NovelToon NovelToon
Suami Rahasia Anindia

Suami Rahasia Anindia

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Identitas Tersembunyi / Bad Boy / Enemy to Lovers / Pernikahan rahasia
Popularitas:655
Nilai: 5
Nama Author: NdahDhani

Karena kesalahpahaman, Anindia harus menikah dengan cowok yang paling tidak disukainya, Keanu si badboy sekolah. Mereka tidak pernah akur, bahkan Anindia selalu menghindari Keanu.

Tapi, malang tidak dapat ditolak, untung tidak dapat diraih. Mereka terjebak dalam kesalahpahaman yang fatal, dan sekarang mereka harus terpaksa menikah.

Anindia, siswi paling pintar di sekolah, harus menikah dengan Keanu, sang ketua geng sekolah yang terkenal dengan keberanian dan kenakalannya.

Mereka harus merahasiakan pernikahan mereka setidaknya sampai hari kelulusan. Tapi di sekolah, Keanu justru membuat pernyataan bahwa Anindia adalah pacarnya.

Apakah Keanu dan Anindia bisa merahasiakan pernikahan mereka?

•••
"Gue memang badboy, tapi setidaknya gue bukan playboy. Kenapa gue berani ngomong kayak gini?"

"Karena gak ada seorangpun yang bisa bikin hati gue luluh selain lo, Nindi."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NdahDhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Dua sisi yang berbeda

Setelah selesai sarapan, Anindia pun pergi bersama Keanu dengan motor maticnya. Anindia merasa heran ketika melihat Keanu yang mengenakan seragam sekolah, padahal ia pun tahu bahwa Keanu sedang menjalani hukuman skors saat ini.

Selama perjalanan, keduanya hening tanpa kata. Anindia yang duduk di belakang pun merasa sedikit risih ketika dibonceng Keanu seperti ini, terlebih ia yang tidak pernah naik motor bersama laki-laki selain keluarganya sebelumnya. Bahkan, Anindia pun sedikit mengikis jarak agar tubuhnya tidak begitu dekat dengan tubuh Keanu.

"Pegangan! Ntar lo jatuh gue yang dimarahi ortu lo," ujar Keanu yang fokus mengendarai motor, tapi tangan kirinya tiba-tiba saja menarik tangan Anindia untuk memeluk pinggangnya, pasalnya Anindia hanya memegangi ujung bajunya.

Karena terkejut, Anindia pun langsung terhuyung ke depan. Bahkan kini tubuhnya menempel pada punggung suaminya itu. Aroma parfum maskulin dari Keanu begitu kentara di indra penciumannya. Dan untuk pertama kalinya, Anindia merasa gugup serta ia juga merasakan getaran aneh yang tiba-tiba muncul di dalam hatinya.

Sementara Keanu, ia kemudian mengembalikan posisi tangan kirinya ke setang motor. Ia benar-benar merasa terpaksa untuk mengantarkan Anindia, dan ia tidak ingin teman-temannya tahu tentang hal ini.

"Gue antar lo sampe depan ya, lo bisa bawa motornya sendiri ke sekolah." Ujar Keanu ketika mereka hampir tiba di sebuah persimpangan jalan.

"Emangnya kamu mau kemana?" Tanya Anindia dengan nada dingin, tapi juga merasa sedikit penasaran dengan tujuan suaminya itu.

"Bukan urusan lo." Balas Keanu tak kalah dinginnya. "Oh, gue minta lo jangan bilang siapapun kalo gue lagi skors." Lanjutnya.

"Kenapa?" Ujar Anindia, merasa heran dengan penuturan Keanu.

"Bukan apa-apa." Ujar Keanu singkat.

Anindia menghela nafas panjang, bagaimana mungkin ia bisa akur dengan Keanu, bahkan untuk sekedar mengerti nya saja sangat sulit bagi Anindia. Tanpa kata lagi, Keanu pun menghentikan motor milik Anindia itu di tepi jalan lalu melepas helmnya dan mengembalikannya kepada Anindia.

"Lo bisa pergi sekarang," titah Keanu dengan nada dinginnya.

"Terus kamu mau kemana coba? Ntar aku pulang sekolah gak sama kamu yang ada aku yang diintimidasi nanti," ujar Anindia dengan nada yang terdengar sedikit kesal.

