NovelToon NovelToon
SISTEM MEDIS SUPER DOKTER LEGENDARIS

SISTEM MEDIS SUPER DOKTER LEGENDARIS

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Dokter Ajaib
Popularitas:7.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Bima Aditya, seorang dokter magang yang diremehkan dan dicampakkan kekasihnya demi pria kaya, tiba-tiba mendapatkan keajaiban setelah mengalami kecelakaan tragis. Ia membangkitkan Sistem Medis Super yang memberinya kemampuan bedah tingkat dewa, mata-X, dan pengetahuan medis puluhan tahun, dengan syarat ia harus terus menyelamatkan nyawa pasien di lapangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Sret.

Bima menarik simpul benang itu dengan kencang, lalu melepaskan jepitan jarinya secara perlahan.

Darah tidak lagi menyembur keluar.

Ikatan benang nilon itu berhasil menyumbat arteri hepatika dengan sempurna.

Bima jatuh terduduk di aspal sambil mengatur napasnya yang memburu.

Pakaian dan wajahnya sudah penuh dengan noda darah.

[Misi Darurat berhasil diselesaikan.]

[Pasien telah melewati masa kritis dan nyawanya aman untuk sementara waktu.]

[Menyalurkan hadiah: Penguasaan Teknik Penjahitan Pembuluh Darah Tingkat Master.]

Seketika itu juga, ribuan memori asing menyerbu masuk ke dalam otak Bima.

Memori itu berisi pengalaman, teknik, dan trik menjahit berbagai macam pembuluh darah manusia.

Perasaannya seolah-olah dia telah melakukan puluhan ribu operasi bedah vaskular selama puluhan tahun.

Tangan Bima terasa gatal dan otot-otot jarinya mengalami sedikit perubahan untuk menyesuaikan dengan memori otot yang baru.

Rasa sakit dan pusing akibat integrasi memori itu membuat Bima memejamkan mata sejenak.

"Anakku... napasnya mulai teratur," ucap sang ibu dengan suara bergetar bahagia.

Wajah pucat remaja itu perlahan mulai menunjukkan sedikit warna kehidupan, meskipun dia masih belum sadarkan diri.

Kerumunan warga yang sejak tadi menahan napas kini mulai bernapas lega.

Beberapa orang mulai memuji tindakan berani Bima.

"Wah, dokter ini hebat sekali."

"Saya kira tadi dia orang gila, ternyata dia benar-benar menyelamatkan nyawa."

"Maafkan kami yang sudah berburuk sangka ya, Dok."

Bima hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan warga.

Dia terlalu lelah untuk berbicara banyak.

Ninu! Ninu! Ninu!

Suara sirene ambulans akhirnya terdengar memecah keramaian.

Sebuah ambulans bertuliskan Rumah Sakit Medika Utama berhenti tepat di dekat lokasi kejadian.

Rumah Sakit Medika Utama adalah tempat Bima bekerja sebagai dokter magang.

Pintu belakang ambulans terbuka dengan cepat.

Beberapa perawat pria melompat turun sambil membawa tandu darurat.

Di belakang mereka, seorang dokter pria berusia sekitar empat puluhan berjalan keluar dengan wajah angkuh.

Dia mengenakan jas dokter yang bersih dan rapi.

Itu adalah Dokter Surya, salah satu dokter spesialis senior yang sangat berkuasa di rumah sakit.

Dokter Surya juga dikenal sering mempersulit pekerjaan Bima dan sering mengambil kredit atas hasil kerja Bima.

"Beri jalan! Biarkan tim medis profesional menangani ini!" teriak Dokter Surya dengan nada merendahkan.

Kerumunan warga segera mundur untuk memberikan ruang.

Mata Dokter Surya langsung tertuju pada pasien remaja yang tergeletak di aspal, dan genangan darah di sekitarnya.

Lalu pandangannya beralih pada sosok pria berlumuran darah yang duduk di dekat pasien.

"Siapa yang melakukan tindakan konyol ini?!" Dokter Surya membentak keras.

Bima perlahan berdiri dan menatap Dokter Surya.

"Saya yang melakukannya, Dokter Surya."

Dokter Surya membelalakkan matanya saat mengenali wajah Bima.

"Bima? Kamu?"

"Kamu dokter magang rendahan yang tidak tahu aturan itu?"

Nada suara Dokter Surya semakin meninggi dan penuh dengan kemarahan.

"Apa yang sudah kamu lakukan, hah?!"

"Kamu mengiris perut pasien di jalanan kotor seperti ini?!"

"Kamu tahu ini pelanggaran prosedur medis yang sangat fatal?!"

