Yoselin berharap jika Edward akan mencintainya setelah pernikahan mereka berjalan selama dua tahun, tetapi sore itu Yoselin sadar sesuatu jika sampai kapanpun Edward tidak akan pernah meliriknya sedikitpun.
Sebuah pemandangan menyakitkan tertangkap mata Yoselin, Yoselin melihat Edward dan mantan kekasihnya Angela tengah berciuman diparkiran restoran, sejak saat itu juga hati Yoselin hancur, rasa percaya dirinya runtuh, saat itu juga Yoselin melepaskan Edward. Yoselin menyerah, disaat Yoselin mulai sibuk dengan dunianya, Edward merasa kehilangan, Edward mencoba memperbaiki tetapi dia sudah telat.
Di lain sisi seorang CEO bernama Javier Vernand Romero sangat tertarik dengan Yoselin, dia mengagumi Yoselin dari setiap sisi, Javier bertekad dalam hati jika dia akan memiliki Yoselin seutuhnya, tidak peduli Yoselin sudah menikah atau tidak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Tidak Mau Menikah Denganmu!
Yoselin melangkah keluar dari area rumah sakit dengan napas yang memburu dan gejolak emosi yang membakar dadanya. Kepalanya berdenyut nyeri memikirkan rentetan kejadian yang baru saja terjadi. Tuduhan histeris Edward yang menyebut nama Javier Vernand Romero sebagai pelaku di balik patah tulang tangannya terus bergema di telinga Yoselin. Tanpa membuang waktu, Yoselin segera memasuki mobilnya dan menancap gas kencang. Tujuannya hanya satu, kantor V. Corp. Ia menuntut penjelasan langsung dari sang CEO.
Langkah kaki Yoselin menggema cepat menembus lobi megah gedung V. Corp. Wajah cantiknya yang biasa dihiasi senyuman ramah kini mengeras dipenuhi amarah.
"Selamat siang, Bu Yoselin" sapa resepsionis yang bertugas.
Namun Yoselin melewatkannya begitu saja tanpa membalas sapaan tersebut, berjalan lurus menuju lift khusus atasan. Wanita di balik meja resepsionis itu cukup terkejut melihat raut wajah gusar Yoselin. Walau bingung, ia mencoba berpikir positif bahwa mungkin Yoselin sedang sangat buru-buru atau tidak sempat mendengar sapaannya.
Brak!
Pintu ruang kerja megah di lantai teratas didorong secara kasar. Yoselin menerobos masuk tanpa mengetuk terlebih dahulu.
Javier yang sedang meneliti berkas di meja kerjanya terperanjat kecil. Namun, begitu melihat sosok wanita anggun yang berdiri di ambang pintu dengan napas memburu, raut wajah kaku sang CEO seketika melunak. Sebuah senyuman hangat dan ramah terukir di bibirnya saat ia menyambut kedatangan sang tamu tak terduga.
"Yoselin? Kejutan yang sangat manis," sapa Javier santai dengan nada suara yang begitu halus.
"Ada apa berkunjung mendadak tanpa mengabari?"
Yoselin berdiri tegak di tengah ruangan, memejamkan mata sejenak seraya menarik napas panjang untuk mengontrol gejolak emosi yang ingin meledak. Ia menatap lurus manik mata abu-abu milik Javier.
"Pak Vernand," panggil Yoselin dengan suara rendah yang menahan amarah.
"Apakah Anda yang membuat suami saya terbaring di rumah sakit dengan tangan patah?"
Javier mengerutkan keningnya, memasang raut wajah heran yang begitu sempurna seolah-olah ia tidak mengerti sama sekali arah pembicaraan Yoselin.
"Suamimu? Terbaring di rumah sakit? Apa maksudmu, Yoselin?"
"Jangan berpura-pura tidak tahu, Pak Javier!" seru Yoselin, emosinya runtuh seketika melihat kepolosan buatan pria di hadapannya.
"Edward diserang oleh empat orang pria bertubuh besar semalam! Dan dia bilang, Anda yang berada di balik semua ini!"
Mendengar tuduhan berapi-api itu, Javier bukannya panik atau terkejut. Ia justru bangkit dari kursi kebesarannya, melangkah pelan mendekati Yoselin dengan gestur tubuh yang amat tenang.
Sebelum Yoselin sempat mundur, tangan kekar Javier bergerak secepat kilat menarik pinggang ramping wanita itu. Dalam satu hentakan halus, Javier memeluk tubuh Yoselin secara posesif, mengikis habis jarak di antara mereka.
"Pak Vernand! Lepaskan!" pekik Yoselin kaget seraya menahan dada bidang Javier.
Javier tidak memedulikan penolakan itu. Ia justru menatap dalam-dalam manik mata cokelat bening Yoselin yang berkilat emosi. Sebuah tawa kecil yang terdengar sangat renyah dan puas meluncur dari bibir pria tampan itu. Javier menikmati setiap inci ekspresi marah di paras cantik Yoselin.
Javier menundukkan wajahnya, mendekatkan bibirnya hingga menyentuh hembusan napas Yoselin yang memburu.
"Kalau aku bilang ya... memang aku pelakunya, bagaimana?" bisik Javier serak di depan bibir Yoselin, terkekeh pelan.
