Hidup Zheana berubah di saat harus menggantikan sang Kakak menikah. Niken kabur di saat hari pernikahan dengan Khadafi.
Ibunya mengamuk dan malah menyalahkan Zheana atas apa yang terjadi. Zheana bahkan di maki dan di siksa ibunya, Khadafi yang tak tega melihat Zheana membawa dia pergi dari sana.
Mereka tinggal di Apartemen milik Khadafi yang sudah di persiapkan sebelumnya. Rupanya kelembutan Zheana mengubah hati Khadafi dan mulai mencintai istrinya. seperti yang di katakan Umi dan Abinya, jika ini adalah jalan Allah SWT untuk menunjukkan jodoh Khadafi.
Selama pernikahan tak semulus itu, karena ibunya Zheana masih terus membencinya. saat Zheana hamil, rupanya Niken kembali. Apakah Khadafi akan kembali kepada Niken?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zheana 18
Khadafy membalikkan badannya secara penuh menghadap Bu Irma. Tatapan matanya lurus, dingin, dan sarat akan ketegasan yang tak terbantahkan.
Bu Irma yang tadinya berkacak pinggang mendadak mundur satu langkah, memeluk panci kosong di genggamannya dengan napas tersengal-sengal.
"Kenapa, Nak Khadafy?!" jerit Bu Irma, mencoba menutupi rasa takut yang mulai menyelimuti hatinya.
"Kamu mau bela anak tiri tidak tahu diri ini?! Dia ini yang bikin Niken kabur! Dia yang..."
"Cukup, Bu Irma," potong Khadafy dengan suara tenang namun berwibawa, memotong histeria wanita itu seketika.
Khadafy menatap Bu Irma lekat-lekat. "Zheana tidak salah apa-apa dalam hal ini. Dia tidak pernah meminta pernikahan ini terjadi, begitu pula saya. Jika ada orang yang pantas menerima kemarahan dan rasa kecewa Ibu hari ini, orang itu adalah Niken. Anak kandung Ibu sendiri yang memilih melarikan diri dan mengabaikan tanggung jawabnya."
Perkataan Khadafy yang tenang namun menghantam tepat di pusat masalah membuat Bu Irma seketika bungkam. Mulutnya terkatup rapat, tak mampu menyanggah kebenaran yang baru saja dilontarkan oleh menantu barunya itu.
Khadafy tidak lagi mengindahkan Bu Irma. Pria itu mengambil handuk bersih dari tim MUA yang mengintip takut dari balik belokan tangga, lalu berlutut kembali di hadapan Zheana. Dengan perlahan dan telaten, Khadafy menyapu sisa-sisa noda kuah gulai dari wajah, kelopak mata, dan leher istrinya.
"Sakit?" bisik Khadafy lembut.
Zheana menggeleng pelan, menatap manik mata Khadafy yang dipenuhi rasa perlindungan yang nyata.
"Nggak... terima kasih, Mas..."
Khadafy membantu Zheana berdiri, merengkuh bahu istrinya yang masih bergetar. Ia kemudian berbalik menghadapi Pak Bagas dengan tatapan penuh hormat.
"Papa," panggil Khadafy santun.
"Melihat situasi dan kondisi rumah yang seperti ini, saya yakin tidak baik untuk kesehatan mental Zheana maupun Papa jika kami tetap berada di sini malam ini. Karena itu, saya memohon izin kepada Papa untuk membawa Zheana tinggal di apartemen saya mulai malam ini."
Pak Bagas menatap Khadafy dan Zheana bergantian. Air mata keharuan menetes di pipinya yang renta. Beliau mengangguk cepat, menggenggam erat tangan Khadafy.
"Bawa... bawalah istrimu, Nak Khadafy," bisik Pak Bagas tulus dengan suara bergetar.
"Jaga dia... Papa titipkan Zheana sepenuhnya di tanganmu."
"Terima kasih, Pa. Kami pamit," jawab Khadafy mantap.
Mobil Mercedes Benz hitam melaju tenang membelah keheningan jalanan ibu kota yang mulai lengang. Setelah sebelumnya mereka membersihkan diri dan membereskan beberapa pakaian milik Zheana.
Kini, Zheana duduk kaku di kursi penumpang depan. Keheningan di dalam kabin mobil terasa begitu pekat dan canggung. Hanyut oleh deru halus mesin dan gesekan pendingin udara, baik Zheana maupun Khadafy sama-sama terdiam memaku, menatap lurus ke arah jalan raya.
Khadafy melirik sekilas dari balik lingkar kemudi. Ibu jari tangannya menepuk-nepuk pelan setir mobil, mencoba memecah kekakuan yang menggantung di antara mereka.
