NovelToon NovelToon
DEWA PEDANG TANPA TANDING

DEWA PEDANG TANPA TANDING

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Spiritual / Reinkarnasi / Kelahiran kembali menjadi kuat
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Otna Forever

Mengisahkan tentang perjalanan hidup seorang kultivator yang jenius. Namun ada suatu penyakit aneh yang tiba-tiba dideritanya, sehingga bakatnya menghilang.

Dia diusir dari rumahnya bahkan juga oleh 'Keluarga Utama'. Menjalani hidup sehari-hari menjadi seorang sampah, membuatnya menjadi depresi.

Dengan terbunuhnya seorang gadis yang dicintainya, dia bertekad untuk membalaskan dendamnya. Akkhirnya ia memutuskan berkelana ke berbagai tempat untuk mencari obat atas penyakitnya itu, sehingga ia bisa berkultivasi lagi.

Berbagai cara ditempuhnya, bahkan dengan mengganti darahnya dengan darah iblis tapi tetap tidak berhasil. Karena takdir berkata lain.

Tanpa berputus asa dia terus berusaha. Dan akhirnya dia berhasil juga mengetahui cara menyembuhkan dirinya. Namun belum sempat melakukannya, ia terbunuh dalam usahanya untuk membalas dendam.

Begitu jiwanya tersadar, ia telah berada ditubuhnya lagi. Namun waktunya, kembali kemasa lima tahun sebelum ia meninggal.

#salam sukses selalu#

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Otna Forever, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

UJIAN

# Tantangan lapisan pertama : Tanah kehancuran.

Tempat itu sangat berkabut, langitnya sangat gelap. Tidak ada bulan atau bintang, daratannya sunyi senyap, tidak ada jejak makhluk hidup lain.

Su Yun melangkah maju.

“Apakah betul kau belum pernah mendengar tentang Sekte Dewa Pedang?"

“Iya saya memang belum pernah mendengar tentangnya."

Setelah memasuki tanah tandus, dia mengamati sekelilingnya dengan cermat sambil meneruskan percakapannya dengan sesepuh itu.

Tetua itu melanjutkan; “Sekte Dewa Pedang seharusnya tetap kuat dari generasi ke generasi, tetapi kini mulai merosot."

"Aku mungkin telah menyebabkan malapetaka bagi Sekte Dewa Pedang.

"Karena setelah aku di disergap, sekte tersebut jelas Kehilangan pemimpinnya dan mungkin inilah penyebabnya sehingga reputasi Dewa pedang sekarang telah menghilang."

“Apakah kamu ingat kapan kamu disergap dan dibunuh?”

“Masa Dewa kultivasi Tujuh Puluh Delapan!”

Su Yun terkejut lalu berucap; “Sekarang adalah Masa Langit Kultivasi! Waktumu sudah lewat seribu tahun yang lalu!”

Sang sesepuh mendesah sedih.

"Booom...Booom"

Terdengar suara ledakan keras

Su Yun sangat gugup, dan segera melihat kearah ledakan tersebut. Sebuah pedang yang sangat besar tertancap di tanah.

Pedang ini tingginya seratus meter dan lebarnya sepuluh meter. Bilah-nya tidaklah indah, namun memancarkan aura yang menindas ke segala arah.

Jantung Su Yun berdetak lebih cepat. Belum sempat Ia berpikir, kekuatan yang amat dahsyat menekannya.

Kakinya mulai masuk ke tanah sampai ke mata kaki. Tekanan itu sangatlah kuat seolah-olah ingin membuatnya berlutut.

Su Yun menggertakan giginya, sambil terus berusaha menahan tekanan tersebut.

“Ini adalah ujian bagian pertama! Jika kamu ingin menyerah, cepat beritahu aku!"

"Karena jika kamu gagal bakatmu akan segera hancur!"

Suara tetua itu terdengar dalam benak Su Yun.

Namun suyun berpikir, apakah ada pilihan lain? Bukankah menyerah juga hasilnya akan tetap sama, bakatnya tetap hancur.

Su Yun berusaha sekuat tenaga menahan tekanan pedang itu, mencoba mencegahnya agar tidak kewalahan.

