Setelah dokumentasi ekspedisi mereka melesat ke permukaan dan menjadi perbincangan dunia, nama "Gautama Family" bukan lagi sekadar nama keluarga biasa.
Mereka kini menjadi tujuan akhir bagi mereka yang sukmanya tersesat di tempat-tempat yang tidak bisa dijangkau oleh akal manusia.
Kelahiran Arka Kumitir Gautama, bayi yang lahir tepat di ambang batas kematian semalam, membawa aura baru sekaligus beban yang lebih berat bagi keluarga ini.
Namun, di balik kebahagiaan itu, sebuah panggilan pahit datang dari benua lain. Ada raga-raga yang terbaring kaku; tubuh mereka masih di sini, namun sukma mereka telah didekap habis oleh kegelapan alam sebelah.
.Kalian akan kembali mendengar suara teriakan, tangisan, dan jeritan dari sudut-sudut bumi yang paling sunyi. Ekspedisi ini akan terus berjalan hingga waktu memaksa mereka untuk berhenti.
[Saya sarankan baca Season 1, supaya lebih mengenal kemampuan dan karakter keluarga Gautama]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stanalise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 031 : Tragedi Hinterkaifeck [Based On A True Story]
Dunia mengenalnya sebagai Black Eyed Children (BEC)— sebuah anomali yang melintasi batas antara legenda urban dan kenyataan pahit.
Laporan-laporan otentik dari seluruh dunia, mulai dari Inggris hingga pinggiran Amerika, menggambarkan pola yang serupa: anak-anak dengan kulit sepucat pualam, muncul di tengah kegelapan malam.
Mereka tidak menyerang secara fisik, melainkan melalui manipulasi psikis yang hebat.
Mata mereka, yang seluruhnya hitam pekat tanpa sklera maupun iris, adalah lubang hitam yang menghisap keberanian siapa pun yang menatapnya. Inti dari teror mereka adalah "Izin".
Mereka tidak memiliki daya di dunia manusia kecuali sang pemilik rumah atau kendaraan mempersilakan mereka masuk.
Namun, dalam kasus Kevin, "izin" itu termanifestasi melalui frekuensi radio yang ia utak-atik di tanah terkutuk Bavaria, mengubah dirinya menjadi antena hidup bagi parasit dimensi ini.
Inilah alasan mengapa Keluarga Gautama harus terbang melintasi benua. Tragedi Hinterkaifeck tahun 1922 bukan sekadar pembunuhan massal yang tak terpecahkan; itu adalah titik nol di mana dinding dimensi menipis, dan Kevin, tanpa sengaja, telah merobek celah tersebut melalui teknologi modern.
Setibanya di Jerman, Rachel tidak membiarkan timnya berkumpul di satu titik. Berdasarkan analisis batinnya, ia membagi Keluarga Gautama menjadi tiga kelompok strategis di tiga lokasi berbeda yang saling terhubung secara energi.
Lokasi Pertama: Rumah Sakit Jiwa Munich.
Di sini, raga Kevin berada. Cak Dika dan Rara ditugaskan karena Kevin adalah "ujung kabel" dari masalah ini.
Jika entitas di Hinterkaifeck merasa terancam, mereka akan mencoba menghancurkan Kevin agar jalur komunikasi mereka tidak terputus.
Rara berdiri mematung di depan pintu sel isolasi Kevin yang dingin. Udara di lorong rumah sakit itu terasa steril sekaligus mencekam.
Sesuai metodenya, Rara perlahan memejamkan mata. Ia tidak menyentuh Kevin secara langsung, melainkan meletakkan telapak tangannya pada gagang pintu besi sel tersebut—benda yang menjadi saksi bisu setiap jeritan dan cakaran Kevin selama berbulan-bulan.
"Cak, aku masuk sekarang," bisik Rara.
Cak Dika mengangguk siaga, tangannya sudah memegang tasbih dan rajah pelindung.
"Hati-hati, Ra. Ceritain apa yang kamu lihat di memori benda ini."
Begitu Rara memfokuskan batinnya, napasnya menjadi teratur dan pelan. Melalui kemampuan cenayangnya. Rara melihat apa yang terjadi.
