NovelToon NovelToon
Terikat Pernikahan Dengan CEO Dingin

Terikat Pernikahan Dengan CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Aqilaa Kezia

Alisha Amanda hanyalah seorang gadis sederhana yang bekerja di sebuah toko roti demi menghidupi dirinya dan sang ibu. Sejak kepergian ayahnya, ibunya menjadi satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Namun, hidup Alisha berubah ketika penyakit sang ibu semakin parah. Operasi dengan biaya yang sangat mahal menjadi satu-satunya harapan untuk menyelamatkan wanita yang paling ia cintai. Sayangnya, tabungan Alisha tidak cukup, bahkan untuk membayar sebagian kecil dari biaya tersebut.
Di tengah keputusasaan, sebuah tawaran tak terduga datang kepadanya.
Adrian Mahendra, seorang CEO muda yang dingin dan berkuasa, membutuhkan seorang istri demi mempertahankan posisinya di perusahaan keluarga. Terdesak oleh tuntutan orang tuanya dan ancaman kehilangan jabatan, Adrian menawarkan pernikahan kontrak selama satu tahun kepada Alisha.
Sebagai gantinya, Alisha akan mendapatkan uang yang cukup untuk membiayai operasi ibunya.
Bagi Adrian, pernikahan itu hanyalah kesepakatan bisnis. Tidak ada cinta, tidak ada

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aqilaa Kezia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26: Undangan yang Tak Bisa Ditolak

Suara ketukan pelan terdengar dari pintu ruang kerja Adrian Mahendra.

“Masuk,” ucap Adrian tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptopnya.

Daniel membuka pintu sambil membawa sebuah map hitam. Ia melangkah mendekati meja kerja Adrian, kemudian meletakkan map tersebut di hadapannya.

“Pak, ada dokumen yang perlu Anda periksa. Selain itu, saya juga ingin menyampaikan informasi mengenai acara tahunan Mahendra Group.”

Adrian menghentikan gerakan tangannya.

“Acara tahunan?”

“Benar, Pak. Tahun ini akan diadakan makan malam bersama para jajaran direksi, mitra bisnis, dan beberapa tamu penting perusahaan. Seperti tahun-tahun sebelumnya, acara tersebut juga akan dihadiri oleh pasangan masing-masing eksekutif.”

Adrian membuka map itu. Di dalamnya terdapat surat undangan resmi dengan desain sederhana tetapi elegan.

Ia membaca beberapa baris pertama sebelum mengembuskan napas pelan.

“Kapan acaranya?”

“Dua minggu lagi, tepatnya pada Sabtu malam. Tempatnya di Grand Arunika Hotel.”

Adrian mengangguk kecil. “Siapkan jadwal saya. Pastikan tidak ada rapat yang berbenturan.”

“Baik, Pak.”

Daniel tidak langsung pergi. Ia masih berdiri di depan meja, seolah menunggu Adrian menyadari sesuatu.

Adrian mengangkat wajahnya.

“Ada yang lain?”

“Tidak ada, Pak. Hanya saja, untuk acara tersebut, pihak panitia meminta konfirmasi jumlah tamu yang akan hadir bersama para eksekutif.”

Adrian kembali menatap undangan di tangannya.

Biasanya, ia menghadiri acara perusahaan seorang diri. Ia tidak pernah merasa perlu membawa siapa pun, sebab sebagian besar waktunya memang dihabiskan untuk pekerjaan. Namun, tahun ini keadaannya berbeda.

Ia sudah menikah.

Dan perempuan yang kini menyandang status sebagai istrinya bernama Alisha Amanda.

Adrian menyandarkan punggungnya pada kursi.

“Berapa lama waktu yang mereka berikan untuk konfirmasi?”

“Sampai akhir minggu ini, Pak.”

“Baik. Nanti saya beri tahu.”

Daniel mengangguk. “Kalau begitu, saya permisi.”

Setelah Daniel keluar, Adrian kembali menatap undangan tersebut. Nama para tamu penting tercantum di halaman berikutnya, disertai susunan acara dan ketentuan pakaian formal.

