sejak lahir, dia tak sempurna.
ibunya ditinggalkan pergi oleh sang ayah, saat ia masih dalam kandungan.
sang ibu mengandung seorang diri, karena bapaknya pergi mencari nafkah dan biaya persalinan sang ibu.
sampai ia lahir ayahnya tak menghendakinya dan datang membawa madu untuk ibunya.
sejak lahir penduduk desa mengatakannya pembawa petaka, karena ia lahir tak sempurna. kini ia hidup berdua bersama sang ibu.
sementara sang ayah pergi dengan wanita lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon atikah@72, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berlari Gendong Nyawa
Johan pergi.
Suara motor trail itu meraung keras, memecah keheningan pagi Desa Kolorai, lalu menghilang di balik debu tanah merah, membawa Lina dan bayi Kevin yang sempurna itu menjauh.
Ia tidak menoleh. Tidak sekali pun.
Sari masih berlutut di tanah becek. Lututnya tenggelam dalam lumpur. Bintang di pelukannya semakin panas, napasnya semakin pendek, seperti anak burung yang terjebak dalam genggaman. Wajahnya yang tadi merah, kini pucat kebiruan. Kejang kecil di kaki bengkoknya masih terus terjadi.
"Johan... Johan... anakmu..." bisik Sari, tapi suaranya hanya angin yang dengar.
Kerumunan warga yang tadinya ramai menghakimi, kini satu per satu mundur. Mereka takut. Takut melihat bayi sekarat. Takut ikut menanggung dosa. Takut dimintai tolong.
Pak Paulus memukul tongkatnya lagi. "Sudah, bubar! Bubar semua! Jangan lihat! Nanti sialnya menempel! Biar dia urus sendiri anak kutukannya itu!"
Satu per satu mereka pergi. Meninggalkan Sari sendirian di depan gubuk bocornya, dengan darah nifas yang masih mengalir di pahanya dan bayi yang hampir mati di dadanya.
Hanya Mama Leni yang tidak pergi. Perempuan tua itu berdiri dengan napas terengah-engah, matanya berkaca-kaca melihat Sari.
"Sari... Sari, dengar Mama," kata Mama Leni sambil berlutut di lumpur, tidak peduli dasternya kotor. "Kita harus ke Puskesmas sekarang. Kalau tidak, Bintang bisa lewat. Demam bayi baru lahir itu tidak main-main. Itu infeksi."
Sari menatap Mama Leni dengan mata kosong. "Puskesmas... 5 kilometer, Ma... Aku tidak kuat... kakiku..."
"Kau kuat, Sari. Kau sudah melahirkan sendirian di tengah badai, kau pasti kuat," bentak Mama Leni, tapi bentakannya penuh cinta. Ia mengambil kain sarung lain, mengikat Bintang di punggung Sari dengan cara menggendong adat Sumba. "Ikat yang kencang! Kita jalan!"
Dan begitulah, jam tujuh pagi, di saat perempuan-perempuan lain baru mulai menanak nasi, dua perempuan berjalan tertatih-tatih di tengah padang sabana Kolorai yang luasnya tidak ada habisnya.
Sari di depan, menggendong Bintang di dadanya, bukan di punggung, karena ia ingin Bintang merasakan detak jantungnya. Setiap langkah kakinya yang bengkak menginjak tanah becek, rasa nyeri luar biasa menjalar dari rahimnya yang baru melahirkan. Darah masih keluar, membasahi kainnya. Tapi ia tidak berhenti. Di kepalanya hanya satu kalimat: Bintang tidak boleh mati.
Mama Leni di belakang, membawa ember kecil berisi air putih dan kain.
Matahari mulai naik. Panasnya mulai menyengat. Padang sabana Kolorai itu tidak ada pohon untuk berteduh. Hanya rumput kuning setinggi lutut dan tanah retak.
Satu kilometer pertama, Sari masih bisa berjalan agak cepat.
Dua kilometer, kakinya mulai gemetar. Napasnya tersengal. Keringat bercampur darah.
