“Bagaimana hafalanmu?"
“Susah! Bisakah dikurangi hafalannya!”
“Pakaianmu boleh diskon. Tapi urusan agama, jangan sampai ikut didiskon.”
Kayla Aurora adalah gadis cantik dengan dunia yang bebas, akrab dengan mabuk, klub malam, dan balap liar.
Aturan bukan temannya, apalagi nasihat agama. Hingga sebuah keputusan memaksanya masuk ke pondok pesantren.
Tempat yang terasa seperti penjara,
penuh hafalan, disiplin, dan larangan yang membuatnya tersiksa.
Di sanalah Kayla bertemu Hanan, lelaki tenang dengan kesabaran yang tak mudah habis.
Alih-alih menghakimi, Hanan memilih membimbing. Bukan dengan paksaan, melainkan dengan pengertian dan doa.
Di antara pelajaran yang memberatkan dan hati yang perlahan dilunakkan,
benih cinta pun tumbuh… bersamaan dengan iman yang mulai menemukan jalannya.
Karena terkadang,
Allah mempertemukan dua insan bukan untuk menyamakan dunia, melainkan untuk saling mendekatkan kepada-Nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy_Ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Hari demi hari berlalu. Yang awalnya terasa seperti keputusan mendadak, perlahan berubah menjadi rangkaian persiapan yang nyata.
Dari memilih tanggal akad, menyiapkan administrasi, mengurus keluarga yang datang dari luar kota, hingga memilih tempat acara.
Semua berjalan begitu cepat. Minggu demi minggu berlalu tanpa terasa.
Dan kini… Hari yang ditunggu akhirnya tiba. Di lantai atas hotel, di sebuah ruang make up yang cukup luas, Kayla sedang duduk di depan cermin besar.
Tangannya saling menggenggam di atas pangkuan. Jemarinya terasa dingin. Jantungnya berdetak cepat. Ia bahkan bisa mendengar detak jantungnya sendiri.
Kayla mengenakan gaun pengantin berwarna putih yang anggun. Gaun itu sederhana namun sangat elegan, dengan detail renda halus di bagian lengan dan dada.
Kerudung panjang menjuntai dari kepalanya hingga hampir menyentuh lantai. Di atas kerudung itu bertengger mahkota kecil yang berkilau lembut.
Riasan wajahnya membuatnya terlihat semakin cantik, namun tetap lembut dan tidak berlebihan.
Kayla menatap bayangannya di cermin. Ia hampir tidak mengenali dirinya sendiri.
Benarkah ini dirinya? Gadis yang dulu sering merasa hidupnya berantakan… Sekarang akan menjadi seorang istri.
“Cieeee… nikah.” Suara itu tiba-tiba terdengar dari belakangnya.
Kayla langsung menoleh sedikit. Adel berdiri di belakangnya dengan tangan menyilang di dada dan senyum jahil di wajahnya.
“Del…” Kayla mendengus pelan. “Diem, gue lagi gugup!”
Adel langsung menutup mulutnya menahan tawa. “Ppfftt—”
Ditha yang berdiri di samping Adel ikut menahan tawa juga.
“Maaf… maaf…” kata Adel sambil mengangkat kedua tangannya.
Namun jelas sekali wajahnya masih menahan geli. Kayla kembali menatap cermin. Ia menghela napas panjang.
“Serius… gue deg-degan banget.”
Adel akhirnya berjalan mendekat, berdiri tepat di belakang kursi Kayla.
Ditha juga ikut mendekat. Kini mereka bertiga terlihat di dalam pantulan cermin.
Kayla duduk di depan, sementara dua sahabatnya berdiri di belakang. Adel memandang Kayla beberapa detik. Lalu wajahnya berubah sedikit lebih serius.
“Tapi serius ya, Kay…” ucapnya pelan. Kayla menoleh sedikit. Adel tersenyum lembut. “Gue seneng akhirnya lo nemuin rumah baru.”
Kalimat itu membuat Kayla terdiam. Ditha ikut mengangguk setuju.
“Iya, Kay.” Ia meletakkan tangannya di bahu Kayla dengan lembut. “Rumah yang akan selalu jadi tujuan lo pulang.”
Kayla menatap mereka melalui cermin. Matanya mulai terasa hangat. Ditha melanjutkan dengan suara yang tulus.
