Tiga tahun Alyssa Kirana Sastro duduk di meja makan keluarga Narendra, dan tiga tahun pula ia dituduh jadi penyebab lumpuhnya Nadine. Suaminya, Devan, tak pernah mau mendengarnya.
Malam ini Alyssa meletakkan surat gugatan cerai dan cincin nikahnya di meja kerja Devan, lalu pergi tanpa membawa apa pun. Dua jam kemudian, mobilnya ditemukan hancur di dasar jurang. Jasadnya tidak ada.
Devan masih ingin percaya itu hanya drama. Namun di rumahnya tertinggal selembar catatan.
Ke mana Alyssa pergi, dan apa yang akan Devan lakukan saat sadar apa yang sudah ia buang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zikri Cahyandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ruang Hampa
Layar monitor di meja kerja Devan masih menampilkan deretan angka nol pada seluruh catatan kartu kredit tambahan Alyssa. Angka pengembalian dana satu koma delapan miliar rupiah di baris terakhir menghantam matanya berulang kali, seperti tamparan yang tidak mau berhenti. Laki-laki itu berdiri perlahan dari kursinya. Dadanya terasa kosong, seakan ada yang mengeruk isinya semalaman.
Ia melangkah keluar dari ruang kerja, menyusuri koridor lantai dua yang sepi, menuju pintu kayu di ujung lorong—kamar pribadi Alyssa. Selama tiga tahun pernikahan mereka, Devan nyaris tidak pernah menginjakkan kaki di ruangan itu. Ia memilih menghabiskan malam-malamnya di kamar utama atau di ruang kerja.
Gagang pintu kuningan itu berputar begitu ia menekannya. Pintu terbuka tanpa suara.
Devan berhenti di ambang pintu. Kamar yang biasanya tertata rapi, dengan aroma minyak kayu putih yang tipis, kini kosong melompong.
Seprai katun polos telah dilepas dari tempat tidur, menyisakan kasur busa yang telanjang. Pintu lemari menganga, memperlihatkan deretan gantungan plastik tanpa selembar baju pun. Meja rias yang biasa memuat beberapa botol pelembab murah bersih dari apa pun.
Tidak ada buku, tidak ada bingkai foto, tidak ada satu pun jejak wanita yang menghuni ruangan itu selama seribu seratus delapan belas hari. Bahkan tirai jendela ikut dilepas, membiarkan cahaya pagi yang temaram jatuh tanpa penghalang.
Devan melangkah masuk dua langkah. Sepatu kulitnya berdecit pelan di atas lantai kayu yang berdebu. Ia menyapukan jemarinya di permukaan meja rias yang dingin. Di celah papan, sehelai pita rambut hitam tertinggal. Ia memungutnya tanpa sadar.
Ia sempat duduk di tepi kasur yang telanjang itu. Pegas tuanya berderit. Entah sudah berapa malam Alyssa duduk di sini, menunggu pintu yang tidak pernah diketuk.
Di tempat inilah Alyssa biasa duduk setiap malam, menyisir rambut hitam bergelombangnya dalam diam, sementara Devan melewatinya begitu saja tanpa pernah menyapa. Tidak pernah ada keluhan dari bibir wanita itu. Tidak pernah ada permintaan gaun mahal atau perhiasan mewah seperti wanita sosialita lainnya.
"Di mana semua barangnya?" bisik Devan pada kamar yang hampa.
Suara gesekan kantong plastik tebal terdengar dari arah tangga belakang. Devan memutar tubuh dan melangkah lebar menuju koridor servis, tempat para pelayan biasa lalu lalang.
Di dekat pintu tangga pelayan, seorang wanita paruh baya bercelemek kelabu membungkuk, berusaha mengangkat dua kantong sampah hitam berukuran besar yang tampak berat. Mbok Sum, kepala pelayan senior kediaman Narendra.
"Mbok Sum," panggil Devan dengan suara berat.
Wanita itu tersentak. Tubuhnya gemetar saat berbalik dan mendapati sang tuan muda berdiri di depannya dengan wajah pucat dan mata merah.
"T—Tuan Devan..." bisik Mbok Sum, gagap. Tangannya refleks melepaskan ikatan kantong itu.
"Apa yang kamu pegang?" Devan maju dua langkah. Dari celah plastik yang sedikit terbuka, ia melihat ujung kain katun berwarna krem—gaun dengan model yang sama persis dengan yang dipakai Alyssa semalam.
