Cinta kadang dapat membutakan mata seseorang, itu juga yang terjadi pada Ivy. Cinta membuatnya buta hingga tega merebut tunangan saudara kembarnya sendiri.
Ivy memang berhasil, pertunangan Mateo dan Evelyn dibatalkan dan dia berhasil menikahi Mateo. Tapi sayangnya pria itu tidak pernah mencintai Ivy. Mateo melakukan banyak hal untuk menyakit hati Ivy bahkan dia juga berselingkuh hanya agar Ivy lebih terluka. Tapi Ivy selalu memaafkan Mateo.
Hingga hari itu Ivy benar-benar berhenti mencintai Mateo. Sejak Mateo lebih memilih menemani selingkuhannya dibandingkan mengantarkan putri mereka ke rumah sakit. Hingga akhirnya Ivy harus kehilangan putrinya untuk selamanya. Sejak saat itu, cinta Ivy lenyap dan dia akhirnya memilih bercerai dan meninggalkan Mateo.
Saat Ivy berpikir dia sendirian dan tak punya tempat untuk pulang, Edgar datang memberikan cahaya untuknya. Awalnya Ivy berpikir jika Edgar hanyalah pria biasa. Tapi ternyata identitas Edgar tidak sesederhana itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nitaastri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 Pertemuan pertama Ivy dengan kakek dan Nenek Edgar 2
Begitu mereka masuk ke rumah, seorang wanita tua dengan rambut putih yang ditata rapi segera datang dari ruang makan.
Nenek Veronica tersenyum begitu melihat Ivy.
"Jadi ini Ivy?"
Ivy segera membungkuk sopan.
"Selamat malam, Nyonya." Sapa Ivy lalu meraih tangan nenek Veronica dan menciumnya.
Nenek Veronica langsung memegang kedua pipi Ivy dengan penuh kasih.
"Astaga kau jauh lebih cantik daripada yang diceritakan Edgar!" Ucap nenek Veronica dengan antusias.
Edgar mengerutkan keningnya bingung, kapan dia menceritakan hal itu. Mengatakan jika dia memiliki kekasih saja tidak pernah.
"Aku tidak pernah mengatakan dia tidak cantik." Ujar Edgar
Nenek Veronica bahkan tidak meliriknya.
"Ivy ayo, makan malam sudah disiapkan."
"Tapi, nyonya.."
"Ayo, kau pasti sudah lapar."
Nenek Veronica menggandeng tangan Ivy dan membawanya menuju meja makan.
Edgar berdiri di belakang mereka.
"Granma..."
Tidak ada jawaban.
"Granma, aku juga belum makan."
Tetap tidak ada jawaban, kakek James bahkan ikut berjalan melewati Edgar.
"Edgar, kau sudah besar. Bisa mengambil makanan sendiri."
Edgar terdiam, dia menatap punggung kakek dan neneknya dengan ekspresi tidak percaya.
"Jadi sekarang aku bukan cucu kalian lagi?"
Tidak ada yang menjawab, Ivy menahan tawanya.
Malam itu, meja makan dipenuhi berbagai hidangan.
Begitu Ivy duduk, Veronica langsung mengambilkan makanan untuknya.
"Ivy, kau suka ayam?"
"Ya, nyonya."
"Kalau ikan?"
"Saya juga suka."
"Sayuran?"
Ivy tersenyum.
"Saya suka hampir semuanya."
Nenek Veronica terlihat sangat puas.
"Bagus! Tapi jangan bilang kau suka semuanya. Aku harus tahu makanan favoritmu."
"Makanan favorit saya?"
"Ya."
Veronica menatap Ivy penuh perhatian.
"Supaya nanti kalau kau datang lagi, aku bisa meminta pelayan menyiapkannya."
Ivy terdiam sejenak.
Entah kenapa, pertanyaan sederhana itu membuat dadanya terasa hangat.
Sudah lama tidak ada seseorang yang begitu memperhatikan hal-hal kecil tentang dirinya.
"Saya menyukai semua makanan rumahan yang di masak dengan sederhana" Ivy tersenyum lembut.
Nenek Veronica langsung mengangguk penuh semangat.
"Baik! Aku akan mengingatnya."
Kakek James ikut menyela.
"Kalau begitu besok kita minta koki membuat semua makanan kesukaan Ivy."
Nenek Veronica menggeleng.
"Tidak."
James bingung.
"Kenapa?"
"Aku sendiri yang akan membuatnya."
Kakek James tertawa.
"Baiklah."
Nenek Veronica kemudian menatap Ivy lagi.
"Oh, ngomong-ngomong, besok kau ada acara?"
Ivy menggeleng.
"Tidak ada, Nyonya."
"Bagus!"
Mata Veronica langsung berbinar.
