NovelToon NovelToon
Isteri Tersembunyi Sang Pewaris

Isteri Tersembunyi Sang Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: christinsenia seranica

Takdir mempertemukan Andien, gadis desa polos, dengan Carlo, pewaris konglomerat yang sekarat akibat pengkhianatan. Usai merawatnya hingga pulih, Andien dinikahi Carlo secara rahasia di desa—tanpa tahu bahwa di kota, Carlo sudah memiliki istri sah bernama Laras, seorang dokter muda berprestasi dengan karier yang gemilang.


Kehidupan Andien seketika berubah menjadi neraka saat Carlo membawanya ke kota dan menyembunyikannya sebagai "orang luar". Di balik kemewahan, Andien harus menelan pahitnya dituduh sebagai pengganggu, sementara Carlo bersikap dingin di depan publik demi menjaga nama baik dan posisinya di mata Laras. Namun, saat Laras yang cerdas mulai mencium aroma pengkhianatan di rumah tangganya, permainan rahasia Carlo terancam hancur. Akankah ketulusan Andien menang, atau ia hanya menjadi bayangan di tengah ambisi dan pernikahan megah Carlo?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon christinsenia seranica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 Jalan Menuju Lereng

Andien tidak ingat bagaimana ia bisa berdiri di tengah ruang tamu dengan ponsel masih menempel di telinga, tetapi ia ingat suara Carlo yang memanggil namanya dari jauh.

"Dien. Dien, lihat aku."

Ia menoleh. Wajah Carlo hanya sejengkal darinya, pucat dan tegang, mata hitamnya menatap lurus, seolah satu-satunya jangkar di ruangan yang berputar.

"Ibu saya," katanya, dan suaranya terdengar seperti milik orang lain. "Mereka bawa Ibu saya."

"Aku tahu. Kita akan menemukannya."

"Mas tidak tahu itu."

"Memang tidak." Carlo tak mengalihkan pandangan. "Tapi aku tahu bahwa Bram tidak akan mencelakai Ibumu selama dia masih membutuhkannya sebagai alat tawar. Dan dia baru saja gagal memakainya. Artinya Ibumu masih hidup, dan anak buahnya sedang menunggu perintah."

Kalimat itu, anehnya, membuat Andien bisa bernapas lagi.

Di belakang mereka, Laras sudah berbicara cepat dengan pria berlencana, Komisaris Arief Wicaksono, yang sebelumnya mendengarkan dari ruang baca. Pria bertubuh tegap itu mengangguk, mengeluarkan ponsel, dan mulai memberi perintah dengan suara rendah dan efisien.

"Dua tim sudah bergerak ke desa Karang Sewu untuk mencari saksi dan jejak mobil putih itu," katanya setelah menutup telepon. "Tapi kami butuh lokasi, Bu. Bramantyo menolak bicara. Dia hanya minta pengacara dan secangkir teh."

"Dia tidak akan bicara," kata Laras. "Dia terlalu pintar untuk itu."

"Tapi ada orang lain yang mungkin tahu," gumam Andien. Semua kepala menoleh padanya. "Pak Hendra."

---

Pengacara Hendra, seorang pria muda berkacamata bernama Pak Dimas, muncul di kantor polisi dalam waktu empat puluh menit. Wajahnya tegang. Ia menyampaikan pesan Andien melalui interkom ke sel Hendra, dan menunggu.

Andien duduk di bangku kayu di koridor, diapit Laras dan Carlo. Tak ada yang bicara. Jam dinding berdetak seperti menghitung mundur sesuatu yang belum bisa ia namai.

Ketika Dimas kembali, ia membawa secarik kertas.

"Pak Hendra bilang, ini bukan tawar-menawar." Suara pengacara itu pelan. "Dia bilang, setelah semua ini, dia ingin satu hal benar yang pernah ia lakukan tercatat atas namanya."

Laras mengambil kertas itu dan membacanya. Alisnya terangkat.