"Ini... ini barang-barang Nona Alyssa, Tuan," jawab Mbok Sum, menunduk dalam-dalam.
"Mengapa barang-barang istriku ada di dalam kantong sampah?!" bentak Devan. Suaranya bergema di sepanjang koridor, membuat bahu Mbok Sum makin menyusut.
"Nyonya Besar... Nyonya Siska yang memerintahkan, Tuan," cicit Mbok Sum. "Subuh tadi, Nyonya menyuruh kami mengosongkan kamar Nona Alyssa. Semua baju, buku, dan barang pribadi Nona disuruh dibuang ke tempat pembakaran sampah di belakang."
Mata wanita tua itu mulai berkaca-kaca. "Saya sudah disuruh membakarnya sejak tadi, Tuan. Tapi tangan saya tidak sampai hati. Nona Alyssa itu orang paling baik di rumah ini."
Darah Devan mendidih. Otot rahangnya mengeras.
Istrinya baru dinyatakan hilang beberapa jam lalu, polisi belum selesai menyisir dasar sungai, dan ibunya sudah menyuruh pelayan membuang seluruh peninggalan Alyssa, seolah wanita itu kemalangan yang harus segera dimusnahkan dari rumah ini.
"Siapa lagi yang ikut membantumu?" tanya Devan, nadanya mengancam.
"S—semua pelayan disuruh bergerak cepat, Tuan," jawab Mbok Sum tersengal. "Bahkan setelah Tuan naik tadi, Nyonya menyuruh kami lebih cepat lagi. Nyonya bilang ruangan itu harus bersih sebelum ada wartawan yang datang."
Devan berbalik. Di anak tangga pertama ia berhenti, tanpa menoleh.
"Jangan dibakar, Mbok." Suaranya serak. "Terima kasih."
Mbok Sum hanya mengangguk, dengan tangan menutup mulut. Langkah Devan menghantam anak tangga kayu saat ia turun ke lantai utama kediaman Narendra.
***
Di ruang keluarga lantai bawah, Siska Narendra duduk santai di sofa dengan cangkir porselen di tangannya. Di sisinya, Nadine Vanya mengoleskan krim tangan sambil sesekali berbicara pelan tentang rencana dekorasi ulang ruang tengah. Suasana hangat itu pecah ketika Devan membanting pintu ruang keluarga hingga menghantam dinding.
Siska terkejut hingga sedikit teh di cangkirnya tumpah membasahi gaun sutranya. "Devan! Apa-apaan kamu ini?! Kenapa kasar sekali—"
"Siapa yang memberi Ibu izin membuang barang-barang Alyssa?! Baru tadi kuperingatkan, jangan ada yang menyentuhnya!" geram Devan. Suaranya menggelegar hingga para pelayan di dapur berhenti bekerja.
Siska menatap putranya dengan dahi berkerut, lalu meletakkan cangkirnya dengan gerakan menghentak. "Oh, jadi karena kantong sampah itu kamu membentak ibumu sendiri? Devan, jaga sopan santunmu!"
"Jawab pertanyaanku, Ibu!" Devan maju mendekati meja tengah, kedua tangannya terkepal di samping tubuh. "Atas dasar apa Ibu menyuruh pelayan mengosongkan kamar Alyssa pagi ini?!"
"Perempuan itu sudah tidak ada di rumah ini, Devan!" balas Siska, suaranya naik satu oktaf. "Dia sendiri yang kabur membawa surat cerai! Dia mengalami kecelakaan dan jatuh ke sungai! Untuk apa kita menyimpan barang-barang murah dan tidak berguna milik perempuan panti asuhan itu di rumah megah ini? Itu hanya membawa kesialan!"
Surat cerai di mejaku. Kalimat itu menyangkut di kepala Devan, sama seperti tadi. Ia menyimpannya untuk nanti.
"Dia masih istri sahku secara hukum!" tegas Devan, menunjuk tepat ke wajah ibunya.
Matanya memancarkan kemarahan yang belum pernah Siska lihat selama dua puluh delapan tahun membesarkan laki-laki itu.
"Hukum belum menyatakan dia meninggal! Polisi masih mencari! Mengapa Ibu begitu tidak sabar memusnahkan semua jejaknya dari rumah ini?!"
