"Om mau nyeraikan gue? Bagus dong! Mana drafnya? Gue tanda tangani sepuluh kali kalau perlu!"
Mayor Yudhana (32) mengira ancaman perceraian akan membuat Vina (20) berlutut memohon ampun. Namun, benturan keras di aspal telah menghapus seluruh kenangan penderitaan Vina selama menikah. Vina yang baru adalah gadis barbar usia 18 tahun yang sama sekali tak terintimidasi oleh baret hijau maupun pangkat tiga melati.
Saat Vina memperlakukannya seperti bapak kos galak dan sibuk mencari uang sendiri untuk angkat kaki, Mayor Yudhana terpukul oleh gengsinya sendiri. Untuk pertama kalinya, Sang Mayor menyadari bahwa hal paling berbahaya bukan lagi kehilangan wibawa di Batalyon—melainkan kehilangan wanita yang baru saja mulai menguasai seluruh sudut hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16. Ampun, Mayor!
Jam dinding kayu di ruang tengah berdetak konstan, menunjukkan tepat pukul delapan malam. Suara dentingnya yang ritmis membelah keheningan rumah dinas Batalyon yang kini diselimuti pendar lampu putih redup.
Pintu kamar mandi utama berderit terbuka, meloloskan uap hangat bercampur wewangian sabun mandi maskulin. Mayor Yudhana melangkah keluar seraya mengusap rambutnya yang masih basah menggunakan handuk kecil berwarna abu-abu. Pria itu sudah berganti pakaian santai—kaos polos hijau tua dan celana kain hitam bergaris tegas.
Rasa lelah pasca-apel malam dan ketegangan akibat pertengkaran soal gorengan sore tadi membuat perut sang Mayor berdisko kencang. Secara refleks, langkah kakinya berbelok menuju ruang makan. Ada suatu kebiasaan kaku yang selama satu tahun ini tertanam tanpa ia sadari di dalam kepalanya: aroma hidangan hangat yang menyeruak dari balik tudung saji, cangkir keramik berisi teh melati yang uapnya meliuk-liuk, dan kain hitam pelapis meja yang ditata presisi sejajar dengan sendok porselen.
Namun, begitu pijakan kakinya menyentuh ubin area ruang makan ... langkah Yudhana terhenti seketika.
Meja makan porselen berbentuk persegi panjang di depannya tampak bersih, dingin, dan hampa.
Tidak ada tudung saji merah yang biasanya menutupi mangkuk gulai ayam atau sup ayam berkaldu gurih. Tidak ada cangkir keramik berisi teh melati hangat di sudut kanan. Bahkan kain hitam pelapis meja yang dulu selalu dipasang Vina untuk menyerap embun mangkuk pun telah lenyap entah ke mana, menyisakan permukaan porselen putih yang memantulkan pendar pucat lampu gantung secara telanjang.
Yudhana berdiri mematung di samping kursi kayu berukir. Tangannya yang memegang handuk kecil membeku di udara. Tatapannya terpaku kaku pada meja yang kosong melompong itu. Rasa lapar yang tadinya merayap perlahan kini mendadak berubah menjadi sengatan asing—sebuah hawa hampa yang tiba-tiba mengurung dadanya.
Sreeek...
Suara langkah sandal jepit karet berwarna hijau menyala bergeser santai dari arah dapur.
Vina melintas di koridor tengah tanpa terburu-buru. Pakaian daster merah menyalanya masih meliuk longgar di badannya, dengan rambut hitamnya yang dikuncil asal-asalan ke atas menggunakan jepitan badak. Kedua tangannya mencengkeram erat sebuah mangkuk keramik putih yang mengepulkan asap tipis berminyak.
Aroma gurih yang tajam dan menyengat dari bumbu mie instan kuah rasa kaldu ayam menyeruak kencang, memotong keheningan ruangan. Di atas kuah kuning kemerahan yang meliuk-liuk itu, bertengger sebutir telur rebus setengah matang yang kuningnya masih meleleh lembut, ditaburi irisan cabai rawit merah yang melimpah dan taburan bawang goreng renyah.
Vina sama sekali tidak menoleh ke arah ruang makan. Ia melangkah lurus menuju ruang tengah, memutar tubuhnya santai, lalu mendaratkan bokongnya di atas sofa beludru. Tanpa rasa canggung sedikit pun, Vina melipat kedua kakinya bersila di atas sofa, memangku mangkuk mie panas itu, lalu meraih sumpit kayu.
Slurrrooop!
