamar, Nara duduk di tepi ranjang, di tempat barunya ia merasa kehangatan mulai datang, ia mulai meraba perutnya yang rata.
"Pelan-pelan, kita merancang masa depan ya Nak," ucap Nara hati-jari meski ia tidak tahu dimana masa depannya akan berlabuh.
Nara mulai membaringkan tubuhnya, ia miring ke kanan sambil membacakan doa-doa untuk calon anaknya, dan tanpa sadar ngantuk mulai menjalar, mulutnya menguap tanpa bisa ditahan, hingga perlahan matanya memejam dengan sendirinya.
☘️☘️☘️☘️☘️
Pagi di desa itu datang dengan warna. Bukan hanya cahaya matahari yang menyelinap di sela pepohonan, tapi juga bunga-bunga yang tumbuh di hampir setiap depan rumah. Bougenvil menjuntai di pagar bambu. Kenikir dan tapak dara tumbuh liar, seolah tak peduli musim. Di sudut-sudut jalan kecil, pot tanah liat berisi melati dan mawar berjajar rapi.
Nara berdiri di ambang pintu, memandangi semuanya dengan dada yang terasa lebih ringan, pandangan indah suasana yang sejuk seolah tepat untuk dirinya yang sedang mengandung.
“Apik, ya,” gumamnya lirih.
Angin pagi membawa aroma tanah basah dan wangi bunga. Tidak ada klakson. Tidak ada langkah terburu-buru. Hanya suara ayam dan sapaan warga yang saling mengenal.
“Ndoro enjing, Nduk,” sapa seorang ibu yang sedang menyiram bunga di depan rumahnya.
Nara tersenyum kecil, kikuk. “Enjing, Bu.”
Bahasa itu terasa asing di lidahnya, tapi hangat di telinga. Ia melangkah masuk ke dalam, menyusul Albi yang masih di dapur.
Di dapur, Albi sedang menuang air panas ke dalam cangkir. Ia menoleh saat Nara masuk, lalu tersenyum tipis.
“Teh anget,” katanya singkat. “Biar nggak mual.”
Nara terdiam sejenak. Ia menerima cangkir itu dengan dua tangan.
“Makasih.”
Albi tidak bertanya kenapa Nara tahu ia mual. Ia juga tidak terlihat terkejut. Hanya duduk berhadapan, menyesap tehnya perlahan.
Di luar, neneknya menyapu halaman. Sapu lidi bergerak pelan, berirama, seperti waktu yang berjalan tanpa tergesa.
“Kamu bisa jalan-jalan kalau mau,” kata Albi. “Desanya kecil. Nggak akan nyasar kok.”
Nara mengangguk. “Aku pengin lihat-lihat.”
"Ayo kita lihat-lihat sekarang," ajak Albi.
Mereka berjalan menyusuri jalan setapak. Bunga-bunga semakin banyak. Beberapa rumah menanam anggrek di batang pohon. Yang lain membiarkan bunga liar tumbuh bebas.
“Warganya suka nanam bunga,” kata Albi. “Katanya, biar hati adem.”
Nara tersenyum. “Kelihatan.”
Seorang anak kecil berlari melewati mereka, tertawa. Di belakangnya, seorang lelaki tua duduk di bangku kayu.
“Albi, iki sopo?” tanyanya sambil tersenyum.
“Konco lawas, Pak,” jawab Albi singkat.
Teman lama.
Tidak ada tambahan. Tidak ada penjelasan. Nara menunduk sedikit, tersenyum sopan. Lelaki tua itu mengangguk, tidak bertanya lebih jauh.
Mereka duduk di bangku dekat kebun kecil. Matahari naik perlahan. Albi memandangi bunga-bunga, bukan Nara. Seolah kehadirannya tidak perlu diperiksa.
“Kamu boleh tinggal selama yang kamu mau,” katanya tiba-tiba. “Nenek seneng ana wong rame.”
Nara menggenggam ujung bajunya. “Aku nggak mau ngerepotin.”
Albi menggeleng. “Kehadiran nggak selalu merepotkan.”
Kalimat itu sederhana. Tapi Nara merasakannya seperti selimut tipis yang diletakkan pelan di bahunya.
Mereka kembali ke rumah saat siang mendekat. Nara membantu menyiapkan makan. Albi mencuci sayur. Gerakan mereka canggung, tapi tidak kikuk. Seperti dua orang yang sedang belajar ritme baru.
Di saat mereka sedang sibuk mencuci sayur tiba-tiba Nara berhenti, melakukan gerakan itu ia refleks menutup mulutnya yang ingin mengeluarkan isi perutnya. Albi tanpa kata-kata mengambilkan air putih.
“Pelan,” katanya, lembut saat Nara habis mengeluarkan isi perutnya.
Nara meneguk air itu. Dadanya naik turun.
“Maaf,” ucapnya lirih.
“Kenapa minta maaf?” tanya Albi, tulus.
Nara terdiam. Ia tidak tahu jawabannya. Mungkin karena selama ini ia selalu merasa harus menjelaskan segalanya.
☘️☘️☘️☘️☘️
Di sore hari, Nara duduk di depan rumah, memandangi bunga-bunga yang bergoyang ditiup angin. Albi duduk tidak jauh, membenahi pot yang retak.
Nara hanya melihat gerakan Albi yang cukup telaten, keduanya saling melempar senyum begitu juga dengan Albi, tidak ada obrolan yang berlebihan, semuanya terasa biasa. Tapi untuk pertama kalinya, Nara merasa
kedekatan tidak selalu datang dengan pertanyaan.
Kadang, ia tumbuh dari diam yang saling menghormati.
Dan di desa yang penuh bunga itu, cinta tidak mengetuk pintu. Ia duduk di beranda, menunggu waktu.
Bersambung ....