Zemima dan Arsyad sudah menikah selama dua tahun. Selama itu pula pernikahan mereka baik-baik saja. Apalagi Arsyad juga selalu bersikap baik dan lembut sebagai suami.
Selama itu pula mereka belum di karuniai anak, dan Arsyad tak mempermasalahkan hal itu. Tapi berbeda dengan sang ibu yang menginginkan cucu dengan alasan Arsyad sudah mapan dan memiliki pekerjaan bagus. dia sudah harus punya keturunan.
Namun beberapa bulan terakhir, suaminya sering sekali ke rumah ibunya tanpa mengajak Zemima. Namun suatu hari, saat Arsyad tengah malam pergi diam-diam, Zemima mengikutinya. ternyata Arsyad pulang ke rumah ibunya dan di sambut wanita hamil.
Apa Zemima akan menghancurkan keluarga Arsyad yang sudah membohonginya? padahal pekerjaan bagus yang di dapat Arsyad tak lepas dari bantuan Zemima. Mereka tidak tahu kalau Zemima adalah pewaris tunggal perusahaan besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zemima 7
Zemima melanjutkan kegiatannya memotong daging sapi dan menumis sayuran dengan tenang, seolah ketiga saudara iparnya hanyalah angin lalu. Mbak Mirna yang berada di sampingnya bergerak dengan sigap namun cemas, berkali-kali mencuri pandang ke arah ruang tengah yang makin riuh.
Anak-anak Mas Hendra dan Rika makin menjadi-jadi. Salah satu dari mereka menggoreskan mainan mobil-mobilan keras ke dinding koridor, sementara yang satu lagi menumpahkan tempat sampah kecil di sudut ruang keluarga. Bungkusan belanjaan Rika berserakan di atas sofa kulit import milik Zemima, dan Siska sibuk selonjoran seraya menyalakan televisi dengan volume tinggi. Tak satu pun dari mereka yang berniat melangkah ke kamar dasar untuk sekadar menyapa atau memastikan keadaan Bu Rahmi.
"Mbak Mirna," panggil Zemima dengan suara lembut namun tegas, merobek keheningan di area kompor.
"Iya, Bu Zemima?" Mbak Mirna mendekat cepat.
Zemima mengambil wadah bekal berlapis tebal yang sudah ia siapkan dari lemari. Dengan cermat, ia memindahkan porsi paling besar dari tumis daging sapi, ayam goreng rempah, dan sup hangat ke dalam wadah tersebut.
"Ini porsi untuk Mbak Mirna bawa pulang. Bawa sekarang juga, mumpung masih hangat untuk anak-anak di rumah," ucap Zemima seraya menyerahkan kantong berisikan wadah bekal itu.
Mbak Mirna menerima wadah tersebut dengan tangan gemetar dan mata berkaca-kaca.
"Bu... ini banyak sekali... Terima kasih banyak, Bu Zemima. Tapi... apa tidak apa-apa kalau saya pulang sekarang? Itu di luar..."
"Tidak apa-apa. Mbak langsung pulang saja lewat pintu samping," potong Zemima lembut seraya mengelus bahu Mbak Mirna.
"Pekerjaan Mbak sudah selesai untuk hari ini. Terima kasih karena hari ini cukup berat, tapi sepertinya besok pekerjaan mbak akan semakin banyak..." Keduanya terkekeh selah tahu maksud dari Zemima.
Setelah Mbak Mirna pamit dan menghilang di balik pintu samping, Zemima menata sisa masakan di atas meja makan. Ia menyisihkan piring porselen berisi sup bening dan bubur halus khusus untuk Bu Rahmi, lalu meletakkannya di atas nampan kecil. Sementara di meja makan utama, Zemima hanya menata dua piring nasi, dua mangkuk kecil daging tumis, dan dua porsi sayur, pas untuk porsi dirinya dan Arsyad nanti jika pria itu pulang.
Zemima mengangkat nampan makanan Bu Rahmi dan melangkah menuju kamar mertuanya. Namun, baru saja ia melewati area meja makan, Rika, Mas Hendra, dan Siska sudah berbondong-bondong mendekati meja seperti sekelompok orang lapar yang tak beretika.
"Akhirnya selesai juga!" seru Rika dengan raut wajah berbinar serakah. Ia menyambar sendok dan hendak menyendok daging tumis dari mangkuk porselen.
Klak!
Zemima menepis ujung lengan Rika menggunakan pinggiran nampan yang ia pegang dengan gerakan cepat dan presisi.
"Aduh! Zemima! Apa-apaan sih kamu?!" jerit Rika kaget seraya memegangi lengannya.
"Jangan sentuh," desis Zemima dingin, matanya menatap tajam ke arah Rika.
Mas Hendra yang sudah memegang piring kosong mendelik murka. "Zemima! Kamu ini udah gila ya?! Kami ini lapar! Dari tadi nungguin kamu masak, masa makanan udah matang nggak boleh dimakan?!"
"Siapa yang bilang masakan ini dibuat untuk kalian?" Zemima menaikkan sebelah alisnya, berdiri tegak mengadang mereka.
