NovelToon NovelToon
Kembalikan Cintaku Dokter

Kembalikan Cintaku Dokter

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Cintapertama / One Night Stand / Konflik etika / Obsesi / Dokter
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: MissSHalalalal

Demi menyelamatkan nyawa suaminya yang kritis akibat kecelakaan, Melisa harus berhadapan dengan tagihan rumah sakit yang sangat besar. Di tengah keputusasaan, ia bertemu kembali dengan Harvey, dokter bedah yang menangani suaminya sekaligus mantan kekasih yang ia tinggalkan secara tragis saat SMA.
Terdesak biaya, Melisa terpaksa mengambil jalan gelap dengan bekerja di sebuah klub malam melalui bantuan temannya, Laluna. Namun, takdir kembali mempermainkannya: pria kaya yang menawar harganya paling tinggi malam itu adalah Harvey.
Kini, Harvey menggunakan kekuasaannya untuk menjerat Melisa kembali—bukan hanya untuk membalas dendam atas sakit hati masa lalu, tapi juga menuntut bayaran atas nyawa suami Melisa yang ia selamatkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MAKAN MALAM

Lampu gantung kristal di ruang makan kediaman utama Andreas berpendar mewah, memantulkan cahaya pada deretan alat makan perak yang tertata sempurna. Namun, bagi Melisa, ruangan itu terasa lebih dingin daripada ruang ICU tempat Narendra terbaring.

​Di ujung meja, Ferdian Andreas duduk dengan wibawa yang tenang namun menindas. Di sampingnya, Larasati Andreas menatap Melisa dengan pandangan yang seolah bisa menguliti harga diri seseorang dalam sekejap.

​"Duduklah," suara Larasati memecah keheningan, tajam dan tanpa basa-basi.

​Harvey menarikkan kursi untuk Melisa, sebuah gestur yang tampak protektif namun terasa seperti klaim kepemilikan. Melisa duduk dengan punggung tegak, jemarinya bertautan erat di bawah meja untuk menyembunyikan getaran.

​"Jadi, ini wanita yang membuatmu mengabaikan janji temu dengan putri kolega Papa tempo hari, Harvey?" Ferdian membuka suara setelah pelayan menuangkan anggur. Suaranya berat, penuh otoritas.

​Harvey menyesap anggurnya perlahan. "Namanya Melisa, Pa. Dan dia bukan sekadar 'wanita'. Dia asisten pribadiku sekarang."

​Larasati meletakkan sendok peraknya dengan denting yang sengaja dikeraskan. "Asisten pribadi? Atau beban masa lalu yang kau pungut kembali?" Ia beralih menatap Melisa dengan senyum sinis. "Aku terkejut kau berani menginjakkan kaki di rumah ini lagi, Melisa. Setelah apa yang dilakukan keluargamu, dan setelah kau memilih menikah dengan pria... siapa namanya? Sopir logistik itu?"

​Darah Melisa berdesir panas. "Namanya Narendra, Nyonya. Dan dia suami saya."

​Suasana mendadak membeku. Harvey melirik Melisa dengan peringatan tajam, namun Melisa tidak menunduk.

​"Suami?" Larasati tertawa pendek, suara yang terdengar seperti gesekan pisau. "Suami yang sekarang hidupnya bergantung pada belas kasihan putraku? Melisa, jangan naif. Kami tahu kondisi suamimu. Kami juga tahu posisi sulit yang kau hadapi. Tapi membawa wanita bersuami ke meja makan keluarga Andreas... Harvey, kau sudah gila?"

​"Ma, cukup," potong Harvey dingin. "Melisa ada di sini karena aku yang memintanya. Urusan pernikahannya bukan penghalang bagi posisinya di sampingku."

​"Bukan penghalang?" Ferdian menimpali, matanya menyipit. "Harvey, kau adalah pewaris tunggal rumah sakit dan aset Andreas. Skandal dengan wanita bersuami dari kelas sosial seperti dia bisa menghancurkan reputasi yang sudah kubangun. Jika kau ingin bermain-main, carilah yang bersih. Jangan yang sudah cacat secara status."

​Melisa merasa harga dirinya diinjak-injak di depan matanya sendiri. Ia hendak berdiri, namun tangan Harvey di bawah meja mencengkeram lututnya dengan kuat—sebuah perintah bisu untuk tetap tinggal.

​"Cacat atau tidak, itu urusanku," ujar Harvey tenang, namun ada nada mengancam dalam suaranya. "Aku tidak sedang mencari saran pernikahan. Aku hanya memperkenalkan siapa yang akan sering kalian lihat bersamaku mulai sekarang."

​Larasati condong ke depan, matanya menatap Melisa dengan kebencian murni. "Kau pikir dengan berlindung di balik punggung Harvey, hutang budi dan sejarah kelam ayahmu lunas begitu saja? Kau pikir kau bisa masuk ke keluarga ini lewat pintu belakang?"

​Larasati kemudian memberi isyarat pada seorang pelayan. Pelayan itu membawa sebuah amplop cokelat tebal dan meletakkannya di depan Melisa.

​"Di dalamnya ada biaya pengobatan suamimu untuk satu tahun ke depan, ditambah biaya rehabilitasi terbaik di luar negeri," ucap Larasati dingin. "Syaratnya sederhan, pergi dari kota ini, dan jangan pernah temui Harvey lagi. Aku tidak akan membiarkan benalu sepertimu merusak masa depan putraku."