"Vila Cemara," katanya. "Lereng selatan, sekitar dua jam dari kota. Hendra bilang itu vila yang dulu ia siapkan untuk menahan Carlo, tapi kuncinya dipegang Bram sejak seminggu sebelum kejadian."

"Seminggu?" Carlo mengernyit. "Bram mengambil alih tempat itu sebelum malam di sungai?"

"Berarti dia sudah merencanakan segalanya sejak lama." Komisaris Arief mengambil kertas itu, memotretnya, dan mengirimkannya lewat pesan. "Kami akan mengirim tim. Tapi, Bu Andien, saya harus jujur. Vila di lereng itu terpencil, jalannya sempit, dan kalau mereka mendengar sirene, kita tidak tahu apa yang akan terjadi pada ibu Anda."

Andien menatapnya. "Jadi Bapak minta saya menunggu."

"Saya minta Anda percaya pada prosedur."

"Saya sudah pernah mempercayai prosedur, Pak." Andien berdiri. Suaranya pelan, tetapi di dalamnya ada baja yang ia sendiri baru temukan. "Saya mempercayai bahwa tidak melapor ke polisi malam itu di sungai adalah pilihan terbaik. Saya mempercayai bahwa pernikahan rahasia itu melindungi saya. Saya mempercayai banyak hal yang ternyata salah." Ia menatap pria itu lurus. "Ibu saya tidak punya obat. Batuknya bisa kambuh kapan saja. Kalau Bapak mau mengepung vila itu dengan seratus orang, saya tidak melarang. Tapi saya akan berada di sana. Dan saya akan masuk kalau perlu."

Hening panjang. Carlo, di sampingnya, tak mengatakan apa-apa, tetapi Andien merasakan tatapannya, dan untuk pertama kalinya tak ada keinginan menahan di dalamnya, hanya pengakuan.

Komisaris Arief menghela napas. "Anda tidak akan masuk. Tapi Anda boleh ikut sampai titik aman. Dan Bu Laras, sebagai dokter, ikut bersama Anda. Kalau ibu Anda sakit, kami butuh orang yang bisa menanganinya begitu ia keluar."

"Saya bawa tas medis," kata Laras, sudah berdiri.

"Dan aku?" tanya Carlo.

"Anda masih dalam masa pemulihan, Pak Carlo."

"Aku tidak bertanya apakah aku boleh. Aku bertanya naik mobil yang mana."

Komisaris Arief menatap pria di hadapannya yang berdiri dengan lengan dibalut, wajah pucat, mata yang menolak untuk dibantah. Lalu ia, entah mengapa, tersenyum samar.

"Mobil paling belakang," katanya. "Dan Anda tidak turun sebelum saya izinkan."

---

Perjalanan ke lereng memakan waktu dua jam lebih sepuluh menit, dan sepanjang jalan, tak seorang pun di dalam mobil kedua berbicara banyak.

Laras menyetir dengan tenang, tas medis di jok belakang, kedua tangan mantap di setir. Carlo duduk di kursi penumpang depan, memandang kegelapan di luar jendela. Andien duduk di belakang, memeluk lutut, menatap punggung dua orang di depannya.

Jalan semakin menanjak. Pohon-pohon pinus mengapit kedua sisi, bayang-bayangnya menjulang di bawah sorot lampu. Kabut tipis mulai turun. Sesekali ponsel Komisaris Arief di mobil depan berkedip, dan Laras menerima pesan di dasbor.

"Tim pertama sudah di posisi," gumamnya. "Mereka bilang ada dua orang di beranda, satu di dalam. Lampu hanya menyala di satu kamar di lantai dua."

"Itu kamar Ibu," bisik Andien. Ia tak tahu dari mana ia tahu. Ia hanya tahu.

Carlo menoleh ke belakang. Sepanjang perjalanan ia belum menatapnya sekali pun, dan sekarang matanya, di bawah cahaya remang dasbor, tampak sangat tua dan sangat muda sekaligus.

"Dien."

"Iya, Mas."