"Itu udah gue pikirin. Dah pergi sana," ujar Keanu santai, tapi terkesan mengusir.

Anindia menatap tajam ke arah Keanu untuk sejenak. Tanpa kata lagi, Keanu pun langsung melangkahkan kakinya ke lain arah. Anindia pun tidak ingin berlama-lama di sana, ia pun langsung memasang helmnya, lalu memulai perjalanan menuju ke sekolahnya.

Anindia yang merasa senang dan bersemangat untuk pergi ke sekolah, kini merasa sebaliknya. Antara kecewa, kesal, dan tidak terima semuanya bergabung menjadi satu. Ia membuka kaca helmnya, membiarkan udara pagi menyapu wajahnya.

Beberapa menit mengendarai motornya, Anindia pun tiba di sekolahnya. Ia langsung turun dari atas motornya ketika ia sudah tiba di tempat parkir. Anindia melepas helm nya, lalu menarik nafas panjang seolah berusaha untuk menghilangkan perasaan campur aduk yang kini menguasai dirinya.

"Beb!! Morning...!!"

Saat itu, tiba-tiba suara sahabatnya terdengar menyapa dari kejauhan. Anindia pun menoleh ke belakang, dan benar saja ia mendapati Dara yang sedang melambaikan tangannya dengan senyum cerianya.

"Morning too, Dar," ujar Anindia dengan seutas senyum tapi nada bicaranya terdengar sangat lesu, tidak seperti biasanya.

"Lo kenapa Nindi? Kok murung banget, gak kayak biasanya," ujar Dara yang kini sudah berdiri tepat di hadapan Anindia.

Anindia terkejut ketika Dara menyadari perubahan moodnya hari ini. Ia ingin menceritakannya kepada Dara, tapi ia merasa belum siap untuk menceritakannya.

"Enggak papa kok, Dar. Aku cuma kurang tidur aja tadi malam," ujar Anindia yang langsung berkilah.

Dara memicingkan matanya, seakan meragukan kata-kata Anindia. Ia seakan tidak percaya dengan alasan yang dilontarkan oleh sahabatnya itu.

"Yang bener?" Ujar Dara penuh kecurigaan, membuat Anindia merasa serba salah.

"Bener... Oh, kamu udah siapin PR-nya?" Ujar Anindia mengalihkan pembicaraan.

"Udah dong, pulang sekolah langsung gue kerjain." Balas Dara sembari mengedipkan sebelah matanya.

"Alhamdulillah," ujar Anindia dengan seutas senyum.

Dara hanya menanggapinya dengan seutas senyum. Mereka pun akhirnya melangkahkan kakinya menuju ke ruang kelasnya, diiringi dengan perbincangan santai mengenai hal lain.

Anindia merasa sedikit lega karena Dara langsung lupa akan kecurigaannya. Anindia pun berusaha untuk terlihat seperti biasanya, meskipun untuk saat ini sangat sulit dilakukan olehnya.

Saat melewati koridor, beberapa murid-murid lain yang berlalu-lalang langsung melontarkan senyum ke arah mereka. Anindia dan Dara pun langsung membalas dengan senyuman juga. Keramahan Anindia tidak bisa diragukan lagi, hal itu juga yang membuat teman-teman sekolahnya merasa senang untuk berteman dengan Anindia.

Setibanya di kelas, Anindia dan Dara langsung duduk di bangkunya masing-masing. Mereka duduk bersebelahan, membuat persahabatan mereka terlihat semakin akrab saja.

"Si Keanu gak masuk ya?" Ujar Dara sembari menoleh ke arah bangku Keanu.

"Enggak tau, btw bukannya lagi di skors ya?" Ujar Anindia berpura-pura tidak tahu.

"Iya juga sih, gue lupa." Ujar Dara kemudian dengan tertawa kikuk. "Rasanya kayak sepi aja kalo Keanu gak ada di kelas."

Anindia menatap Dara dengan tatapan curiga. Dari cara Dara membicarakan Keanu, Anindia bisa merasa bahwa Dara menyukai suami rahasianya. Tapi Anindia tidak mengatakan apa-apa, ia belum siap jika sahabatnya mengetahui pernikahan rahasianya ini.

