Arini meninggalkan suaminya yang tulus, Dimas, karena terbuai janji kemewahan dari Rian. Namun Rian ternyata hanya menipunya lalu pergi begitu saja, membuat Arini jatuh miskin sendirian. Saat ia menyadari kesalahannya dan berharap kembali pada Dimas, ia terlambat — Dimas sudah bahagia dengan wanita lain. Arini akhirnya belajar: ketulusan jauh lebih berharga daripada kemewahan semu, dan penyesalan selalu datang di akhir cerita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon edwin setiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayang-Bayang Kemewahan di Balik Dapur Sempit
Hari-hari berikutnya di dalam rumah petak kontrakan itu berjalan seperti sebuah siklus mekanis yang kehilangan nyawa. Rintik hujan yang sesekali turun membasahi atap seng tidak lagi menghadirkan kesejukan, melainkan memperkuat kesan suram yang melekat di setiap sudut ruangan. Bagi Arini, rumah itu telah berubah wujud menjadi sel penjara yang dinding-dindingnya semakin hari terasa semakin menyempit, menghimpit dada dan menyesakkan pernapasannya setiap detik.
Sejak pagi buta, ritual harian Dimas tidak pernah berubah. Pria itu selalu bangun sebelum fajar menyingsing, menunaikan kewajibannya dalam diam, lalu bersiap mengenakan kemeja kantoran yang sudah mulai pudar warna putihnya. Sebelum melangkah pergi mencari nafkah, Dimas selalu menyempatkan diri melangkah pelan ke depan pintu kamar Arini, memastikan istrinya masih tidur dengan nyenyak, lalu meninggalkan secarik catatan kecil atau segelas air hangat di atas meja dapur. Perhatian yang tulus itu, yang dulunya mungkin dianggap biasa, kini dirasakan Arini sebagai beban emosional yang teramat berat—sebuah rantai tak kasat mata yang terus menariknya kembali ke dalam kubangan hidup sederhana yang sangat ia benci.
Arini berdiri di depan jendela dapur yang berbingkai kayu lapuk. Tatapannya kosong menerobos keluar, menatap genangan air cokelat di lorong gang sempit tempat anak-anak tetangga berlarian mengenakan sandal jepit yang sudah putus. Di tangan kanannya, ponsel pintarnya menyala terang. Jari-jarinya dengan lincah terus mengetik dan membalas pesan-pesan singkat yang masuk dari Rian Pratama.
Hubungan rahasia itu kini telah berkembang jauh melampaui batas wajar sebuah pertemanan masa lalu. Dalam waktu kurang dari seminggu sejak pertemuan mereka di restoran mewah The Glasshouse, Rian telah berhasil menyusupkan dirinya ke setiap celah kosong dalam hari-hari Arini. Jika Dimas mengisi hari-hari Arini dengan peluh, bau oli bengkel, dan keluh kesah keterbatasan ekonomi, maka Rian mengisi dunia Arini dengan limpahan perhatian verbal yang memabukkan, janji-janji manis tentang masa depan berlimpah harta, serta kiriman hadiah-hadiah kecil yang dikirim secara diam-diam melalui kurir jasa pengiriman ekspres.
Kemarin lusa, sebuah kotak beludru hitam berukuran sedang mendarat di depan teras rumah saat Dimas sedang tidak ada. Ketika Arini membukanya dengan tangan bergetar, sepasang anting berlian imitasi berkilau indah di dalamnya, disertai secarik kartu bertuliskan tangan rapi: “Untuk wanita yang pantas mengenakan permata, bukan debu jalanan. — R.P.”
Anting-anting itu tidak pernah ia kenakan saat Dimas berada di rumah. Ia menyembunyikannya di dalam lipatan kain paling bawah di dalam lemari bajunya, mengenakannya hanya di depan cermin saat ia seorang diri, membayangkan dirinya berdiri di atas panggung pesta kaum elit bersama Rian. Setiap kali ia memandangi pantulan dirinya memakai perhiasan itu, rasa bersalah di hatinya seketika lenyap, dikenyangkan oleh racun kesombongan yang terus disuntikkan oleh perhatian sang pengusaha muda.
