Apa jadinya kalau dua orang yang bahkan tidak saling menyukai tiba-tiba terbangun dalam tubuh masing-masing?
Itulah yang dialami Daffa dan Dinda setelah sebuah kejadian aneh membuat roh mereka tertukar. Kekacauan pun dimulai. Daffa harus menjalani kehidupan sebagai perempuan, sementara Dinda terpaksa menghadapi dunia sebagai laki-laki.
Awalnya mereka berusaha menjalani situasi yang rumit itu. Namun semakin lama, mereka justru menemukan sisi lain satu sama lain yang selama ini tidak pernah terlihat.
Masalahnya, pertukaran roh itu ternyata memiliki satu syarat aneh untuk bisa berakhir. Mereka harus menikah!
Antara kekacauan, pertengkaran, dan perasaan yang perlahan tumbuh, mungkinkah pernikahan yang awalnya hanya sebuah solusi berubah menjadi kisah cinta sungguhan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Lema Datang Bulan
BAB 11
Di Lema Datang Bulan
POV Daffa
Gue Daffa, aslinya gue malas bicara. Gue ngoceh begini cuma dalam hati aja. Dan seumur-umur belum pernah deket sama wanita. Kecuali Mama atau keluarga gue yang lainnya.
Tapi takdir berkata lain, gue ngalamin hal yang mungkin nggak pernah di alami oleh orang lain. Roh gue bertukar tubuh sama anak tetangga gue , mana dianya perempuan lagi.
Pas bangun tidur, tahu-tahu raga kami sudah tertukar. Bagaimana bisa? Sampai sekarang pun, gue masih nggak ngerti salahnya dimana. Nggak ada penjelasan logis untuk ini semua.
Tiap hari jantung gue kayak balapan karung. Copot kagak, serang jantung iya lama-lama.
Gimana nggak! Tiap mandi pantengin tubuh cewek bugil di depan mata.
Gila nggak tuh!
Mau di raba takut dosa, tapi otak maksa suruh nyentuh, penasaran katanya. Pas di sentuh, jantung gue makin nggak karuan.
Jujur, gue baru ini nemu beginian. Masih kenceng, bulat padat. Walau nggak terlalu besar tapi gue suka, pas banget di tangan. Kan lama-lama gue jadi ngeres.
Gila emang!
Kelihatan banget ini, belum pernah di apa-apain. Biar badannya nggak terlalu tinggi alias kayak bocil, tapi kulitnya mulus dan ini juga gue suka.
Ck! Gue bukan pedofil ya.
Tapi gimana nasib badan gue ke Dinda ya? Gue yakin dia juga udah lihat semuanya.
Duh!
Ternyata jadi wanita itu ribet banget. Kok bisa mereka bertahan jadi wanita? Tapi mereka pun nggak bisa menolak kodrat dan takdir yang udah di tentukan.
Menjalani keseharian menjadi Dinda bikin gue tahu kehidupan pribadinya. Bukan gue mau nyampur, tapi semua terjadi di depan mata gue, dan di alami oleh gue yang berada dalam tubuhnya.
Dinda, walau dia sedikit tomboy tapi kamarnya rapi, juga bersih. Sepertinya dia tipe yang menyukai kebersihan.
Dia juga rajin membantu Ibunya. Itu terbukti dari Tante Sarah yang setiap hari mengomeli gue karena katanya, anaknya mulai malas nggak sepertinya biasanya.
Pantas saja sejak kecil Mama berusaha menjodohkan gue dengan Dinda. Sampai-sampai gue malu, dan nggak mau lagi berteman dengannya. Padahal dulu waktu kecil kami sering bermain bersama.
Mengalami kembali belajar duduk di bangku SMA membuat gue bosan. Yang ada gue tidur mulu dan ujung-ujungnya di hukum. Kalau nggak ngerjain tugas di papan tulis, pasti gue di suruh berdiri di depan pintu kelas.
Dan yang bikin gue risih banget, sahabatnya Dinda yang bernama Kania. Kerjaannya nempel mulu di lengan gue. Mana dadanya gede banget, kan Gue mesti tahan godaan syaitonirojim yang beginian.
"God! Gue jadi sering ngumpat beberapa hari ini.
***
"Lu kenapa sih, 2 minggu ini gue perhatiin kayak nggak semangat gitu?" Tanya Kania ketika pergantian jam pelajaran.
Ck! Dia lagi. Dia nggak tahu ngelewatin hari demi hari rasanya berjuang di tengah para zombie.
"Ada apa sih Din? Coba cerita ke gue. Gue nggak tahan kalau lu diam begini."
Mana perut gue sakit banget lagi. Kok bisa sih, si Bocil tahan banget sakit datang bulan begini?!
"Nggak biasanya lu diem begini. Lu juga sedikit cuek sama gue. Apa gue ada buat salah ya?"