Tiga kilometer, pandangannya mulai berkunang-kunang. Ia melihat bayangan Johan di depan, tertawa bersama Lina dan Kevin. Ia melihat bayangan ibunya yang sudah meninggal melambaikan tangan.
"Bintang... jangan tinggalkan Ibu ya... Ibu janji tidak akan tinggalkan kamu..." bisik Sari pada bayi di dadanya yang napasnya sudah sangat pelan.
Di kilometer keempat, Sari jatuh. Lututnya menghantam batu karang kecil di tengah padang. Darah segar keluar dari lututnya. Bintang hampir terlepas dari gendongannya.
Mama Leni menjerit, "Sari!"
Sari tidak bisa bangun. Ia terbaring di atas rumput kuning, memeluk Bintang erat. Ia ingin menyerah. Ia ingin tidur saja di padang itu. Terlalu sakit. Terlalu berat.
"Anakku... maafkan Ibu... Ibu tidak kuat..." isaknya pecah di tengah padang yang sepi.
Saat itulah, dari kejauhan, terdengar suara klakson. Bukan motor. Tapi mobil bak terbuka, mobil pengangkut garam milik Koperasi Desa yang biasanya lewat jam delapan pagi menuju kecamatan.
Mama Leni berdiri dan melambaikan kedua tangannya seperti orang gila, berteriak, "TOLONG! TOLONG! ADA BAYI SAKIT!"
Mobil itu berhenti. Sopirnya, Pak Harun, lelaki paruh baya yang biasanya cuek, melihat Sari yang berlumuran darah dan lumpur menggendong bayi biru, langsung turun.
"Ya ampun! Sari! Cepat naik! Cepat!"
Dengan sisa tenaga, Pak Harun dan Mama Leni mengangkat Sari yang hampir pingsan ke atas bak mobil yang penuh karung garam. Mobil itu melaju sekencang mungkin di jalan tanah yang hancur, melompat-lompat, menuju Puskesmas Kecamatan.
Di atas bak mobil yang berdebu garam itu, Sari memeluk Bintang, menempelkan pipinya ke dahi Bintang yang membara panas.
"Bertahan ya, Bintang... kita hampir sampai..."
Puskesmas Kecamatan itu kecil, catnya sudah mengelupas. Hanya ada satu dokter jaga, Dokter Anya, perempuan muda asal Kupang yang baru ditugaskan setahun di ujung pulau ini.
Dokter Anya yang melihat Sari datang dengan kondisi berdarah-darah dan bayi biru, langsung panik dan membawa mereka ke ruang bersalin yang hanya ada satu tempat tidur.
"Demam 39,5! Nafasnya sesak! Ini sepsis neonatorum! Infeksi! Kenapa baru dibawa?!" bentak Dokter Anya, tapi tangannya cekatan memasang selang oksigen kecil ke hidung Bintang dan menyuntikkan sesuatu ke paha kecil Bintang.
Sari hanya bisa menangis di lantai, memegang kaki Dokter Anya. "Dok, tolong anak saya, Dok... jangan ambil anak saya..."
Selama satu jam, Puskesmas itu menjadi medan perang. Dokter Anya dan satu perawat berusaha menurunkan panas Bintang dengan kompres, antibiotik, dan oksigen. Mama Leni memeluk Sari yang menggigil di sudut ruangan.
Jam sepuluh pagi, keajaiban kecil terjadi. Tangisan Bintang yang tadi melengking kesakitan, perlahan berubah menjadi tangisan biasa. Wajah birunya kembali merah. Demamnya turun sedikit, dari 39,5 menjadi 38,8. Matanya yang tertutup rapat, terbuka sedikit, mencari-cari wajah ibunya.
"Bintang..." Sari merangkak mendekat, memeluk kaki tempat tidur.
Dokter Anya menghela napas panjang, melepas sarung tangannya. Keringat membasahi dahinya.
"Bu Sari, anak Ibu lewat masa kritis. Tapi dengar saya baik-baik," kata Dokter Anya, wajahnya serius. "Anak Ibu selamat hari ini. Tapi kondisi kakinya ini bukan kutukan. Ini namanya CT-EV, clubfoot. Kaki bengkok bawaan lahir. Dan tangannya ini sindaktili, jari menempel. Dua-duanya BISA SEMBUH TOTAL."