"Rin... kamu sedang apa?" suara langkah kaki ringan mendekat dari arah ruang tengah.
Arini terperanjat kecil. Dengan gerakan sigap, ia mematikan layar ponselnya dan memasukkannya ke dalam saku daster rumahan yang ia kenakan. Ia membalikkan badan, mendapati Bu Ratna—ibunya—sudah berdiri di dekat meja dapur dengan membawa kantong plastik berisi sayuran segar yang baru dibeli dari pedagang keliling di ujung gang.
Kedatangan Bu Ratna secara mendadak pagi ini sama sekali tidak diduga oleh Arini. Wanita paruh baya itu datang dengan busana sederhana berkerudung kain katun tua, membawa serta sisa-sisa aroma minyak angin dan debu perjalanan dari kampung halaman.
"Ibu... kapan sampai?" tanya Arini, berusaha menyembunyikan kepanikan di balik nada suaranya yang terdengar kaku. Ia melangkah maju untuk menyalami tangan ibunya, meski pelukan itu terasa hambar dan kaku.
Bu Ratna meletakkan kantong plastik belanjaannya di atas meja dapur. Matanya yang sayu namun tajam menyapu sekeliling ruangan kecil itu dengan pandangan prihatin yang mendalam. Ia melihat cangkir teh buatan Dimas yang dibiarkan dingin tak tersentuh di sudut meja, melihat debu tipis di atas permukaan lemari, dan menangkap raut wajah putrinya yang tampak gelisah tidak tenang.
"Baru saja, Nak," jawab Bu Ratna lembut, menarik sebuah kursi plastik untuk duduk melepas lelah setelah perjalanan jauh naik bus antarkota. "Ibu sengaja datang ke sini tanpa mengabari lebih dulu karena kemarin dada Ibu rasanya tidak enak, selalu teringat kamu dan Dimas. Ibu ingin melihat keadaan kalian secara langsung."
Arini mendengus pelan di dalam hati, merasa kedatangan ibunya di tengah situasi seperti ini justru menjadi gangguan yang sangat merepotkan. Ia tahu persis, jika ibunya terlalu lama tinggal di rumah itu, rahasia tentang hubungannya dengan Rian atau gelagat aneh dalam sikapnya pasti akan segera terbongkar.
"Keadaan kami baik-baik saja, Bu," ucap Arini ketus sambil mengambilkan segelas air putih dingin untuk ibunya. "Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Dimas bekerja seperti biasa, aku juga mengurus rumah seperti biasa."
Bu Ratna menerima gelas air itu, meneguknya sedikit, lalu menatap manik mata putrinya lekat-lekat. Pengalaman hidup puluhan tahun membuat naluri seorang ibu tidak bisa dibohongi dengan mudah. Bu Ratna melihat ada pancaran gelisah yang berbeda di mata Arini—pancaran ambisi liar yang tersembunyi di balik senyuman paksanya.
"Arini, jangan berbohong pada Ibu," suara Bu Ratna terdengar tenang namun mengandung wibawa yang membuat Arini menelan ludah kelat. "Ibu ini yang melahirkanmu. Ibu tahu betul kapan anak Ibu sedang jujur dan kapan ia sedang menyembunyikan sesuatu yang buruk di belakang punggungnya. Wajahmu tegang, rumah ini terasa asing, dan... di mana Dimas? Kenapa sejak tadi Ibu tidak melihat tanda-tanda keberadaannya selain tas kerjanya di sudut?"
"Dimas bekerja, Bu!" jawab Arini agak meninggikan suara, tersinggung oleh interogasi ibunya. "Dia pergi pagi-pagi sekali dan baru pulang malam hari. Memangnya Ibu pikir dia seperti pejabat yang bisa duduk santai di kantor ber-AC sepanjang hari? Dia kuli, Bu! Kuli yang harus membanting tulang mencari uang receh!"
