NovelToon NovelToon
SATU ATAP SERIBU DUSTA

SATU ATAP SERIBU DUSTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:7.7k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Merelakan masa mudanya merantau demi modal bisnis, Nesa berhasil membangun brand kosmetiknya seorang diri. Sebagai wujud bakti, ia memberikan posisi nyaman di perusahaan untuk kakak kandungnya, Sasya, dan mempercayakan hatinya pada Dika, suami yang dipacarinya sejak SMA.

​Namun, dunia Nesa runtuh seketika saat ia mendapati kenyataan paling menjijikkan: Dika berselingkuh dengan Sasya. Di saat yang sama, Sasya memanfaatkan fasilitas perusahaan untuk merintis skincare tandingan di bawah dukungan penuh Dika. Syok luar biasa akibat pengkhianatan berlapis itu merenggut nyawa bayi yang tengah dikandung Nesa.

​Berada di titik terendah setelah keluar dari rumah sakit, air mata Nesa berubah menjadi bara. Mengabaikan rasa sakitnya, Nesa bersiap membalas setiap tetes air matanya, membongkar kebusukan suami dan kakak kandungnya, serta merebut kembali apa yang sepenuhnya menjadi hak miliknya.

​Satu Atap, Seribu Dusta ketika bakti dibalas duri dan pengkhianatan harus dibayar mahal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SATU ATAP SERIBU DUSTA

​

​Suasana di dalam ruang kerja CEO NesAura Skincare mendadak berubah menjadi begitu sunyi. Hujan gerimis yang mengguyur ibu kota di luar sana seolah meredam segala kebisingan kota, menyisakan deru air hujan yang mengetuk kaca jendela dengan lembut dan ritmis.

​Nesa terpaku di tempat duduknya. Kalimat yang meluncur dari bibir Arsenio barusan "Saya pastikan... saya tidak akan pernah pergi ke mana pun sebelum Ibu sendiri yang meminta saya tinggal." menggema di dalam kepalanya, memantul di dinding-dinding kesunyian ruang kerja tersebut.

​Selama bertahun-tahun, Nesa terbiasa dikelilingi oleh kata-kata manis yang penuh kepalsuan. Dika dulu selalu merangkkai kalimat pujian yang terdengar indah dipermukaan, namun busuk dan beracun di akar-akarnya. Karena itulah, Nesa membangun benteng pertahanan yang sangat tinggi di sekeliling hatinya, memastikan tidak ada lagi pria yang bisa masuk dan mempermainkan kepercayaannya.

​Namun, Arsen berbeda. Pemuda itu tidak bersembunyi di balik topeng kesopanan palsu atau janji-janji manis yang dibuat-buat. Arsen datang dengan gaya slengean, tengil, blak-blakan, dan terang-terangan menunjukkan ketertarikannya tanpa memedulikan seberapa dingin penolakan yang ia terima.

​Nesa mengerjap, menarik napas dalam-dalam untuk mengumpulkan kembali sisa-sisa wibawanya sebagai pimpinan tertinggi perusahaan. Ia menegakkan punggungnya, menatap lurus ke arah Arsen dengan sorot mata yang dibuat setegas mungkin.

​"Mr. Vance, kata-kata gombal seperti itu mungkin mempan jika Anda ucapkan pada para penggemar Anda di media sosial," ucap Nesa dengan nada suara yang dingin dan terkontrol. "Tapi cara seperti itu tidak akan pernah berhasil pada saya. Saya bukan perempuan remaja yang mudah terbuai oleh rayuan murahan."

​Alih-alih merasa tersinggung atau mundur, Arsen justru terkekeh pelan. Suara bariton pemuda itu terdengar begitu renyah dan santai, memecah ketegangan yang sempat tercipta di antara mereka. Arsen tidak mengubah posisinya; ia tetap duduk bersandar di kursi seberang, menatap Nesa dengan kilatan binar penuh keyakinan di manik matanya yang tajam.