Ia sebenarnya bisa saja menghadiri acara itu tanpa Alisha. Tidak ada aturan tertulis yang benar-benar memaksanya membawa istri. Namun, ketidakhadirannya bersama pasangan mungkin akan memunculkan pertanyaan dari para eksekutif yang sudah mengetahui bahwa ia telah menikah.

Adrian tidak suka menjelaskan urusan pribadinya kepada orang lain.

Dan ia juga tidak ingin pernikahannya menjadi bahan pembicaraan di lingkungan perusahaan.

Akhirnya, ia mengambil ponsel dan membuka percakapan dengan Alisha.

Jarinya sempat berhenti di atas layar.

Ia tidak terbiasa mengajak seseorang menghadiri acara bersamanya, apalagi ketika acara itu mengharuskan mereka tampil sebagai pasangan di hadapan banyak orang.

Setelah berpikir sejenak, ia mulai mengetik.

Adrian: Malam ini kamu pulang jam berapa? Ada yang perlu kita bicarakan.

Pesan itu terkirim.

Beberapa menit kemudian, balasan muncul.

Alisha: Seperti biasa, sekitar jam tujuh. Ada apa?

Adrian menatap balasan singkat itu.

Adrian: Nanti kita bicarakan di rumah.

Alisha: Baik.

Percakapan selesai di sana.

Adrian meletakkan ponselnya kembali ke meja, lalu berusaha memusatkan perhatian pada pekerjaannya. Namun, untuk beberapa saat, pikirannya justru tertuju pada bagaimana ia akan menjelaskan undangan tersebut kepada Alisha.

---

Di tempat lain, Alisha sedang merapikan beberapa kotak kue di etalase Sweet Morning Bakery.

Siang itu, toko cukup ramai. Beberapa pelanggan datang silih berganti, sementara Mira sibuk mencatat pesanan dan Rani membantu membungkus kue untuk pelanggan yang memesan dalam jumlah besar.

“Lis, tolong ambilkan kotak ukuran sedang, ya. Yang di rak belakang,” pinta Rani.

“Iya, sebentar.”

Alisha berjalan ke ruang penyimpanan dan mengambil beberapa kotak. Setelah menyerahkannya kepada Rani, ia kembali membantu menata pesanan.

Mira yang sejak tadi memperhatikannya akhirnya mendekat.

“Alisha, akhir-akhir ini kamu kelihatan lebih sering melihat ponsel.”

Alisha menoleh. “Masa?”

“Iya. Biasanya kalau ada waktu kosong, kamu langsung mengecek catatan pengeluaran rumah sakit. Sekarang kadang-kadang kamu lihat pesan dulu.”

Alisha mengerutkan kening kecil.

“Memangnya salah?”

“Bukan begitu.” Mira terkekeh. “Aku cuma penasaran. Jangan-jangan sekarang ada yang sering menghubungimu.”

“Tidak ada yang aneh. Paling cuma pesan dari rumah sakit atau Adrian.”

Begitu nama Adrian disebut, Mira langsung mengangkat alis.

“Adrian? Suamimu?”

Alisha terdiam sebentar sebelum mengangguk.

“Iya.”

“Wah, sekarang kamu sudah mulai terbiasa menyebut namanya.”

Alisha menatap Mira dengan bingung.

“Memangnya harus bagaimana aku menyebutnya?”

“Tidak harus bagaimana juga.” Mira menahan tawa. “Dulu waktu pertama kali cerita soal pernikahanmu, kamu selalu bilang suamimu. Sekarang sudah menyebut nama.”

Alisha menggeleng pelan.

“Kalian ini suka sekali membesar-besarkan hal kecil.”

Rani yang mendengar percakapan mereka ikut mendekat.

“Biarkan saja, Lis. Kami cuma senang melihatmu mulai menyesuaikan diri dengan kehidupan baru.”

Alisha tersenyum tipis, lalu kembali menyusun kotak kue.

