Olivia seorang penyanyi, karirnya semakin bersinar setelah mendapat warisan bros dari sang nenek yang dulunya juga seorang sinden terkenal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anindia Andin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kematian nek marni
sepulang Olivia dari rumah nek Marni.
malam setelah kepulangan Olivia, nek Marni tidur dikamarnya. tiba-tiba asap berwarna putih datang dikamar nek Marni. nek marni sudah cukup lama menikah dengan jin yang menikahi Olivia juga, nek Marni sudah hapal jika jin itu akan datang menghampiri dirinya. asap putih penutup semua tubuh nek Marni, nek Marni kesulitan untuk bernafas.
"dasar perempuan tua.. perempuan licik" suara berat seperti suara robot menggema di ruang kamar nek Marni "kamu mengajarkan cucumu untuk menghianati ku"
Nek marni tak bisa membuka mulutnya, asap putih itu seakan mencengkeram dia dengan kuat. nek marni hanya bisa melirik asap putih itu.
Tiba-tiba tubuh nek Marni di angkat tinggi hampir menyentuh langit-langit kamarnya.
"sudah saatnya semua akan di akhir makluk tak sempurna" kali ini nek marni berusaha dengan keras agar bisa berbicara. tubuh rentanya melambung tinggi di udara.
"rasakan pembalasanku nenek tua... " suara tak berbentuk rupa itu menghempaskan tubuh wanita renta itu jatuh di lantai kamarnya. tak cukup satu kali hempaskan dia lakukan, asap putih itu menghempaskan tubuh nek Marni berkali-kali ke dinding dan berakhir di lantai kamar.
darah segar keluar dari kepala, telinga, mulut dan hidung nek Marni. di kegelapan malam dan keheningan malam nek Marni meregang nyawa dengan cukup tragis yang tidak bisa di nalar secara akal manusia.
Keesokan harinya.
sore hari Tejo mendatangi rumah mek Marni seperti hari-hari biasanya. tejo mengetuk pintu kamar nek Marni berkali-kali tapi tidak ada jawaban, tejo mencium bau anyir keluar dari sela pintu kamar itu.
"tolong... tolong... " tejo keluar dari rumah mek Marni meminta pertolongan kepada tetangga di sekitar rumah nek Marni.
"ada apa jo?" beberapa orang menghampiri tejo yang berteriak minta tolong.
"tolong bantu aku untuk membuka kamar nek Marni" ucap tejo sambil berlari ke dalam rumah dan di ikuti oleh beberapa orang laki-laki.
tejo mendobrak pintu yang terbuat dari kayu jati berukiran itu. pintu keras yang mudah untuk di dobrak. dengan bantuan beberapa orang, akhirnya pintu kamar nek Marni berhasil terbuka.
Tejo dan beberapa orang melihat nek Marni tengkurap di lantai dengan kepala penuh darah. bau anyir menusuk hidung mereka. beberapa orang tidak tahan dengan bau anyir itu dan pergi karena mual.
"nek... nek Marni" tejo memberanikan diri untuk mendekati majikannya itu. tak ada sahutan dari nek Marni. tejo mendekatkan jarinya kearah hidung nek Marni.
"nek mari meninggal" ucap tejo pelan.
"nek Marni mati?"
"ngeri ya... lihat itu darah di dinding"
suara riuh dari beberapa orang yang datang melihat kematian nek Marni.
Dengan di bantu beberapa orang, tejo mengeluarkan tubuh tua renta itu, kini nek Marni benar-benar menunjukkan wajah yang sebenarnya, wajah tua, penuh dengan keriput. bukan tubuh yang segar seperti yang tejo dapati beberapa hari kemarin. tubuh nek Marni kelihatan sangat tua, seperti 100 tahun.
hiruk pikuk suara sumbang keluar dari setiap orang yang ingin melihat jasad nek Marni.