Ck! Nih cewek sensi banget.
"Gue nggak kenapa-kenapa."
"Bohong aja lu! Nggak kenapa-kenapa gimana? Buktinya Leon tersenyum ama lu aja malah lu cuekin."
Leon? Leon siapa?
"Padahal dulu lu paling nungguin moment itu. Mau pingsan gue rasa lihat lu berubah begini."
Pingsan aja biar lu nggak ribut begini, bikin pusing.
"Lu dengerin gue kan, Din?"
"Gue pusing, sakit perut! Dah, ah. Mau ke UKS dulu."
Gue tinggalin aja itu si Kania yang masih melongo. UKS pilihan yang tepat buat gue ngabisin waktu pembelajaran hari ini.
Ngadepin celotehan teman si Bocil bikin mumet aja yang ada.
Btw, si Bocil lagi ngapain ya di kampus? Gue kayaknya mesti ngasi Bocil banyak bahan referensi nih buat seminar gue nanti. Tapi kalau tetap masih bertukar begini, kayaknya Bocil bakal kesulitan. Dan bisa-bisa, tahun ini kelulusan gue di tunda. Bisa berabe nih!
Ini tempelan gimana sih? Gerah banget mana suka keselip, belum lagi geser sana sini. Benerin dulu dah. Ruang UKS ada toilet juga kalau nggak salah.
***
God!
Mulai detik ini, gue ogah minum sirup Mbah Marijan. Mirip banget!
Apa ini kutukan ya? Gue mesti cari tahu kayaknya, sebab dan bagaimana caranya biar bisa balik ke tubuh masing-masing.
Rebahan dulu ah.
Enak bener rebahan di UKS, adem, sepi aman dan damai. Gue bisa tidur nyenyak sampai pelajaran berakhir.
"Dinda, kamu sakit?"
Bah! Kenapa pula cowok ini datang kesini? Mau ngapain dia?
"Siapa?"
Lah, malah nyengir gue tanya siapa?
"Lucu juga pake pura-pura lupa."
Ck! Siapa sih? Ntar, gue coba pikir dulu.
...
Apa ni bocah si Leon itu?
"Ngapain kesini?"
"Aku tadi nggak sengaja lihat kamu masuk ke ruang ini. Kamu sakit?"
"Kalau nggak sakit, apalagi?"
"Ohh, mau ku ambilkan obat? Kamu sakit apa?"
Ck! Hadeh, bikin mumet aja. Kenapa nggak pergi aja?!
"Gue mau tiduran aja, tanpa di ganggu!" Jawab gue sambil membelakangi tu cowok.
Masih nggak peka juga, gue sledding nih!
"Ohh, maaf kalau aku dah gangguin kamu. Tapi bener kamu nggak butuh obat?"
"Hmm."
Terdengar helaan napas dari cowok yang bernama Leon itu. Heran, apa yang buat si Bocil suka sama cowok model kayak dia.
"Ya sudah. Aku pergi dulu ya, Din. Moga cepat sembuh."
Halah, basa basi.
Bocil nggak boleh deket sama tu cowok, pokoknya, Apalagi sampai suka. Nggak ada cowok lain apa? Nggak ada bagus-bagusnya tu cowok.
Ck!
Ini perut dan pinggang gue kapan benernya ya. Sakitnya hilang datang kayak tamu kondangan.
Gue jadi penasaran soal menstruasi. Jadinya gue searching buat cari tahu.
Dan ternyata, nggak hanya sakit perut maupun pinggang. Ada juga sakit kepala, mual, diare, nyeri pada payudara, muncul jerawat, perut terasa kembung, suasana hati yang mudah berubah (mood swing), sama mengalami perubahan terhadap gairah dalam hubungan. .
Wow...
Pantas gue sering denger anak cewek kalau lagi PMS kata mereka bawaannya pengen bunuh orang. Ternyata karena mood mereka berubah kalau lagi datang bulan begini.
Iya juga sih, dari tadi gue ngerasain pengen ngamuk aja bawaannya. Kasihan juga si Bocil tiap bulan ngalami yang beginian.
Berarti kalau bertukar lagi tubuh kami nanti, gue mesti tahu jadwal Bocil datang bulan. Bahaya kan kalau moodnya lagi jelek, bisa habis gue.
Tapi, ngapain gue mesti repot ya?
Dah ah, lebih baik gue tidur sampai pelajaran berakhir.
Dan gue bener-bener ketiduran sampai sekolah tutup. Sampai akhirnya Kania datang kerumah bawain tas gue, dan tentunya tante Sarah marah besar karena tahu anaknya beberapa hari ini malas-malasan di sekolah.
-
-
-
Bersambung...
Jangan lupa like dan komen ya, terima kasih 🙏😊
salahin nggak pake kacamata itu