“Aku hanya menjalani apa yang memang harus aku jalani.”

Jawaban itu membuat Mira dan Rani saling pandang. Mereka tidak mengetahui apa pun tentang kesepakatan yang melandasi pernikahan Alisha. Di mata mereka, Alisha hanyalah seorang perempuan muda yang baru menikah dan masih berusaha membagi waktu antara pekerjaan, rumah, serta ibunya yang sedang menjalani perawatan.

“Ngomong-ngomong,” ujar Rani, “bagaimana keadaan ibumu sekarang?”

“Sejauh ini cukup stabil. Besok aku mau menelepon rumah sakit lagi untuk memastikan jadwal pemeriksaan berikutnya.”

“Kalau kamu perlu izin atau tukar jadwal, bilang saja. Kami bisa membantu.”

Alisha berhenti bekerja sejenak dan menatap kedua temannya.

“Terima kasih. Aku benar-benar menghargai itu.”

“Sudahlah, jangan terlalu formal,” sahut Mira. “Kita kan sudah bekerja bersama cukup lama.”

Alisha tertawa kecil. Suasana itu membuat pikirannya sedikit lebih ringan.

Ia memang tidak memiliki banyak orang yang bisa dimintai bantuan. Karena itulah, perhatian sederhana dari orang-orang di sekitarnya selalu berarti baginya.

Menjelang sore, setelah pesanan terakhir selesai disiapkan, Alisha memeriksa ponselnya. Ia teringat pesan Adrian yang mengatakan bahwa ada sesuatu yang perlu dibicarakan.

Alisha tidak tahu apa yang ingin disampaikan suaminya. Namun, ia menduga mungkin ada urusan rumah atau sesuatu yang berkaitan dengan keluarga Adrian.

Ia tidak terlalu memikirkannya.

Setelah menyelesaikan pekerjaannya, ia berpamitan kepada Mira dan Rani, lalu pulang.

---

Saat Alisha tiba di rumah, jam menunjukkan pukul tujuh lewat sedikit.

Ia meletakkan tas di tempat biasa, mengganti alas kaki, lalu berjalan ke ruang tengah. Rumah itu tampak tenang. Dari arah ruang kerja, ia mendengar suara pintu terbuka.

Adrian muncul dengan kemeja putih dan celana panjang gelap. Jas kerjanya sudah tidak dikenakan, tetapi lengan kemejanya masih tergulung rapi hingga siku.

“Kamu sudah pulang,” katanya.

“Iya. Kamu juga baru selesai bekerja?”

“Tidak terlalu lama.”

Alisha mengangguk. “Kamu tadi bilang ada yang ingin dibicarakan.”

“Benar. Tapi kamu sudah makan?”

“Belum. Aku baru sampai.”

“Kalau begitu, makan dulu. Kita bicarakan setelahnya.”

Adrian berjalan menuju ruang makan. Alisha mengikutinya tanpa banyak bertanya.

Malam itu, makan malam mereka berlangsung dengan suasana seperti biasanya. Tidak terlalu ramai, tetapi juga tidak sepenuhnya canggung seperti pada hari-hari pertama mereka tinggal bersama.

Adrian sesekali memeriksa ponselnya. Sementara itu, Alisha makan sambil memikirkan jadwal pemeriksaan ibunya.

Setelah selesai, Alisha membantu membawa gelas ke dapur. Ketika kembali ke ruang makan, Adrian sudah menunggu di sana dengan sebuah amplop berwarna krem.

“Duduklah sebentar,” katanya.

Alisha menarik kursi di hadapannya.

“Ada apa?”

Adrian mendorong amplop itu ke arahnya.

“Ini undangan acara tahunan perusahaan.”

Alisha membuka amplop tersebut dan membaca isinya. Matanya bergerak dari tanggal acara menuju nama hotel yang tercetak di bagian bawah.

“Acara perusahaan?”

“Ya. Acara makan malam bersama jajaran direksi dan beberapa mitra bisnis. Para eksekutif biasanya datang bersama pasangan mereka.”