"Masakan di meja ini hanya cukup untuk porsi saya dan Mas Arsyad. Makanan lunak di nampan ini untuk Ibu. Tidak ada porsi untuk kalian, apalagi anak-anak kalian yang sibuk mengacak-acak rumah orang."
Siska yang berdiri di belakang Mas Hendra melotot tak percaya. "Mbak! Kamu tega banget sih?! Anak-anak Mas Hendra itu keponakan kamu! Mereka belum makan dari sore!"
"Kalau tahu anak-anak belum makan, kenapa kalian bertiga malah sibuk belanja kaus flash sale dan jalan-jalan?" tembak Zemima tanpa ampun, tatapannya menghunus tepat ke arah Siska dan Rika.
"Kalian punya kaki, punya tangan, dan punya uang belanja yang kalian pamerkan dari tadi. Beli makanan di luar, atau masak sendiri di rumah kalian masing-masing!"
"Zemima!" bentak Mas Hendra, suaranya menggema hebat memantul di dinding dapur.
"Kurang ajar kamu ya! Kamu sengaja mau menelantarkan kami?! Kamu memperlakukan saudara suami kamu sendiri seperti pengemis?!"
"Kalian yang menempatkan diri kalian sebagai pengemis," balas Zemima tanpa rasa takut sedikit pun, suaranya teratur dan tenang namun luar biasa menekan.
"Pengemis yang tidak tahu diri, tidak punya sopan santun, dan merasa paling berhak atas keringat orang lain."
"Ada apa ini ribut-ribut?!"
Suara berat yang familiar memotong pertengkaran sengit itu. Arsyad melangkah masuk ke area dapur dengan wajah sangat tegal, jas kerjanya tersampir di lengan, dan dasinya sudah dilonggarkan. Pria itu baru saja tiba dari kantor, napasnya sedikit memburu karena kelelahan dan kini matanya menyalang mendapati dapur rumahnya dalam kekacauan.
"Arsyad! Kamu datang juga!" jerit Rika histeris, langsung menyongsong Arsyad dengan muka dibuat-buat sangat teraniaya.
"Kamu lihat tuh kelakuan istri kamu! Kami datang baik-baik mau nengok Ibu dan nungguin kamu pulang, tapi kami malah diusir! Anak-anak dibiarkan kelaparan, dan makanan di meja dilarang disentuh! Kami dibilang pengemis sama Zemima, Syad!"
Mas Hendra ikut menghampiri Arsyad seraya menunjuk-nunjuk Zemima. "Syad! Kakak kamu diinjak-injak sama istri kamu sendiri! Dia nyombong soal rumah, nyombong soal uang, dan memperlakukan kami kayak sampah! Kalau kamu nggak bisa mendidik istri kamu, biar Mas yang hajar dia malam ini!"
Arsyad menatap Zemima dengan pandangan yang sarat akan amarah, rasa malu, dan ego yang terluka hebat. Ia melangkah lebar mendekati Zemima yang masih berdiri anggun menggenggam nampan.
"Zemima! Kamu benar-benar bikin ulah lagi?!" bentak Arsyad, suaranya memenuhi ruangan.
"Mas kurang sabar apa sama kamu?! Mas sengaja buru-buru pulang dari kantor karena mikirin kamu dan Ibu, tapi kenapa kamu malah melampiaskan kekesalan kamu ke Mas Hendra, Rika, dan Siska?! Mereka itu keluarga Mas! Cuma soal makanan aja kenapa kamu perhitungan banget?!"
Zemima menatap suaminya lurus-lurus. Tidak ada rasa takut, tidak ada raut bersalah. Hanya ada tatapan dingin yang dipenuhi kepuasan terselubung.
"Keluarga kamu?" Zemima terkekeh pelan, sebuah tawa dingin yang sanggup membekukan udara di dapur itu.
"Keluarga kamu yang datang tanpa salam, mengacak-acak rumah saya, tidak menyapa Ibu sama sekali sejak tiba di sini, dan menuntut diberi makan gratis? Padahal mereka baru saja pulang belanja! Tuh kamu lihat sebanyak itu paper bag mereka tapi tak ada satu potongpun untuk ibumu!"
Siska refleks menyembunyikan dua paper bag bermerek internasional ke belakang punggungnya, sementara Rika buru-buru menyikut lengan Mas Hendra dengan wajah memerah tahan malu.
Arsyad menoleh sejenak ke arah tumpukan tas belanjaan yang berserakan di atas sofa kulit dan konter dapur. Keningnya berkerut dalam. Matanya yang semula menyalang menatap Zemima, kini beralih menatap ketiga saudaranya dengan kilat amarah yang membara.
Rasa lelah setelah lembur di kantor, dipadu dengan rasa malu yang menyengat di depan istrinya sendiri, mendadak meledakkan emosi Arsyad namun kali ini, tertuju ke arah yang berbeda.
"Kalian... benar-benar dari mall?!" bentak Arsyad, suaranya berat dan bergetar menahan kekesalan.
Mas Hendra tersentak kaget, mundur setengah langkah. "Syad... ini bukan gitu maksudnya..."