Su Yun pernah menjalani hidup penuh kegagalan, kehilangan, dan penyesalan. Ketika takdir memberinya kesempatan kembali ke masa lalu, ia bersumpah tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.
Berbekal pengalaman dari kehidupan sebelumnya dan warisan misterius Seni Pedang Tanpa Batas, Su Yun menapaki kembali jalan kultivasi. Demi melindungi orang-orang yang berharga baginya, ia harus menghadapi para genius, sekte besar, Binatang Roh, hingga musuh yang jauh melampaui kekuatannya.
Kali ini, Su Yun tidak akan tunduk pada takdir.
Dengan pedang di tangannya, ia akan merebut kembali semua yang pernah hilang—dan membuka jalan menuju puncak dunia kultivasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Otna Forever, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 — Misi Buah Bulan Sabit
Seni Pedang Tanpa Batas jauh lebih mengerikan daripada yang dibayangkan Su Yun.
Setelah Master Pedang Tanpa Batas tertidur, Su Yun membuka gulungan itu sekali lagi dan mulai memahami dasar warisan yang baru diterimanya.
Tujuh pedang.
Tujuh tingkat pemahaman.
Namun bahkan untuk mempelajari pedang pertama saja, syaratnya sangat berat.
Akurat.
Cepat.
Lancar.
Tidak boleh ada gerakan sia-sia.
Sebelum mencapai itu, Su Yun bahkan belum layak mempelajari inti teknik pertama.
Namun hal yang paling mengejutkannya bukan hanya teknik tersebut.
Melainkan gagang pedang yang diperolehnya dari ruang ujian.
Itu bukan gagang pedang biasa.
Di dalamnya terdapat ruang tersendiri.
Dan ketika kesadarannya menyentuh ruang tersebut untuk pertama kali, Su Yun hampir kehilangan kata-kata.
Pedang.
Jumlahnya begitu banyak hingga sulit dihitung.
Menurut informasi yang tersimpan di dalam warisan, ruang itu menyimpan seratus delapan puluh ribu pedang tingkat dasar, seratus lima puluh ribu pedang tingkat lanjut, dua ribu sembilan ratus sembilan puluh lima Pedang Asal...
dan lima Pedang Dewa.
Su Yun terdiam cukup lama setelah mengetahui jumlah tersebut.
Jika suatu hari ia benar-benar mampu mengendalikan semuanya sekaligus...
ia akhirnya memahami mengapa teknik ini dinamakan Seni Pedang Tanpa Batas.
Namun saat ini, memikirkan ratusan ribu pedang tidak ada gunanya.
Bahkan satu pedang saja belum mampu ia kendalikan dengan sempurna.
“Tidak boleh terburu-buru.”
Su Yun menutup perkamen.
Kekuatan yang terlalu jauh hanya akan menjadi khayalan.
Hal terpenting sekarang adalah meningkatkan kultivasi.
Tubuhnya telah pulih.
Bakatnya jauh lebih kuat daripada sebelumnya.
Dan sekarang ia memiliki Seni Pedang Tanpa Batas.
Semua yang tidak dimilikinya dalam kehidupan pertama perlahan mulai terkumpul.
Su Yun berdiri dan kembali menuju tempat Kuda Roh Hitam ditinggalkan.
Kuda itu masih terikat di bawah pohon.
Melihat Su Yun muncul, ia mendengus pelan.
“Masih hidup rupanya.”
Su Yun tersenyum dan memberikan tambahan pakan.
Ia sendiri beristirahat sekitar setengah jam sebelum naik ke punggung kuda.
Dataran Harimau segera ditinggalkan.
Perjalanan pulang jauh lebih mudah dibandingkan saat datang.
Namun Su Yun tidak langsung kembali ke wilayah Keluarga Su.
Bungkusan di punggungnya masih berisi berbagai bagian tubuh Harimau Abadi.
Kalau ia membawa semua itu pulang, pasti akan menimbulkan pertanyaan.
Seorang kultivator tahap keenam memperoleh material dari Harimau Abadi?
Tidak masuk akal.
Kebohongan tentang dirinya sebagai “senjata rahasia Keluarga Su” saja sudah cukup merepotkan.
Ia tidak membutuhkan rumor baru.
Karena itu, di sebuah persimpangan, Su Yun menarik tali kekang.
Kuda Roh Hitam membelok.
Tujuannya berubah.
Kota Danau Cermin.
Kota Danau Cermin merupakan salah satu kota paling ramai di sekitar wilayah Keluarga Su.
Lokasinya strategis.
Tidak terlalu jauh dari Keluarga Su dan masih berada dalam pengaruh Sekte Pedang Abadi.