Mendengar bentakan kecil itu, Bu Ratna menghela napas panjang. Keriput di sekitar mata wanita paruh baya itu semakin terlihat jelas menanggung beban batin yang berat.
"Arini, Astagfirullah... kenapa bahasa anakku berubah jadi setajam itu?" bisik Bu Ratna lirih, mengusap dadanya pelan. "Dimas itu suamimu. Dia mencari nafkah dengan cara yang halal, berkeringat demi menghidupimu. Kalau kamu terus-menerus memandang rendah keringatnya, kamu bukan hanya sedang menghancurkan rumah tanggamu, tapi kamu sedang menabur benih kehancuran untuk masa depanmu sendiri."
"Ibu selalu saja membela dia!" sergah Arini dengan mata membelalak penuh amarah yang mulai tak terkendali. Ia melangkah mundur, menjauh dari ibunya. "Semua orang selalu menyalahkanku! Seolah-olah aku adalah wanita paling berdosa di dunia ini karena tidak ingin hidup miskin! Kenapa tidak ada yang pernah mengerti perasaanku?! Aku punya hak untuk bahagia, Bu! Aku punya hak untuk hidup layak seperti wanita-wanita lain di luar sana!"
"Bahagia itu bukan diukur dari seberapa mewah gaun yang kamu pakai atau seberapa mahal mobil yang mengantarmu, Arini!" suara Bu Ratna ikut meninggi, ketegasan seorang ibu pecah di tengah kepedihan. "Kebahagiaan itu ada di dalam dada yang qanaah, di dalam hati yang bersyukur atas apa yang diberikan oleh suami! Ibu takut, Nak... Ibu takut sekali kalau kesombongan dan rasa tidak puasmu itu pada akhirnya akan menyeretmu ke dalam jurang yang tidak bisa kamu panjat lagi!"
Percakapan tegang itu terhenti sejenak ketika tiba-tiba suara ketukan pintu depan terdengar berulang kali dengan ritme yang tergesa-gesa.
Tok, tok, tok!
Arini terkesiap. Jantungnya mendadak berdegup kencang hingga terasa menembus tulang rusuknya. Pikirannya langsung melayang pada kemungkinan terburuk: apakah kurir pengantar barang dari Rian datang di saat yang sangat tidak tepat? Atau lebih buruk lagi, apakah ada hal lain yang terjadi?
"Biar Ibu yang buka," ucap Bu Ratna sambil beranjak dari kursinya.
"Jangan, Bu! Biar aku saja!" seru Arini panik, bergerak cepat mendahului ibunya menuju pintu depan.
Arini membuka daun pintu perlahan-lahan. Di depan teras, berdiri seorang pemuda berjaket kurir ekspres dengan helm keselamatan masih terpasang di kepalanya. Di tangannya, ia memegang sebuah amplop cokelat tebal berukuran besar.
"Atas nama Ibu Arini?" tanya kurir itu ramah.
"I-iya, benar. Saya sendiri," jawab Arini dengan suara bergetar, melirik sekilas ke arah ibunya yang berdiri beberapa langkah di belakangnya dengan tatapan menyelidik.
"Silakan tanda tangani di sini, Bu. Kiriman dokumen penting khusus untuk Ibu," kata kurir itu sambil menyerahkan papan tanda tangan digital.
Setelah membubuhkan paraf sekenanya, Arini menerima amplop tebal itu dengan tangan dingin. Kurir itu mengangguk singkat lalu berlalu pergi menaiki sepeda motornya.
Begitu pintu ditutup rapat kembali, Arini berbalik dan mendapati ibunya sedang menatap amplop di tangannya dengan pandangan tajam penuh kecurigaan.
"Surat apa itu, Arini?" tanya Bu Ratna pelan namun penuh penekanan. "Dari siapa amplop tebal begitu?"