Nadine memajukan kursi rodanya, berusaha memegang lengan kemeja Devan dengan wajah penuh keprihatinan. "Devan, tenanglah... Tante Siska hanya tidak ingin kamu terus-menerus sedih melihat barang-barang Alyssa. Tante melakukan ini demi kebaikan emosionalmu—"
"Tutup mulutmu, Nadine!" sentak Devan tanpa menoleh, mengibaskan tangannya hingga pegangan Nadine terlepas.
Nadine terperanjat, matanya membelalak. Itu pertama kalinya Devan membentaknya sekasar itu sejak mereka saling mengenal. Selimut di atas lututnya bergeser. Dengan cepat, nyaris terlalu cepat, ia menariknya kembali.
"Ini rumah tanggaku, Nadine! Jangan berani-berani ikut campur atau mengajariku bagaimana aku harus bersikap atas hilangnya istriku!"
"Devan! Berani-beraninya kamu membentak Nadine yang sedang sakit!" pekik Siska, berdiri dengan dada naik turun. "Nadine hanya peduli padamu! Perempuan panti asuhan itu sudah menghancurkan hidup Nadine lima tahun lalu, dan sekarang kamu membela barang-barang sampahnya di depan wanita yang hampir kamu nikahi?!"
Devan menatap ibunya dengan senyum pahit.
"Ibu menyebut barang-barangnya sampah?" suaranya mendadak sangat rendah, dan justru makin berbahaya. "Apakah Ibu tahu bahwa selama tiga tahun hidup di sini, Alyssa tidak pernah menyentuh satu sen pun uang belanja yang Ibu tuduhkan ia peras?"
Siska tertegun. "Apa maksudmu?"
"Ibu selalu menuduh Alyssa memakai uang keluarga Narendra untuk berfoya-foya." Devan maju satu langkah, membuat Siska refleks mundur. "Tapi subuh ini aku memeriksa laporan bank resmi. Kartu kredit dengan limit dua miliar tidak pernah ia sentuh. Uang belanja lima puluh juta per bulan tidak pernah ia pakai. Dan sepuluh menit setelah mobilnya jatuh ke jurang, seluruh dana satu koma delapan miliar rupiah di rekeningnya ia kembalikan utuh ke rekening perusahaan!"
Wajah Siska mendadak pucat. Ia mengedipkan mata beberapa kali, kehilangan kata. Sepersekian detik, pandangannya melirik Nadine.
"Dialah wanita yang Ibu sebut pemeras harta," lanjut Devan, suaranya serak. "Dia tidak mengambil apa pun dari rumah ini. Dan sekarang, bahkan sebelum jasadnya ditemukan, Ibu menyuruh pelayan membuang baju-baju murah yang ia beli dari hasil kerjanya sendiri?"
Nadine mengepalkan jemarinya di atas paha, matanya bergerak gelisah antara Siska dan Devan. Bibirnya gemetar, tetapi ia tidak berani menyela lagi setelah melihat rahang Devan mengeras.
"Aku peringatkan Ibu," kata Devan sambil menatap Siska lurus-lurus. "Mulai hari ini, jangan ada yang menyentuh satu benda pun milik Alyssa. Kalau aku menemukan ada yang lancang lagi di rumah ini, aku sendiri yang akan memastikan orang itu keluar dari kediaman Narendra!"
Siska terhenyak di sofa, tangannya gemetar di dada. Devan tidak lagi memedulikan ibunya, tidak juga rintihan pelan Nadine yang mencoba menarik perhatian. Ia berbalik dan berjalan cepat menuju pintu belakang yang mengarah ke halaman.
***
Hujan gerimis masih menyiram halaman belakang kediaman Narendra ketika Devan melangkah keluar. Udara pagi lembab dan dingin, tetapi ia tidak merasakannya.
Di dekat tempat pembakaran sampah, tiga kantong plastik hitam besar tergeletak di atas semen basah. Seorang petugas taman sudah berjongkok dengan pemantik api di tangan.
"Hentikan!" teriak Devan dari jarak sepuluh meter.
Petugas itu terlonjak dan menurunkan pemantiknya saat melihat sang pemilik rumah berlari mendekat dengan kemeja basah. "Maaf, Tuan, saya cuma disuruh—"
"Pergi," potong Devan tanpa menoleh.
Devan berlutut di atas semen yang kotor tanpa ragu. Sepatu mahal dan celana bahannya ternoda lumpur, tetapi ia menyambar kantong-kantong itu dan merobek plastiknya dengan jemarinya sendiri. Isinya terhampar di atas semen yang lembab.
Tenggorokannya terasa tersumbat.