​"Siapa yang bilang saya sedang merayu remaja, Nesa?" sanggah Arsen lembut, sengaja menekankan setiap suku kata dari nama depan wanita di hadapannya. "Saya bicara sangat serius. Dan omong-omong, singkirkan panggilan 'Mr. Vance' itu. Rasanya kaku banget, seperti sedang berurusan dengan penagih pajak, padahal kita ini rekan kerja yang sebentar lagi bakal menaklukkan pasar kosmetik nasional."

​Nesa mendengus pelan, memalingkan pandangannya sekilas ke arah cangkir cokelat panas yang masih mengepulkan uap tipis di atas mejanya. "Anda benar-benar tidak punya urat malu, ya? Datang menerobos masuk ke ruangan privat orang lain di malam hari, membawa minuman tanpa izin, lalu berbicara seolah-olah kita ini sudah akrab."

​"Bukannya memang sudah akrab?" balas Arsen cepat tanpa jeda. "Bukti keakraban kita adalah... Ibu sekarang sedang mendengarkan ocehan saya alih-alih menekan tombol alarm keamanan gedung untuk mengusir saya keluar."

​Nesa mendelik tajam. Ingin rasanya ia melemparkan tumpukan berkas laporan di depannya ke kepala pemuda tengil itu. Namun, di balik rasa geramnya, Nesa harus mengakui bahwa kehadiran Arsen di malam yang sunyi dan melelahkan ini secara tidak sadar berhasil mengusir rasa penat yang sejak sore menghimpit dadanya.

​Rumahnya sunyi. Kantornya pun sunyi. Selama berminggu-minggu pasca-badai perceraian dan kegugurannya, kesunyian adalah teman terdekat Nesa terkadang terlalu dekat hingga terasa mencekam. Dan malam ini, keberadaan Arsen yang berisik, urakan, dan penuh percaya diri justru mendadak mengisi ruang kosong yang selama ini iaabaikan.

​Arsen melirik cangkir cokelat panas di hadapan Nesa yang belum disentuh sama sekali. Alisnya terangkat sebelah. "Hei... cokelat panas itu dibuat khusus dengan kadar manis yang pas buat meredakan stres orang yang kerjanya lembur mulu. Kalau tidak diminum sekarang, keburu dingin dan rasanya jadi tidak enak."

​Nesa menatap cangkir itu, lalu kembali menatap Arsen. "Saya tidak minta dibelikan cokelat."

​"Memang tidak minta. Ini inisiatif saya sendiri," jawab Arsen santai. Ia kemudian sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan, mengubah nada suaranya menjadi sedikit lebih pelan dan serius. "Nesa... saya tahu Ibu sedang berjuang keras mengembalikan kejayaan NesAura setelah semua kekacauan yang terjadi beberapa waktu lalu. Saya tahu beban di pundak Ibu tidak ringan. Tapi, memforsir diri sampai larut malam tanpa istirahat tidak akan membuat perusahaan jadi dua kali lipat lebih cepat sukses."

​Deg!

​Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut Arsen, namun dampaknya cukup telak menghantam relung hati Nesa. Pemuda ini... memperhatikan keadaannya. Di saat orang-orang di luar sana hanya melihat Nesa sebagai seorang CEO perempuan yang tangguh, sukses, dan tak terkalahkan, Arsen justru bisa melihat sisi lelah di balik topeng kesempurnaan itu.

​Nesa terdiam. Lidahnya mendadak kelu untuk membalas. Ia menunduk sejenak, meraih gagang cangkir kertas tersebut dengan jemarinya yang lentik, lalu meniup permukaan cokelat panas itu perlahan sebelum menyesapnya sedikit.

​Rasa manis yang pas, hangat, dan pekat langsung menyapa indra pengecapnya, menyebarkan kehangatan yang merambat perlahan ke seluruh tubuhnya.

​Melihat Nesa akhirnya mau meminum cokelat tersebut, senyuman lebar terkembang di wajah Arsen. Ada binar kepuasan yang terpancar nyata di mata pemuda itu.

​"Nah, begitu dong. Nurut kalau dibilangin," kata Arsen dengan nada suara yang sedikit menggoda, membuat Nesa langsung melotot tajam ke arahnya. "Ampun, Bu CEO! Jangan diliatin begitu, nanti cantiknya nambah lho."

