PERANG TANPA PAHLAWAN
Ardan hanyalah seorang pemuda biasa dari desa kecil yang tidak pernah membayangkan dirinya akan menginjakkan kaki di medan perang. Ia bukan bangsawan, bukan kesatria terpilih, dan tidak memiliki kekuatan istimewa. Baginya, kehidupan sederhana bersama keluarga sudah lebih dari cukup.
Namun semuanya berubah ketika perang pecah dan desanya menjadi salah satu korban pertama. Kehilangan rumah dan keluarganya membuat Ardan bergabung dengan militer, bukan demi kejayaan, melainkan hanya untuk bertahan hidup.
Di medan perang, ia menemukan kenyataan yang jauh lebih mengerikan daripada cerita tentang kepahlawanan. Ia menyaksikan sahabat-sahabatnya gugur, desa-desa terbakar, dan ribuan manusia saling membunuh tanpa benar-benar memahami alasan mereka berperang.
Seiring waktu, Ardan naik pangkat dari prajurit biasa hingga menjadi seorang komandan. Setiap kenaikan pangkat memberinya kekuasaan lebih besar, tetapi juga tanggung jawab yang semakin berat. Setiap perintah yang ia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon areann._, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9 — Sersan Ardan
Tiga minggu masa istirahat di Karhold berjalan lebih cepat daripada yang Ardan harapkan, dipenuhi latihan tambahan, perawatan luka lama, dan momen-momen langka untuk sekadar bernapas tanpa ancaman kematian mengintai di setiap sudut.
Menjelang akhir masa istirahat, Kapten Orwin memanggilnya sekali lagi ke tenda komando, kali ini dengan seorang perwira senior lain yang belum pernah Ardan temui—seorang mayor dengan seragam yang menunjukkan pangkat lebih tinggi dari siapa pun yang biasa berinteraksi dengannya.
"Ardan, ini Mayor Feren, dari markas pusat," Orwin memperkenalkan. "Ia datang untuk meninjau laporan dari Sungai Aldis."
Mayor Feren, lelaki berusia lima puluhan dengan sorot mata tajam yang mengingatkan Ardan pada elang, menatapnya dengan penilaian yang teliti. "Kopral Ardan. Aku sudah membaca laporan tentangmu—insting bertarung, kemampuan memimpin di bawah tekanan, dan keputusan kontroversial soal pengungsi Ravharn."
Ardan tegang, tidak yakin ke arah mana percakapan ini akan mengarah. "Saya bertindak sesuai dengan yang saya yakini benar, Mayor."
"Aku tidak di sini untuk menghukummu, Kopral. Sebaliknya." Feren tersenyum tipis, ekspresi yang terasa lebih seperti perhitungan daripada kehangatan. "Aku di sini untuk mempromosikanmu."
Ardan terdiam, kata-kata itu membutuhkan waktu untuk meresap.
"Dengan gugurnya Sersan Halric dan performa regu di bawah komandomu, markas pusat memutuskan kau layak menerima pangkat Sersan," lanjut Feren. "Kau akan memimpin regu yang lebih besar, dengan tanggung jawab yang jauh lebih luas."
"Saya... saya merasa terhormat, Mayor. Tapi saya baru menjadi kopral selama dua bulan."
"Perang tidak menunggu jenjang karier normal, Ardan." Orwin ikut bicara, suaranya penuh keyakinan. "Aku sudah merekomendasikanmu secara pribadi. Aku percaya kau siap."
Upacara promosi diadakan dengan sederhana di lapangan utama Karhold, disaksikan oleh regu lamanya dan beberapa perwira senior. Ketika lencana sersan disematkan di bahunya, menggantikan lencana kopral yang telah ia kenakan selama dua bulan terakhir, Ardan merasakan berat baru yang berbeda dari sebelumnya.
Tobin dan Kael berdiri di barisan depan, wajah mereka campuran bangga dan sedikit cemas.
"Sersan Ardan," gumam Kael setelah upacara, mencoba kata-kata itu di lidahnya. "Terdengar aneh, tapi juga pas entah bagaimana."
"Terlalu cepat," jawab Ardan, masih merasa tidak nyata. "Aku bahkan belum sepenuhnya menguasai peran kopral."