Banyak tanah yang retak dan batu di sekitarnya mulai hancur berkeping-keping.

Wajah Su Yun mulai dibanjiri keringat dan tampak tegang.

"HAh?"

Tiba-tiba, sedikit keraguan terlintas di benaknya.

Mengapa batu hancur, mengapa tanah retak, namun tidak mempengaruhi saya?

Kultivasinya tidak tinggi, tetapi bagaimana ia bisa menahan tekanan seperti itu, tanpa luka di tubuhnya? Tetua itu berkata bahwa ujian ini tidak akan mengancam hidupnya, tetapi akan merusak bakatnya.

Merusak bakat?

Apakah itu berarti ini adalah serangan spiritual?

Su Yun menduga hal ini dalam hatinya.

Untuk melawan serangan spiritual, maka dia harus bisa menggunakan teknik meditasi untuk menghilangkan tekanan pedang.

Su Yun kemudian menarik napas dalam-dalam, memejamkan mata dan mulai bermeditasi menggunakan teknik dalam ingatannya.

Benar saja, dengan Teknik Jiwa, ia menjadi lebih mudah menahan tekanan pedang. Tekanan pedang menghilang dari tubuhnya segera setelah itu.

"kreccck...kreccck...kreccck."

Bersamaan dengan itu, pedang terpecah menjadi beberapa bagian dan menghilang.

“Hah? Hanya seperti itu?”

Tetua itu berkata dengan nada terkejut; “Lapisan pertama ini tersusun dari energi Jiwa para leluhur, jika energi Jiwamu tidak cukup kuat, kamu seharusnya tidak bisa melewati ujiannya semudah itu!”

“Ini membuktikan bahwa semangatku ternyata cukup kuat.”

“Jangan terlalu percaya diri! Cepat katakan Nak, cara apa yang kau gunakan?”

Si tetua tampak sangat tertarik.

“Sebuah teknik spiritual yang disebut.....”

“Menggunakan teknik spiritual? Aku tidak mengatakan ini tidak diperbolehkan, tetapi teknik spiritual tidak akan membuatmu aman selamanya! Karena Jiwamu harus benar-benar kuat sehingga bisa menahan teknik spiritual. Ah…kau tidak sesederhana itu, Nak.”

# Lapisan Kedua: Tanah Beku

Su Yun melangkah maju, terdapat salju di mana-mana. Dia melihat banyaknya tumpukan es berbentuk pedang di depannya. Tiba-tiba, terdengar suara hembusan angin kencang. Hembusan pecahan es!

Su Yun menggigil, dan menggertakkan giginya menahan dingin. Dinginnya menusuk tulang, bahkan darahnya hampir membeku.

“Lapisan kedua berbeda dengan pengujian lapisan pertama, Anda harus memperhatikannya dengan cermat!”

Suara tetua itu terdengar lagi.

Memang berbeda. Ini bukan serangan Jiwa, karena Su Yun sudah melihat tangannya mulai membiru dan kakinya membeku. Efek lingkungan mulai mempengaruhi tubuhnya.

Tidak ada rekayasa dalam ujian ini. Tujuannya adalah untuk menguji kemauan dan keuletan!

Dengan membulatkan tekad, Su Yun menggertakkan giginya, menahan rasa sakit, dan menahan hembusan pecahan es yang keras.

Awalnya badai es itu hanya seperti angin sepoi-sepoi yang dingin, sehingga tidak menjadi masalah.

Namun seiring berjalannya waktu, badai es itu menjadi semakin kuat. Badai itu mulai menjadi semakin menakutkan, dan bertiup dengan kencang, seperti tangan raksasa yang mendorong Su Yun.

Su Yun menstabilkan posisinya, ia melawan kekuatan dengan kekuatan, dan inti Jiwanya tetap tenang. Ia tidak akan mundur selangkah pun.

Kekuatan badai es bertambah sekali lagi.

Kali ini bukan hanya sekedar mendorong, tetapi menjadi berbahaya, seperti cakar binatang buas yang tak terhitung jumlahnya, mencabik-cabik Su Yun!

“Ahhhhhhhhhhh!” Su Yun Meraung.