Karena perlindungan tersebut, Binatang Roh jarang berani mendekati wilayah kota.
Pedagang datang dari berbagai daerah.
Kultivator pengembara juga sering beristirahat di sana.
Ketika Su Yun memasuki gerbang kota, suasana ramai langsung menyambutnya.
Pedagang berteriak menawarkan barang.
Kuda dan kereta memenuhi jalan.
Di beberapa sudut bahkan terlihat murid-murid Sekte Pedang Abadi mengenakan pakaian seragam.
Su Yun tidak memedulikan mereka.
Ia langsung menuju pusat kota.
Tujuannya adalah salah satu tempat perdagangan terbesar di wilayah tersebut.
Rumah Lelang Matahari Langit.
Tempat itu terkenal karena satu hal yang sangat dibutuhkan Su Yun.
Kerahasiaan.
Selama transaksi sah, mereka jarang menanyakan asal-usul barang.
Itulah sebabnya banyak kultivator memilih menjual harta berharga di sana.
Su Yun turun dari kuda.
Setelah menitipkannya, ia memasuki bangunan besar tersebut.
Di samping aula utama terdapat beberapa ruangan transaksi pribadi.
Ia memilih salah satunya.
Seorang pelayan wanita segera menyambut.
“Ada yang bisa saya bantu, Tuan?”
Su Yun meletakkan bungkusan di meja.
“Jual.”
Pelayan itu membuka kain pembungkus.
Satu demi satu bagian tubuh Harimau Abadi muncul.
Jantung.
Sepasang mata.
Cakar.
Kulit.
Beberapa bahan lainnya.
Pelayan wanita itu jelas sedikit terkejut.
Namun profesionalismenya membuat ekspresinya kembali normal dalam sekejap.
“Material Harimau Abadi.”
Ia memeriksa beberapa bagian.
“Kondisinya cukup baik.”
Su Yun mengangguk.
“Berapa?”
“Apakah Tuan ingin memasukkannya ke pelelangan atau menjual langsung kepada kami?”
“Apa bedanya?”
“Melalui pelelangan, kemungkinan besar harga akan lebih tinggi.”
“Berapa lama?”
“Tidak dapat dipastikan.”
Su Yun langsung menjawab.
“Jual sekarang.”
Ia membutuhkan uang.
Bukan seminggu lagi.
Bukan bulan depan.
Sekarang.
“Baik.”
Pelayan itu mengambil daftar harga dan mulai menghitung.
Beberapa saat kemudian, ia mengangkat kepala.
“Sembilan ribu empat ratus enam belas koin roh.”
Su Yun sudah memperkirakan nilainya.
Kalau dilelang, mungkin bisa melewati sepuluh ribu.
Namun selisih itu tidak cukup penting dibandingkan waktu.
“Aku terima.”
Pelayan segera mengurus transaksi.
Tak lama kemudian, sebuah kartu penyimpanan koin roh diberikan kepadanya.
Su Yun memeriksanya.
Sembilan ribu empat ratus enam belas.
Sudut bibirnya terangkat sedikit.
Beberapa hari lalu, ia bahkan kesulitan membayar kebutuhan sehari-hari tanpa uang Qing Er.
Sekarang ia memiliki hampir sepuluh ribu koin roh.
Namun Su Yun tidak merasa kaya.
Bagi kultivator, uang bisa menghilang jauh lebih cepat daripada diperoleh.
Obat.
Senjata.
Teknik.
Material.
Semua membutuhkan sumber daya.
Apalagi Seni Pedang Tanpa Batas.
Kalau ia benar-benar ingin mulai mengembangkan teknik tersebut, sembilan ribu koin roh mungkin hanya permulaan.
Su Yun menyimpan kartu itu.
Ia baru hendak keluar ketika keramaian dari aula utama menarik perhatiannya.
Banyak orang berkumpul di depan sebuah papan besar.
Su Yun berhenti.
Papan misi.
Selain pelelangan, Rumah Lelang Matahari Langit juga menyediakan tempat bagi orang untuk memasang permintaan.
Mengawal barang.
Mencari tanaman obat.
Memburu Binatang Roh.
Menemukan artefak.
Semuanya dapat menjadi misi selama seseorang mampu membayar imbalannya.
Awalnya Su Yun hanya melihat sekilas.
Namun sebuah nama membuat langkahnya berhenti.
Buah Bulan Sabit.
Tatapannya langsung berubah.
Ia berjalan mendekat.
“Benar-benar Buah Bulan Sabit...”
Tanaman spiritual itu memiliki kemampuan membantu mempercepat perkembangan kultivasi.
