NovelToon NovelToon
SANTANA MILIK SENJANA

SANTANA MILIK SENJANA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat / Romansa Fantasi
Popularitas:125
Nilai: 5
Nama Author: little ky

Kisah cinta yang tak usia saat masih berseragam abu-abu, akankah bisa terjalin kembali? Disaat keduanya sudah tak lagi sama, namun hati tak bisa dibohongi, cinta mereka nyatanya masih ada.
Namun, disaat cinta kembali mengalahkan logika, keadaan justru menyudutkan keduanya.
Akankah SANTANA masih bisa menjadi milik SENJANA?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon little ky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Senja milik Santana

Suasana di ruangan ini terasa sangat menghimpit. Bernafas saja rasanya takut salah. Semua hanya terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Untuk Angkara sendiri, dia sebenarnya kesal pada Santana karena dianggap mempermainkan adiknya. Tapi sekali lagi, memang sejak awal adalah salah Yara.

Berulang kali baik Angkara maupun ibunya selalu mengatakan jika memaksakan kehendak pada orang lain itu sangat tidak baik, apalagi soal perasaan. Tapi cinta yang mulai mengarah ke obsesi membuat Yara mengabaikan semua nasehat yang diberikan untuknya.

Kini, saat semuanya sudah terlanjur seperti ini, siapa yang sakit hati. Semua orang merasakan sakit hati dalam versi mereka masing-masing. Yara pun pasti merasakan sakit yang mungkin lebih dari yang lain. Bisa apa sekarang, Santana benar-benar bertindak dan Yara pun tidak sanggup menahan gerakan Santana.

" Siapa? "

" Apanya? "

Yara menatap tajam Santana. Mungkin ini sisa harga diri yang dia punya, yang dia pertaruhkan disini. Dia ingin tahu siapa sebenarnya yang begitu amat Santana cintai, sampai mengabaikan perasaan cintanya. Sehebat apa wanita itu sampai seorang Yara pun tak mampu mengalahkannya.

" Siapa wanita itu? " tanya Yara memperjelas apa yang ditanyakannya.

Angkara, Rahayu dan Anjani saling tatap satu sama lain. Ketiganya jelas tahu siapa wanita yang tengah dipertanyakan oleh Yara. Ingin hati menghentikan Yara, tapi rasanya memang Yara harus ditampar kenyataan baru bisa sadar.

Dalam hati ketiganya pun sama-sama bertanya, apakah hubungan Yara dan wanita itu setelah ini akan masih sama?

" Saya sudah pernah mengatakannya. Mungkin kamu saja yang tidak paham kata-kata daya waktu itu. " jawaban Santana tanpa mengatakan dengan jelas siapa wanita itu.

Mendengar Santana menggunakan bahasa formal saat bicara dengannya, jujur saja Yara merasakan perih yang menyerang dadanya. Secara tiba-tiba jarak keduanya terasa begitu sangat jauh. Seperti langit dan bumi, itulah yang dirasakan oleh Yara.

Sungguh benar-benar tak pernah Yara sangka, keduanya bisa seasing ini. Tidak, Yara tidak pernah menganggap Santana seperti orang lain. Ini adalah Santana, yang memang menginginkan hubungan keduanya kembali seperti semula. Asing....

" Kapan? Aku nggak pernah denger kamu sebut nama cewek lain. " dipaksa mengingat juga percuma karena Yara merasa memang tidak pernah mendengar Santana menyebut nama seorang wanita.

" Florance, PIAZZALE MICHELANGELO... " Santana sebut satu nama tempat yang memang pernah keduanya datangi. Lebih tepatnya Yara ngintil Santana yang ada jadwal pemotretan di sana.

" Piazzale Michelangelo? Memangnya waktu itu kamu ngomong......... apa? " suara Yara memelan. Secara tiba-tiba, dia mengingat momen kala itu.

Santana yang sedang rehat pemotretan berjalan ke tempat yang lebih tinggi. Tujuannya untuk melihat langit saat matahari tenggelam. Menurut penduduk setempat, melihat mata hari tenggelam di kota ini merupakan yang paling indah. Santana ingin melihatnya juga, seindah apa, apakah lebih indah dari Senjanya.

" Kamu nggak makan dulu, beb? Keburu malam lho. " Yara mengikuti langkah Santana.

" Nanti aja. " jawaban Santana, masih tetap kaku dan dingin, seperti biasanya.

" Ngapain sih ke sini? " tanya Yara penasaran.

" Ssssttttttt.... "

Santana menghadap tepat ke arah langit yang tengah memperlihatkan momen yang ditunggu oleh Santana. Senja nampak di ufuk barat, terlihat begitu indah dilihat dari posisi Santana yang sekarang.

" Waaahhhhhhh.. indah banget.. " Yara yang tadinya BT langsung sumringah melihat keindahan di depan matanya.

