NovelToon NovelToon
TAWANAN SANG RAJA MAFIA

TAWANAN SANG RAJA MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia / Nikahmuda
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Demi menyelamatkan sang ayah dari siksaan maut seorang mafia kejam, Aisyah gadis bercadar, Hafizah bermata biru blasteran menyerahkan diri sebagai tawanan abadi. Syaratnya gila: pria berdarah dingin itu harus masuk Islam dan menikahinya.
Pernikahan tanpa cinta pun dimulai. Alih-alih menjadi ratu, hidup Aisyah berubah menjadi neraka ketika suaminya sengaja membawa wanita malam ke hadapannya setiap hari untuk menghancurkan mentalnya.
Di tengah ketakutan yang mencekam dan air mata yang tak pernah kering, Aisyah hanya bersandar pada sujud malamnya.
Mampukah kelembutan ayat-ayat suci meluluhkan hati seorang psikopat tanpa Tuhan, atau justru Aisyah yang akan hancur lebur di sarang iblis?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Badai di Malam Jera

Malam merayap turun dengan lambat, membawa selimut kelam yang membungkus megahnya istana berarsitektur neo-gothic di atas bukit terpencil. Berbeda dari malam-malam sebelumnya yang terasa begitu tenang dan dipenuhi kedamaian spiritual di kamar utama, atmosfer di luar bangunan utama malam ini mendadak berubah menjadi sangat mencekam.

Di pos pengamanan gerbang utara dan sepanjang pagar kawat berduri, puluhan anak buah sindikat di bawah komando Vito bersiaga penuh. Senjata laras panjang disandang, lampu sorot berdaya tinggi dinyalakan bergantian menyisir hutan pinus di sekeliling bukit, dan ketegangan terlihat jelas di setiap wajah para pengawal. Mereka tahu, bahaya sedang mengintai di balik kegelapan. Kelompok The Black Serpent sindikat saingan yang terkenal kejam dan tanpa belas kasihan telah bergerak mendekat.

Di dalam kamar utama di lantai dua, ketegangan itu sama sekali tidak terasa.

Kenzie Al-Ghazali baru saja selesai menunaikan salat Isya berjemaah bersama Aisyah Humaira. Meskipun gerakan suaminya masih harus dijaga agar tidak meregangkan jahitan di perutnya, Kenzie tampak jauh lebih sehat dan bugar.

Aisyah yang masih mengenakan mukena putih bersih melipat sajadah dengan gerakan tenang. Di balik cadar hitamnya, ia melirik sekilas ke arah Kenzie yang sedang merapikan peci hitam di atas meja kecil.

"Mas..." panggil Aisyah lembut.

Kenzie menoleh, tersenyum hangat menyambut panggilan yang kini sudah terbiasa ia dengar. "Ada apa, Aisyah?"

"Wajahmu tampak sedikit lelah sejak sore tadi," tutur Aisyah penuh perhatian. "Apakah lukamu masih terasa nyeri? Atau ada hal lain yang mengganggu pikiranmu?"

Kenzie mendekat, lalu duduk di tepi ranjang. Ia menatap istrinya lekat-lekat, berusaha menyembunyikan kekhawatiran yang mendadak melanda hatinya. Sejak sore, insting tajamnya sebagai seorang pemimpin dunia bawah mencium gelagat aneh dari para pengawalnya di luar. Ada pergerakan mencurigakan, bisik-bisik tertahan, dan kesiapsiagaan berlebih yang coba disembunyikan dari sepengetahuannya. Vito sengaja menutup-nutupinya agar Kenzie bisa fokus memulihkan diri.

Namun, seorang Kenzie Al-Ghazali tidak mudah untuk dibohongi.

"Tidak, lukaku sudah jauh membaik, Aisyah," jawab Kenzie sambil tersenyum tipis, mencoba menenangkan wanita di hadapannya. Ia meraih tangan Aisyah dengan lembut, mengusap punggung tangan istrinya yang tertutup kain manset. "Aku hanya... sedang memikirkan betapa beruntungnya aku. Dulu, hidupku dipenuhi darah, amarah, dan kehampaan. Tapi sekarang... malam-malamku terasa begitu tenang karena ada kamu di sisi-ku."

Aisyah sedikit menunduk, merona malu di balik cadarnya. "Jangan memuji berlebihan, Mas. Saya hanya menjalankan kewajiban saya sebagai istri."

Sebelum Kenzie sempat menjawab, tiba-tiba—

Duar!

Suara ledakan keras mengguncang udara malam, disusul oleh suara deru tembakan bertubi-tubi dari arah gerbang utara istana. Kaca-kaca jendela kamar utama bergetar hebat akibat gelombang kejut ledakan tersebut.

Aisyah terlonjak kaget. Jantungnya berdegup kencang, menghantam tulang rusuknya. Ia spontan mencengkeram lengan baju Kenzie. "Suara apa itu, Mas?!"

Kenzie berdiri seketika. Sisa-sisa kelembutan di wajahnya seketika lenyap, digantikan oleh sorot mata setajam elang yang mematikan—sorot mata seorang penguasa dunia hitam yang kembali bangkit. Insting militernya langsung merespons situasi darurat.

"Tetap di sini, Aisyah. Jangan keluar kamar apapun yang terjadi!" perintah Kenzie tegas, namun suaranya tetap menyiratkan ketenangan untuk melindungi istrinya.

Tanpa buang waktu, Kenzie menyambar jaket kulit hitamnya yang tergantung di lemari, mengenakannya dengan cepat meski sedikit ngilu di bagian bahu yang bekas tertembak. Ia membuka laci meja kerjanya dan mengambil sebuah pistol semi-otomatis berlapis baja, memasukkan magasen dengan gerakan tangan yang sangat terlatih.