“Dan gue berharap… Ustadz Hanan benar-benar bisa menjadi rumah itu buat lo.”
Beberapa detik ruangan itu menjadi hening. Kayla menunduk sedikit. Air mata tipis mulai menggenang di sudut matanya. Namun kali ini bukan karena kesedihan. Melainkan karena rasa syukur.
“Aminnn…” bisiknya pelan. Kayla lalu meraih tangan Adel dan Ditha. Ia menggenggam tangan kedua sahabatnya erat.
“Thanks ya…” Suaranya sedikit bergetar. “Kalian selalu ada buat gue.”
Adel langsung mencibir kecil untuk menutupi perasaannya.
“Yaelah…” Ia mengusap hidungnya sendiri. “Jangan bikin suasana jadi mellow gitu dong.”
Ditha malah tertawa kecil. “Tuh kan, Adel juga mau nangis.”
“Apaan sih!” protes Adel cepat.
**
Sementara itu, di aula utama hotel, suasana sudah jauh lebih ramai. Para tamu undangan memenuhi hampir seluruh kursi yang telah disusun rapi menghadap ke arah pelaminan.
Suara percakapan pelan bercampur dengan alunan musik instrumen yang dimainkan lembut oleh pemain biola di sudut ruangan.
Dekorasi aula terlihat sangat indah.
Dominasi warna putih dan cream membuat ruangan tampak elegan dan menenangkan. Rangkaian bunga segar menghiasi hampir setiap sudut, dari pintu masuk hingga ke panggung pelaminan. Lampu-lampu gantung kristal berkilau di langit-langit, memantulkan cahaya hangat yang membuat suasana terasa sakral.
Di bagian depan aula, tepat di meja akad yang sudah dihias dengan bunga dan kain putih, beberapa orang telah duduk dengan posisi yang rapi.
Hanan duduk di salah satu kursi dengan punggung tegak.
Ia mengenakan jas akad berwarna putih gading dengan peci hitam yang membuatnya terlihat semakin berwibawa. Wajahnya terlihat tenang, namun siapa pun yang memperhatikannya dengan saksama bisa melihat bahwa napasnya sedikit lebih berat dari biasanya.
Tangannya saling menggenggam di atas paha. Sesekali ia menghela napas perlahan, mencoba menenangkan dirinya sendiri.
Di sebelahnya duduk Kyai Hasan, yang tampak khusyuk sambil sesekali melirik putranya dengan senyum penuh kebanggaan.
Di sisi lain meja akad, Om Arman duduk dengan wajah serius namun tenang. Hari ini, pria itu mendapat tanggung jawab besar.
Damar… ayah kandung Kayla… benar-benar tidak datang. Sejak awal keluarga sudah mencoba menghubunginya, namun tidak ada kabar. Bahkan hingga pagi hari ini, pria itu tetap tidak muncul.
Karena itulah, wali nikah Kayla akhirnya digantikan oleh Arman. Bagi Arman, ini bukan sekadar tugas formal. Ini adalah tanggung jawab yang ia terima dengan sepenuh hati.
Di samping mereka duduk dua orang saksi yang sudah ditunjuk. Sementara penghulu duduk di tengah dengan berkas pernikahan di tangannya.
Seluruh tamu kini mulai diam. Beberapa kamera dari fotografer dan videografer sudah siap mengabadikan momen penting itu.
Penghulu memulai dengan beberapa nasihat pernikahan.
Suaranya tenang dan penuh wibawa, menjelaskan tentang tanggung jawab seorang suami, tentang sakinah, mawaddah, dan rahmah yang diharapkan dalam sebuah rumah tangga.
Hanan mendengarkan dengan penuh perhatian. Namun di dalam hatinya, ia juga sedang berdoa.
Semoga semuanya berjalan lancar. Semoga ia benar-benar bisa menjaga amanah ini. Setelah nasihat selesai, penghulu kemudian menoleh kepada Arman.
“Baik, kita mulai akadnya.”
Arman mengangguk pelan. Ia menggeser duduknya sedikit lebih dekat ke arah Hanan. Tangan mereka saling bertemu untuk berjabat.