"Matamu... masih terasa perih?" panggil Khadafy pelan, suaranya yang berat memecah keheningan.
Zheana tersentak kecil dari lamunannya. Jemarinya yang saling bertaut di pangkuan meremas kain celananya lekat-lekat. Ia menoleh perlahan, tidak berani menatap langsung mata Khadafy.
"Sudah lumayan, Mas... Cuma tinggal sedikit merah saja di bagian pinggirnya," jawab Zheana lirih, mengusap pelan pelipisnya.
"Terima kasih banyak... baju Mas Khadafy jadi basah dan kotor gara-gara Zhea tadi. Nanti di sana, Zhea akan cucikan..."
Khadafy terkekeh halus, sebuah tawa tipis tanpa beban yang seketika mencairkan atmosfer dingin di dalam mobil.
"Hanya kemeja, Zheana. Bisa dicuci. Yang penting wajah dan matamu tidak terkena minyak panas."
Zheana menundukkan kepalanya, menggigit bibir bawahnya ragu. Ada sejuta pertanyaan yang mengendap di benaknya, namun tenggorokannya terasa begitu sempit untuk menyampaikannya.
"Mas Khadafy..." panggil Zheana pelan.
"Ya?"
"Kenapa... kenapa Mas Khadafy mau menyetujui semua ini?" tanya Zheana akhirnya, suaranya bergetar menahan gejolak emosi.
"Maksud Zhea... Mas Khadafy itu pria terpandang, punya segalanya. Kenapa tidak menolak saja saat Abi mengusulkan nama Zhea? Kenapa harus mau menikah secara mendadak dengan gadis yang... yang bahkan bukan siapa-siapa, cuma anak tiri yang selalu bikin kacau keadaan?"
Khadafy menepikan mobilnya sejenak di bawah lampu jalan yang temaram saat lampu lalu lintas berganti merah. Pria itu menghentikan laju kendaraan, memutar posisinya sedikit hingga tubuhnya menghadap lurus pada Zheana.
Khadafy menatap manik mata Zheana yang masih sembab dengan sorot mata yang amat tenang dan dalam.
"Zhea, dengarkan aku," tutur Khadafy tegas namun lembut.
"Pertama, kamu bukan anak yang bikin kacau. Kamu adalah korban dari situasi ini, sama seperti aku. Kedua, pernikahan bagi keluargaku bukan sekadar urusan dua orang, tapi soal kehormatan dan takdir yang diamanahkan."
Khadafy menghela napas panjang, mengusap tengkuknya sejenak sebelum melanjutkan.
"Jujur, saat Abi menyebut namamu, aku diam karena aku sedang berpikir. Dan setelah melihat bagaimana tenang dan tulusnya kamu menghadapi kepanikan Papa Bagus... aku tahu, wanita di sampingku ini jauh lebih bernilai dari siapa pun yang melarikan diri pagi tadi."
Dada Zheana berdesir hebat. Kata-kata sederhana namun jujur dari Khadafy bagai obat penawar yang menyapu seluruh rasa rendah diri dan luka akibat tamparan Bu Irma beberapa saat lalu. Rona merah tipis mendadak muncul di kedua pipi Zheana.
"Tapi... Zhea takut tidak bisa jadi istri yang baik buat Mas Khadafy," bisik Zheana jujur, menyembunyikan tangannya yang gemetaran.
"Zhea tidak terbiasa dengan kehidupan keluarga Mas yang mewah. Zhea cuma..."
"Aku tidak minta kamu jadi orang lain, Zheana," potong Khadafy cepat, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang amat menawan.
"Aku hanya butuh kamu jadi dirimu sendiri. Kita jalani ini pelan-pelan. Kesepakatan kita adalah pernikahan yang sah di mata hukum dan agama, bukan pura-pura. Jadi, tidak perlu merasa canggung atau takut padaku."
Zheana menatap Khadafy yang kini kembali memegang kendali setir saat lampu berubah hijau. Pria yang semula tampak begitu dingin dan tak terjangkau itu, kini menjelma menjadi sosok pelindung yang memberikan rasa aman luar biasa di tengah guncangan hidupnya.
"Terima kasih, Mas..." ucap Zheana tulus, diiringi senyuman tipis pertamanya di hari yang melelahkan itu.
"Sama-sama," balas Khadafy lirih seraya menambah kecepatan mobil.
"Sebentar lagi kita sampai di apartemen. Kamu bisa istirahat sepuasnya di sana."
Di balik jendela mobil yang memantulkan kerlip lampu kota, Zheana menghembuskan napas panjang. Rasa canggung yang tadi mencekik perlahan meluruh, berganti dengan segumpal harapan baru di lembaran hidupnya yang baru saja dimulai.