​Nesa menggelengkan kepalanya pelan, menyeruput sekali lagi cokelat panas di tangannya sambil menghembuskan napas pelan. "Kamu ini... sebenarnya ke kantor saya tujuannya mau membahas revisi klausul kontrak, atau cuma mau bikin darah saya naik sih, Arsen?."

​Mendengar Nesa akhirnya memanggil namanya tanpa embel-embel formal, senyuman Arsen semakin lebar. Panggilan pertama itu terdengar begitu manis di telinganya.

​"Dua-duanya," jawab Arsen tanpa ragu sedikit pun. "Urusan revisi klausul kontrak sudah beres dan dikirimkan oleh tim legal saya tadi sore. Jadi, sisa waktu malam ini murni saya dedikasikan untuk memastikan CEO NesAura bisa tersenyum setidaknya sekali sebelum hari berganti."

​Nesa tertegun mendengar jawaban jujur itu. Ia meletakkan kembali cangkirnya di atas meja, lalu menatap Arsen lekat-lekat. Ada rasa ingin tahu yang tiba-tiba menyeruak di dalam benaknya tentang pemuda di hadapannya ini.

​"Kenapa, Arsen?" tanya Nesa pelan, suaranya terdengar jauh lebih lembut dari sebelumnya. "Kenapa harus terang-terangan seperti ini? Kamu punya brand parfum sendiri yang sedang naik daun, punya jutaan fans, punya kebebasan penuh ke mana pun kamu mau. Kenapa harus repot-repot mendekati perempuan sepertiku yang usianya lebih tua, yang punya masa lalu rumit, dan baru saja melewati badai perceraian yang kotor?"

​Pertanyaan itu terlontar begitu saja, mewakili keraguan terbesar yang selama ini bersemayam di dalam benak Nesa. Di mata publik, Nesa adalah perempuan matang yang sempurna. Namun di matanya sendiri, ia merasa seperti pecahan kaca yang penuh goresan luka.

​Arsen terdiam sejenak. Kesan tengil dan urakan di wajahnya perlahan memudar, digantikan oleh sorot mata yang sangat jernih, tulus, dan penuh ketulusan mendalam. Ia menatap Nesa lurus-lurus, seolah sedang membaca setiap inci luka yang tersembunyi di balik ketegaran wanita itu.

​"Karena saya tidak peduli dengan masa lalu orang lain, Nesa," jawab Arsen dengan suara berat yang terdengar sangat mantap. "Saya tidak peduli apa yang sudah dilakukan oleh pria bodoh yang menyia-nyiakan Ibu di masa lalu. Bagi saya, Nesa yang ada di hadapan saya sekarang adalah perempuan hebat, tangguh, luar biasa... dan sangat memukau."

​Arsen menggeser duduknya sedikit lebih dekat ke arah meja, menatap Nesa tanpa berkedip.

O

​"Usia? Masa lalu? Status? Itu semua cuma angka dan label yang dibuat oleh orang-orang yang kurang kerjaan di luar sana," lanjut Arsen penuh keyakinan. "Saya menyukai Ibu bukan karena siapa masa lalu Ibu, tapi karena siapa Ibu saat ini. Dan saya di sini bukan untuk menghakimi luka-luka itu, tapi untuk memastikan... kalau ke depannya, tidak ada lagi orang yang berani membuat Ibu meneteskan air mata."

​Suasana di dalam ruangan itu mendadak menjadi begitu sunyi. Hujan di luar jendela terus turun, namun suara deru air itu seolah melebur, kalah dominan oleh debar jantung Nesa yang berdetak jauh lebih cepat dari normal.

​Kalimat-kalimat itu meluncur dari bibir seorang pemuda yang usianya beberapa tahun di bawahnyampemuda yang selama ini dikenal ugal-ugalan dan slengean di media sosial. Namun malam ini, di hadapan Nesa, Arsen membuktikan bahwa di balik tingkah konyolnya, tersimpan jiwa yang matang, pelindung, dan berani pasang badan.

