Sebagai putri kesayangan dari keluarga bangsawan Montclair, Lady Aurelia selalu mendapatkan apa pun yang ia inginkan. Namun, watak keras kepalanya membawa petaka saat ia jatuh cinta pada sang Raja. Demi mewujudkan keinginannya, keluarga Montclair terpaksa merelakan putri tercinta mereka masuk ke istana—bukan sebagai ratu, melainkan hanya sebagai seorang selir.
Kehidupan istana ternyata tak seindah impian Aurelia. Dinginnya sikap Raja dan kekejaman kompetisi antar-selir menghentikan langkahnya secara tragis. Ia tewas terbunuh di tangan selir lain, sementara Raja yang dijunjungnya bahkan tidak sudi melirik jasadnya.
Namun, takdir memberinya kesempatan kedua.
Aurelia terbangun kembali di hari keduanya sebagai selir. Terbangun dari kematian membawa rasa sakit yang membakar sekaligus dendam yang membara. Keras kepala yang dahulu membinasakannya, kini berganti menjadi ambisi yang mematikan. Aurelia bertekad: ia tidak akan mati sia-sia untuk kedua kalinya.
Satu per satu, para selir yang mengh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Klarina_za29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejatuhan Sang Ratu Tanpa Mahkota
Genevieve melangkah keluar dari kamar utamanya dengan gaun sutra mewahnya, wajah mewahnya memucat namun berusaha mempertahankan keangkuhannya. "Yang Mulia! Apa arti kejahatan barbar ini?! Hamba adalah selir tertua di istana ini!"
Julian melangkah maju, mencengkeram leher halus Genevieve dengan tangan kirinya dan mengangkat tubuh wanita itu hingga kakinya terangkat dari lantai. Matanya yang merah menatap Genevieve dengan niat membunuh yang murni.
"Kau meracuni Aurelia," desis Julian di depan wajah Genevieve yang megap-megap kehabisan udara. "Kau membunuhnya!"
Tiba-tiba, seorang kapten pengawal rahasia keluar dari kamar kerja pribadi Genevieve membawa sebuah kotak besi kecil. "Yang Mulia! Kami menemukan sisa ekstrak racun Lotos Merah dan surat transaksi rahasia berstempel Faksi Vance di dalam kotak ini!"
Julian menghempaskan tubuh Genevieve ke lantai pualam dengan kasar. Bukti racun telah ditemukan di tangan pemiliknya.
Sore harinya, Hall of Council diubah menjadi medan persidangan darurat yang mencekam. Seluruh menteri, duke, dan pejabat faksi barat berkumpul di bawah ancaman puluhan prajurit zirah perak yang menghunus pedang berdarah.
Di atas tahta batu, Julian duduk tegap bagaikan iblis pencabut nyawa. Di tengah aula, Genevieve berlutut dengan pakaian yang koyak, didampingi oleh ayahnya, Ketua Dewan Vance, yang berusaha keras membela putrinya.
"Yang Mulia!" seru Ketua Dewan Vance dengan suara lantang, mencoba memanfaatkan pengaruh politiknya. "Penggeledahan ini tidak sah! Bukti racun tersebut bisa saja ditanam oleh pihak musuh yang ingin menjatuhkan Faksi Vance! Putri hamba adalah penguasa Istana Interior selama lima tahun!"
Beberapa menteri faksi barat mulai menyuarakan dukungan. "Benar, Yang Mulia! Tanpa kesaksian langsung dari korban atau bukti otentik pengeluaran kas, kita tidak bisa menjatuhkan hukuman pada Faksi Vance!"
Genevieve menyunggingkan senyum tipis di balik sisa air matanya. Selama Aurelia telah menjadi mayat dan tidak bisa bersaksi, jaringan politik ayahnya masih sanggup membelokkan dakwaan di hadapan Dewan Kerajaan.
"Apakah Anda membutuhkan kesaksian langsung dariku, Lord Vance?"
Suara merdu yang sangat dikenal itu mengalun halus dari arah pintu ganda Hall of Council, memotong seluruh perdebatan dan membuat seluruh isi ruangan membeku seketika!