"Kalau begitu, ayo kita membuat kue bersama."
Ivy tersenyum.
"Membuat kue?"
"Ya, aku sangat suka membuat kue. Biasanya Edgar tidak pernah mau membantuku."
Edgar langsung menyela.
"Granma, aku pernah membantu."
Nenek Veronica menoleh kepadanya.
"Dan kau menghancurkan adonan." Kata nenek Veronica kesal.
"Itu hanya sekali." sanggah Edgar.
"Dan kau membuat dapur berantakan." Tambah nenek Veronica.
"Itu juga hanya sekali." ucap Edgar.
James tertawa keras, Edgar menghela napas.
Nenek Veronica kembali menatap Ivy.
"Bagaimana? Mau menemaniku besok?" Tanya nenek Veronica.
"Tentu saja." Jawab Ivy sambil mengangguk.
"Bagus!"
Nenek Veronica terlihat begitu bahagia, akhirnya impiannya untuk memiliki cucu perempuan terwujud juga.
"Kita akan membuat kue bersama, setelah itu kita minum teh di taman."
Ivy mengangguk.
"Baik, Nyonya."
Senyum Veronica semakin lebar.
"Dan satu lagi."
"Ya?"
"Berhenti memanggilku nyonya, mulai sekarang panggil aku Granma." ucap nenek Veronica lembut dengan senyum hangat.
Ivy tersenyum haru, rasanya dia masih tidak menyangka jika kakek dan nenek Edgar akan menerimanya sehangat ini.
"Baik, Granma." Jawab Ivy pelan, kali ini panggilan itu terasa begitu hangat di telinganya.
Nenek Veronica kemudian menunjuk Kakek James.
"Dan panggil dia Granpa." Tambah nenek Veronica.
Kakek James ikut tersenyum.
"Benar, Mulai sekarang kau bukan lagi sekedar kekasih Edgar," Ucap nenek Veronica dengan senyum hangat. " Mulai sekarang kau adalah cucu perempuan kami, jadi jangan sungkan lagi kalau kau berada di rumah ini, karena ini adalah rumah kakek dan nenekmu."
Ivy terdiam, kalimat sederhana itu membuat matanya sedikit berkaca-kaca.
"Cucu perempuan..." lirih Ivy sambil tersenyum haru. "Terimakasih Granpa, terimakasih Granpa."
Nenek Veronica tersenyum semakin lebar.
Ivy merasa sangat terharu, selama ini dia hampir tidak pernah merasakan kehangatan keluarga seperti ini.
Kakek James yang menyadari perubahan ekspresi Ivy segera tersenyum lembut.
"Mulai sekarang, jangan merasa sebagai orang asing di rumah ini." Ucap kakek James.
Nenek Veronica mengangguk.
"Benar, kau sudah menjadi bagian dari keluarga kami."
Ivy tersenyum sambil mengangguk.
"Terima kasih, Granma. Terima kasih, Granpa."
Sementara itu, Edgar yang duduk di seberang mereka hanya menatap kakek dan neneknya dengan wajah datar.
Perasaannya mulai tidak enak, sepertinya kakek dan neneknya berencana untuk merebut Ivy darinya.
Kedua orang tua itu bahkan sejak tadi tidak ada seorang pun yang bertanya kepadanya apakah dia sudah makan. Bahkan mereka sama sekali tidak menawari Edgar makan, Edgar di anggap seperti orang asing malam ini.
Bahkan ketika Edgar mencoba mengambil lauk, Kakek James justru mengambil piring tersebut terlebih dahulu dan memberikannya kepada Ivy.
"Ivy, coba ini. Enak."
"Terima kasih, Granpa."
Edgar menatap kosong, Itu makanan yang hendak dia ambil.
"Granpa..."
Kakek James menoleh.
"Apa?"
"Itu tadi mau aku ambil."
Kakek James mengangkat bahu acuh.
"Ambil yang lain." Ucapnya.
Edgar menghela napas panjang, kemudian dia melihat Ivy yang sedang berbicara akrab dengan Nenek Veronica.
Untuk pertama kalinya malam itu, Edgar menyadari sesuatu.
Membawa Ivy menemui kakek dan neneknya ternyata adalah keputusan yang sangat buruk...
Bukan karena mereka tidak menyukai Ivy.
Justru sebaliknya.
Mereka terlalu menyukai Ivy.
Bahkan mungkin lebih menyukai Ivy daripada cucu mereka sendiri.
Edgar tersenyum kecil.
Namun, melihat Ivy yang kini tertawa bersama kakek dan neneknya, hatinya terasa hangat.
Jika mereka bisa membuat Ivy merasa memiliki keluarga lagi, Edgar tidak keberatan jika untuk sementara dirinya harus menjadi cucu yang terlupakan.
Bersambung