Tubuhnya penuh luka dan tampaknya dia telah mencapai batasnya. Namun, dia tidak berniat untuk mundur.

“Bagus! Cukup tekun! Kau harus bertahan! Jika kau tidak lulus ujian ini, kau tidak akan diizinkan mempelajari ilmu pedangku! Jangan melakukannya untukku, tetapi lakukanlah untuk dirimu sendiri! Kau harus bertahan!”

Orang tua itu berteriak.

Meskipun tetua itu telah mengalami ujian ini dengan belasan kultivator yang jenius, namun mereka tidak membuatnya merasa takjub seperti Su Yun.

Sejak pertama kali tetua itu melihat Su Yun, sepertinya Seni Pedang Tanpa Batas akhirnya akan muncul kembali di benua ini.

Dia tidak ingin menghancurkan kesempatan itu dengan tangannya sendiri.

Badai es kembali menguat.

Tetapi pada saat ini, Su Yun telah lama melampaui batasnya.

Dia hampir tidak bisa mempertahankan kesadarannya. Hanya ada satu yang tersisa dalam benaknya.

Aku harus bisa melewatinya!

Akhirnya, badai es itu tidak dapat meniupnya mundur walaupun hanya setengah langkah. Badai itu pun berhenti.

Suasana kembali sunyi.

“Selamat, Nak! Kamu berhasil melewati ujian kedua!”

Sang tetua bersorak kegirangan.

“Itu sudah pasti!”

Su Yun mengembuskan napas, suaranya lemah, tetapi nadanya tegas.

Su Yun tahu dia lemah. Dia tidak bisa berbuat banyak, tetapi jika sudah memutuskan. Dia akan berjuang mati-matian untuk melakukannya. Ini adalah komitmennya, dia tidak akan menyerah!

Orang tua itu mengangguk tanda setuju dan tidak berkata apa-apa lagi.

Sebuah pintu kuning muncul. Su Yun masuk dan tiba di lapisan ketiga.

# Lapisan ketiga: Sungai Magma Merah.

Suasana hening dan juga sangat panas.

Magma ada di mana-mana, gas panas menggelembung yang tampak meledak-ledak. Semua itu terlihat seperti bisa membakar orang hidup-hidup.

Tapi tempat ini istimewa.

Hanya sepuluh meter dari Su Yun, ada pedang merah membara. Pedang itu tertancap di magma.

Pedang itu dikelilingi lahar, bilahnya memperlihatkan api yang membakar di sekelilingnya, bagaikan seekor naga yang melilit pedang itu.

Sepuluh meter di belakang pedang, ada pintu menuju ujian keempat. Terlihat ada seorang pria sepuh berambut putih yang berdiri di depan pintu.

“Kamu ingin mempelajari Seni Pedang Tanpa Batas dengan melewati ujian ini?” Tanya pria sepuh itu.

“Siapa kamu?” tanya Su Yun.

“Ini adalah warisan leluhur Pedang Tanpa Batas! Di belakangnya, terdapat harta karun!”

Kata orang tua itu dengan gembira.

“Jika kau menginginkan Seni Pedang Tanpa Batas, kau harus menyelesaikan lapisan ketiga dari ujian ini: mengambil “Pedang Matahari Merah.” Kemudian kau harus menang melawanku di lantai empat, sampai jumpa di lantai empat!”

Lalu, bayangan sesepuh itu menghilang.

Setelah Su Yun mendengar ini, dia mengerutkan kening.

Tempat yang dia tuju saat ini tidak lebih dari sepuluh meter jauhnya, tetapi sulit untuk melompatinya. Lagi pula gagang pedang berada di tengah magma.

Tidak ada pijakan, apa yang dapat dilakukannya?

“Ini adalah lapisan ketiga, ujiannya bukan lagi tentang ketahanan, ketangguhan, tetapi untuk menguji apakah pedang dan pikiran bisa menjadi satu dan apakah matamu cukup tajam."

"Ini sangatlah sulit!"

"Kesimpulannya, hanya dengan pedang, kamu harus mengatasi semuanya."

"Begitu kamu jatuh ke magma, bakatmu akan rusak dan kamu akan gagal dalam ujian ini." Bagaimana? Apakah kamu berniat untuk melanjutkan?”

