Seorang anak perempuan bernama Aira harus menelan kenyataan pahit saat orang tuanya memutuskan untuk memasukkannya ke pesantren. Di usianya yang masih belia, ia belum siap berpisah dari rumah, dari kenyamanan, dan dari kasih sayang yang selama ini selalu dekat.
Hari pertama di pesantren menjadi awal dari luka yang tak terlihat. Di balik seragam rapi dansenyum yang dipaksakan, Aira menyimpan tangis yang ia pendam setiap malam. Rasa rindu, kesepian, dan ketakutan perlahan menggerogoti hatinya. Ia bahkan sempat berpikir untuk menyerah dan pulang.
Namun, di tengah air mata itu, Aira mulai menemukan sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya—ketenangan dalam doa, kekuatan dalam ilmu, dan arti dari sebuah perjuangan. Ia belajar bahwa tidak semua perpisahan adalah kehilangan, dan tidak semua tangisan adalah kelemahan.Perjalanan Aira di pesantren bukan hanya tentang menuntut menuntut ilmu, tetapi tentang menemukan jati diri, menguatkan hati,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka sundari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nazwa sakit
Malam merambat makin larut di asrama, namun keheningan kamar terganggu oleh suara rintihan pelan dari sudut ranjang bawah. Nazwa meringkuk di balik selimut tebalnya, tubuhnya menggigil hebat meski udara malam itu terasa hangat. Keringat dingin menetes di pelipisnya, dan napasnya terdengar berat.
Aira yang terbangun oleh gelisah sahabatnya segera bergeser mendekat. Saat telapak tangannya menyentuh dahi Nazwa, Aira tersentak. Panas tubuh Nazwa menyengat, membakar kulitnya.
"Nazwa... Nazwa, kamu kenapa?" bisik Aira panik, matanya membelalak menatap wajah Nazwa yang pucat pasi dan bibirnya yang mengering.
"A-Aira... dingin banget, Ra... dada aku juga sesak..." rintih Nazwa terbata-bata, jemarinya yang gemetar berusaha menggapai tangan Aira.
Rasa takut seketika menyergap dada Aira. Di kamar yang gelap hanya berbantukan remang lampu lorong, ia merasa begitu kecil dan sendirian. Namun, mengingat janji dan kebersamaan mereka selama ini, Aira membuang jauh-jauh rasa paniknya. Ia tak boleh membiarkan sahabatnya berjuang sendiri di tengah malam.
"Bertahan ya, Nazwa. Aira di sini. Aira ndak akan tinggalkan kamu," ucap Aira mantap, meremas lembut jemari Nazwa yang dingin.
Dengan cekatan, Aira beranjak mengambil kain kecil dan baskom berisi air hangat. Ditempelkannya kompres hangat itu ke dahi Nazwa dengan penuh kelembutan. Setiap kali Nazwa meringkuk kesakitan atau mengigil, Aira mengusap punggungnya, membetulkan letak selimutnya, dan membisikkan doa-doa keselamatan di samping telinga sahabatnya.
"Ya Allah... sembuhkan Nazwa... Lindungi Nazwa..." bisik Aira dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Air mata haru dan cemas akhirnya menetes melintasi pipinya, jatuh tepat di jemari Nazwa yang saling bertaut dengannya.
Di saat teman-temannya yang lain tertidur lelap, Aira memilih tetap terjaga. Ia duduk bersimpul di lantai dingin sebelah ranjang, matanya yang sembap enggan terpejam sedetik pun, terus memandangi wajah Nazwa sambil memastikan kompresannya tidak mengering.
Bagi Aira, di balik tembok pesantren ini, Nazwa bukan lagi sekadar teman sekamar—melainkan saudara yang harus ia jaga sepenuh hati, melewati dinginnya malam hingga fajar menyingsing.
--------
Cahaya fajar menyusup pelan melalui celah jendela kamar, menggantikan kegelapan malam yang menegangkan. Di sudut ranjang, Ukhti Maya duduk bersimpuh dengan telaten. Jemarinya yang lembut dengan sabar mengganti kain kompres di dahi Nazwa, lalu menyuapkan sendok demi sendok bubur hangat yang baru saja ia ambil dari dapur pengurus.
Aira yang duduk di sebelah ranjang bernapas lega melihat perhatian seniornya itu. Usaha Aira menjaga Nazwa sepanjang malam kini diteruskan dengan penuh kasih oleh Ukhti Maya.
Nazwa membendung air mata yang sejak tadi menggenang di sudut matanya. Saat melihat Ukhti Maya begitu sabar menyeka sisa air di dagunya tanpa raut lelah sedikit pun, pertahanan Nazwa akhirnya runtuh. Air matanya meleleh membasahi pipi yang masih agak pucat.