Cklek.

Sebelum Kenzie sempat membuka pintu kamar, pintu itu terbuka dari luar dengan tergesa-gesa. Vito berdiri di ambang pintu dengan napas memburu, wajahnya dipenuhi butiran keringat dingin.

"Boss!" seru Vito dengan nada panik tertahan.

Kenzie melangkah maju, menghalangi pandangan Vito agar tidak langsung melihat Aisyah yang berdiri tegang di dekat ranjang. "Jelaskan situasi di luar, Vito! Siapa yang berani menyerang istanaku?!"

Vito menelan ludah susah payah. "Kelompok The Black Serpent, Boss! Mereka memanfaatkan informasi bahwa Anda sedang terluka. Mereka membawa pasukan penuh dan bahan peledak untuk menghancurkan gerbang utama. Pertahanan kita mulai terdesak!"

Mendengar laporan itu, rahang Kenzie mengeras hingga membentuk garis tegas. Amarah yang selama ini ia redam demi jalan hijrahnya tiba-tiba tersulut kembali. Musuh-musuh lamanya mengira ia sudah lemah dan bisa diinjak-injak. Mereka salah besar.

Namun, yang paling membuat Kenzie khawatir bukan keselamatan dirinya, melainkan keselamatan wanita di dalam kamar ini.

Kenzie menoleh ke belakang, menatap sepasang mata biru Aisyah yang tampak membelalak cemas di balik cadar hitamnya. Ada ketakutan yang terpancar di sana—ketakutan akan kembali kehilangan kedamaian yang baru saja mereka bangun.

Kenzie melangkah kembali mendekati Aisyah. Ia menundukkan sedikit tubuhnya, menatap lurus ke dalam manik mata istrinya dengan penuh keyakinan.

"Dengarkan aku, Aisyah," bisik Kenzie tegas namun penuh kelembutan. "Aku tidak akan biarkan siapapun menyentuhmu. Tetaplah di dalam kamar ini bersama Al-Qur'anmu. Berdoalah. Aku akan segera membereskan sampah-sampah itu dan kembali padamu."

Aisyah menggeleng pelan, air matanya menetes di balik cadarnya. "Mas... kumohon, jangan bertindak nekat. Lukamu belum benar-benar sembuh total..."

"Aku adalah suamimu, dan melindungimu adalah tanggung jawabku di hadapan Allah," potong Kenzie mantap. Ia mengecup sekilas puncak kepala Aisyah yang tertutup kain khimar, lalu berbalik meninggalkan kamar dengan langkah tegap.

"Vito!" panggil Kenzie menggelegar. "Siapkan seluruh pasukan cadangan di lantai dasar. Kita beri pelajaran pada bajingan-bajingan itu!"

"Siap, Boss!" seru Vito, lalu mengikuti langkah bosnya keluar.

Pintu kamar kembali tertutup dan terkunci rapat dari luar.

Di dalam kamar yang remang-remang, Aisyah terduduk lemas di atas sajadah. Suara tembakan dan ledakan dari luar terdengar semakin jelas dan beruntun, mengguncang dinding-dinding istana. Dengan tangan yang gemetar hebat, Aisyah merengkuh Al-Qur'an kecil di dadanya. Ia memejamkan mata birunya rapat-rapat, membenamkan wajahnya di atas lantai, dan mulai melantunkan doa dengan isak tangis yang tertahan, menyerahkan seluruh keselamatan sang suami dan diri mereka hanya kepada Allah SWT.

Sementara itu, di halaman depan istana, pertempuran sengit sedang berkecamuk.

Asap mesiu mengepul pekat di antara pepohonan pinus. Puluhan pria berpakaian seragam serba hitam berlogo ular berbisa pasukan The Black Serpent menerobos masuk melalui gerbang utama yang telah hancur akibat ledakan bom rakitan. Mereka menembak secara membabi buta ke arah pos penjagaan.

Anak buah Kenzie membalas tembakan dari balik pilar-pilar kokoh istana dan mobil-mobil lapis baja. Baku tembak sengit membuat malam itu diterangi oleh kilatan api moncong senjata.

Tiba-tiba, pintu utama istana terbuka lebar.

Sosok tinggi tegap berjaket kulit hitam melangkah keluar dengan tatapan mata yang menyala bagai iblis kelaparan. Kenzie Al-Ghazali.

Kehadiran sang bos besar di medan pertempuran membuat seluruh anak buah The Black Serpent terkejut setengah mati. Rumor bahwa Kenzie sekarat dan tidak berdaya ternyata salah besar. Pria itu berdiri tegak, memegang pistol di tangan kanannya, dan dengan dingin mulai melepaskan tembakan terarah yang langsung merobohkan dua orang penyerang terdepan dalam hitungan detik.

"Kalian salah besar jika mengira singa ini sudah mati!" teriak Kenzie lantang di tengah suara letupan senjata, suaranya menggelegar memecah malam.

Vito dan pasukan pengawal setia langsung merapatkan barisan di sekeliling Kenzie, menembus kepulan asap dan memukul mundur musuh dengan brutal. Pertempuran di atas bukit itu berubah menjadi arena pembantaian bagi kelompok penyerang.

Namun, di tengah kekacauan pertempuran dan suara letupan senjata yang memekakkan telinga, sebuah ancaman tersembunyi bergerak cepat menyusup melalui sisi samping bangunan mengincar target paling berharga yang ada di dalam istana.

1
ika mummy
beneran ceritan nya keren... aku syuuukkka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!