Alisha mengangkat wajah.

“Lalu?”

“Kamu perlu ikut denganku.”

Ia terdiam beberapa detik.

“Aku?”

Adrian mengangguk. “Kamu istriku. Akan lebih wajar jika kita hadir bersama.”

Alisha kembali melihat undangan itu. Ia belum pernah menghadiri acara formal bersama para petinggi perusahaan besar. Selama ini, kehidupannya tidak jauh dari toko roti, rumah, dan rumah sakit.

Ia bahkan tidak tahu bagaimana harus bersikap di tengah orang-orang yang terbiasa menghadiri acara semacam itu.

“Apakah kehadiranku benar-benar diperlukan?” tanyanya hati-hati.

“Tidak ada kewajiban mutlak. Tetapi kalau aku datang sendiri, orang-orang mungkin akan bertanya.”

“Kalau begitu, kamu bisa menjelaskan bahwa aku sedang ada urusan.”

Adrian mengernyit tipis.

“Urusan apa?”

Alisha terdiam. Ia sebenarnya tidak mempunyai alasan khusus untuk menolak. Hanya saja, membayangkan dirinya berada di tengah orang-orang yang tidak dikenalnya membuatnya merasa tidak nyaman.

“Aku tidak terbiasa menghadiri acara seperti itu,” jawabnya akhirnya. “Aku juga tidak tahu harus berbicara tentang apa dengan orang-orang di sana.”

“Kamu tidak perlu membicarakan pekerjaan perusahaan. Kalau ada yang bertanya dan kamu tidak tahu jawabannya, katakan saja bahwa kamu tidak mengetahui hal itu.”

Alisha mengusap ujung undangan dengan jarinya.

“Bagaimana kalau aku melakukan sesuatu yang memalukan?”

“Kamu tidak sedang mengikuti ujian.”

Jawaban Adrian membuat Alisha menatapnya.

Adrian menyadari bahwa ucapannya terdengar terlalu datar. Ia kemudian menambahkan, “Kamu hanya perlu datang, menyapa orang-orang dengan sopan, dan mengikuti acara. Tidak ada yang mengharuskanmu menjadi orang lain.”

Alisha sedikit terkejut mendengar penjelasan sepanjang itu darinya.

Biasanya, Adrian hanya memberikan jawaban singkat. Namun, kali ini ia tampak berusaha menjelaskan agar Alisha tidak merasa terlalu terbebani.

“Acara itu berlangsung berapa lama?” tanya Alisha.

“Kurang lebih tiga jam, mungkin lebih jika ada pertemuan setelah makan malam.”

“Sabtu malam?”

“Benar.”

Alisha mengingat jadwalnya. Ia bisa meminta izin dari tempat kerja lebih awal jika diperlukan. Selama tidak ada jadwal pemeriksaan ibunya yang mendadak, ia seharusnya bisa menghadiri acara tersebut.

“Baiklah. Aku akan ikut.”

Adrian mengangguk, seolah keputusan itu memang sudah ia perkirakan.

Namun, Alisha belum selesai berbicara.

“Tapi aku akan memakai pakaian yang sudah kupunya.”

Adrian memandangnya.

“Kita perlu memastikan pakaianmu sesuai dengan acara itu.”

“Pakaianku masih bagus. Aku punya satu gaun sederhana yang bisa dipakai untuk acara resmi.”

“Apa warnanya?”

“Biru tua.”

Adrian terdiam sejenak. Ia tidak tahu seperti apa gaun yang dimaksud Alisha, tetapi ia bisa membayangkan pakaian sederhana yang biasa dikenakan perempuan itu.

“Bisa kamu tunjukkan nanti?”

Alisha mengangguk.

“Bisa. Tapi aku tidak ingin membeli pakaian baru hanya untuk satu malam.”

“Aku tidak mengatakan kamu harus membeli pakaian baru.”

“Kamu baru saja bilang kita perlu memastikan pakaianku sesuai.”