"Kau selalu meremehkan dirimu sendiri," kata Farin, yang kini juga hadir sebagai bagian dari regu lamanya. "Tapi kami semua melihatnya. Kau memimpin dengan cara yang membuat orang ingin mengikuti, bukan karena takut, tapi karena percaya."
Dengan promosi ini, regu Ardan bertambah besar—dari delapan menjadi lebih dari dua puluh prajurit, gabungan dari regu lamanya ditambah rekrut baru dari gelombang pelatihan terbaru Karhold. Tanggung jawab yang bertambah terasa seperti gunung yang menjulang di depannya, tapi ia juga merasakan sesuatu yang lain—tekad yang semakin mengeras, dibentuk oleh setiap kehilangan dan pembelajaran sejak Elar terbakar.
Di antara rekrut baru yang bergabung dengan regunya, seorang perempuan muda bernama Serena menonjol dari yang lain.
Berbeda dari kebanyakan rekrut yang berasal dari keluarga petani atau pedagang, Serena membawa dirinya dengan keanggunan yang mengisyaratkan latar belakang bangsawan, meski seragam prajuritnya sama sederhananya dengan yang lain. Matanya tajam dan penuh perhitungan, dan ia sering memandang rendah instruksi-instruksi dasar seolah hal itu berada di bawah martabatnya.
"Kau Sersan baru?" tanyanya pada hari pertama, nadanya lebih menantang daripada hormat. "Aku dengar kau dulu petani."
"Benar," jawab Ardan tenang, tidak terpancing oleh nada suaranya.
"Menarik." Serena mengangkat alis, ekspresinya sulit dibaca. "Aku Serena, dari keluarga Aldric. Ayahku adalah salah satu penasihat dekat Raja."
"Selamat datang di regu, Prajurit Serena. Di sini, pangkat keluarga tidak menentukan tugas jaga malam."
Untuk sesaat, ekspresi Serena berubah—terkejut, mungkin sedikit tersinggung—sebelum akhirnya sesuatu yang mendekati rasa hormat muncul di matanya. "Baiklah, Sersan. Kita lihat apakah kau memang seistimewa yang dikatakan orang-orang."
Interaksi pertama itu menjadi pertanda dari dinamika yang akan berkembang antara mereka—Serena yang awalnya memandang rendah latar belakang sederhana Ardan, namun perlahan mulai menghormatinya seiring waktu, meski keduanya masih harus melalui banyak gesekan sebelum mencapai titik itu.
Malam sebelum keberangkatan kembali ke garis depan—kali ini bukan ke Sungai Aldis, melainkan ke front baru di dekat perbatasan Sylvaris, tempat pertempuran semakin memanas sejak keterlibatan bangsa elf—Ardan berdiri sendirian di puncak tembok Karhold, menatap ke arah barat, ke arah yang mungkin masih menyimpan reruntuhan Elar.
Kapten Orwin bergabung dengannya, membawa dua cangkir teh hangat.
"Kau siap untuk ini?" tanya Orwin, menyerahkan satu cangkir.
"Saya tidak yakin ada yang benar-benar siap, Kapten. Seperti yang selalu dikatakan semua orang pada saya."
Orwin tertawa kecil, suara langka yang jarang terdengar dari perwira yang biasanya serius itu. "Kau belajar cepat." Ia menyesap tehnya, menatap cakrawala yang sama dengan Ardan.
"Aku ingin kau tahu sesuatu, Sersan. Aku telah melihat banyak prajurit naik pangkat selama karierku. Kebanyakan berubah menjadi orang yang berbeda seiring bertambahnya tanggung jawab—beberapa menjadi lebih keras, beberapa menjadi terputus dari mereka yang mereka pimpin."
"Dan saya, Kapten?"
"Kau tetap menjadi dirimu sendiri, hanya dengan lebih banyak orang yang mempercayaimu untuk menjaga mereka." Orwin menatapnya dengan sesuatu yang mendekati kebanggaan seorang ayah. "Itu langka, Ardan. Jangan pernah kehilangan itu, apa pun yang terjadi di front berikutnya."