Suara seruputan mie yang nyaring dan kencang bergaung di ruang tengah yang sepi. Vina mengunyah mie itu dengan sangat lahap, membiarkan kuah gurih beraroma cabai menetes tipis di bibirnya sebelum disapunya dengan ujung lidah.
"Hah ... mantap banget! Pedasnya nendang!" gumam Vina sendirian sambil memindahkan saluran televisi ke acara kartun favoritnya, tertawa geli tanpa memedulikan dunia luar.
Yudhana yang berdiri kaku di samping meja makan porselen menelan ludahnya yang mendadak terasa pahit. Matanya menyipit menatap sosok istrinya yang sedang asyik menikmati mangkuk mienya di sofa tanpa ada niat sedikit pun untuk melirik atau menawarinya makan.
Darah sang Mayor perlahan menyentak naik ke kepala. Rasa lapar yang beradu dengan gengsi dan kejengkelan yang bertumpuk membuat garis rahangnya menegang keras. Yudhana menarik kursi kayu berukir itu kasar, mendudukinya dengan posisi tubuh tegap dan kaku, memusatkan pandangannya pada ruang tengah.
"Vina," tegur Yudhana, suara baritonnya yang berat dan dingin bergaung kaku di udara.
Vina tidak menyahut. Tangannya sibuk menusuk kuning telur setengah matang menggunakan sumpit hingga lelehan gurihnya menyatu dengan kuah mie yang merah berduri cabai.
"Vina!" tegur Yudhana sekali lagi, nadanya meninggi satu tingkat, sarat akan sindiran kaku yang dipaksakan. "Kamu tidak masak malam ini?"
Vina menghentikan ayunan sumpitnya yang hampir menyuap mi ke dalam mulut. Ia memiringkan kepalanya sedikit, menolehkan wajahnya ke arah meja makan dengan raut polos yang sama sekali tanpa beban.
"Masak?" ulang Vina dengan dahi berkerut heran. "Masak apaan, Om?"
Yudhana meremas jemarinya di atas meja porselen yang dingin. "Masak makan malam! Ini sudah jam delapan lewat. Kenapa meja makan ini kosong sama sekali?"
Vina terkekeh pelan—sebuah tawa konyol yang ringan dan sangat menguji kesabaran Yudhana. Ia menurunkan mangkuk mienya sedikit, menatap Yudhana dari atas sofa dengan binar mata jenaka yang mengejek.
"Dih, Si Om ini konyol banget deh tanyanya!" cetus Vina santai tanpa rasa takut. "Ya kosonglah, orang gue ... eeh saya kagak masak! Om kata saya koki panti yang dibayar gaji bulanan buat nyiapin prasmanan tiap malam?"
"Vin, walau kamu hilang ingatan, kalau lagi bicara sama Mas Yudhana usahakan jangan Lu-Gue ya. Aku hanya sekedar mengingatkan saja." Tiba-tiba saja Vina teringat pesan Ita sebelum pulang.
Wajah Yudhana memerah padat dari leher hingga pelipis. "Vina! Kamu itu istri saya! Menyiapkan makan malam untuk suami itu kewajiban dasar seorang istri, paham?!"
"Eits, tunggu dulu, Om Tentara!" potong Vina galak, mengarahkan ujung sumpit kayunya lurus ke muka Yudhana. "Bukannya kemarin-kemarin Om sendiri yang bilang di rumah sakit kalau Om kagak sudi makan masakan saya? Om bilang saya cuma 'cewek panti yang ditampung' kan? Nah, sekarang saya yang kagak sudi masakin buat Om!"
Pukulan ucapan itu menghantam dada Yudhana dengan sangat telak. Pria tegap itu tersentak kaku di atas kursinya, bibirnya mengatup rapat tanpa sanggup menyangkal ingatan dingin yang dilemparkan Vina.
"Lagian ya, Om–" Vina melanjutkan bicaranya seraya kembali mengambil segulung mi dengan sumpitnya. "Om kan punya tangan dua, kaki dua, badan gede tegap kayak kulkas dua pintu. Lemari es di dapur juga kagak digembok, beras ada, telur ada. Kalau Om lapar, ya Om masak sendiri napa? Atau Om jalan keluar komplek sana, beli nasi goreng atau sate. Gitu aja kok bikin pusing se-rumah!"
Slrrrrooop!
Vina kembali menyeruput mienya dengan suara keras yang disengaja, mengunyahnya dengan ekspresi gembira di depan muka sang Mayor yang makin kelabu.
"Kamu ...." Yudhana menunjuk Vina dengan jari telunjuknya yang bergetar menahan gusar. "Kamu benar-benar sudah melupakan tugas dan etika kamu, Vina!"
bersambung...
Alhamdulillah 🤲