Bima tidak gentar sedikit pun menghadapi kemarahan seniornya.

"Pasien mengalami pendarahan masif akibat ruptur arteri hepatika, Dok."

"Jika saya menunggu ambulans datang, pasien sudah menjadi mayat sekarang."

Dokter Surya mendengus jijik mendengar penjelasan Bima.

"Jangan mencoba mengajariku, Magang!"

"Kamu mendiagnosis ruptur arteri hepatika tanpa bantuan alat pencitraan medis?"

"Kamu pikir kamu punya mata rontgen?!"

Dokter Surya menunjuk wajah Bima dengan jarinya.

"Kamu hanya mencari sensasi!"

"Menggunakan pisau dapur kotor dan benang sembarangan untuk membedah orang."

"Jika pasien ini mati karena infeksi, kamu akan membusuk di penjara!"

"Aku pastikan lisensi medismu akan dicabut seumur hidup!"

Warga sekitar yang tadinya memuji Bima kini mulai kembali ragu mendengar ucapan Dokter Surya.

Mereka berpikir bahwa mungkin Bima memang melakukan kesalahan prosedur.

"Cepat angkat pasien ke tandu dan periksa tanda-tanda vitalnya!" perintah Dokter Surya kepada para perawat.

Dua orang perawat segera memeriksa pasien tersebut.

Mereka memasang alat pengukur tekanan darah dan mengecek luka di perut pasien.

Salah satu perawat itu, yang bernama Rudi, menatap luka pasien dengan ekspresi terkejut.

"Dokter Surya..." panggil perawat Rudi dengan suara ragu.

"Ada apa? Pasiennya sudah meninggal karena ulah anak ini?" sahut Dokter Surya sinis.

"Bukan begitu, Dok."

Perawat Rudi menelan ludahnya sebelum melanjutkan laporannya.

"Tekanan darah pasien memang rendah, tapi perlahan mulai naik dan stabil."

"Dan... pendarahan di perutnya benar-benar berhenti total."

Dokter Surya mengernyitkan dahinya tidak percaya.

"Jangan bicara omong kosong, Rudi."

"Minggir, biar aku lihat sendiri."

Dokter Surya berjongkok dan memeriksa luka sayatan di perut pasien.

Dia menyalakan senter medisnya dan menyorot ke bagian dalam luka.

Mata Dokter Surya melebar hingga hampir keluar dari kelopaknya.

Dia melihat sebuah ikatan benang nilon yang sangat rapi dan presisi menyumbat arteri yang pecah.

Ikatan itu dibuat dengan teknik yang sangat sempurna.

Bahkan Dokter Surya ragu apakah dia sendiri bisa membuat ikatan serapi itu di ruang operasi yang terang benderang.

"Ini... ini tidak mungkin," gumam Dokter Surya dengan suara pelan.

"Bagaimana seorang dokter magang bisa melakukan ligasi pembuluh darah secara buta di jalanan gelap seperti ini?"

Dokter Surya menatap Bima seperti melihat hantu.

Rasa tidak percaya, iri, dan harga diri yang terluka bercampur aduk di dalam dadanya.

Bima membalas tatapan Dokter Surya dengan senyum tipis yang meremehkan.

"Bawa pasien ke rumah sakit sekarang, Dokter Surya."

"Tugas saya di sini sudah selesai."

"Dan jangan lupa, pastikan ruang operasi sudah siap saat kalian tiba di sana."

Bima membalikkan badannya dan berjalan menjauh dari ambulans.

Dia meninggalkan Dokter Surya yang masih terdiam kaku karena syok.

Langkah kaki Bima terasa jauh lebih ringan dari sebelumnya.

Di dalam kepalanya, suara Sistem Medis Super kembali terdengar.

[Inang telah menunjukkan potensi yang sangat baik.]

[Misi Utama Tahap Satu diaktifkan.]

[Tingkatkan reputasi medis inang di Rumah Sakit Medika Utama.]

[Jadilah dokter yang paling disegani dalam waktu tiga puluh hari.]

Bima menatap langit malam yang masih menyisakan rintik hujan.

Hari ini, dia dicampakkan oleh kekasihnya dan dihina karena kemiskinannya.

Namun mulai malam ini juga, Bima Aditya yang lama telah mati.

Dia akan menggunakan sistem ini untuk membuktikan kepada dunia, siapa dokter yang sebenarnya.

"Rina, Kevin, Dokter Surya..."

"Tunggu saja pembalasanku," batin Bima dengan tekad yang membara.

Langkah kakinya menembus kegelapan malam, menuju masa depan yang baru saja terbuka lebar untuknya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!