Mita Septia, seorang gadis manis yang berprofesi sebagai Guru PJOK di sekolah terpencil Kecamatan Entikong, kabupateng Sanggau perbatasan Kalimantan Barat dengan negeri jiran Malaysia. Ia telah menjalin hubungan asmara dengan Denis yang menjabat sebagai CSR Supervisor di salah satu perusahaan pertambangan ternama di Kalimantan Barat. Hubungan yang telah berjalan hampir 3 tahun, membuat keduanya berencana meresmikan di akhir tahun. Tetapi kenyataan tak sesuai harapan Mita. Denis telah berpaling hati, hingga membuat rekan kerjanya hamil. Tak bisa menghindari tanggung jawab, Denis melupakan janji yang telah ia susun bersama Mita. Keputusan Denis tentu saja menghancurkan hati Mita, dalam kelukaan atas kabar yang dikirim Denis mempertemukan ia dengan seorang Abdi Negara berpangkat Kapten yang bernama Reihan. Akan kah Kapten Reihan mampu menyembuhkan segala luka yang dialami Mita....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leny Fairuz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21. Luka yang Kembali Berdarah
Mita datang begitu kegiatan pembelajaran di sekolah telah selesai. Walau pun ditunjuk sebagai panitia pelaksana lomba di kantor desa, ia tidak bisa meninggalkan kewajiban pokok sebagai Guru.
Ia mengenakan kaus sederhana dan celana panjang olahraga, dengan rambut diikat rapi. Sebuah buku catatan berada di tangannya, berisi jadwal pertandingan, daftar pemain, serta pembagian tugas panitia.
Darma dan beberapa guru sekolah lain serta pemuda desa juga telah berada di Lokasi. Mereka akan berangkat bersama menuju sekolah yang akan menjadi tempat pertandingan voly dewasa putra.
"Bu Mita, tim desa sebelah meminta jadwal mereka diubah," kata seorang pemuda begitu ia memasuki ruang panitia.
"Kenapa?"
"Ada beberapa pemain yang masih bekerja."
Mita memeriksa catatannya, “Baik. Coba pindahkan ke pertandingan berikutnya, tetapi pastikan tidak berbenturan dengan jadwal tim lain. Kalau tidak memungkinkan, kita bicarakan bersama ketua panitia."
"Siap, Bu!"
Mita kembali melanjutkan pekerjaannya. Di tengah kesibukan itu, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang sangat dikenalnya.
Siska.
Mita sempat terdiam ketika membaca nama tersebut. Siska yang ia kenal sebagai rekan di lingkaran pekerjaan Denis. Mita tidak pernah menganggap perempuan itu sebagai ancaman. Bahkan, ia tidak pernah membayangkan bahwa orang yang pernah bersikap biasa kepadanya justru akan menjadi bagian dari pengkhianatan yang menghancurkan hubungannya.
Mita membuka pesan itu. Sebuah foto muncul di layar.
Untuk beberapa detik, ia tidak mengerti apa yang sedang dilihatnya. Kemudian, pandangannya berhenti pada sosok laki-laki yang terbaring di atas tempat tidur.
Denis.
Laki-laki itu tertidur di sebuah kamar yang tampaknya sudah sangat dikenalnya. Wajahnya terlihat tenang, matanya terpejam, dan sebagian tubuhnya tertutup selimut.
Mita mengenali Denis hanya dalam sekali pandang. Ia mengenali garis wajah itu, rambutnya, bahkan kebiasaan laki-laki tersebut ketika tertidur dengan posisi sedikit menyamping. Namun, yang paling menyakitkan bukanlah kenyataan bahwa Denis berada di kamar perempuan lain. Melainkan pesan yang menyertai foto tersebut.
Siska menulis dengan nada yang seolah-olah sedang membagikan sebuah kemenangan.
“Sekarang kamu sudah tahu, kan, Ta? Denis ada di sini bersamaku. Aku memang menyukainya sejak lama, dan akhirnya aku berhasil mendapatkan laki-laki yang kuinginkan.”
Beberapa saat kemudian, sebuah pesan lain menyusul.
“Sepertinya kamu harus mulai menerima kenyataan. Tidak semua laki-laki akan bertahan hanya karena perasan saling cinta.”
Dunia Mita seolah berhenti bergerak.
Suara orang-orang di sekelilingnya mendadak terasa jauh. Teriakan para pemuda yang sedang mengangkut perlengkapan, suara palu yang memukul kayu, serta percakapan para panitia seakan tenggelam di balik dengung yang memenuhi telinganya.
Ia menatap foto itu lagi.
Kemudian sekali lagi.
Dadanya terasa sesak.
Selama satu bulan terakhir, ia telah berusaha sekuat tenaga untuk melupakan Denis. Ia mengisi hari-harinya dengan pekerjaan, menghabiskan waktu bersama warga, dan memaksa dirinya tersenyum setiap kali seseorang mengajaknya berbicara. Ia bahkan mulai percaya bahwa dirinya telah melewati bagian terburuk dari luka tersebut.
Ternyata, satu foto sederhana cukup untuk meruntuhkan ketenangan yang susah payah dibangunnya. Mita menurunkan ponsel. Jari-jarinya gemetar.
"Bu Mita?"
Ia tersentak ketika seorang panitia memanggilnya.
"Bu, daftar peserta untuk pertandingan pertama sudah selesai?"
Mita buru-buru mengusap sudut matanya yang mulai basah, "Sudah. Ada di meja."
"Baik, Bu. Terima kasih." Pemuda itu berlalu tanpa menyadari perubahan wajah Mita.
Ia berusaha menarik napas panjang. Sekali. Dua kali. Namun, semakin ia mencoba menenangkan diri, semakin jelas pula bayangan foto itu muncul dalam pikirannya.
