NovelToon NovelToon
Memeluk Bayangan

Memeluk Bayangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda / Penyesalan Suami
Popularitas:897
Nilai: 5
Nama Author: neng_86

Abimana Rahardjo adalah putra pemilik sebuah pesantren dan merupakan penerus dari pondok pesantren milik keluarganya karena dia merupakan putra satu-satunya keluarga tersebut.

Sejak kecil dia telah di jodohkan dengan seorang gadis yang merupakan putri asuh keluarga Rahardjo yakni Kemala Putri Dewi yang merupakan putri sahabat kedua orangtuanya.

Kemala yang telah lama jadi yatim piatu sejak usia 10 tahun harus merelakan cita-citanya yang ingin jadi dokter karena sebuah balas budi.

Pernikahan karena dijodohkan itu benar-benar mencekik Kemala dikarenakan sang suami yang rupanya memilih poligami dengan perempuan yang telah lama ada dihati Abimana.

Hati Kemala hancur karena cinta suami yang tak kunjung dia dapatkan dan karena kehadiran orang ketiga dalam rumah tangga mereka.

Hingga suatu hari, seorang pemuda mampu menggoyahkan hati Kemala.

Laki-laki yang dianggap urakan dan bertato layaknya preman.

simak kisahnya di Memeluk Bayangan...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

julukan istri kejam

Pagi dini hari, namun tak ada kehangatan yang mampu menembus dinginnya sudut kamar itu.

Kemala terbangun lebih dulu, tubuhnya terasa nyeri seakan dihantam batu.

Ia duduk perlahan, menata selimut menutupi tubuhnya yang masih terasa perih di setiap sentuhan. Di sisinya, Abimana masih memejamkan mata, napasnya tenang seolah tak ada apa-apa yang terjadi semalam.

Laki-laki itu masih disini, tidak meninggalkannya seperti malam-malam sebelumnya.

Kemala menatap punggung kokoh itu, matanya perih namun air matanya tak lagi jatuh. Ia sudah terlalu lelah menangis.

Kemala bangkit pelan, meminimalisir gerakan sekecil apapun yang bisa mengusik tidur nyenyak Abimana. Gegas, dia mengenakan pakaian panjang, lalu berjalan menuju kamar mandi.

Di sana, di hadapan cermin, ia melihat jejak-jejak kemarahan itu, memar di pergelangan tangannya, kemerahan di kulit yang seharusnya disentuh dengan kasih sayang.

Ia membasuh wajahnya, menelan rasa pahit yang naik ke kerongkongan.

Ini suamiku, batinnya mencoba membujuk diri sendiri. Dia hanya cemburu, dia hanya takut kehilanganku. Namun kata-kata itu terasa kosong. Kehilangan tak seharusnya dihindari dengan menyakiti, cinta tak seharusnya terasa seperti hukuman.

Saat ia keluar, Abimana sudah terjaga. Ia duduk di tepi ranjang, menatap ke arah jendela yang masih gelap.

Suasana hening lama, sebelum akhirnya suaranya terdengar datar, tanpa penyesalan.

"Kamu sudah bangun?" tanyanya, seolah tak ada luka yang ia torehkan semalam. "Bersiaplah, kita sholat berjamaah" titahnya kemudian.

Kemala mengangguk pelan, tak mampu bersuara. Ia berjalan menuju lemari hendak mengeluarkan pakaian Abimana, namun langkahnya terhenti saat suara Abimana kembali terdengar.

"Dan soal laki-laki itu, Sean Wijayakusuma... jangan pernah lagi kamu melihatnya, apalagi berbicara dengannya. Kamu paham? Kamu istriku. Tak ada yang boleh mendekatimu selain saya."

Kemala menoleh perlahan. "Kami tidak sengaja berpapasan.. Dia hanya lewat hendak kabur.. Hanya itu..."

Abimana berdiri, wajahnya kembali mengeras. "Jangan membela dia. Kalau bukan karena kamu yang menyambutnya dengan wajah begitu ramah, saya tak akan marah."

Kata-kata itu menghujam tepat di dada. Kemala menatapnya, perlahan menggeleng. "Jadi... itu salahku?"

Abimana terdiam, namun tak ada kata maaf yang terucap. Ia hanya berbalik, meraih celana pendek yang tercecer dilantai kamar. "Sudahlah. Siapkan pakaian saya"

Kemala menatap pintu yang tertutup di belakangnya.

Hatinya terasa retak, perlahan-lahan hancur menjadi kepingan yang sulit disatukan kembali.

Ia bukan istri yang dicintai, melainkan milik yang dijaga dengan ketakutan dan kekuasaan.

Ah tidak!

Bahkan sejak awal, dia bukalah perempuan yang dicintai suaminya.

Dia hanyalah sebuah alasan untuk pembuktian baktinya sebagai seorang anak yang menurut pada kedua orangtuanya.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Langkah kaki Kirana pelan, ragu-ragu menyusuri lorong beralaskan ubin putih yang berkilau terkena cahaya sore.

Di ujung ruangan itu, di balik tumpukan kertas ujian yang tersusun rapi di atas meja kayu jati, duduklah Kemala. Pena di tangannya bergerak lincah, memberi tanda, menuliskan angka, wajahnya serius, tenang, seakan tak ada yang mampu mengganggu ketenangan yang ia bangun sendiri sejak tadi.

Kirana berhenti sejenak di ambang pintu.