" Kamu bisa aja nemu tempat begini, beb.. Indah banget ya? " dalam hati Santana mengiyakan.

" Kamu suka senja ya, beb.. Soalnya aku sering banget lihat kamu lihatin senja... " sebenarnya saat itu Yara memang hanya ingin basa basi membuka obrolan dengan Santana yang sangat pendiam dan jarang bicara.

" Ya... Aku selalu mencintai Senja.. Karena Senja hanya milik Santana. "

Yara tersenyum miring, mengejek dirinya yang saat itu tidak benar-benar paham maksud ucapan Santana yang sebenarnya. Andai saja dia tahu maksud ucapan Santana, mungkin dia akan menyerah saat itu juga. Cinta membuatnya buta dan tuli, itu benar adanya.

Tapi tunggu....

Aku selalu mencintai Senja...

Senja...

Senja yang disebut Santana, mungkinkah itu.....

" Sensen... Senja itu... Senjana??? Benar begitu? " Santana mengangguk.

DUAAAAARRRRRRRRRR

Tubuh Yara membeku bagai tersambar petir. Kepalanya berdenyut sakit, telinganya pun berdenging. Rasanya sekitarnya berputar-putar lalu tiba-tiba menjadi gelap. Yara pingsan, dan Angkara langsung sigap mengangkat Yara untuk membawa adiknya itu ke dalam kamar.

********

" Ish.. ish.. ish... Baru aja pulang dari liburan plus dapat calon suami kok masih ngelamun sih mba Yar.. Apa kabar yang kayak saya ini jadinya? " Yara terkekeh mendengar ucapan asal jeplak Senjana.

" Ck.. Sensen kebiasaan, ah. " keduanya duduk bersama di sebuah bangku dekat kantin yang arahnya menghadap taman kecil di samping gedung kantor Liquor.

" Ada apa sih, mba Yar? Kayaknya kok berat banget. Cerita deh sama saya, dijamin... buntu.. " keduanya tertawa ngakak bersama.

Senjana masih asyik dengan tawanya, tanpa menyadari kalau Yara kini tengah menatapnya begitu intens. Rasa syukur tiba-tiba menyeruak dalam diri Yara, yang bisa bertemu seorang Senjana dalam hidupnya. Apa arti hidupnya, andai saja saat itu dia tidak pernah bertemu dengan Senjana.

" Berat, Sensen.. Cinta sendirian itu berat. " keluhnya dengan wajah yang sedih.

" Sama-sama cinta aja berat, mba Yar, apalagi cinta sendirian. Lagian aneh aja, ngapain cari penyakit sih. "

" Gimana dong, aku nggak bisa nyia-nyiain kesempatan yang bisa buat aku sama-sama dia, Sensen... "

" Memaksakan kehendak sama orang lain itu nggak akan berakhir baik, mba Yar. Percaya deh sama saya. Saya pernah melihat seseorang yang begitu ambisius dan egois berakhir ngenes.. " Senjana tersenyum, menatap penuh perhatian pada Yara. Seseorang yang sudah dia anggap sebagai adiknya sendiri, karena usia Senjana lebih tua 3 tahun dari Yara.

" Gaya mu, Sen.. Pacaran aja nggak pernah sok-sokan nasehatin. "

" Lah... dikata saya jomblo dari bayi.. Saya juga pernah pacaran mba Yar.. Waktu SMA dulu. " Senjana cengar cengir bangga.

" Masa? Kok pernah cerita... " komplain Yara yang merasa kesal karena baru tahu.

Senjana pun menceritakan semua kisahnya, sampai di titik dimana dia harus berpisah dengan kekasih hatinya. Tanpa menyertakan alasan kenapa dia harus berpisah dengan kekasihnya saat itu. Jujur Sanjana sih malu ya, karena bagaimana pun perbuatan papanya sangat tidak dibenarkan.

Yara yang mendengar semua cerita Senjana merasa sangat kagum pada sosok yang Senjana sebut sebagai kekasihnya. Cowoknya gentle banget, penyayang, perhatian dan act service nya jos gandos. Andai aja Santana seperti mantan kekasih Senjana....

" Gila... Gimana rasanya dicintai cowok semewah itu, Sen? Hiks.. Hiks.. kayaknya kalau aku cuma bakalan mimpi aja deh, soalnya dia terang-terangan bilang sayang orang lain. "

" Mau tahu rasanya? Makanya cari yang sama-sama cintanya, mba Yar. Nggak berat sebelah, pasti ntar mba Yar tahu gimana nikmatnya dicintai semewah itu... "

Lalu Yara pun akhirnya membuka mata. Yang pertama kali dilihat olehnya bukan keluarganya. Melainkan cowok paling menyebalkan yang pernah dia kenal.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!