“Karena itu aku ingin melihatnya terlebih dahulu.”

Alisha memandang Adrian beberapa saat. Ia mencoba mencari tahu apakah suaminya sedang mempermasalahkan pakaiannya atau hanya ingin memastikan tidak ada kendala.

“Kalau ternyata menurutmu kurang cocok, bagaimana?” tanyanya.

“Kita cari pilihan lain.”

Alisha segera menggeleng.

“Adrian, aku tidak membutuhkan gaun mahal. Aku juga tidak ingin kamu mengeluarkan uang berlebihan hanya karena acara perusahaan.”

Adrian menatapnya tanpa langsung menjawab.

Ada sesuatu yang selalu ia perhatikan dari Alisha. Perempuan itu tidak pernah meminta barang mahal atau berusaha memanfaatkan statusnya sebagai istri seorang CEO. Bahkan ketika membicarakan kebutuhan sendiri, Alisha justru lebih memikirkan pengeluaran untuk ibunya.

Namun, Adrian tidak ingin Alisha datang ke acara tersebut dengan perasaan rendah diri hanya karena ia tidak terbiasa dengan lingkungan perusahaan.

“Aku tidak berniat membeli sesuatu yang berlebihan,” katanya. “Kalau gaunmu memang sesuai, kamu bisa memakainya. Kalau tidak, kita akan mencari sesuatu yang sederhana dan pantas.”

Alisha mempertimbangkan perkataannya.

“Benar-benar tidak perlu yang mahal?”

“Tidak perlu.”

“Dan aku boleh memilih sendiri?”

“Selama sesuai dengan acara.”

Alisha akhirnya mengangguk.

“Baik. Nanti aku tunjukkan gaunnya.”

“Kalau begitu, besok malam kita periksa.”

Alisha mengangguk sekali lagi. Setelah itu, ia mulai mengumpulkan piring-piring yang masih ada di meja.

Adrian memperhatikannya sebentar.

“Biar aku saja,” katanya.

Alisha menoleh, tampak sedikit heran.

“Tidak apa-apa. Aku bisa membawanya.”

“Aku tahu kamu bisa. Tapi aku juga bisa membantu.”

Tanpa menunggu jawaban, Adrian mengambil dua piring dan berjalan menuju dapur.

Alisha berdiri diam selama beberapa detik sebelum akhirnya mengikuti.

Bagi orang lain, tindakan itu mungkin tidak berarti apa-apa. Namun, selama mereka tinggal bersama, Adrian jarang mengambil inisiatif untuk melakukan pekerjaan rumah tangga.

Bukan berarti ia tidak mau membantu. Hanya saja, selama ini mereka terbiasa menjalani rutinitas masing-masing.

Malam itu, Alisha kembali menyadari bahwa Adrian terkadang melakukan hal-hal kecil tanpa banyak bicara.

Ia tidak menganggapnya sebagai tanda perasaan khusus. Menurutnya, Adrian hanya berusaha menjaga hubungan mereka tetap baik selama masa pernikahan.

Dan ia pun berniat melakukan hal yang sama.

---

Di apartemennya, Clarissa duduk di sofa dengan ponsel di tangan.

Sejak beberapa hari terakhir, ia berusaha mencari kesempatan untuk berbicara lebih lama dengan Adrian. Namun, balasan laki-laki itu selalu singkat dan formal.

Clarissa mengenal Adrian cukup lama untuk mengetahui bahwa laki-laki itu memang tidak banyak bicara. Dahulu, ia sering menganggap sikap tersebut sebagai bagian dari kepribadian Adrian yang membuatnya berbeda dari laki-laki lain.

Namun, ada perbedaan yang sulit ia abaikan sekarang.

Dahulu, meskipun sibuk, Adrian pada akhirnya akan meluangkan waktu untuknya. Sekarang, bahkan untuk sekadar membicarakan masa lalu, Adrian tampak tidak ingin memberikan banyak ruang.

Clarissa membuka percakapan mereka dan mengetik pesan baru.