Napasnya tertahan, tubuhnya masih terasa ringkih, sisa-sisa lemah yang belum sepenuhnya hilang, namun ia memaksakan diri untuk berjalan ke sini. Bukan untuk meminta sesuatu, bukan untuk menuntut. Hanya ingin menyapa.

Ia melangkah masuk, suaranya terdengar lembut namun jelas membelah keheningan ruangan.

"Kemala..."

Tangan Kemala yang sedang menulis terhenti sejenak, namun kepalanya tak segera menoleh. Ia melipat garis bawah pada angka yang baru saja ia tulis, lalu perlahan meletakkan pulpennya di tepi meja. Hingga detik itu pun, ia masih menatap tumpukan kertas di hadapannya, seakan melihat ke arah lain justru hal yang paling sulit dilakukan saat ini.

"Kamu sudah sembuh?" tanyanya, nada bicaranya datar, dingin, jauh dari hangat.

Kirana menarik kursi di seberang meja, duduk dengan sopan, tangannya saling genggam di atas pangkuan. "Dokter bilang panas tubuhku sudah turun dan boleh bergerak. Saya... datang ingin menyapa dan ingin tahu kondisimu... Semalam, mas Abimana terlihat begitu murka. Saya takut beliau menyakitimu... Dan karena semalam mas Abimana tidak pulang, jadi saya berfikir, mungkin dia tidur dirumahmu"

Kemala akhirnya mengangkat wajah.

Mata bulat indah itu menatap lurus ke arah Kirana dengan tatapan sedingin kaca jendela yang disentuh embun pagi. Tak ada amarah yang meledak, justru kebekuan yang jauh lebih menyakitkan.

"Memangnya kenapa jika Mas Abimana tidur di tempatku?" ucapnya pelan namun tajam, setiap kata terasa berat dan tegas. "Toh dia juga suamiku, jika kamu tidak lupa."

Udara di ruangan itu seketika terasa sesak.

Wajah Kirana yang sudah pucat kini kian memutih dibalik cadarnya.

Kata-kata itu menghantamnya tepat di dada.

Benar, semuanya benar.

Ia tak punya hak untuk menuntut atau mempertanyakan ke mana suaminya itu pulang, tempat mana yang menjadi sandaran utamanya.

Ia menunduk dalam, melipat bibirnya rapat-rapat hingga tak terlihat lagi garis senyum yang tadi tersungging.

Rasa bersalah merayap cepat, menguasai segenap kesadarannya. Ia baru saja melangkah terlalu jauh, menyentuh wilayah yang bukan miliknya.

"Maaf..." suaranya hampir tak terdengar, bergetar di bibir yang kini terasa kaku. "Saya... Saya tidak bermaksud begitu, Kemala. Saya tidak bermaksud menuntut hak apa pun. Saya hanya... khawatir, takut dia kelelahan bolak-balik."

Kemala mengalihkan pandangan kembali ke tumpukan kertas di meja, seakan kehadiran perempuan di hadapannya kini tak lebih dari sekadar bayangan yang mengganggu fokus. "Biarlah itu urusan kami. Urusan suami istri yang sudah berdiri lebih dulu sebelum kamu memasukinya" setiap kalimat itu terasa sedingin es meluncur dari bibir Kemala.

Tak ada lagi kelembutan dari setiap tutur katanya seperti awal-awal mereka berkenalan saat Kirana datang sebagai tamu undangan pernikahan Kemala dan Abimana.

Kirana menelan ludah, menunduk makin dalam, kedua tangannya meremas ujung kain pakaiannya. "Saya tahu. Saya salah bicara. Maafkan saya... sekali lagi, saya benar-benar tidak bermaksud menyinggung perasaanmu"

Hening kembali menyelimuti ruangan itu.

Kemala tak menjawab.

Kirana menghela napas panjang, rasa sesak di dadanya tak kunjung reda. Ia menarik napas pelan, lalu berbicara dengan nada yang penuh penyesalan.

"Saya akan pergi sekarang. Sekali lagi... maafkan saya."

Langkahnya pelan, penuh keraguan, meninggalkan ruangan itu dengan perasaan yang semakin terasa kecil dan tak berharga.

Di balik punggungnya, Kemala kembali memegang pena, namun kali ini tak ada satu pun huruf yang tertulis. Hanya keheningan yang menampung luka yang kembali tergores antara hak yang dipertahankan, dan hati yang tak pernah benar-benar siap berbagi.

Diluar, terlihat segerombolan orang sedang berkumpul. Sesekali melirik kedalam dimana Kemala masih sibuk atau sekedar menyibukkan diri, tenggelam dalam pekerjaannya.

Ummu Saidah bahkan sempat berbicara sedikit keras begitu melihat mata Kirana yang memerah dan berkaca-kaca.

Semua orang kini benar-benar terhipnotis akan kelembutan Kirana dan menganggap jika Kemala sosok istri pertama yang kejam yang kerap kali membuat madu-nya selalu bersedih.

Bersambung...

1
Mundri Astuti
ni ga kebongkar juga yak...kasihan di fitnah terus si kemala...he abi..koreksi diri dong...kamu pernah hidup bareng Kemala sebagai kakak angkatnya..masa ga tau sifat Kemala gimana
falea sezi
moga abis ne kebongkar borok istri sok alim elu🤣🤣 nunggu elu nangis darah trs kemala dpet jodoh cogan bujang kaya raya👍
Mundri Astuti
belum kebongkar juga ...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!