​Melisa menatap amplop itu, lalu menatap Harvey. Harvey tampak terkejut—ia tidak tahu ibunya akan melangkah sejauh ini secepat ini.

​"Bagaimana, Melisa?" tantang Larasati. "Cinta suci yang kau agungkan itu, apakah sebanding dengan nyawanya yang bisa kami hentikan bantuannya kapan saja jika aku mau?"

​Melisa merasakan sesak di dadanya. Ia berada di antara singa yang ingin memangsanya dan iblis yang mengaku ingin melindunginya. Namun, sebelum Melisa sempat menjawab, tangan Harvey meraih amplop itu dan merobeknya menjadi dua di depan wajah ibunya.

​"Dia tidak akan pergi ke mana-mana, Ma," desis Harvey, suaranya rendah dan berbahaya. "Dan jika Mama mencoba menyentuh fasilitas medis suaminya, aku sendiri yang akan memastikan seluruh donasi yayasan Andreas ke rumah sakit dicabut malam ini juga."

​Ruang makan itu seketika hening mencekam. Larasati tampak pucat karena kemarahan, sementara Ferdian berdiri dengan emosi yang meluap.

Ferdian menggebrak meja hingga denting kristal terdengar memilukan. "Berani kau mengancam ayahmu sendiri demi wanita ini, Harvey?!"

Harvey tidak bergeming. Ia justru menyandarkan punggungnya, menatap lurus pada sang ayah. "Aku tidak mengancam. Aku hanya menetapkan batas. Dan ada satu hal lagi yang mengganjal pikiranku."

Harvey melirik Melisa yang tampak pucat, lalu kembali menatap ayahnya dengan sorot mata menyelidik. "Tentang hutang ayah Melisa. Aku baru memeriksa catatan lama perusahaan keluarga. Ayah Melisa meminjam sepuluh juta rupiah sepuluh tahun lalu untuk biaya pengobatan istrinya. Tapi kenapa di buku besar yang kulihat kemarin, angkanya membengkak menjadi seratus juta?"

Larasati mendengus, membuang muka sambil merapikan tatanan rambutnya yang sebenarnya sudah sempurna. "Bunga, Harvey. Itu hal wajar dalam bisnis. Risiko tinggi, bunga tinggi."

"Sepuluh kali lipat?" Harvey terkekeh hambar, nada suaranya berubah sinis. "Itu bukan bisnis, Ma. Itu penjeratan. Aku tahu Papa yang mengubah klausul kontraknya secara sepihak saat ayah Melisa tidak sanggup membayar cicilan bulan ketiga. Kalian sengaja membiarkannya membengkak agar punya kendali penuh atas hidup mereka, bukan?"

Melisa tersentak. Kepalanya berdenyut. Sepuluh juta menjadi seratus juta? Selama ini ia mengira ayahnya adalah pecandu judi atau pria tidak bertanggung jawab yang menghamburkan uang, seperti yang selalu dituduhkan keluarga Andreas padanya. Ternyata, itu adalah permainan angka yang licik.

"Cukup, Harvey!" bentak Ferdian. "Jangan lancang mencampuri urusan manajemen masa lalu. Pria itu sudah mati, dan hutangnya tetap menjadi noda bagi keturunannya."

"Noda?" Larasati menimpali sambil menatap Melisa dengan pandangan menghina yang lebih tajam dari sebelumnya. "Tentu saja noda. Apa yang kau harapkan dari anak seorang buruh cuci?"

Larasati bangkit dari duduknya, berjalan perlahan mengitari meja hingga ia berdiri tepat di belakang Melisa. Ia membungkuk, membisikkan kata-kata yang cukup keras untuk didengar semua orang.

"Ibumu dulu mencuci pakaian kotor di lingkungan ini, Melisa. Dia menghabiskan hari-harinya dengan tangan yang kasar dan bau sabun murah hanya untuk menyambung nyawa. Dan sekarang, kau datang ke sini dengan gaun mahal pemberian putraku, mencoba bersikap seolah kau setara dengan kami?"

Larasati tertawa sinis, jemarinya yang mengenakan cincin berlian menyentuh bahu Melisa dengan jijik. "Darah buruh cuci itu tidak akan pernah hilang meski kau mandi dengan parfum termahal sekalipun. Kau dan ayahmu hanyalah sampah yang seharusnya tahu diri untuk tetap berada di selokan, bukan duduk di meja makan Andreas."

Melisa memejamkan mata rapat-rapat. Hinaan itu menghantamnya lebih telak daripada kemiskinan mana pun yang pernah ia alami. Ia teringat tangan ibunya yang selalu pecah-pecah dan perih karena detergen, tangan yang bekerja keras agar Melisa bisa sekolah.

"Hentikan, Ma!" Harvey berdiri, wajahnya mengeras karena amarah yang memuncak.

"Kenapa? Kau malu mendengar kenyataan bahwa asisten kesayanganmu ini hanyalah putri seorang pelayan?" Larasati mencibir. "Lihat dia, Harvey. Dia diam karena dia tahu itu benar. Dia hanya benalu yang mencoba memperbaiki kasta melalui belas kasihanmu."

"Melisa, ayo pergi," ucap Harvey pendek. Ia menyambar pergelangan tangan Melisa, menariknya berdiri dengan sentakan yang tegas namun tidak menyakiti.

Harvey menarik Melisa keluar dari ruang makan yang menyesakkan itu, meninggalkan Ferdian dan Larasati dalam kemarahan yang membara.

***

Bersambung...

1
Dede Dedeh
oke lanjuttt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!