"Kalau sampai sesuatu terjadi pada Ibumu..."

"Jangan bilang itu, Mas."

"Aku harus." Carlo menelan ludah. "Karena kalau sesuatu terjadi, itu karena aku. Karena kelemahanku. Karena aku membiarkan Om Bram dekat dengan kita sepanjang waktu ini." Suaranya serak. "Aku tidak meminta dimaafkan. Hanya ingin kamu tahu, aku akan menukar apa pun, termasuk nyawaku, untuk membawanya pulang."

"Mas tidak akan menukar apa pun." Andien mencondongkan tubuh dan menaruh tangannya di sandaran kursi Carlo, tidak menyentuhnya, tetapi cukup dekat. "Kita bawa Ibu pulang. Itu saja. Tidak ada tukar-menukar."

Carlo menatapnya. Ia tidak menjawab, tetapi Andien melihat bahunya turun sedikit, dan itu cukup.

Dari balik kemudi, Laras berdeham pelan, berpura-pura sibuk memperhatikan jalan, sudut bibirnya bergerak samar.

---

Mereka berhenti di tikungan sepi, dua ratus meter dari gerbang vila. Kabut kini tebal dan basah, menggantung seperti kain kafan di antara batang-batang pinus. Komisaris Arief mendatangi jendela mobil mereka, wajahnya tegang di bawah cahaya senter yang diredupkan.

"Situasinya begini," bisiknya. "Dua orang bersenjata di beranda. Mereka belum menyadari kami. Tim kami sedang mengepung dari belakang dan sisi, butuh kira-kira lima belas menit. Selama itu, kami butuh pengalih."

"Saya," kata Andien.

"Tidak."

"Mereka menunggu Pak Bram menelepon, bukan? Atau menunggu seseorang datang membawa tanda tangan." Andien menatapnya tanpa berkedip. "Dua orang itu tahu saya ada. Mereka tahu wajah saya dari berkas Pak Bram. Kalau saya muncul di gerbang sendirian, tanpa polisi, mereka akan bingung. Bingung membuat orang ragu. Ragu memberi Bapak waktu."

"Terlalu berbahaya."

"Saya akan berjalan sampai gerbang, dan berhenti." Andien melirik Laras. "Dengan Bu Laras. Dia dokter. Kami bilang kami membawa obat, bahwa ibu saya bisa mati kalau tidak mendapat perawatan malam ini. Kami tidak masuk. Kami hanya bicara."

"Dan kalau mereka menembak?"

"Mereka tidak akan menembak dua perempuan yang membawa obat di tengah kabut, Pak. Tidak kalau mereka masih menunggu perintah." Suaranya bergetar, tetapi tak goyah. "Mereka bukan pembunuh. Mereka orang bayaran yang takut. Saya pernah lihat orang seperti itu."

Carlo menggenggam sandaran kursinya hingga buku-buku jarinya memutih. Ia membuka mulut untuk membantah, lalu menutupnya. Dan untuk pertama kalinya, ia berkata sesuatu yang membuat Andien terkejut.

"Dia benar, Pak Komisaris."

Semua menoleh padanya.

"Aku mengenal orang-orang seperti Bram. Anak buah mereka direkrut karena patuh, bukan karena berani." Carlo menarik napas. "Mereka akan mencari alasan untuk tidak bertindak sendirian. Kalau Dien muncul membawa dokter dan bicara dengan tenang, mereka akan ragu. Itu cukup."

Komisaris Arief memandangnya, lalu memandang Andien, lalu Laras yang sudah mengambil tas medisnya dan membuka pintu mobil.

"Kalian gila," gumamnya. "Tapi lima belas menit. Tidak lebih."

---

Gerbang besi vila itu berdiri tinggi dan hitam di tengah kabut, dengan lampu kuning di atas tiangnya berkedip pelan. Dari balik teralis, tampak sebuah rumah kayu besar bergaya kolonial, dengan beranda lebar dan jendela-jendela gelap. Hanya satu jendela di lantai dua menyala redup.