Ardan mengangguk, menyimpan kata-kata itu di tempat yang sama ia simpan pesan terakhir Halric.
Besok, mereka akan berangkat ke medan perang baru, menghadapi tantangan yang belum bisa ia bayangkan sepenuhnya.
Tapi untuk malam ini, dengan lencana sersan baru di bahunya dan sahabat-sahabat yang telah bertahan bersamanya sejauh ini, ia merasa—untuk pertama kalinya sejak Elar terbakar—siap menghadapi apa pun yang menanti.
Perjalanan menuju perbatasan Sylvaris membawa mereka melewati wilayah Valdren yang belum pernah Ardan lihat sebelumnya, hutan-hutan lebat yang berbeda jauh dari lembah pertanian tempat Elar dulu berada.
Resimen Ketiga, kini dengan Ardan sebagai salah satu sersannya, bergabung dengan dua resimen lain dalam perjalanan menuju garis pertahanan baru.
Total pasukan yang bergerak mencapai lebih dari dua ribu prajurit, jumlah terbesar yang pernah Ardan lihat bergerak bersama.
"Kenapa Valdren mengirim begitu banyak pasukan untuk membantu Sylvaris?" tanya Serena suatu hari, berjalan di samping Ardan dengan nada yang lebih penuh rasa ingin tahu daripada tantangan seperti biasanya. "Bukankah Sylvaris sebelumnya menolak terlibat dalam perang kita?"
"Mungkin karena musuh yang sama mengancam kita berdua," jawab Ardan, meski di benaknya, kata-kata Elowen tentang "musuh sesungguhnya" masih terngiang. "Atau mungkin ada alasan lain yang belum kita ketahui."
"Kau bicara seperti orang yang mencurigai sesuatu."
Ardan menatapnya, mempertimbangkan berapa banyak yang harus ia ungkapkan. "Aku hanya memperhatikan pola, Serena. Setiap front baru selalu dimulai dengan 'serangan tanpa provokasi'. Aneh, bukan, betapa seringnya provokasi itu tidak pernah benar-benar bisa dijelaskan?"
Serena terdiam, matanya menyipit dalam pikiran. "Ayahku pernah menyebutkan sesuatu semacam itu, dalam salah satu suratnya. Ia bilang ada pihak-pihak di istana yang mendapat keuntungan besar dari perang yang berkepanjangan. Aku pikir itu hanya gosip politik biasa."
"Mungkin memang begitu," kata Ardan, meski keraguan dalam suaranya jelas terdengar. "Atau mungkin tidak."
Malam ketiga perjalanan, mereka mendirikan kemah di dekat hutan yang menandai batas wilayah Sylvaris.
Bahkan dari kejauhan, Ardan bisa merasakan perbedaan di udara—lebih segar, lebih hidup, seolah hutan itu sendiri bernapas dengan cara yang tidak pernah ia rasakan di hutan-hutan manusia.
Kael, yang selalu tertarik pada hal-hal aneh dan baru, tidak bisa menyembunyikan kekagumannya. "Kau bisa merasakannya? Seperti ada... sesuatu di udara ini."
"Sihir Sylvaris," jelas seorang prajurit veteran yang pernah bertugas di wilayah ini sebelumnya. "Hutan-hutan mereka dijaga oleh penyihir druid selama berabad-abad. Konon, pohon-pohon di sini bisa hidup ribuan tahun, dan beberapa bahkan punya kesadaran sendiri."
"Pohon yang sadar?" Tobin terdengar skeptis. "Itu terdengar seperti dongeng anak-anak."
"Tunggu sampai kau melihatnya sendiri," jawab veteran itu dengan senyum misterius sebelum berjalan pergi.
Ardan menatap ke arah hutan yang semakin gelap seiring malam turun, memikirkan liontin pemberian Elowen yang masih tersimpan di antara barang-barangnya.
Ia bertanya-tanya apakah mereka akan bertemu Elowen lagi, dan jika ya, apa jawaban yang mungkin ia berikan atas pertanyaan yang telah lama menghantuinya.
Keesokan paginya, mereka memasuki wilayah perbatasan Sylvaris secara resmi, disambut oleh pasukan elf yang telah menunggu di gerbang hutan alami yang terbentuk dari pohon-pohon raksasa yang saling melengkung membentuk lengkungan hidup.
