Hampir tiga tahun menikah, Laras dan Robby belum juga memiliki anak. Hingga suatu hari, terjadi kesalahpahaman. Robby dan Soraya, ibu Laras mengira jika Laras mengalami masalah kesuburan.
Robby memanfaatkan kekurangan Laras untuk berpura-pura menjadi suami setia yang mau menerima Laras apa adanya. Ia bahkan mengajak Laras untuk mengadopsi anak.
Hal itu membuat Robby mendapat nilai plus dari Soraya. Ia bahkan menjanjikan jabatan tinggi untuk Robby di perusahaan.
Tentu, Robby sangat senang. Ia lalu mengajak keluarga dan selingkuhannya untuk bekerjasama merebut harta dan perusahaan milik keluarga Laras.
Tapi sayangnya, Laras mengetahui semuanya. Dan kali ini, Laras tidak akan menjadi korban. Justru, Laras yang akan memastikan keluarga parasit itu kehilangan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan Siang
Sepanjang perjalanan, keduanya hanya terdiam. Laras sesekali melirik Aryan yang fokus mengemudi, lalu mengalihkan perhatiannya ke jendela.
Ia tidak tahu harus memulai pembicaraan dari mana.
Jika tadi mereka bisa berbicara panjang lebar tentang bisnis, sekarang situasinya terasa berbeda. Hanya ada mereka berdua di dalam mobil, tanpa dokumen pekerjaan atau orang lain yang bisa dijadikan alasan untuk mengalihkan perhatian.
Hal itu membuat Laras merasa canggung, terlebih mereka sudah cukup lama tidak bertemu.
Laras kembali melirik Aryan. Pria itu tampak begitu tenang, seolah tidak merasa terganggu oleh keheningan yang menyelimuti mereka.
"Apa dia hanya akan diam?" gerutunya dalam hati. "Tidak mungkin harus aku duluan yang bicara, kan?"
Laras menghela napas pelan, kemudian kembali menatap jendela.
"Ng? Ada apa?" tanya Aryan ketika mendengar helaan napas wanita itu.
Laras tersentak kecil. "Tidak," sahutnya cepat. "Tapi, kenapa Anda ingin menyetir sendiri?"
"Oh, aku hanya ingin kita bisa lebih leluasa saja."
"Oh, begitu." Laras mengangguk pelan.
Aryan meliriknya sekilas, lalu kembali memusatkan perhatian pada jalanan. Sudut bibirnya terangkat tipis, seolah menyadari jika Laras masih belum bisa bersikap senyaman dulu.
"Oh, ya. Jangan memanggilku dengan formal. Lagipula, ini di luar kantor," serunya.
Laras menoleh, sedikit terkejut mendengar permintaan tersebut.
"Kamu bisa memanggilku seperti dulu, Laras."
Wanita itu terdiam. Ada sesuatu yang terasa berbeda saat Aryan menyebut namanya dengan nada akrab.
"K-kak Aryan?" lirihnya
Aryan tersenyum tipis. "Itu lebih enak didengar."
Laras membalas senyumnya dengan canggung. Entah mengapa, panggilan sederhana itu justru membuat suasana di antara mereka terasa sedikit lebih hangat.
"Oh, ya. Kamu mau makan di mana?" tanya Aryan.
"Terserah. Aku bukan pemilih."
Aryan mengangguk paham. "Baiklah."
Ia kembali berkonsentrasi mengemudi. Mobil melaju melewati beberapa persimpangan sebelum Aryan memutar setir saat memasuki sebuah tikungan.
Pada saat itulah, tanpa sengaja Laras melihat sesuatu yang melingkar di pergelangan tangan pria tersebut.
Keningnya berkerut, melihat benda yang terasa tidak asing baginya.
"Itu...."
Namun, sebelum Laras sempat melanjutkan ucapannya, Aryan memperlambat laju mobil dan berhenti di depan sebuah restoran.
"Kita sudah sampai."
"Apa? Sudah sampai?" Laras menoleh, lalu melihat ke luar melalui kaca jendela.
Sementara itu, Aryan turun lebih dahulu lalu, berjalan memutari mobil, membukakan pintu untuk Laras.
"Ayo turun!"
"I-iya."
Laras turun dan pandangannya langsung tertuju pada bangunan di depannya.
"Ini, kan...."
Aryan memperhatikan reaksinya, kemudian tersenyum tipis. "Dulu, kamu dan Salsa selalu datang ke restoran ini, kan?"
Laras mengangguk sambil tersenyum kecil saat teringat tentang masa lalu yang perlahan kembali.
"Wah, rasanya sudah lama aku tidak ke sini. Sepertinya, banyak yang berubah."
Ia melihat bagian depan restoran yang kini terlihat lebih modern. Beberapa dekorasi baru menghiasi pintu masuk, sementara papan nama restoran masih mempertahankan desain yang sedikit mengingatkannya pada masa lalu.
"Ayo masuk!" ajak Aryan, menyadarkan Laras dari lamunannya.
Laras mengangguk, kemudian mengikuti langkah pria itu masuk ke restoran.
Setelah berbicara dengan salah seorang pelayan, Aryan mengajak Laras menuju ruang VIP yang sudah disiapkan.
Ruangan itu cukup luas, dengan meja makan di tengah dan jendela besar yang menghadap ke taman kecil di sisi bangunan.
Laras mengedarkan pandangan. Ia merasa suasana restoran ini masih menyimpan sebagian kenangan lama mereka, meskipun banyak hal sudah berubah.
Keduanya duduk berhadapan. Kemudian, seorang pelayan menyerahkan daftar menu kepada mereka.