"Aku melihat tahun 1922... ada seorang pria jangkung di loteng peternakan ini. Dia tidak tidur berhari-hari karena suara-suara di kepalanya." ujar Rara. Gambaran itu terlukis jelas bak sebuah klip film. Rara mengerutkan keningnya, lalu berkata,
"Dia bukan lagi manusia, Cak. Matanya sudah hitam pekat karena anak-anak itu merasuki pikirannya. Dia turun membawa cangkul, menghantamkannya pada enam nyawa. Darah yang tumpah di salju bukan sekadar kematian, tapi 'perjanjian' agar anak-anak itu bisa menetap. Sekarang, lewat frekuensi radio Kevin, mereka ingin memperbarui perjanjian itu. Kevin sedang dipaksa menjadi pintu baru." jelas Rara.
Sementara itu, kita akan melihat ke tempat lain.
Lokasi Kedua: Pinggiran Hutan Waidhofen.
Beberapa kilometer dari pusat tragedi, Melissa dan Peterson berjalan menembus salju yang mulai turun dengan lebat.
Di samping mereka, sosok Gelanda dan arwah Melissa Ghaib melayang dengan tenang, memantau pergerakan dari sisi astral.
Teguh ikut bersama mereka, memegang senter besar dan peralatan pendukung. Kelompok ini bertugas sebagai "Penjaga Gerbang Luar".
Melissa mendadak berhenti. Ia meraba sebuah bongkahan kayu tua yang tertutup lumut beku—sisa dari bangunan peternakan asli.
Saat menyentuhnya, Melissa memejamkan mata, membiarkan penglihatan masa lalu membanjiri benaknya.
"Mel? Ada apa?" tanya Peterson sambil merapatkan jaketnya.
"Di titik ini... pelayan baru itu, Maria, kehilangan harapannya," ucap Melissa dengan nada getir.
"Dia baru tiba beberapa jam, bahkan belum sempat membongkar koper. Dia mendengar suara langkah kaki di loteng dan mengira itu penghuni rumah, tapi saat dia menoleh, dia melihat seorang anak kecil bermata hitam di ambang pintu. Dia menolak memberi izin masuk, tapi sang pembunuh—pria yang sudah kehilangan jiwanya itu—sudah berdiri di belakangnya dengan kapak. Darahnya membeku di sini. Energinya masih berteriak minta tolong." jelas Melissa yang berhasil membuat bulu kuduk Peterson dan Teguh berdiri rasanya.
Teguh menyalakan senternya ke arah hutan yang gelap.
"Jadi mereka menggunakan manusia yang sudah 'kosong' untuk membunuh mereka yang menolak memberi izin?" tanya Teguh pada Melissa.
"Benar, Mas Teguh. Itu cara mereka memaksa masuk jika gerbang ghaib tidak terbuka," jawab Melissa.
Sebuah anggukan Teguh berikan atas penjelasan itu. Ia sudah merekam apa yang Melissa katakan sejak tadi. Sebagai seorang kamereman, tentu saja ia selalu siap mendokumentasikan segala hal yang ada di tim ini.
Sementara itu, di lokasi ketiga. Adalah area paling fatal. Tentu saja, area ini adalah jatahnya Rachel sebagai sang maskot.
Lokasi Ketiga: Pusat Reruntuhan Hinterkaifeck.
Inilah titik inti. Rachel, Adio, Mas Suhu, Bella, dan Sarah berdiri di hamparan tanah kosong yang menyimpan sejarah berdarah.
Pram, sang kameramen, mengatur sudut pandang kameranya dengan tangan gemetar. Di dekat tas perlengkapan, Barend dan Albert tampak asyik bermain salju ghaib, meski mata mereka sesekali melirik waspada ke arah hutan.
Bella segera mengambil kamera polaroidnya. Ia membidikkan lensa ke arah gundukan salju yang menurut radar batinnya adalah titik resonansi terkuat.
Cekrek!
Kertas foto keluar. Bella segera menyerahkannya pada Rachel. Rachel menerima foto tersebut. Ia memejamkan mata dan menyentuh permukaan foto dengan ujung jemarinya.
"Kevin adalah antena mereka," ucap Rachel dengan wibawa yang tak tergoyahkan.
"Sandi frekuensi yang dia temukan bukan sekadar angka, tapi koordinat untuk membuka gerbang dimensi secara permanen. Mas Suhu, Bella... aku harus masuk ke alam sebelah sekarang. Aku harus memutus kabel-kabel energi ini sebelum Kevin ditarik sepenuhnya."
Mas Suhu menatap Rachel dengan serius.
"Risikonya besar, Hel. Kamu masuk ke dalam residu waktu yang terkunci. Pegang raganya!"