Darah Yoselin seketika mendidih mendengarnya. Pengakuan santai itu benar-benar menyulut kemurkaannya.
"Anda benar-benar gila!" amuk Yoselin histeris, menyalurkan seluruh tenaganya untuk mendorong dada Javier kuat-kuat hingga dekapan posesif itu terlepas. Yoselin mundur dua langkah, menunjuk wajah Javier dengan jari yang gemetar.
"Atas dasar apa Anda melakukan hal sekejam itu pada Edward?! Bisakah Anda tidak ikut campur dalam urusan rumah tangga saya?!"
Javier menyilangkan kedua tangannya di dada, tetap mengulas senyum tipis di bibirnya. "Aku hanya memberikan pelajaran kecil untuk pria yang tidak tahu cara memperlakukan wanitanya dengan benar."
"Itu bukan urusan Anda!" bentak Yoselin dengan napas memburu.
"Siapa Anda berani menghakimi hidup saya?! Bagi saya, Anda hanyalah orang asing! Sekadar rekan bisnis yang tidak punya hak sedikit pun untuk mencampuri masalah pribadi saya!"
Kata orang asing yang keluar dari bibir Yoselin mendadak membuat binar jenaka di mata abu-abu Javier sirna. Raut wajah sang CEO berubah tajam dan dingin. Ketidaksukaannya muncul seketika saat dikategorikan sebagai orang asing oleh wanita yang sudah ia klaim sebagai miliknya.
Tanpa memberi celah bagi Yoselin untuk menghindar, Javier melangkah cepat dan kembali merengkuh erat tubuh mungil Yoselin ke dalam pelukannya, menahan wanita itu di dadanya tanpa membiarkannya bergerak.
"Lepaskan aku, Javier!" jerit Yoselin mencoba melepaskan diri.
"Aku sungguh tidak suka mendengar kata itu meluncur dari bibirmu, Yoselin," desis Javier pelan di samping telinga Yoselin, nadanya terdengar berbahaya namun sarat akan kekecewaan yang aneh.
"Aku sedih jika kamu terus menyebutku sebagai orang asing, padahal kamu adalah milikku. Sejak malam itu, kamu sudah menjadi milikku."
"Ucapamu benar-benar gila dan tidak masuk akal!" balaskan Yoselin seraya memukul-mukul bahu Javier.
"Lepaskan aku sekarang juga!"
Melihat kepanikan dan gejolak perlawanan Yoselin yang begitu hebat, Javier akhirnya melonggarkan kuncian tangannya dan membiarkan Yoselin mendorong dirinya hingga terlepas.
Javier berdiri tegak, merapikan kerah jas mewahnya, lalu menatap tajam ke arah Yoselin yang sibuk merapikan pakaian kerjanya dengan raut wajah memerah.
"Mulai hari ini dan seterusnya, kamu harus terbiasa dengan keikut sertaanku dalam hidupmu, Yoselin," pukas Javier dengan nada suara yang teramat tenang namun mengintimidasi.
"Karena tidak lama lagi, kita akan menikah. Kamu akan menjadi istriku."
Mendengar kalimat percaya diri yang meluncur tanpa beban dari mulut sang CEO, Yoselin tertawa kecil, sebuah tawa sinis yang memancarkan ketidakpercayaan penuh.
"Menikah?" ulang Yoselin sinis, menatap Javier dengan pandangan meremehkan.
"Jangan bermimpi, Pak Vernand. Saya baru saja mendaftarkan perceraian saya dan saya sama sekali tidak memiliki niat untuk masuk ke dalam penjara pernikahan mana pun lagi!"
Javier hanya menaikkan sebelah alisnya, membiarkan Yoselin meluapkan argumennya.
"Dengarkan saya baik-baik," tekan Yoselin dengan suara yang tegas dan dingin.
"Hubungan kita dari awal hingga akhir hanya sebatas rekan kerja profesional! Anda tidak perlu susah payah berakting menjadi pahlawan atau ikut campur dalam masalah pribadi saya! Dan ingat... jika Anda masih berani mencampuri urusan saya atau menyentuh orang-orang di sekitar saya lagi, saya tidak akan segan-segan membalas Anda dan membatalkan seluruh kerja sama perusahaan kita!"
Yoselin memberikan tatapan tajam terakhirnya pada Javier, membalikkan badan dengan anggun, lalu melangkah lebar keluar dari ruang kerja tersebut. Pintu kaca tebal terbanting rapat di belakangnya.
Javier berdiri mematung di tengah ruangan yang kini kembali sunyi. Pria itu tidak marah atas ancaman keras yang baru saja dilontarkan padanya. Sebaliknya, binar mata abu-abunya berkilat penuh ketertarikan yang kian membara.
Javier mengangkat tangan kanannya yang sempat memeluk pinggang Yoselin, lalu mendekatkannya ke hidung. Ia menghirup dalam-dalam aroma parfum manis beraroma bunga yang masih tertinggal menempel di kulit tangannya.
Sebuah senyuman kecil, senyuman misterius penuh pesona dan dominasi terukir di wajah tampan sang CEO.
"Kamu benar-benar sangat menarik, Sayang..." bisik Javier pelan pada keheningan ruangan, mengusap bekas aroma parfum itu di bibirnya.
"Aku jadi makin tidak sabar untuk segera menikahi mu."
Bersambung...