"Ukhti Maya... afwan..." isak Nazwa pelan, suaranya parau dan terputus-putus. "Nazwa... Nazwa minta maaf ya, Ukhti... Nazwa cuma buat repot Ukhti Maya sama Aira aja dari semalam..."
Mendengar bisikan penuh penyesalan itu, Ukhti Maya menghentikan gerak tangannya. Ia meletakkan mangkuk bubur ke atas meja kecil, lalu menatap Nazwa dengan binar mata yang begitu teduh.
Ukhti Maya tersenyum—sebuah senyum hangat nan tulus yang seketika menenangkan gemuruh di dada Nazwa.
Diusapnya lembut puncak jilbab Nazwa dan air mata di pipi santri bungsunya itu.
"Hussh... kok bicaranya begitu, Nazwa?" tutur Ukhti Maya dengan nada suara yang sangat halus. "Tidak ada yang direpotkan sama sekali, Nak. Kalian di sini itu sudah seperti adik-adik Ukhti sendiri. Kalau ada yang sakit, ya sudah kewajiban Ukhti dan teman-teman untuk merawat."
"Tapi Ukhti jadi ndak tidur... pasti capek..." bisik Nazwa lagi, menunduk dalam-dalam.
"Ukhti justru senang melihat kebersamaan kalian," lanjut Ukhti Maya sambil melirik Aira yang tersenyum di samping ranjang. "Aira semalaman ndak merem demi jagain kamu, dan Ukhti di sini buat memastikan kamu cepat sembuh. Jadi, tugas Nazwa sekarang cuma satu: habiskan buburnya, minum obat, terus istirahat yang cukup. Jangan mikir yang aneh-aneh lagi, ya?"
Nazwa menatap Ukhti Maya dan Aira bergantian. Rasa hangat melingkupi dadanya, melenyapkan sisa-sisa dingin akibat demam semalam. Dengan mengusap air matanya, Nazwa mengangguk mantap dan perlahan membuka mulutnya untuk menerima suapan bubur berikutnya.
Di dalam kamar yang sederhana itu, duka dan rasa sakit seketika luluh oleh indahnya kasih sayang antar-saudara di balik tembok pesantren.
Kehadiran Ukhti Maya yang penuh kasih sayang menjadi awal dari gelombang perhatian yang mengalir hangat di dalam kamar asrama. Begitu kabar tentang Nazwa yang jatuh sakit tersebar, teman-teman sekamarnya tidak tinggal diam.
Rifa dengan sigap mengambil alih tugas menyapu dan merapikan lemari Nazwa agar kamar tetap bersih dan segar. Sementara itu, Syifa dan Hani bergantian membawakan air hangat dari dapur serta memastikan kipas angin kecil terarah tepat agar Nazwa tidak merasa gerah.
"Nazwa, ini air putih hangatnya diseduh pakai sedikit madu. Kata ibuku dulu, bagus buat mulihin tenaga," ujar Syifa seraya menyodorkan gelas dengan pelan.
"Makasih ya, Syifa... Rifa... Hani..." ucap Nazwa terharu, memandangi teman-temannya yang sibuk lalu-lalang memperhatikannya.
Aira, yang tak pernah beranjak jauh dari sisi ranjang, tersenyum lega. "Tuh kan, Nazwa. Banyak yang sayang sama kamu di sini. Kamu tinggal fokus istirahat saja."
Setiap kali jam istirahat tiba, suasana kamar menjadi hangat oleh canda tawa pelan dari teman-temannya yang berusaha menghibur Nazwa agar tidak merasa bosan. Ada yang menceritakan kejadian lucu saat pelajaran di kelas, ada pula yang membagikan biskuit dan buah-buahan hasil bawaan orang tua mereka.
Berkat perawatan telaten dari Ukhti Maya, penjagaan tak kenal lelah dari Aira, serta perhatian dan doa yang tulus dari seluruh teman sekamarnya, daya tahan tubuh Nazwa perlahan kembali membara. Wajahnya yang semula pucat pasi berangsur rona merah, dan gurat senyum cerianya kembali menghiasi kamar.
Hanya dalam kurun waktu dua hari, Nazwa sudah bisa duduk tegak, tertawa lepas bersama Aira, dan bersiap kembali menyusuri lorong-lorong pesantren dengan langkah kaki yang segar bugar.
" sejauh apapun kita melangkah, seberat apapun masalah jika dihadapi bersama orang orang yang tulus maka akan menjadi lebih muda"