Pintu ganda Hall of Council terbuka lebar. Aurelia melangkah masuk dengan keanggunan mutlak seorang penguasa sejati. Ia mengenakan gaun malam sutra hitam berlapis sulaman benang emas yang memancar mewah. Wajah pualamnya tampak segar tanpa cela, dan di jari manis tangan kanannya, cincin Blue Sapphire berkilau sangat pekat.
Julian berdiri dari tahtanya, matanya membelalak kaget bercampur rasa lega yang amat luar biasa. "Aurelia...?"
Genevieve dan Ketua Dewan Vance menjerit ketakutan, melangkah mundur bagaikan melihat mayat hidup yang bangkit dari kubur. "T-TIDAK! KAU SUDAH MATI!"
"Aku belum mati, Genevieve," sahut Aurelia tegap, langkah kakinya berdentang teratur di atas lantai pualam. "Namun rencanamu untuk membunuhku telah mengungkap seluruh kejahatanmu ke bawah cahaya terang."
Marta dan Selir Vivienne melangkah di belakang Aurelia membawa sebuah peti kayu besar. Aurelia membuka peti tersebut dan melemparkan isinya ke tengah lantai persidangan.
Berkas-berkas perkamen rahasia dari ruang bawah tanah, surat transaksi racun Vipera Oakhaven, daftar nama pasukan pengkhianat perbatasan, hingga bukti percobaan pembunuhan lima tahun lalu terhampar nyata di hadapan seluruh anggota dewan!
"Ini adalah dokumen asli pengkhianatan Faksi Vance dengan Kerajaan asing Oakhaven!" seru Aurelia dengan suara nyaring yang berwibawa. "Genevieve dan ayahnya tidak hanya mencoba membunuhku, tetapi juga telah menjual jalur logistik perbatasan kerajaan demi merebut tahta!"
Para menteri faksi netral dan militer yang membaca berkas tersebut seketika murka. Bukti pengkhianatan negara itu teramat utuh, rinci, dan membawa stempel basah Faksi Vance yang tak bisa dibantah lagi!
Keheningan yang mematikan melingkupi Hall of Council. Ketua Dewan Vance terduduk lemas di lantai, menyadari bahwa seluruh kekuasaan dan jaringan politik yang ia bangun selama puluhan tahun telah hancur berkeping-keping dalam satu sore.
Raja Julian melangkah turun dari panggung tahta, berjalan mendekati Aurelia. Tanpa mempedulikan pandangan ratusan pejabat dewan, Julian merangkul pinggang Aurelia tegap dan mengecup kening wanita itu dengan rasa syukur yang mendalam.
Julian kemudian memutar tubuhnya, menatap Genevieve dan Faksi Vance dengan pandangan membunuh yang tak terampuni.
"Ketua Dewan Vance dan seluruh kerabat Faksi Vance ditangkap atas tuduhan Pengkhianatan Tingkat Tinggi!" suara Julian menggelegar nyaring memenuhi aula. "Seluruh harta benda mereka disita, dan eksekusi pancung akan dilaksanakan di lapangan ibu kota esok fajar!"
Genevieve meraung dan menangis histeris seraya merangkul kaki Julian. "YANG MULIA! AMPUNI HAMBA! HAMBA MELAKUKAN INI KARENA MENCINTAI ANDA!"
Julian menyibakkan gaunnya dengan jijik. "Cintamu adalah racun, Genevieve."
"Adapun untuk Lady Genevieve," seru Julian tegap, "Gelar selir dan seluruh hak kebangsawannya dicabut! Ia dihukum kurungan seumur hidup di Menara Terisolasi tanpa akses melihat matahari selamanya!"
Dua prajurit zirah perak menyeret Genevieve yang menjerit histeris keluar dari Hall of Council. Faksi Vance—musuh terbesar dan penguasa bayangan istana selama bertahun-tahun—telah runtuh secara total dan memalukan.