Clarissa: Adrian, apakah kamu punya waktu minggu ini? Aku ingin mengajakmu bertemu sebentar.

Ia menunggu.

Sepuluh menit berlalu tanpa balasan.

Clarissa meletakkan ponselnya di sofa, lalu berjalan ke jendela. Lampu-lampu kota terlihat berkilauan di kejauhan.

Ia tidak tahu apa yang sebenarnya ia harapkan dari pertemuan itu. Ia hanya ingin berbicara dengan Adrian, mengetahui bagaimana kehidupan laki-laki itu selama mereka berpisah, dan memahami mengapa Adrian memutuskan menikah dengan perempuan yang baru dikenalnya.

Namun, satu hal terus mengusiknya.

Alisha.

Perempuan yang ditemuinya di rumah Adrian itu tidak bersikap seperti seseorang yang ingin mempertahankan perhatian suaminya. Alisha bahkan mendengarkan cerita masa lalu mereka tanpa menunjukkan rasa ingin tahu yang berlebihan.

Clarissa belum pernah bertemu perempuan seperti itu dalam lingkaran pergaulannya.

Ia tidak tahu apakah Alisha memang setenang itu atau hanya pandai menyembunyikan pikirannya.

Yang jelas, ia ingin mengenalnya lebih jauh.

Bukan karena ingin berteman dengannya, tetapi karena ia ingin memahami kehidupan baru Adrian.

Ponselnya bergetar.

Clarissa segera mengambilnya, berharap pesan dari Adrian akhirnya tiba.

Namun, pesan yang muncul justru berasal dari Maya.

Maya: Kamu masih berencana menemui Adrian?

Clarissa mengetik balasan.

Clarissa: Aku hanya ingin berbicara dengannya.

Maya: Aku tahu. Tapi kamu juga harus ingat bahwa dia sudah menikah.

Clarissa mengembuskan napas.

Clarissa: Aku tidak berniat mengganggu pernikahannya.

Maya: Kalau begitu, jangan membuat dirimu terlalu berharap pada sesuatu yang belum tentu bisa kembali.

Clarissa membaca pesan itu berulang kali.

Ia tidak membalas.

Untuk saat ini, ia belum mau mengakui bahwa Maya mungkin benar.

---

Keesokan malamnya, Alisha pulang sedikit lebih awal dari biasanya. Setelah menyelesaikan pekerjaannya di Sweet Morning Bakery, ia sempat mampir ke rumah sakit untuk memastikan jadwal pemeriksaan ibunya.

Ratih berada dalam keadaan cukup baik ketika Alisha menghubunginya. Percakapan mereka tidak berlangsung lama karena ibunya perlu beristirahat.

Setibanya di rumah, Alisha langsung menuju kamarnya dan membuka lemari pakaian.

Di bagian paling dalam, tersimpan sebuah gaun biru tua yang pernah dibelinya untuk menghadiri acara kelulusan sekolah. Gaun itu tidak memiliki banyak hiasan. Potongannya sederhana, dengan lengan pendek dan detail kecil di bagian pinggang.

Alisha mengeluarkannya, lalu memeriksa bagian depan dan belakang untuk memastikan tidak ada kerusakan.

Gaun itu masih layak dipakai.

Ia menggantungnya di pintu lemari, kemudian memanggil Adrian yang baru keluar dari ruang kerjanya.

“Adrian, aku sudah menemukan gaunnya.”

Adrian berhenti di depan pintu kamar Alisha. Ia tidak masuk, hanya berdiri di ambang pintu ketika Alisha menunjukkan gaun tersebut.

“Ini yang ingin kamu pakai?” tanyanya.

“Iya. Aku membelinya beberapa waktu lalu. Tidak terlalu mewah, tapi menurutku cukup rapi.”

Adrian memperhatikan gaun itu beberapa saat.

Warnanya cocok untuk acara malam hari. Modelnya juga sederhana dan tidak berlebihan.

“Menurutku bisa,” katanya.

Alisha tampak lega.