Dan bagi Su Yun yang tubuhnya baru saja pulih, manfaatnya sangat besar.
Namun bukan itu yang paling menarik.
Lokasi misi tersebut.
Lembah Bulan Sabit.
Su Yun mengenal tempat itu.
Lebih tepatnya...
ia mengetahui sesuatu yang tidak diketahui kebanyakan orang.
Tatapannya turun menuju nilai hadiah.
Enam puluh ribu koin roh.
Jumlah yang membuat banyak orang tergoda.
Namun anehnya, tidak ada satu pun catatan penyelesaian misi.
“Masih belum ada yang mengambilnya?”
Seseorang di dekat Su Yun tertawa.
“Siapa yang mau mati?”
Pria lain menimpali.
“Lembah Bulan Sabit bukan tempat bermain.”
“Bulan lalu ada beberapa kultivator yang masuk.”
“Tidak ada yang kembali.”
Su Yun tetap menatap papan.
Enam puluh ribu.
Namun dalam pikirannya, uang bukan satu-satunya keuntungan.
Buah Bulan Sabit sendiri.
Lokasi lembah.
Dan beberapa kesempatan lain yang masih diingatnya dari kehidupan sebelumnya.
Jika waktunya benar...
perjalanan ini mungkin jauh lebih berharga daripada enam puluh ribu koin roh.
Su Yun berjalan menuju meja penerima misi.
Pelayan wanita di sana mengangkat kepala.
“Tuan ingin mengambil misi?”
Su Yun menunjuk papan.
“Buah Bulan Sabit.”
Gerakan tangannya berhenti.
“Yang di Lembah Bulan Sabit?”
“Ya.”
Pelayan itu memandang Su Yun dari atas ke bawah.
Tatapannya jelas tidak yakin.
“Maaf, tetapi saya harus mengingatkan bahwa misi tersebut memiliki tingkat bahaya sangat tinggi.”
“Aku tahu.”
“Sudah ada beberapa kelompok kultivator yang memasuki lembah.”
Ia menurunkan suara.
“Sebagian besar tidak kembali.”
Seseorang yang berdiri tak jauh ikut tertawa.
“Anak muda, enam puluh ribu memang banyak.”
Ia menggeleng.
“Tapi uang hanya berguna kalau kau masih hidup.”
Beberapa orang lain memandang Su Yun.
Mereka bisa merasakan kultivasinya tidak terlalu tinggi.
Seorang kultivator tahap keenam menerima misi yang bahkan membuat kultivator jauh lebih kuat ragu?
Bagi mereka, itu bukan keberanian.
Itu kebodohan.
Namun Su Yun tidak menjelaskan.
Dalam kehidupan sebelumnya, ia sudah terlalu sering melihat orang mati karena sesuatu yang tidak mereka pahami.
Lembah Bulan Sabit memang berbahaya.
Tetapi bahaya terbesar di sana bukan sesuatu yang tidak diketahui Su Yun.
Ia memiliki informasi.
Dan terkadang...
informasi lebih berharga daripada kultivasi.
“Berapa depositnya?”
Su Yun bertanya.
Pelayan itu terdiam sesaat.
“Lima puluh koin roh.”
Su Yun menyerahkan uangnya.
Pelayan menerima dengan ragu.
“Setelah misi diterima, deposit tidak akan dikembalikan jika Tuan membatalkan.”
“Tidak masalah.”
Ia menyerahkan tanda misi kepada Su Yun.
“Batas waktu tertera di sana.”
Su Yun menerimanya.
Saat ia hendak pergi, pelayan itu kembali berbicara.
“Tuan.”
Su Yun menoleh.
“Kalau keadaan di dalam lembah terlalu berbahaya...”
Ia ragu sejenak.
“Tidak ada salahnya mundur.”
Su Yun tersenyum tipis.
“Terima kasih.”
Kemudian ia meninggalkan Rumah Lelang Matahari Langit.
Di luar, matahari sudah mulai condong.
Su Yun berdiri di tengah keramaian sambil melihat tanda misi di tangannya.
Lembah Bulan Sabit.
Buah Bulan Sabit.
Enam puluh ribu koin roh.
Bagi orang lain, itu adalah sebuah misi berbahaya.
Bagi Su Yun...
itu adalah kesempatan.
Ia menyimpan tanda tersebut ke dalam pakaiannya.
“Kalau ingatanku tidak salah...”
Tatapannya beralih ke arah luar kota.
“Yang paling berharga di Lembah Bulan Sabit bukan buah itu.”
Su Yun berjalan menuju Kuda Roh Hitam.
Perjalanannya berikutnya sudah ditentukan.
......................
Bersambung...