"Kamu mau pesan apa?" tanya Aryan.
"Apa, ya?" Laras menatap menu dengan mata berbinar. "Aku jadi tidak bisa memilih."
Aryan memperhatikan tingkah Laras dengan senyum geli.
"Kalau begitu, pesan semuanya saja."
"Mana bisa begitu."
Aryan terkekeh pelan. "Kalau begitu, kamu pesan saja yang kamu inginkan. Lain kali, kita datang lagi kemari."
"Benarkah?" Mata Laras berbinar.
Namun, sesaat kemudian, ia tersadar akan reaksinya sendiri. Senyum di bibirnya perlahan memudar, digantikan ekspresi canggung.
"Ini tidak benar. Kenapa dia memperlakukanku seperti anak kecil?" batinnya.
Setelah mempertimbangkan beberapa pilihan, Laras akhirnya memesan makanan dan minuman yang dulu menjadi favoritnya.
Sambil menunggu makanan datang, mereka mulai terlibat percakapan ringan.
"Oh, ya, Kak. Soal Salsa tadi, aku pikir, dia tahu soal kerja sama ini. Makanya, aku mengajaknya bertemu. Setelah itu, dia memaksa untuk ikut ke kantor."
Aryan meletakkan ponselnya di atas meja, lalu mengangguk.
"Tidak apa-apa. Dari awal, aku memang tidak memberitahunya. Aku ingin dia belajar dari bawah agar kelak bisa menjadi pemimpin perusahaan yang bertanggung jawab."
Laras mengangguk paham. "Tapi, aku tidak menyangka kalau Kakak yang memimpin perusahaan Megantara."
Aryan menghela napas panjang lalu, menyandarkan punggungnya pada kursi.
"Mau bagaimana lagi? Waktu itu, kesehatan Papa kurang baik. Sementara, Salsa belum bisa diandalkan. Jadi, untuk sementara, aku yang mengambil alih sampai Salsa siap. Tidak tahunya, malah berlanjut sampai sekarang."
"Berarti, Kakak sudah menghabiskan banyak waktu untuk perusahaan," komentarnya.
Aryan tersenyum samar. "Kurang lebih begitu."
Belum sempat Laras menanggapi, pintu ruangan diketuk dari luar. Seorang pelayan masuk membawa hidangan yang mereka pesan.
Setelah memastikan semuanya tersaji, pelayan pamit undur diri dan kembali menutup pintu. Dan, saat itulah, Aryan kembali melanjutkan pembicaraan mereka.
"Andai dulu Salsa serius belajar, mungkin sekarang dia sudah menjadi seperti kamu."
Mendengar ucapan itu, Laras tersenyum tipis. Namun, senyum tersebut tidak bertahan lama. Ia menunduk, memperhatikan hidangan di depannya tanpa menyentuhnya.
"Tapi, kalau boleh memilih, aku ingin seperti Salsa. Bisa menikmati masa muda."
Aryan terdiam. Tatapannya tertuju pada Laras yang masih menunduk, berusaha menyembunyikan perubahan ekspresinya.
Tapi, Laras langsung mengangkat wajahnya dengan senyum yang kembali terukir di bibirnya.
"Sudah, jangan membahasnya lagi."
Aryan akhirnya mengangguk. "Iya. Cepat makan! Nanti dingin."
Laras mengangguk, lalu mengambil sendok dan mulai menyantap hidangannya.
Saat suapan pertama masuk ke mulutnya, matanya langsung menyipit dengan senyum puas.
"Ternyata, rasanya masih sama."
Aryan tersenyum sambil menggelengkan kepala melihat tingkah Laras.
Laras kembali menyuapkan makanan ke mulutnya. Kali ini, ia benar-benar menikmati setiap gigitan. Tapi, perhatiannya teralihkan saat mendengar dering ponsel milik Aryan.
"Maaf, aku angkat telepon dulu."
Laras mengangguk. "Iya, Kak."
Aryan bangkit dari kursinya dan sedikit menjauh dari meja makan. Ia berdiri di dekat jendela sebelum menerima panggilan tersebut.
Laras kembali menyantap makanannya. Namun, tanpa sengaja, ia mendengar suara Aryan yang berbicara dengan nada serius.
"Anda tenang saja, Pak. Kita pasti akan memenangkan kasus ini. Yang terpenting, Anda harus mengikuti arahan saya."
Laras menghentikan gerakan tangannya.
Ia melirik Aryan yang berdiri membelakanginya. Nada bicara pria itu terdengar berbeda dari sebelumnya.
"Baik, Pak. Sampai jumpa di pengadilan."
Panggilan itu berakhir. Aryan memeriksa layar ponselnya sebentar sebelum kembali menghampiri meja makan.
Sementara itu, Laras masih terdiam dengan sendok di tangannya.
"Benar juga. Kak Aryan, kan pengacara," batinnya.
Ia hampir melupakan profesi Aryan karena selama pertemuan, pria itu lebih banyak membahas urusan perusahaan.
Laras menunduk, mengaduk makanannya perlahan dengan pikiran yang mulai dipenuhi pertimbangan.
Belakangan ini, ia memang sedang menghadapi masalah keluarga, dan ia membutuhkan seseorang yang bisa dipercaya. Seseorang yang bisa membantunya memahami langkah hukum yang harus ia ambil untuk membalas suami dan keluarganya.
Laras melirik Aryan yang kini kembali duduk di depannya.
"Apa sebaiknya aku meminta bantuan Kak Aryan?" pikirnya.
😒😒
itulah klo othor tdk tidur, pasti akan terbongkar wlo blm semua terbukti