Tidak ada pakaian sutra atau gaun bermerek internasional. Hanya belasan gaun katun sederhana, beberapa sweater rajut yang menipis di bagian siku, dua pasang sepatu flat yang warnanya sudah pudar, dan tumpukan buku bekas. Seluruh hidup istrinya di rumah ini ternyata hanya cukup untuk tiga kantong plastik.
Devan menyisir tumpukan itu dengan jemari yang gemetar. Ia mengangkat sehelai sweater rajut berwarna krem—sweater yang biasa Alyssa pakai di balkon sambil membaca buku pada malam hari. Aroma pelembab murah bercampur wangi lavender tipis yang khas masih tertinggal samar di seratnya.
Devan memeluk sweater itu ke dadanya dan memejamkan mata erat-erat. Gerimis menetes di tengkuknya. Ia tidak bergerak.
Mengapa ia tidak pernah melihat semua ini sebelumnya? Mengapa begitu mudah ia meyakini cerita bohong yang disuapkan padanya selama tiga tahun?
Jemarinya terus mengaduk isi kantong kedua. Di antara tumpukan modul analisis data finansial dan majalah lama, tangannya menyentuh sebuah benda kecil bertekstur kulit yang keras.
Ia menariknya keluar. Sebuah buku catatan kecil bersampul kulit biru pudar. Di sudut kanan bawah sampulnya tercetak inisial A.K.S dengan tinta emas yang sebagian besar sudah terkikis.
Buku itu terselip di dasar kantong, di antara barang-barang yang paling pasti ikut dibuang. Seakan Alyssa sudah tahu apa yang akan dilakukan ibunya begitu ia pergi, dan sengaja menaruhnya di sana.
Devan menyapu bulir hujan di sampul itu dengan lengan kemejanya, lalu membuka halaman pertama.
Barisan tabel rapi ditulis tangan dengan tinta hitam: pencatatan keuangan pribadi Alyssa. Di kolom kiri tertera pemasukan dari pekerjaannya sebagai analis data lepas untuk beberapa firma internasional kecil. Jumlahnya tidak spektakuler, tetapi cukup untuk hidup mandiri.
Perhatian Devan terpaku pada kolom sebelah kanan—kolom pengeluaran. Hampir delapan puluh persen penghasilan Alyssa setiap bulan ditransfer rutin ke rekening Yayasan Panti Asuhan Kasih Bunda.
Catatannya begitu rinci:
Tgl 12 Mei: Pembelian susu formula dan popok bayi panti — Rp 3.500.000,-
Tgl 04 Juni: Biaya operasional sekolah 12 anak asuh — Rp 8.200.000,-
Tgl 19 Juli: Pengobatan medis darurat Adik Bayu (operasi ginjal) — Rp 15.000.000,-
Devan menatap barisan angka itu dengan dada bergetar. Sementara keluarganya menyebut Alyssa yatim piatu yang rakus harta, wanita itu diam-diam menopang puluhan anak panti dengan keringatnya sendiri, bekerja hingga larut malam.
Ia teringat cahaya lampu dari bawah pintu kamar Alyssa yang tidak pernah padam sampai lewat tengah malam. Dulu ia mengira Alyssa resah dan tidak bisa tidur.
Tidak ada satu rupiah pun uang Narendra di halaman-halaman itu. Alyssa menanggung semuanya sendirian.
"Alyssa..." bisik Devan, suaranya pecah.
Ia membalik halaman demi halaman dengan jemari yang makin gemetar. Buku itu berisi tiga tahun hidup Alyssa di rumah ini. Tidak ada keluhan, tidak ada makian atau kata benci. Hanya angka, fakta, dan data, ditulis dengan ketenangan yang dingin.
Hingga ia tiba di halaman paling belakang.
Halaman itu bersih dari tabel. Hanya satu lembar putih dengan goresan tinta hitam yang masih segar—tinta yang tampaknya baru ditulis beberapa jam sebelum Alyssa meletakkan cincin nikahnya di meja kerja Devan semalam.
Tulisan tangan Alyssa rapi, tajam, dan tegas tanpa ragu.
Devan mendekatkan buku itu ke wajahnya. Ia membaca kalimat tunggal di tengah halaman kosong itu sekali. Lalu sekali lagi, karena huruf-hurufnya menolak masuk akal. Setetes gerimis jatuh di atas huruf pertama, dan tinta di sana mulai melebar.
Kaki Nadine tidak pernah lumpuh, Devan.
.....
.....
Bersambung.