"Hmm, bukannya kemarin naksir nya sama si Niko?" Ujar Anindia menggoda sembari menaik-naikkan alisnya.

"Ya sebelumnya memang gitu sih, gue sukanya sama Niko. Tapi setelah dilihat-lihat, temennya lebih ganteng, lebih cool. Keanu itu seakan menjadi cowok idaman para cewek lho, Nindi," ujar Dara kemudian sembari tersenyum malu-malu ketika membicarakan Keanu.

Apa yang diduga Anindia ternyata benar adanya. Dara memang menyukai suami rahasianya. Tapi Anindia tidak tahu harus mengatakan apa, meskipun ia sendiri tidak memiliki rasa untuk Keanu.

Saat itu bel masuk berbunyi, menandakan bahwa jam pelajaran pertama akan segera berlangsung. Tanpa kata lagi, Anindia langsung menyiapkan buku dan alat tulisnya, bersiap untuk mengikuti pelajaran hari ini.

Sementara itu di lain sisi, Keanu kini berada di sebuah bengkel untuk mengambil motornya. Sebelum berlangsungnya akad nikah kemarin, Keanu sempat menghubungi salah satu kenalannya untuk mengambil motor yang ia tinggalkan begitu saja di pinggir jalan.

Keanu duduk di sebuah kursi, dengan kedua tangan yang saling berkatup dan pandangan yang kosong ke arah depan. Ia masih tidak percaya bahwa tindakannya kemarin justru mengantarkannya pada pernikahan yang tidak pernah ia bayangkan. Terlebih wanitanya adalah orang yang ia anggap musuh selama ini.

"Keanu, motor lo udah beres nih." Ujar kenalannya yang juga pemilik bengkel tersebut.

Tersadar dari lamunannya, Keanu pun langsung menoleh ke arah pemuda berusia sekitar 23 tahunan itu. Ia pun langsung menganggukkan kepalanya singkat, seakan mengucapkan terima kasih kepada pemuda itu.

"Oh, thanks bang. Untung aja lo gercep buat ambil motor ini kemarin." Ujar Keanu pada akhirnya.

"Yoi, sama-sama," ujarnya. "Btw kayak berat banget pikiran lo, mikirin apaan?"

Keanu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ia tidak mungkin berkata jujur bahwa dirinya sudah menikah. Terlebih pernikahan ini terjadi karena kesalahpahaman para warga. Keanu memikirkan sejenak, lalu ia mencari alasan lain agar pemuda itu tidak mengetahui kenyataan yang dialaminya saat ini.

"Hmm, gapapa kok bang. Gue cuma mikir aja, gue berandalan banget. Apa gue berhenti aja ya?" Ujar Keanu dengan nada serius.

"Haha, gue gak pernah liat lo ngomong kayak gini. Kesambet apaan lo Keanu?" Ujar pemuda itu sembari merapikan kunci-kunci bengkelnya.

"Ya gak kenapa-napa sih bang. Gue cuma ngerasa kalo gue udah kelewatan, bolos, tawuran, sementara ortu gue aja gak tau kalo gue pemimpin tawuran. Setelah dipikir-pikir, gue cuma habisin uang ortu aja," ujar Keanu mantap, seakan ia sudah membulatkan tekadnya untuk berhenti dari kenakalannya ini.

"Gue suka pemikiran lo, tapi itu tergantung lo lagi. Niat tanpa pembuktian sama aja omong kosong," ujar pemuda itu lagi yang masih sibuk dengan alat-alatnya.

"Iya bang, gue ngerti kok." Balas Keanu kemudian.

Pemuda itu hanya mengangguk singkat, sebelum akhirnya ia berlalu ke arah belakang untuk menyimpan kembali kunci-kuncinya itu.

Sementara Keanu yang masih terdiam di tempat, kini jari-jarinya mengetuk-ngetuk meja kayu di hadapannya. Ia memikirkan matang-matang tentang keputusannya ini. Terlebih ketika ia melihat keras kepala Anindia, ia tiba-tiba saja memiliki rasa untuk melindungi Anindia entah apa sebabnya.