Pegangan itu kuat. Tegas. Beberapa tamu bahkan ikut menahan napas. Suasana aula mendadak sangat hening. Hanya suara kamera yang sesekali berbunyi pelan. Penghulu kemudian memandu dengan suara jelas.
“Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau, Muhammad Hanan al-fatah bin Hasan al-fatah, dengan Kayla Aurora binti Damar Perwira, dengan mas kawin seperangkat alat sholat, cincin Cartier sepuluh karat dan uang sebesar dua ribu dua puluh enam dirham, dibayar tunai.”
Hanan menarik napas sebentar. Lalu dengan suara yang mantap ia menjawab,
“Saya terima nikah dan kawinnya, Kayla Aurora binti Damar Perwira, dengan mas kawin seperangkat alat sholat, cincin Cartier sepuluh karat dan uang sebesar dua ribu dua puluh enam dirham dibayar tunai.”
Kalimat itu keluar dengan lancar. Jelas. Tidak terputus. Hening sejenak. Semua orang menunggu. Penghulu kemudian menoleh kepada para saksi.
“Bagaimana saksi?”
Dua orang saksi langsung mengangguk bersamaan.
“Sah!”
“Sah!”
Suasana aula langsung berubah. Beberapa tamu tersenyum lega. Sebagian bahkan bertepuk tangan kecil.
“Alhamdulillah…” terdengar suara syukur dari beberapa sudut ruangan.
Kyai Hasan mengangkat kedua tangannya sebentar sambil mengucap syukur. Di kursinya, Hanan akhirnya menghembuskan napas panjang yang sejak tadi ia tahan.
Rasa lega memenuhi dadanya.
Kini… Kayla benar-benar telah menjadi istrinya. Penghulu kemudian mengangkat kedua tangannya.
Penghulu mulai melantunkan doa-doa dengan suara khusyuk, memohon keberkahan untuk rumah tangga yang baru saja terbentuk itu.
Memohon agar pernikahan mereka dipenuhi ketenangan, kasih sayang, dan rahmat dari Allah.
Doa yang dipanjatkan penghulu akhirnya selesai. Para tamu perlahan mengangkat kepala mereka. Suasana di aula terasa hangat dan penuh kebahagiaan.
Beberapa tamu mulai saling berbisik pelan, mengucapkan selamat kepada keluarga mempelai pria. Fotografer yang sejak tadi menunggu momen penting itu mulai mengambil beberapa gambar Hanan yang masih duduk di meja akad.
Hanan sendiri masih merasakan sisa ketegangan yang perlahan berubah menjadi rasa lega.
Tangannya yang tadi sempat sedikit gemetar kini sudah lebih tenang. Ia mengusap telapak tangannya sebentar di paha, lalu menghela napas panjang.
Selesai sudah. Akadnya sah. Sekarang Kayla benar-benar menjadi istrinya. Di sampingnya, Kyai Hasan menepuk bahu putranya dengan bangga.
“Alhamdulillah,” ucapnya pelan.
Hanan menoleh kepada ayahnya dan tersenyum.
“Alhamdulillah, Bah.”
Di sisi lain, Arman juga terlihat lebih santai sekarang. Wajahnya yang tadi serius kini berubah menjadi lega. Namun suasana aula kembali hening ketika salah satu panitia memberi isyarat kepada pembawa acara.
“Baik hadirin sekalian,” suara MC terdengar melalui pengeras suara dengan lembut. “Setelah prosesi akad nikah yang telah berlangsung dengan lancar, kini kita akan menyaksikan kehadiran mempelai wanita.”
...____...
...Lagi gak nih? Tinggalkan jejak yaaa. ...
...Kalau ramai, jam 12 nanti Mommy update lagi, kita kondangan siang2 🤣🤣🤣...
smoga aja gak terjadi apa²,,,
mending lupakan....jgn di inget atau di ingatkan kmbali....
klau dia GK dpt perhatian ayh ibu nya
trus kalau GK ktmu Hanan dia ma spa.....beda dgn kmu dong...
dia idup sndiri Slma ini.....kmu.... ada ibu kn....ma ayah mu dia GK...
pnya BP juga gila.....
udh nurut aj kata mama mu
ntar durhaka lho...
sudah menikahpun mau berkumpul dgn mamanya terpisah jarak