"B-bukan siapa-siapa, Bu. Cuma... brosur promosi produk kecantikan," jawab Arini berbohong dengan gugup, menyembunyikan amplop itu di balik punggungnya.
Namun mata Bu Ratna jauh lebih jeli dari yang Arini duga. Wanita tua itu melangkah maju satu langkah, menunjuk ke arah sudut amplop yang sedikit terbuka, memperlihatkan logo cetak emas berhuruf inisial 'R.P' yang sama persis dengan kartu nama mewah yang tersimpan di dalam dompet Arini.
"Jangan berdusta di hadapan ibumu sendiri, Arini," ucap Bu Ratna dengan suara parau yang bergetar hebat, menahan gelombang kekecewaan yang teramat sangat di dadanya. "Logo itu... bukan brosur kosmetik. Itu lambang pria asing, bukan? Pria yang sedang mendekatimu di saat suamimu membanting tulang mencari suapan nasi halal di luar sana?"
Wajah Arini pucat pasi. Seketika itu juga, pertahanan dirinya runtuh. Alih-alih meminta maaf atau merasa bersalah, rasa terpojok itu justru membangkitkan kembali sifat angkuh dan keras kepala yang mendarah daging dalam dirinya.
"Lalu kalau iya memang dari dia kenapa, Bu?!" bentak Arini tanpa mampu lagi menahan ledakan emosinya. Ia melemparkan amplop cokelat itu ke atas lantai meja makan dengan kasar. "Apa salahnya kalau ada pria lain yang menghargaiku?! Pria yang melihat kecantikanku sebagai sebuah keindahan, bukan sebagai beban hidup?! Kalau Ibu mau terus hidup dalam kemelaratan bersama prinsip-prinsip kuno Ibu, silakan! Tapi jangan atur hidupku!"
Plak!
Suara tamparan tangan tua yang mendarat di pipi mulus Arini menggema nyaring di dalam ruangan sempit itu.
Arini terperanjat hebat. Ia memegang pipi kanannya yang mendadak terasa panas dan perih. Ia menatap ibunya dengan mata membelalak tak percaya—untuk pertama kalinya seumur hidup, tangan ibunya melayang menampar wajahnya.
Bu Ratna berdiri dengan napas memburu dan tangan yang gemetar hebat. Air mata menetes begitu deras membasahi pipi keriput wanita paruh baya itu.
"Ibu tidak pernah menyesal melahirkanmu, Arini..." bisik Bu Ratna dengan suara pecah, menahan rasa sakit yang jauh lebih perih di dalam dadanya daripada rasa sakit di telapak tangannya. "Tapi Ibu menyesal... karena Ibu gagal mendidikmu menjadi wanita yang tahu cara menjaga harga diri dan kesucian sebuah janji pernikahan. Hari ini kamu menampar batin ibumu sendiri dengan keangkuhanmu. Ingat kata-kata Ibu, Nak... pintu surga seorang istri ada pada ridanya suami yang tulus. Kalau pintu itu kamu banting dan kamu injak-injak demi harta haram seorang penipu... kelak kamu sendiri yang akan menangis darah di ujung penyesalan yang tiada bertepi."
Tanpa menunggu balasan dari putrinya, Bu Ratna membereskan tas kecilnya dengan tangan yang terus bergetar. Sambil terisak pelan, wanita paruh baya itu melangkah keluar dari rumah petak tersebut, meninggalkan Arini yang berdiri terpaku di tengah ruangan sempit, dikuasai oleh amarah yang membara dan ego yang menolak tunduk pada kebenaran.
Di luar rumah, gerimis kembali turun dengan lebatnya. Dan di dalam dada Arini, malam itu, benteng terakhir nurani kemanusiaannya resmi runtuh lebur tanpa sisa, membiarkan dirinya sepenuhnya hanyut dalam arus gelap kehancuran yang telah ia ciptakan sendiri.