Rachel mulai melakukan Astral Projection. Namun, tepat saat tubuhnya melemas, Sarah mendadak kehilangan kontrol diri.
Dengan gerakan impulsif, Sarah merapatkan dirinya ke arah Adio dan memeluk lengan pria itu dengan sangat erat. Mencuri kesempatan ketika Rachel melakukan astral projection.
"Adio... aku mohon, tolong aku! Aku takut sekali!" tangis Sarah pecah.
Adio tersentak hebat. Ia menatap Sarah dengan kemarahan yang nyata.
"Sarah! Lepaskan! Rachel sedang bertaruh nyawa demi keselamatan adikmu!" gertak Adio sambil menyentak tangan Sarah hingga wanita itu terhuyung ke salju. Kasar memang, tapi harus.
Adio segera berlutut di depan kursi roda Rachel, menggenggam jemari kekasihnya.
"Berjuanglah, Sayang. Aku menjagamu."
Di dimensi kelabu, Rachel bertarung dengan ratusan anak bermata hitam. Dengan sokongan energi dari Mas Suhu dan Bella, Rachel menghentakkan tangannya.
Cahaya biru keemasan meledak, memutus kabel frekuensi ghaib yang melilit jiwa Kevin, menutup gerbang itu dengan paksa.
Misi selesai. Malam itu, seluruh Keluarga Gautama kembali ke penginapan dengan tubuh lelah dan kedinginan.
Namun, pemandangan di ruang tengah membuat mereka tercengang. Marsya, yang biasanya lincah dan berisik, kini tampak seperti ayam kate yang sedang sakit.
Ia duduk di sofa dengan hampir dua puluh selimut mengukung tubuhnya dari leher hingga kaki.
Bau minyak telon yang menyengat langsung menyambut hidung mereka begitu pintu dibuka.
Marsya terus mengoleskan minyak itu di bawah hidungnya hingga memerah. Rachel, meskipun lelah, tidak bisa menahan kekehan melihat tingkah adiknya.
"Marsya? Kamu kenapa begitu?" tanya Rachel sambil mendekat.
Marsya menatap mereka dengan mata sayu yang berair, wajahnya tampak menyedihkan di balik tumpukan kain.
"Howono gendeng mbak, aku butuh dibelai rasane! Ademnya sampai ke sumsum!" keluhnya lemah dengan suara sengau karena masuk angin berat akibat nekat bermain salju tanpa perlindungan ghaib yang cukup.
(Hawanya gila mbak, aku butuh dibelain rasanya!)
Keesokan paginya, suasana hangat di penginapan sirna seketika. Sebuah kabar duka datang dari rumah sakit. Kevin telah tiada.
Raga pemuda itu tidak sanggup lagi menahan kerusakan saraf akibat tekanan energi ghaib yang ia tanggung terlalu lama.
Pagi itu, hanya Sarah yang ada di sana, memangku kepala adiknya. Kevin sempat tersadar, menatap kakaknya dengan mata normal untuk terakhir kalinya, lalu mengembuskan napas terakhir.
Kesedihan Sarah berubah menjadi racun. Rasa irinya pada Rachel yang mendapatkan perhatian penuh dari Adio, serta kegagalannya menerima takdir Kevin, membuatnya kehilangan akal sehat. Ia mendatangi penginapan Gautama dengan langkah penuh amarah.
Di ruang tamu, Rachel menyambutnya dengan tenang. Adio berdiri tepat di belakang Rachel, sementara sepupu-sepupu Gautama lainnya berkumpul dengan tatapan siaga.
Sarah melangkah maju hingga wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari Rachel.
Tiba-tiba, Barend yang duduk di sandaran kursi roda berbisik di telinga Rachel.
"Dia mati, Kevin mati! Dan isi kepala wanita itu... dia ingin menamparmu!"
Rachel hanya tersenyum getir dalam hati. Ia sudah tahu. Benar saja, dengan gerakan tiba-tiba, Sarah melayangkan tangannya untuk menampar Rachel.
Namun, Rachel yang sudah diperingatkan lebih dulu, dengan sigap menangkap pergelangan tangan Sarah di udara.
"Heh!!" pekik seluruh sepupu Rachel serempak. Mereka menatap benci ke arah Sarah.
"Lepaskan!" Sarah berteriak histeris, air matanya tumpah.