"Gue gak percaya sama cinta, tapi kenapa gue kayak punya tekad buat lindungi dia?" Gumam Keanu pada dirinya sendiri.

Keanu kembali menatap kosong ke kejauhan, seakan ragu dengan dirinya sendiri. Ia juga merasa heran dengan pernikahan ini, saat mengucapkan akad saja tiba-tiba lidahnya mengucapkannya dengan lantang, bahkan dalam satu tarikan nafas. Keanu pun akhirnya menggelengkan kepalanya, berusaha untuk mengesampingkan tentang pikirannya untuk sejenak.

...✧✧✧✧✧✧✧✧✧✧...

Saat jam pulang tiba, Anindia dan Dara langsung berpisah ketika berada di depan gerbang. Anindia dengan motornya, sementara Dara dijemput oleh supirnya.

"Hati-hati di jalan Nindi," ujar Dara sebelum menaiki mobilnya.

"Iya, kamu juga Dar," balas Anindia dengan seutas senyum.

Mereka berdua pun akhirnya berpisah ke arah yang berlawanan. Anindia memulai mesin motornya, lalu melajukannya ke arah jalan. Saat itu, tiba-tiba saja sebuah motor sport hitam berhenti tepat di hadapannya. Anindia yang terkejut, hampir saja menabrak motor itu, untungnya ia dengan sigap menekan rem motornya itu.

Anindia langsung menoleh ke arah pemilik motor yang sangat familiar itu. Ya, motor siapa lagi kalau bukan motornya Keanu.

Keanu yang sedari tadi berada di bengkel itu, seakan sengaja menjemput Anindia di jam pulang sekolah. Ia merasa bahwa alasannya ini tepat untuk menjawab pertanyaan mertuanya apabila keduanya menanyakan motornya itu.

"Keanu! Apa-apaan sih?! Hampir aja aku nabrak kamu!" Ujar Anindia yang merasa kesal.

"Ayo," ujar Keanu singkat sambil menunjuk jalan dengan gerakan kepalanya.

Bukannya menjawab perkataan Anindia, Keanu langsung melajukan motornya. Anindia yang merasa kesal pun hanya bisa menarik nafas panjang, sebelum akhirnya ia pun melajukan motornya itu menuju rumahnya.

Setibanya di rumah Anindia, mereka pun langsung memarkirkan motornya di halaman rumah Anindia. Rumah itu terlihat sepi, karena kedua orang tua Anindia sudah kembali ke pekerjaannya masing-masing.

Anindia melepas helmnya, diikuti Keanu yang melakukan hal yang sama. Anindia pun langsung menoleh ke arah Keanu dengan tatapan tajam, seakan masih tidak terima dengan tindakan Keanu tadi.

"Keanu! Kamu itu bisa gak sih sehari aja gak bikin aku naik darah?!" Ujar Anindia yang masih duduk di atas motor maticnya.

"Apa lagi sih? Perasaan gue gak ngapa-ngapain," ujar Keanu dengan nada santainya sembari mengangkat kedua tangannya ke atas.

"Itu tadi! Kamu berhenti tiba-tiba, aku hampir aja nabrak kamu!" Ujar Anindia yang masih merasa kesal.

"Itu aja di perpanjang. Udah ah, gue mau mandi. Ingat ya, ntar malam lo udah pindah ke rumah gue." Ujar Keanu dingin sembari melangkahkan kakinya ke arah pintu.

Anindia yang merasa kesal hanya bisa menatap punggung Keanu yang sudah berjalan menjauh. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana ia akan tinggal di rumah Keanu, terlebih sifat Keanu yang selalu saja membuatnya naik darah.

Anindia mencoba untuk menenangkan diri. Setelah di rasa tenang, ia pun akhirnya mengikuti Keanu ke dalam rumahnya. Anindia langsung bergegas menuju kamarnya, untung saja Keanu sedang mandi di kamar mandi dekat dapur bukan di dalam kamarnya. Sehingga Anindia bisa leluasa untuk menghilangkan rasa lelahnya setelah melewati aktivitasnya hari ini.

^^^Bersambung...^^^

1
Enz99
menarik bikin pgin lanjut baca terus
ndah_rmdhani0510: Hehe terima kasih kak, semoga suka ya dengan chapter-chapter selanjutnya 😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!