Kata orang tua itu.

Namun, Su Yun hanya diam.

Dia menatap gagang pedang di magma; "Pedang Matahari Merah," dia semakin fokus pada pedang itu. Seperti ular yang akan menyerang, dia terus mengawasi mangsanya.

Menyingkirkan keraguannya, Su Yun bergerak dan benar-benar melompat ke "Pedang Matahari Merah" dengan sekali lompatan.

“Kau terlalu tidak sabaran! Kau harus mengamati magma dengan saksama! Ini pasti akan membuatmu gagal, sayang sekali!” Tetua itu mendesah kecewa atas tindakan Su Yun.

Seperti yang diharapkan.

Setelah Su Yun bergerak melompat, magma yang menggelegak itu tiba-tiba melepaskan semburan gelombang lahar panas yang akan menghantam Su Yun.

Akan tetapi, gelombang itu tidak cukup tinggi dan Su Yun melompat lebih tinggi ke udara.

Walaupun gelombang lahar tidak menyentuhnya, tetapi tetua itu yakin tidak ada lagi harapan.

Tetapi hasilnya bertentangan dengan keyakinan sang tetua tersebut.

Setelah melihat Su Yun jatuh dari udara tinggi, dia tidak menghantam magma, sebaliknya, dia tiba-tiba berhenti beberapa kaki di atas magma.

Sang tetua tercengang melihat hasil tindakan Su Yun.

Su Yun ternyata telah menginjak gagang Pedang Matahari Merah!

“Hah? Bagus sekali anak muda! Tapi kau harus mencabut pedang itu, jadi apa yang akan kau lakukan? Jika kau mencabutnya, kau tidak akan punya tempat untuk melangkah dan kau akan mati!”

Su Yun terengah-engah. Ia menstabilkan tubuhnya, berdiri di gagang pedang dan menatap pintu keempat. Tiba-tiba, ia menarik napas dalam-dalam, energi spiritual berkumpul di kaki dan tungkainya. Kemudian ia melompat.

Sambil melakukan itu, dia berputar 360 derajat dan meraih gagang Pedang Matahari Merah. Dia menariknya keluar dengan cepat dan terbang menuju pintu keempat.

Su Yun langsung jatuh terguling ke tanah. Dia tampak malu, tetapi dia berhasil menyeberangi sungai magma.

Hati tetua itu hampir meledak karena terkejut. Dia tidak akan pernah memikirkan metode unik yang digunakan Su Yun untuk lulus ujian ketiga.

...........

Please 🙏 jangan lupa yah,,,,,

# Like 🙏

# Komen 🙏

# Share 🙏

# Hadiah 🙏

# Ulasan ⭐⭐⭐⭐⭐ 🙏

# Vote 🙏

1
arumazam
semangat lanjut terus thor, moga cpt sembuh
arumazam: sama2
Otna Forever: Mksih 🙏
total 2 replies
Nanik S
Awal yg bagus tp belum2 Mcnya sdh ada gadis... lanjutin aja dulu
Christian Matthew Pratama
bahasa cek dan amplop terasa aneh
Adi Hernowo
up thor....
arumazam
ma
arumazam
hhh,,,kebanyakan ihik jd lupa ama kristal surgawi
arumazam
semangat lanjut terus thor
arumazam
mantapppp
arumazam
lanjutkan
arumazam
cerdas
arumazam
semangat lanjut terus thor
arumazam
juossssss
arumazam
mantapppp
arumazam
bagus sekali
arumazam: amiin
Otna Forever: Mksih bosku 🙏
Sehat dan sukses selalu
Lancar rezekinya 🤲
Aamiin
total 2 replies
arumazam
waowww
arumazam
cerdik
koen
kitunggu thor
Afgan
Awal yang baik Thor, kayaknya cerita ini banyak sisi dari setiap alurnya sehingga bacanya tidak jadi monoton, cuman berharap agar bisa selesai sampai tamat,
Sehat dan sukses selalu untukmu Thor....
Otna Forever: Mksih bosku 🙏
Sehat selalu
Lancar rezekinya 🤲
Aamiin
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!