"Kamu sengaja, kan? Kamu sengaja membiarkan adikku mati supaya kamu terlihat seperti pahlawan! Kamu itu cacat, Rachel! Kamu tidak pantas untuk Adio! Seharusnya aku yang di sana!"
Semua makian Sarah yang menyakitkan keluar begitu saja. Ia menyalahkan Rachel atas kematian Kevin, bahkan menghina kondisi fisik Rachel di depan semua orang.
Sepupu Rachel hendak maju membela, namun Rachel mengangkat satu tangannya, memberi isyarat agar mereka tetap diam.
Hingga akhirnya, tenaga Sarah habis. Ia jatuh bersimpuh di depan kursi roda Rachel, terisak sejadi-jadinya. Suasana hening, hanya ada suara tangisan Sarah yang memilukan.
Rachel menatap Sarah dengan pandangan sendu. Ia mengulurkan tangannya, mengelus kepala Sarah yang sedang merunduk.
"Sarah, dengarkan aku," ucap Rachel lembut.
"Tugas kita di sana adalah memutus rantai penderitaan Kevin dari makhluk itu. Jika Kevin terus hidup dengan jiwa yang sudah hancur, itu bukan hidup, itu siksaan. Dia sudah pulang dengan tenang, tanpa ada lagi anak-anak itu di matanya. Kematian terkadang adalah bentuk kasih sayang Tuhan yang paling tulus."
Rachel terdiam sejenak, suaranya tetap tenang meski Sarah tadi menghinanya.
"Mengenai Adio... hati bukan tentang siapa yang lebih sempurna fisiknya, tapi tentang siapa yang jiwanya saling menemukan. Pulanglah, Sarah. Berdamailah dengan Kevin, dan yang terpenting, berdamailah dengan dirimu sendiri."
Sarah hanya bisa terdiam, tangisannya perlahan mereda, menyadari bahwa kebenciannya tidak akan pernah bisa mengalahkan ketulusan yang dimiliki oleh seorang Rachel Gautama.
________
Tragedi Hinterkaifeck, berdasarkan kisah nyata yang datang dari Jerman. Perihal pembunuh yang bersembunyi di loteng berbulan-bulan.
Pada tanggal 31 Maret 1922, enam penghuni peternakan Hinterkaifeck dipancing satu per satu ke gudang (area kandang) dan dibunuh secara brutal menggunakan alat tani sejenis cangkul (pickaxe).
Bagian yang paling menyeramkan dari kasus ini adalah:
Pembunuh tinggal di rumah tersebut selama beberapa hari setelah pembunuhan. Tetangga melihat asap keluar dari cerobong asap, lampu yang menyala, dan hewan ternak yang tetap diberi makan, padahal seluruh keluarga sudah tewas.
Pembunuh bahkan memakan makanan di dapur keluarga tersebut sementara jasad para korban tergeletak tak jauh dari sana.
Beberapa hari sebelum kejadian, sang ayah (Andreas) sempat bercerita kepada tetangga bahwa ia menemukan jejak kaki di salju yang menuju ke rumahnya, namun tidak ada jejak kaki yang keluar. Ia juga mendengar suara langkah kaki di loteng.
Ada 6 orang korban dalam tragedi ini:
Andreas Gruber (63 tahun) - Pemilik peternakan.
Cäzilia Gruber (72 tahun) - Istri Andreas.
Viktoria Gabriel (35 tahun) - Anak perempuan Andreas yang sudah menjanda.
Cäzilia (7 tahun) - Anak perempuan Viktoria.
Josef (2 tahun) - Anak laki-laki Viktoria.
Maria Baumgartner (44 tahun) - Pelayan baru yang baru saja bekerja beberapa jam sebelum pembunuhan terjadi.
...Black Eyed Children, adalah kisah urban legend pada tahun 1996. Kisah urban legend yang berawal dari seorang jurnalis. Sedangkan, Hinterkaifeck adalah kisah nyata berdarah yang terjadi di sebuah peternakan. Kisah ini dikenal dengan kalimat kunci,...
..."Pembunuh yang Bersembunyi Di Loteng Selama Berbulan-bulan."...
duh gemesin si arka tau2an Rachel ada didepan
untung yg hampir nabrak Aldo jadi seenggaknya kamu sedikit aman sekarang
wah kemana pak dokter sama pasiennya 😄
etdah Tami kamu yaa blak2an banget
semoga nanti Tami bisa ketemu orang tua nya berkat bantuan Rachel ya
merinding bayangin kematian toby 🥺