Komandan pasukan Sylvaris, seorang lelaki tinggi bernama Thalion dengan rambut keemasan dan mata sebiru langit musim panas, menyambut para perwira Valdren dengan formalitas yang kaku namun sopan.
"Kalian datang lebih cepat dari yang kami perkirakan," katanya, suaranya membawa aksen yang berbeda namun jelas.
"Ravharn telah mendorong maju dalam seminggu terakhir. Kami membutuhkan setiap bantuan yang bisa kami dapatkan."
Kapten Orwin melangkah maju untuk membahas strategi dengan Thalion, sementara para prajurit lain mulai mendirikan kemah di area yang telah disediakan, berdampingan dengan pasukan Sylvaris untuk pertama kalinya.
Ardan memperhatikan bagaimana prajurit elf bergerak—lebih ringan, lebih anggun, namun tidak kalah mematikan saat ia menyaksikan sesi latihan singkat di antara mereka.
Panah-panah mereka melesat dengan presisi yang membuat bahkan Kael terkesima.
"Aku pikir aku cukup baik dengan busur," gumam Kael, menyaksikan seorang pemanah elf mengenai target kecil dari jarak yang mustahil bagi manusia biasa. "Sekarang aku merasa seperti anak kecil yang baru belajar."
"Mungkin kita bisa belajar dari mereka," saran Ardan.
Sore itu, ketika Ardan sedang memeriksa perlengkapan regunya, seorang utusan elf mendekatinya dengan pesan.
"Sersan Ardan? Lady Elowen ingin bertemu denganmu, jika kau punya waktu."
Ardan mengikuti utusan itu ke sebuah area terpisah di kemah Sylvaris, tempat Elowen menunggu, kali ini mengenakan zirah ringan yang menandakan perannya bukan hanya sebagai diplomat, tapi juga sebagai salah satu pemimpin militer Sylvaris.
"Sersan sekarang," katanya, matanya menilai lencana baru di bahu Ardan. "Aku tidak terkejut."
"Lady Elowen. Aku tidak menyangka akan bertemu Anda lagi secepat ini."
"Dunia ini lebih kecil dari yang kita kira, terutama di masa perang." Elowen mengisyaratkan agar Ardan duduk di seberangnya, di atas batu besar yang berfungsi sebagai kursi sederhana. "Aku ingin tahu, apakah pertanyaanmu masih hidup? Tentang siapa yang sebenarnya mendorong perang ini?"
"Masih," jawab Ardan jujur. "Bahkan lebih kuat sekarang. Prajurit lain mulai menyebutkan hal-hal serupa—penasihat istana yang mendapat keuntungan dari perang berkepanjangan."
Elowen mengangguk pelan, ekspresinya serius. "Aku belum punya bukti konkret, Ardan, hanya kecurigaan yang dikumpulkan dari berbagai sumber selama bertahun-tahun. Tapi aku percaya ada kebenaran dalam kecurigaan itu. Perang jarang berlangsung selama dan seirasional ini tanpa seseorang yang mendapat keuntungan dari kekacauannya."
"Apa yang harus saya lakukan dengan informasi itu?"
"Untuk sekarang? Bertahan hidup. Lindungi orang-orangmu. Dan simpan mata serta telingamu tetap terbuka." Elowen menatap ke arah cakrawala, ke arah pertempuran yang menunggu di hari-hari mendatang.
"Kebenaran punya cara untuk muncul ke permukaan, Ardan, meski butuh waktu. Ketika saatnya tiba, aku percaya kau akan menjadi salah satu yang membantu mengungkapnya."
Ardan meninggalkan pertemuan itu dengan pikiran yang semakin berat, benih kecurigaan yang ditanam Elowen berbulan-bulan lalu kini mulai berakar lebih dalam.
Ia belum tahu ke mana jalan ini akan membawanya, tapi untuk pertama kalinya, ia mulai memahami bahwa perang yang ia perjuangkan mungkin memiliki lapisan-lapisan yang jauh lebih gelap daripada yang pernah ia bayangkan.