Aurelia berdiri tegap di samping Raja Julian di atas panggung kehormatan. Tatapan mata para pejabat dewan kini dipenuhi oleh rasa hormat dan ketakutan yang luar biasa kepada sang putri Montclair. Dengan runtuhnya Faksi Vance, jalan menuju tahta Ratu kini telah terbuka lebar di hadapan Lady Aurelia.
Gema jeritan histeris Genevieve perlahan memudar saat pintu ganda Hall of Council tertutup rapat. Keheningan yang mencekam kini menyelimuti seluruh isi aula pualam. Para pejabat dewan, duke, dan menteri yang sebelumnya berpihak pada Faksi Vance berdiri terpaku dengan wajah pucat pasi, tak berani mengangkat kepala di hadapan aura dominasi mutlak yang memancar dari panggung kehormatan.
Raja Julian memiringkan kepalanya sedikit, memberikan isyarat halus kepada Komandan Pengawal Rahasia. Dalam hitungan detik, puluhan prajurit berzirah perak melangkah tegap mengamankan seluruh sisa anggota faksi barat yang terlibat dalam transaksi rahasia Oakhaven. Tidak ada perlawanan, tidak ada bantahan; kehancuran Faksi Vance telah mengeksekusi keberanian mereka secara mutlak.
Julian memutar tubuhnya sepenuhnya menghadap Aurelia. Tangan kekarnya yang hangat meraih jemari lentik Aurelia, mengusap lembut cincin Blue Sapphire yang melingkar sempurna di jari manis wanita itu. Tatapan mata sang Raja yang sebelumnya dipenuhi amarah membunuh kini melunak, memperlihatkan kedalaman rasa syukur dan kekaguman yang teramat pekat.
"Kau memainkan taktik yang sangat berbahaya hari ini, Aurelia," bisik Julian dengan suara bariton yang rendah dan hanya bisa didengar oleh wanita di hadapannya. "Kau membiarkan aku merasakan neraka kehilanganmu... hanya untuk memancing seluruh musuhmu keluar dari sarangnya."
Aurelia mendongak, membalas pandangan mata kelam Julian dengan senyuman tipis yang teramat anggun dan dingin. "Satu-satunya cara untuk meruntuhkan benteng Faksi Vance hingga ke akarnya adalah dengan membuat mereka percaya bahwa ancaman terbesar mereka telah tiada, Yang Mulia. Kematian palsu hamba adalah harga kecil untuk kemenangan mutlak ini."
Julian terkekeh rendah—sebuah tawa lega yang memecah sisa-sisa ketegangan di dalam dadanya. Jemari besarnya menggenggam erat tangan Aurelia, seolah menegaskan bahwa ia tidak akan pernah membiarkan wanita itu terlepas lagi dari jangkauannya.
"Kau bukan sekadar pemenang di papan catur ini, Lady Montclair," desis Julian seraya mengecup punggung tangan Aurelia di hadapan seluruh anggota dewan yang bersujud. "Kau adalah penguasa sejati yang ditakdirkan untuk berdiri di sampingku."
Seluruh pejabat dewan yang menyaksikan momen sakral tersebut serta-merta membungkuk lebih dalam. Tidak ada lagi keraguan atau pertanyaan mengenai siapa yang memegang kendali atas Istana Interior. Putri dari keluarga Montclair itu telah membuktikan kecerdasan, keberanian, dan kekuatannya untuk melenyapkan faksi terkuat di kerajaan tanpa cela.
Marta dan Selir Vivienne yang berdiri di sudut panggung saling menatap dengan air mata haru yang menggenang di mata mereka. Perjuangan panjang, ancaman racun, dan intrik berdarah yang mereka lalui kini telah membuahkan hasil manis yang tak tergoyahkan.
Aurelia menatap lurus melintasi aula pualam yang megah, menyaksikan sisa-sisa pilar musuhnya yang telah runtuh total. Dendam kehidupan lalunya telah terbayar lunas, dan kini, dengan perlindungan mutlak sang Raja dan dukungan penuh seluruh kerajaan, takdir barunya sebagai Ratu Kerajaan telah terbentang luas di hadapannya.
~ To Be Continue