Sari mengangkat wajahnya, tidak mengerti.
"Bisa sembuh, Bu. Di Waingapu ada dokter orthopedi. Kakinya bisa di-gips pelan-pelan sejak sekarang, nanti normal bisa jalan. Tangannya bisa dioperasi kecil saat umur satu tahun. Anak Ibu bisa lari, bisa sekolah, bisa normal seperti anak lain. Tapi harus SEKARANG. Tidak bisa tunggu. Kalau lewat dari dua minggu, tulangnya mengeras dan cacatnya permanen."
Harapan yang baru saja tumbuh di hati Sari, langsung disiram air es lagi oleh kalimat selanjutnya Dokter Anya.
"Tapi untuk rujukan ke Waingapu, Ibu butuh biaya. BPJS Ibu mati karena tidak pernah dibayar Johan. Untuk gips pertama, rontgen, dan ambulans ke Waingapu, Ibu butuh minimal lima juta. Dan Ibu harus berangkat hari ini juga dengan ambulans Puskesmas, mumpung infeksinya sudah turun."
Lima juta.
Bagi orang di Jakarta mungkin kecil. Bagi Sari, yang upah memikul garam sehari dua puluh ribu, lima juta adalah uang yang tidak akan pernah ia lihat seumur hidupnya.
Sari kembali jatuh terduduk di lantai Puskesmas. Lima juta. Dari mana?
Saat itulah, pintu Puskesmas yang terbuat dari kayu itu terbuka dengan keras.
Semua orang di ruangan itu menoleh.
Di pintu, berdiri dengan napas terengah-engah, dengan helm masih di tangan, adalah Johan. Di belakangnya, Lina, dengan bayi Kevin yang sempurna di gendongannya.
Johan melihat Sari di lantai, melihat Bintang yang terpasang selang oksigen di atas ranjang, dan melihat Dokter Anya.
Wajah Johan pucat. Ia baru saja tancap gas meninggalkan mereka pagi tadi. Sekarang ia kembali.
"Sari... aku... aku dengar dari Pak Harun sopir garam... anak... anak kita sakit..." kata Johan terbata.
Lina di belakangnya menarik lengan Johan, berbisik keras, "Ngapain kita kembali? Kan sudah kubilang jangan ikut campur!"
Johan tidak menghiraukan Lina. Ia merogoh saku jaketnya, mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal yang terlihat penuh uang.
"Aku punya uang, Sari. Uang dari kerja bangunan di Waingapu. Ada enam juta di sini. Cukup untuk bawa Bintang ke Waingapu. Tapi..." Johan berhenti, menatap Bintang, lalu menatap Lina, lalu menatap Sari dengan tatapan yang sangat sulit diartikan.
"Tapi apa, Johan?" tanya Mama Leni dengan curiga.
Johan menarik napas panjang, lalu mengucapkan kalimat yang membuat seluruh ruangan Puskesmas itu membeku, dan membuat Sari merasa darahnya berhenti mengalir.
"Tapi dengan satu syarat, Sari. Kau harus tanda tangan surat ini."
Johan mengeluarkan satu lembar kertas dari amplop itu.
"Surat pernyataan kalau kau menyerahkan hak asuh Bintang sepenuhnya kepada kami. Kepada aku dan Lina. Biar Bintang kami bawa ke Waingapu, kami yang biayai operasinya sampai sembuh, tapi Bintang jadi anak kami, anak Lina. Bukan anakmu lagi. Dan kau tidak boleh cari dia lagi."
Di atas ranjang, Bintang menangis lagi, seolah mengerti ia akan diambil dari ibunya.
Apa yang akan Sari lakukan? Apakah ia akan menjual anaknya sendiri demi menyelamatkan nyawa dan kaki anaknya agar bisa sembuh dan normal?
Atau ia akan menolak, memeluk Bintang dan membiarkan Bintang cacat seumur hidup bersamanya di desa ujung pulau itu?