Denis berada di kamar Siska. Siska sengaja mengirimkan foto tersebut kepadanya. Dan perempuan itu tidak sekadar ingin memberitahukan sesuatu. Ia ingin Mita melihat, merasakan, dan memahami bahwa dirinya telah kehilangan laki-laki yang pernah dicintainya.
Mita menggenggam ponselnya erat-erat. Ada bagian dari dirinya yang ingin menelepon Denis, menuntut penjelasan, atau sekadar bertanya mengapa laki-laki itu membiarkan dirinya dipermalukan seperti ini. Namun, ia segera menyadari bahwa tidak ada jawaban yang akan mengubah kenyataan. Denis telah memilih jalannya sendiri.
Siska telah mendapatkan apa yang diinginkannya. Dan Mita tidak bisa terus-menerus membiarkan keduanya menentukan seberapa besar kebahagiaan yang boleh ia miliki. Ia mengunci layar ponselnya.
"Jangan menangis," bisiknya kepada diri sendiri. "Kamu sudah berusaha sejauh ini. Jangan menyerah sekarang."
Namun, air matanya tetap jatuh. Ia segera berpaling, berpura-pura memeriksa daftar peserta ketika salah seorang panitia melintas di dekatnya. Tidak ada yang boleh tahu. Setidaknya, itulah yang ingin ia percayai.
Sayangnya, Mita tidak menyadari bahwa dari kejauhan, seorang laki-laki berseragam loreng sedang memperhatikannya dengan sorot mata yang berubah serius.
Kapten Reihan Andrean baru saja tiba bersama beberapa anggotanya untuk memeriksa kesiapan demi kelancaran pertandingan. Dan untuk kedua kalinya sejak ia mengenal Mita, ia melihat perempuan itu kembali terlihat begitu rapuh.
Senyum yang kemarin begitu hidup di lapangan telah menghilang. Sebagai gantinya, ada kesedihan yang berusaha disembunyikan di balik gerakan-gerakan kecil yang tidak biasa.
Reihan tidak mengetahui apa yang baru saja terjadi. Namun, nalurinya mengatakan bahwa luka yang pernah dilihatnya di mata Mita belum benar-benar sembuh. Bahkan, mungkin seseorang baru saja membuatnya kembali berdarah.
Pertandingan bola voli dewasa telah berlangsung dengan meriah. Warga desa kembali memenuhi lapangan, memberikan dukungan kepada tim-tim kesayangan mereka. Beberapa pertandingan berlangsung sengit, bahkan harus diselesaikan melalui perolehan poin tambahan setelah kedua tim saling mengejar angka.
Mita tetap menjalankan tugasnya.
Ia membantu mencatat hasil pertandingan, memastikan kebutuhan para pemain terpenuhi, dan sesekali mengingatkan panitia agar tidak melewatkan jadwal yang telah disepakati.
Dari luar, ia terlihat baik-baik saja.
Ia masih bisa tersenyum ketika diajak berbicara. Ia masih menjawab pertanyaan dengan sopan. Bahkan, ia sempat membantu seorang anak kecil yang kehilangan sandal di sekitar lapangan.
Namun, sejak menerima foto dari Siska, ada sesuatu dalam dirinya yang berubah.
Ponsel itu tidak lagi ia buka.
Pesan-pesan dari Siska dibiarkan tanpa balasan. Mita juga tidak mencoba menghubungi Denis, meskipun nama laki-laki itu berkali-kali muncul dalam benaknya.
Ia hanya ingin melewati hari tersebut.
Satu hari lagi tanpa pertengkaran.
Satu hari lagi tanpa mengemis penjelasan.
Satu hari lagi untuk membuktikan bahwa dirinya masih sanggup berdiri meskipun hatinya belum sembuh.
Sayangnya, bertahan bukan berarti tidak merasa sakit.
Ada luka yang tidak bisa diatasi hanya dengan menyibukkan diri. Ada kenangan yang tetap menemukan jalan pulang, bahkan ketika seseorang telah mengunci rapat pintu hatinya.
Malam itu, luka Mita datang dalam bentuk sebuah foto.
Dan ia tidak tahu berapa lama lagi dirinya harus berpura-pura kuat.
Setelah seluruh pertandingan selesai, panitia berkumpul di kantor desa untuk mengikuti rapat penutupan persiapan rangkaian perayaan kemerdekaan.
Ruangan yang sebelumnya digunakan untuk rapat koordinasi kini dipenuhi kursi plastik, meja panjang, serta beberapa kardus berisi perlengkapan yang belum sempat dipindahkan. Di bagian depan, Ratih duduk bersama beberapa perangkat desa untuk membahas evaluasi kegiatan dan pembagian tugas bagi hari-hari berikutnya.
Suasana rapat berlangsung cukup santai.
Sebagian besar pekerjaan berat telah selesai. Tinggal beberapa penyesuaian jadwal, pembagian petugas, serta persiapan acara puncak yang akan digelar pada tanggal tujuh belas Agustus.
Setelah pembahasan utama selesai, konsumsi mulai dibagikan.
Ibu-ibu panitia mengeluarkan kotak makanan, gelas plastik, dan termos berisi teh hangat. Beberapa orang mulai bercengkerama, membicarakan pertandingan yang baru saja berlangsung.
"Kalau tim RT dua bertemu tim RT lima lagi, saya yakin lapangan bisa panas," ujar salah seorang pemuda.
"Yang panas bukan lapangannya. Penontonnya yang terlalu semangat," sahut yang lain.
Tawa pun pecah.
Ratih ikut tertawa sambil mengambil sepotong kue dari piring di depannya.
"Besok jangan sampai terlambat, ya. Kita masih punya banyak pekerjaan."
"Siap, Bu Ratih!" jawab beberapa orang serempak.