Dua pria berdiri di beranda. Salah satunya, bertubuh besar dengan jaket kulit, sudah menatap mereka sejak mereka muncul dari balik tikungan. Yang lain lebih muda, kurus, tangannya terselip di balik jaket dengan cara yang membuat Andien menelan ludah.

"Berhenti di situ!" bentak si jaket kulit.

Andien berhenti. Laras berdiri di sampingnya, tas medis di tangan, wajahnya tenang seperti saat ia memasuki ruang gawat darurat.

"Kami tidak membawa senjata," kata Laras dengan suara jernih dan datar. "Saya dokter. Perempuan di lantai dua itu ibu dari gadis ini. Dia punya penyakit paru kronis dan sudah delapan jam tanpa obat. Kalau tidak segera ditangani, dia bisa mengalami gagal napas malam ini."

"Tidak ada yang boleh masuk."

"Saya tidak minta masuk." Laras mengangkat tas medisnya dengan kedua tangan. "Saya hanya minta salah satu dari Anda membawa obat ini ke atas. Inhaler dan antibiotik. Kalau ia meninggal malam ini, polisi akan menanyakan siapa yang menolak memberinya obat. Dan Anda berdua yang akan dicatat sebagai pelaku."

Si jaket kulit dan temannya bertukar pandang. Andien melihat tangan si kurus gemetar di balik jaketnya.

"Pak Bram bilang..." si kurus memulai.

"Pak Bram sedang ditahan polisi," kata Andien pelan.

Hening. Kabut bergulung di antara mereka, dingin dan basah.

"Bohong," desis si jaket kulit.

"Telepon dia." Andien mengangkat dagunya. "Coba telepon. Kalau berdering, saya salah."

Si jaket kulit ragu. Tangannya merogoh saku, mengeluarkan ponsel, dan menekan sebuah nomor. Ia menempelkan ponsel ke telinga. Detik berlalu. Wajahnya perlahan berubah.

"Tidak aktif."

"Tidak aktif karena ditahan di sel," ujar Laras. "Dan sekarang, kalian di sini, menjaga seorang perempuan tua yang sakit atas perintah orang yang sudah tidak bisa membayar kalian."

Si kurus mundur selangkah. "Bang... aku tidak mau ada urusan..."

"Diam," bentak si jaket kulit, tetapi suaranya sudah retak.

Dari atas, melalui jendela yang menyala, terdengar suara batuk. Panjang, kering, dan menyayat. Suara yang Andien kenal sepanjang hidupnya, yang ia dengar setiap malam di gubuk bambu, yang dulu membuatnya terbangun dengan jantung berdegup.

"Ibu!" Andien berteriak sebelum bisa menahan diri. "Bu! Ini Dien!"

Batuk itu berhenti. Lalu terdengar, lemah tetapi jelas, sebuah suara dari balik jendela.

"Nduk?"

Air mata Andien jatuh tanpa bisa ditahan. Di belakang mereka, dari kabut yang pekat, terdengar derap sepatu bot, ranting patah, dan teriakan tegas yang membelah malam.

"Polisi! Angkat tangan!"

Si kurus langsung mengangkat kedua tangannya, jaketnya jatuh, memperlihatkan bahwa yang ia sembunyikan hanyalah botol air minum. Si jaket kulit berdiri kaku sesaat, lalu perlahan berlutut, ponselnya terlepas dari tangan.

Lampu-lampu senter menyala dari segala arah. Gerbang besi didobrak dari samping. Andien tak sempat melihat sisanya, karena kakinya sudah berlari, menembus pintu depan yang terbuka, menaiki tangga kayu dua-dua sekaligus, mengikuti suara yang memanggil namanya.

Pintu kamar di ujung lorong lantai dua tidak terkunci.

Bu Rukmini duduk di tepi ranjang besi, dibalut selimut tebal, wajahnya pucat dan kuyu tetapi matanya terbuka. Di atas nakas ada nampan makanan yang belum disentuh dan secangkir teh yang sudah dingin.