​Nesa merasa tenggorokannya tercekat. Ada kehangatan luar biasa yang mendadak meluber di dalam dadanya, meruntuhkan benteng es terakhir yang selama ini ia bangun rapat-rapat. Selama ini ia merasa berjuang sendirian melawan dunia, memikul beban kehancuran perusahaannya seorang diri. Dan sekarang, seorang pemuda urakan datang membawa secangkir cokelat panas, duduk di hadapannya, dan berkata bahwa ia siap berdiri di sisi Nesa menghadapi apa pun.

​Nesa menundukkan pandangannya sejenak, berusaha menyembunyikan mata berkaca-kaca yang mulai menghangat. Ia menarik napas panjang, lalu mendongak kembali, memasang senyuman tipis yang tulus senyuman pertama yang benar-benar lepas dari hatinya setelah sekian lama.

​"Kamu ini... benar-benar pandai merangkai kata ya, Arsen," bisik Nesa lirih, suaranya terdengar sedikit bergetar. "Awas saja kalau ternyata semua ini cuma akting atau gimik pemasaran buat produk parfum barumu."

​Arsen tertawa renyah, kali ini tawanya terdengar sangat lega dan berbinar. Ia mengangkat tangan kanannya, membuat gestur sumpah di depan dada. "Sumpah demi stok parfum Aethel & Co yang ada di gudang, ini murni dari hati nurani paling dalam, Bu CEO."

​Nesa menggelengkan kepalanya pelan, tidak bisa menahan senyumnya lagi. Suasana canggung yang tadi sempat membungkus mereka kini mencair, berganti dengan kenyamanan asing yang menghangatkan jiwa.

​"Sudah malam, Arsen," ucap Nesa setelah beberapa saat terdiam, melirik ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul delapan malam. "Sebaiknya kamu pulang. Besok pagi kita berdua punya jadwal meeting evaluasi dengan tim produksi pabrik utama."

​Arsen mendesah pelan, pura-pura kecewa. "Baru juga ngobrol santai, sudah diusir halus. Baiklah, Ratu Galang... eh, Ratu Nesa," koreksinya cepat sambil nyengir lebar melihat Nesa melotot kecil. "Saya pulang sekarang. Tapi ingat, cokelat panasnya dihabiskan, jangan dibiarkan dingin."

​Arsen beranjak dari kursinya, meraih mantel hitamnya yang tersampir di sandaran, lalu mengenakannya kembali dengan rapi. Ia melangkah berjalan menuju pintu keluar ruang kerja. Namun, sebelum tangannya memegang gagang pintu, ia berbalik sekali lagi menghadap Nesa.

​"Oh iya, Nesa..." panggil Arsen dengan senyuman miring yang khas.

​"Apa lagi, Arsen?" tanya Nesa sabar.

​"Besok pagi, saya akan kirim kurir lagi ke sini," kata Arsen dengan mata berbinar nakal. "Tapi kali ini bukan bunga atau kopi. Isinya dijamin bikin Ibu senyum-senyum sendiri seharian."

​Sebelum Nesa sempat melontarkan protes atau bertanya lebih lanjut, Arsen sudah membuka pintu, melangkah keluar dengan ringan, dan menutupnya rapat-rapat di belakangnya, meninggalkan Nesa seorang diri di dalam ruang kerja yang kini terasa jauh lebih hangat dari sebelumnya.

​Nesa menatap pintu yang tertutup itu selama beberapa detik. Bibirnya perlahan mengukir senyuman tipis yang tulus. Ia menunduk menatap cangkir cokelat panas di hadapannya, lalu kembali menyeruputnya perlahan.

​Di luar sana, hujan masih mengguyur kota Jakarta. Namun badai di dalam hati Nesa seolah telah reda sepenuhnya, disapu bersih oleh kehadiran seorang pemuda tengil yang berhasil menerobos masuk ke dalam benteng pertahanannya tanpa izin.

​Keesokan paginya, matahari bersinar sangat cerah seolah mencuci bersih sisa-sisa hujan semalam. Lantai eksekutif NesAura Skincare kembali dipadati oleh kesibukan rutin para staf.

​Tepat pukul sembilan pagi, pintu ruang kerja Nesa terketuk. Bila melangkah masuk dengan membawa setumpuk dokumen... dan di tangan kirinya, asisten muda itu membawa sebuah kotak kue kecil berbalut pita perak mewah dengan kartu ucapan bertuliskan tangan.