“Jadi aku tidak perlu membeli yang baru?”

“Sepertinya tidak perlu.”

“Baguslah.”

Alisha mengembalikan gaun itu ke gantungan. Ia kemudian mengambil buku catatan kecil dari meja.

“Aku juga harus memastikan jadwal kerja hari Sabtu. Aku akan meminta izin pulang lebih awal supaya punya waktu bersiap.”

“Aku akan mengirimkan informasi lengkap mengenai acara itu. Kamu bisa melihatnya sendiri.”

“Baik.”

Adrian mengangguk, lalu bersiap pergi. Namun, sebelum melangkah menjauh, ia berhenti.

“Alisha.”

Perempuan itu menoleh.

“Ya?”

“Kalau nanti ada orang yang bertanya tentang pekerjaanmu atau kehidupan kita, kamu tidak perlu menjawab hal-hal yang membuatmu tidak nyaman.”

Alisha terdiam sebentar.

Ia memahami maksud Adrian. Acara itu akan dihadiri banyak orang penting, dan sebagian dari mereka mungkin penasaran dengan istri CEO yang baru menikah tersebut.

“Baik. Aku akan menjawab seperlunya.”

“Dan kalau kamu merasa tidak nyaman, beri tahu aku.”

Alisha menatapnya dengan sedikit heran. “Aku bisa mengatasinya sendiri.”

“Aku tahu.”

Adrian menjawab tanpa nada tersinggung.

“Tapi kita akan datang bersama. Jadi, kalau ada sesuatu yang membuatmu tidak nyaman, kamu boleh mengatakannya kepadaku.”

Alisha tidak langsung membalas. Ia hanya mengangguk pelan.

“Terima kasih.”

Adrian membalas anggukannya sebelum berjalan kembali ke ruang kerjanya.

Alisha memandang punggungnya sejenak, kemudian menutup pintu kamar.

Ia tidak ingin terlalu banyak memikirkan perhatian kecil itu. Baginya, Adrian hanya sedang memastikan bahwa acara perusahaan nanti berjalan lancar dan tidak menimbulkan masalah bagi mereka.

Sementara itu, Adrian kembali duduk di depan laptopnya. Ia membuka dokumen acara perusahaan, kemudian mengirimkan konfirmasi bahwa ia akan hadir bersama istrinya.

Setelah pesan terkirim, ia bersandar di kursi.

Dua minggu lagi, ia dan Alisha akan berdiri berdampingan di hadapan orang-orang yang

1
Grend Levn
ceritanya menarik membuat ku penasaran bagaimana kelanjutannya kerenn
Ariany Sudjana
dasar pelacur murahan kamu itu Clarissa, sedemikian ga lakunya kamu ya sama bujangan, sampai orang udah punya istri juga kamu ganggu, hanya alasan masa lalu? Bodohnya kebangetan kamu
Aqilaa Kezia: Hehehe, sabar ya, Kak 😂 Clarissa memang bikin emosi. Terima kasih sudah membaca novelku! ❤️
total 1 replies
Ariany Sudjana
skak mat, bagus Alisha, kamu harus tegas menghadapi si pelacur murahan itu, tunjukkan kamu itu perempuan baik-baik, cerdas dan mandiri, meskipun kamu istri CEO, tapi kelas kamu jauh di atas si pelacur murahan itu, yang hanya bisa berharap jadi istri CEO, tapi ga kesampaian
Aqilaa Kezia: makasih banyak Kak Arianya udah selalu dukung Alisha😍
total 1 replies
Ariany Sudjana
Adrian dan alisha harus tegas dan waspada, si pelacur murahan itu ingin menghancurkan rumah tangga kalian
Aqilaa Kezia: terimakasih ka Adriany udah membaca😊
total 1 replies
Ariany Sudjana
jangan menyerah Alisa, buktikan kamu perempuan baik-baik, cerdas dan mandiri, dan cocok mendampingi Adrian, jangan biarkan pelacur murahan itu menghancurkan rumah tangga kamu dengan Adrian
katya
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!