Reinkarnasi, Kesempatan Kedua, Kultivasi
Dikhianati oleh orang-orang yang paling ia percaya, Jian Chen tewas tepat sebelum mencapai Ranah Dewa. Namun, ia mendapat kesempatan kedua untuk mengubah takdir dengan kembali ke dua puluh tahun silam.
Saat ia mulai mengungkap dalang di balik kematiannya, masa depan yang ia kenal perlahan berubah. Pusaka yang seharusnya tersembunyi telah dicuri, teknik langka muncul terlalu dini, dan seseorang tampaknya mengetahui rahasia yang bahkan belum terjadi.
Di balik semua kejanggalan itu, tersimpan Lentera Terakhir pusaka yang mampu memutar waktu, tetapi menyimpan harga yang mengerikan.
Siapa yang mengubah masa depan, dan mengapa mereka seolah tahu setiap langkah Jian Chen? Kali ini, musuh terbesarnya mungkin bukan pengkhianat dari masa lalu, melainkan seseorang yang telah menunggunya sejak awal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uranenantios, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: Kota di Kaki Gunung
Gerobak kayu itu sudah penuh sebelum matahari terbit. Dua puluh karung batu napas kelas rendah tersusun rapat di atasnya, diikat tali rami dan ditutup terpal. Lu Gang berdiri di samping gerobak dengan selembar surat jalan di tangan, wajahnya lebih kurus daripada bulan lalu tetapi matanya jernih.
"Ini pesanan Paviliun Tungku Hitam," katanya sambil menyerahkan surat itu kepada Jian Chen. "Cabang mereka di Kota Bukit Lampion. Serahkan karung ini kepada pengurus gudang bernama Pak Tong, minta tanda terima, lalu kembali sebelum bulan purnama. Perjalanan tiga hari pergi, tiga hari pulang."
"Kenapa kami yang dikirim?" tanya Dao sambil mengencangkan tali di roda gerobak. "Biasanya tugas ini untuk kelompok pengawal."
"Karena pesanan ini datang dari aula, bukan dari Gu Hong lagi, dan aku boleh memilih orangnya." Lu Gang mengangkat bahu. "Aku memilih yang kupercaya. Kalau kalian tidak mau, aku bisa cari orang lain."
"Aku mau," kata Tan Fu cepat. "Katanya Bukit Lampion punya bakpao isi daging yang bisa membuat orang menangis."
"Orang menangis karena mahal," sahut Lin Xue. Ia sudah berdiri di samping gerobak dengan tas kain di bahu, berisi daftar ramuan yang ingin ia beli. "Aku ikut karena pondok pengobatan kehabisan akar kuning."
"Dan kau, Jian Chen?" tanya Lu Gang.
"Aku juga ikut," jawab Jian Chen.
Lu Gang menatapnya sebentar. "Kau tidak pernah ke Bukit Lampion."
"Belum."
"Kenapa wajahmu seperti orang yang akan pergi ke pemakaman?"
"Tidak apa-apa. Hanya tidak suka perjalanan jauh."
Lu Gang tidak percaya, tetapi ia tidak bertanya lagi.
Jalan menuju Bukit Lampion berupa jalur tanah yang menuruni lereng sekte, melewati hutan pinus, dua jembatan batu, dan hamparan sawah yang baru ditanami. Dao menarik gerobak di depan, Tan Fu mendorong dari belakang, sementara Jian Chen dan Lin Xue berjalan di kedua sisi sambil mengawasi tali. Matahari naik lambat dan panas menyelimuti jalan.
"Kau terlalu diam," kata Dao pada tengah hari ketika mereka berhenti untuk minum di tepi sungai kecil.
"Aku memang pendiam."
"Kau tidak pendiam. Kau menyimpan." Dao menyeka dahinya dengan lengan. "Aku sudah mengamatimu dua bulan. Kau bicara banyak kalau urusannya soal orang lain. Kalau soal dirimu, kau menutup pintu."
"Dao," tegur Lin Xue pelan.
"Aku tidak memaksa. Cuma bilang."
"Kau sudah bilang," kata Jian Chen. Ia menunduk, mengisi kantong airnya. "Kau benar. Dan aku belum bisa menceritakan semuanya."
"Belum," ulang Dao. "Bukan tidak mau."
"Belum."
Dao mengangguk, puas. "Itu cukup."
Mereka tiba di Kota Bukit Lampion menjelang senja hari ketiga. Dari kejauhan kota itu tampak seperti taburan cahaya di kaki gunung: ratusan lampion kertas berwarna merah, kuning, dan putih digantung di sepanjang jalan utama, menyala satu per satu ketika matahari tenggelam. Nama kota itu berasal dari sana. Setiap tahun, para pengrajin kota membuat lampion untuk perayaan musim panen, dan sebagian besar tidak pernah dipadamkan sampai musim berikutnya.