​Bila meletakkan kotak kue itu di atas meja Nesa dengan senyuman tertahan yang sulit disembunyikan.

​"Kurir dari Aethel & Co datang tepat sepuluh menit yang lalu, Bu," lapor Bila dengan mata berbinar geli. "Dan jujur... saya penasaran apa isi kotak ini, mengingat kemarin Pak Arsen sudah janji mau bikin Ibu senyum-senyum sendiri."

​Nesa mengerjap, menatap kotak kue berbalut pita perak itu dengan rasa penasaran yang bercampur waspada. Ia meraih kartu ucapan kecil yang terselip di atasnya, lalu membacanya dalam hati:

"Pagi, CEO tercinta. Jangan lupa sarapan, jangan cuma minum kopi pahit mulu. Ini kue brownies cokelat buatan ibuku khusus buat kamu yang suka kerja keras tapi kurang piknik. Kalau kuenya enak, traktir aku makan siang ya! Arsen."

​Membaca pesan tersebut, tawa kecil yang renyah seketika lolos dari bibir Nesa. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya pelan, merasa takjub dengan tingkat keusilan dan kenekatan mitra bisnis mudanya itu.

​Bila, yang melihat atasannya tertawa lepas untuk pertama kalinya setelah sekian lama, menutup mulutnya karena terkejut. "Wah... Bu Nesa benar-benar tertawa? Kiriman dari Pak Arsen ampuh juga ya, Bu."

​Nesa mengangkat wajahnya, menatap Bila dengan senyuman manis yang masih tersisa di bibirnya. Ia mendorong sedikit kotak brownies itu ke arah Bila. "Ambil separuh buat kamu di pantry, Bil. Rasanya lumayan juga ternyata."

​"Siap, Bu! Wah, sepertinya kita harus bersiap kedatangan 'tamu agung' lagi siang nanti untuk menagih traktir," goda Bila riang sebelum akhirnya berbalik keluar ruangan.

​Nesa kembali menunduk menatap layar tabletnya. Hari ini, ia menyadari satu hal: hidupnya yang dulu terasa begitu kaku, dingin, dan penuh kepalsuan kini perlahan berubah menjadi jauh lebih berwarna. Dan di balik setiap warna baru itu, selalu ada bayangan seorang pemuda tengil berwajah resek yang siap menjungkirbalikkan dunianya kapan saja.

1
fatmiatun sahono
sy komen ya....pdhal di upload aja itu surat ancaman di media gosip seperti PD saat wkt makan siang rame gosip nya. nah surta ancaman itu akan rame klo di upload dg narasi ancaman pertama seru ne....
fatmiatun sahono
maaf emang sdh cerai ya Dika sama Nisa...apa sy ada yg kelewat ya...baca nya..
Mundri Astuti
kebiasaan dimanja si Sasa ...tapi dimana" mang Sasa cuma buat pelengkap bumbu 🤭
stela aza
bukan anak kandungnya x itu s nesa masa dr kecil sampai dewasa masih di beda bedakan 🤦
Sya Haron
Di bab 19 syasya dan dika sudah dijatuhi hukuman. Bila waktunya syasya dilepaskan?
blcak areng: Hay kak terima kasih ya revisi dari Kamu nya🙏🙏🙏.. maaf ya aku sedikit sibuk di dunia rl jadi beberapa kali mlh bikin kesalah 🙏🙏
total 1 replies
Agunk Setyawan
othornya lagi ngantuk kali ya🤣🤣🙏
blcak areng: udah di revisi ya kak
total 1 replies
Zhafran Althaf
waittt bentar bentar bukannya Dika udah di penjara yaaaa kok ini muncul lagi
Dewi Rahmawati
bagus ceritanya up terus kk 💪
Mundri Astuti
obatnya nesa nich
stela aza
kelamaan bertindak
Zhafran Althaf
aku hadierrrr kakak
Zhafran Althaf: kak
karyamu yang tamu di atap orang tuaku kamu hapus ta kak kok aku cari ga ada
total 2 replies
Zhafran Althaf
hallo Kaka aku hadirrrr😍
blcak areng: yeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee mksh Kakak 🙏🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!