"Dien," bisiknya.

Andien menubruknya. Tak ada kata. Hanya pelukan dan isakan dan aroma minyak kayu putih yang masih melekat di rambut ibunya, aroma yang entah bagaimana tetap bertahan di tengah semua kekacauan ini.

"Ibu tidak apa-apa?"

"Ibu baik-baik saja, Nduk. Mereka tidak menyakiti Ibu." Bu Rukmini menepuk punggungnya dengan gerakan kecil dan tenang. "Hanya takut. Dan batuk. Tapi mereka memberi air hangat."

Laras muncul di ambang pintu dengan tas medisnya, napasnya tersengal, dan tanpa banyak bicara ia berlutut di sisi ranjang, meraih pergelangan tangan Bu Rukmini. "Ibu, saya dokter. Saya periksa dulu, ya."

"Dokter yang dulu itu?" Mata Bu Rukmini mengerjap. "Istri Nak Carlo?"

"Iya, Bu. Istrinya, atau segera bukan lagi." Laras tersenyum samar sambil menempelkan stetoskop. "Tarik napas panjang."

Dari ambang pintu, Carlo berdiri dengan lengan di gendongan, napas terengah-engah oleh tangga yang ia daki terlalu cepat. Ia tidak masuk. Ia hanya berdiri di sana, menatap tiga perempuan di dalam kamar kecil itu, dan Andien melihat air mata mengalir di pipinya tanpa suara.

Bu Rukmini menoleh padanya. Dan perempuan tua itu, di tengah selimut dan stetoskop, melambaikan satu tangan kecil.

"Masuk, Nak. Jangan berdiri di situ seperti hantu."

Carlo masuk, berlutut di samping ranjang, dan untuk pertama kalinya sejak Andien mengenalnya, pria itu menunduk di pangkuan seorang perempuan tua dan menangis seperti anak kecil.

---

Beberapa saat kemudian, setelah Laras memastikan paru-paru Bu Rukmini aman, dan setelah petugas membawa dua pria di beranda ke mobil tahanan, Bu Rukmini menarik Andien mendekat dengan tangan yang gemetar tetapi kuat.

"Nduk. Ada yang harus Ibu bilang."

"Nanti saja, Bu. Ibu istirahat dulu."

"Tidak. Sekarang." Mata Bu Rukmini menatap lurus, tajam dan jernih. "Laki-laki yang membawa Ibu tadi siang, bukan yang di beranda itu. Orangnya tinggi, berjas hitam. Dia sopan sekali. Dia yang bawa Ibu ke sini, memastikan Ibu makan, memberi selimut."

"Siapa dia, Bu?"

"Ibu tidak tahu namanya." Bu Rukmini menggeleng pelan. "Tapi sebelum dia pergi sore tadi, dia berlutut di depan Ibu dan bilang sesuatu. Katanya, *Bu, maafkan saya. Bukan saya yang menyuruh. Pak Bram bukan yang terakhir. Tolong bilang pada Mas Carlo, hati-hati pada orang yang paling dekat.*"

Andien membeku.

"Dia menangis waktu bilang itu, Nduk," bisik Bu Rukmini. "Seperti orang yang takut sekali."

Di luar jendela, kabut mulai menipis, memperlihatkan hamparan lampu kota yang jauh di bawah lereng, kecil dan berkelip seperti bintang yang jatuh. Andien menatapnya lama, memeluk ibunya, dan merasakan sesuatu yang dingin dan tajam menembus lega di dadanya.

Pak Bram tertangkap. Ibunya selamat. Tetapi malam ini, di vila di lereng yang gelap, ada seseorang lagi yang tahu lebih banyak dari yang seharusnya.

Dan orang itu, siapa pun dia, ada di dekat mereka.

---

*Bersambung ke Bab 20...*

1
Renjana
menunggu😊
mampir juga di karyaku "Rotinya Manis, Rin! ya
Renjana
bagus ni
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!