Jian Chen berhenti di gerbang kota yang terbuat dari kayu hitam. Dadanya terasa berat. Dalam hidup pertamanya, ia pernah ke tempat ini, untuk satu tujuan yang sampai kini masih membuat napasnya sesak.
"Kau baik?" tanya Lin Xue di sampingnya.
"Baik."
"Tanganmu dingin."
"Aku kedinginan."
"Sekarang musim panas."
"Aku cepat kedinginan."
Lin Xue menatapnya sebentar, lalu mengalihkan pandangan tanpa mendebat. "Kalau kau butuh sesuatu, bilang."
Gudang Paviliun Tungku Hitam berada di pinggir kota, dekat pasar besi. Pengurusnya, seorang pria gemuk berkacamata bernama Pak Tong, menghitung karung satu per satu sambil bergumam sendiri, lalu menandatangani tanda terima dengan tinta hitam yang masih basah. Tugas selesai sebelum malam. Mereka mendapat dua kamar di penginapan tua dekat gerbang pasar, dan Tan Fu langsung menghilang untuk mencari bakpao.
Jian Chen tidak ikut makan. Ia berjalan sendirian menyusuri jalan utama, melewati kios-kios kain, penjual manisan, dan pengrajin lampion yang duduk di depan toko sambil melukis kertas. Bau minyak, asap, dan gula bakar bercampur di udara. Orang-orang tertawa, tawar-menawar, dan bergerak seperti orang yang tidak punya beban.
Ia berjalan sampai ke ujung pasar, di mana lorong-lorong sempit mulai bercabang ke permukiman miskin. Di sanalah dulu seorang anak berdiri di depan kios roti, dan di sanalah segalanya berawal.
Di depan kios kukusan, terdengar teriakan seorang pedagang. "Pencuri! Tangkap dia!"
Jian Chen menoleh. Seorang anak laki-laki kurus berlari melintasi jalan dengan sebuah bakpao di tangan, rambutnya kusut dan bajunya penuh tambalan. Anak itu menabrak seorang ibu yang membawa keranjang, terguling, lalu bangkit dan berlari lagi. Pedagang gemuk itu mengejar dengan sendok besar di tangan.
Napas Jian Chen berhenti.
Anak itu berumur dua belas tahun. Wajahnya lebih bulat dari yang ia ingat, mata besar dan berair, dan di dagu kirinya ada luka kecil yang sudah mengering. Tidak ada kilatan dingin di matanya. Tidak ada segel apa pun. Hanya seorang anak yang kelaparan.
Anak itu berbelok ke lorong sempit, tetapi dua pemuda berbadan besar muncul dari seberang dan menghadangnya. Anak itu terhenti, mundur, dan jatuh terduduk dengan bakpao terlindung di dadanya.
"Dapat kau, tikus kecil," kata pedagang itu sambil terengah. "Berapa kali kubilang jangan datang ke kiosku?"
"Aku tidak mencuri," kata anak itu dengan suara pelan dan bergetar. "Aku hanya meminjam. Besok aku bayar."
"Besok! Selalu besok!"
"Aku... aku janji."
"Janji apa? Kau yatim, tidak punya apa-apa." Pedagang itu mengangkat sendoknya. "Kali ini aku patahkan tanganmu."
"Tunggu," kata Jian Chen.
Semua orang menoleh. Jian Chen melangkah maju dari bayang-bayang lorong, mengeluarkan beberapa keping tembaga dari saku, dan mengulurkannya. "Berapa harga bakpao itu?"
Pedagang itu menatapnya curiga. "Dua keping."
"Ini lima. Sisanya untuk kerepotanmu."
Pedagang itu mengambil uang itu, menghitungnya dua kali, dan mendengus. "Hmph. Tidak apa-apa kalau ada yang mau membayar. Tapi dia anak nakal. Awasi dia."
"Akan kuawasi."
Pedagang dan dua pemuda itu pergi sambil menggerutu. Lorong menjadi sepi. Anak itu masih duduk di tanah dengan bakpao di dadanya, menatap Jian Chen dengan mata lebar yang menyimpan campuran takut dan curiga.
"Kau kenapa membayarnya?" tanyanya pelan.
"Karena kau lapar."
"Aku tidak minta."
"Aku tahu." Jian Chen berjongkok di depannya, menjaga jarak yang tidak mengancam. "Makanlah. Sebelum dingin."
Anak itu ragu, lalu menggigit bakpao itu dengan cepat, seperti takut akan diambil kembali. Jian Chen memperhatikan wajahnya sambil menahan sesuatu di tenggorokan yang sulit dijelaskan. Dalam hidup pertamanya, anak ini memanggilnya guru. Dua puluh tahun kemudian, anak ini ikut menikamnya.
"Siapa namamu?" tanya Jian Chen akhirnya.
Anak itu mengunyah, menelan, dan menjawab dengan suara kecil. "Ye Ran."