"Olivia... " tejo menghubungi Olivia
"iya mas?" Olivia yang sedang istirahat menerima panggilan telepon dari tejo
"nek Marni meninggal" ucap tejo dengan suara serak
"nenek meninggal?" Olivia tak percaya, kemarin dia masih berpamitan dengan neneknya, kini mendapatkan kabar jika nek Marni meninggal.
"siapa yang meninggal vi?" tanya ujang yang tak sengaja mendengarkan Olivia.
"nenek ku mas" jawab Olivia menutup telponnya. Olivia menghampiri dimas di ruang kerjanya. tanpa mengetuk pintu, Olivia masuk.
"mas aku mau pulang sekarang" ucap Olivia dengar suara bergetar.
"sekarang?" dimas sepontan melihat jam di tangannya "sekarang jam 10 malam sayang... kenapa mau pulang sekarang?"
"nenekku meninggal mas. aku harus pulang sekarang" Olivia menangis.
"aku antar"
"tapi sayang... apa kamu tidak akan mendapatkan masalah jika mengantarkan aku ke kampung?"
"sudah jangan di pikirkan" dimas beranjak dari tempat duduknya dan keluar bersama Olivia.
"mas kakok aku titip cafe ya. aku mau antar Olivia kekampung" dimas menghampiri kakok di belakang stage
"iya mas... Hati-hati via. maaf ndak bisa ikut" ucap kakok kepada Olivia yang tengah mengemasi kosmetik kedalam tasnya.
Olivia meninggalkan mobilnya di pelataran cafe itu.
"sis... nenek Olivia meninggal" dimas menghubungi Siska yang tengah tertidur pulas "kamu mau ikut?"
"ikut mas. jemput aku" seketika Siska terjaga dari tidurnya dan segera bersiap untuk pergi bersama Olivia dan dimas.
tak berapa lama mereka bertiga pergi ke kampung halaman nek Marni.
hampir subuh mereka sampai di rumah duka. di kediaman nek Marni tampak beberapa orang yang berjaga disana.
Olivia turun dari mobil yang mereka kendarai, masuk kedalam rumah nek Marni. tampak tejo dengan setia menunggu jasad nek Marni yang terbujur kaku.
"nek... " Olivia menangis dan berhambur memeluk tubuh itu. bau anyir tercium dari tubuh nek Marni.
"via... " tejo merangkul bahu Olivia.
"kenapa dengan nenek mas? kemarin masih Baik-baik saja" ucap Olivia terus memandang jasad yang sudah di kafani itu.
dimas dan Siska mendekati jasad nek Marni. tubuh Siska tiba-tiba merinding, ada hawa aneh disana.
"aku juga ndak tau kenapa nek Marni seperti ini vi" tejo menceritakan ketika dia menemukan nek Marni di kamarnya. Tejo mengajak Olivia masuk kedalam kamar nek Marni. di ikuti dimas dan Siska.
Olivia masuk kedalam kamar neneknya itu, seketika Olivia menutup mulutnya, matanya terbelalak melihat dinding banyak bercak darah. di lantai masih bau anyir walaupun sudah di bersihkan. Olivia menangis dengan kencang.
"sabar vi... " ucap dimas memeluk tubuh kekasihnya itu. dimas melihat apa yang Olivia lihat.
Siska penasaran apa yang membuat Olivia sampai histeris seperti itu, Siska ikut masuk kedalam kamar nek Marni.
Tiba-tiba
"ahhh... " tiba-tiba Siska berteriak sambil menutup telinganya.
"ahhh.... " Siska berteriak lagi. mengundang beberapa orang masuk menghampirinya.
"kamu kenapa sis?" dimas ikut panik dengan teriakan Siska sambil menutup telinganya.
Olivia yang menangis kini perhatiannya teralihkan kepada Siska.
siska di bawa dimas keluar dari kamar nek Marni. masih menutup telinganya, Siska berlari keluar rumah.
melihat ada yang tidak wajar, tejo menutup rapat kamar nek Marni.
"sis... kamu kenapa?" dimas dan Olivia mengikuti Siska sampai di luar rumah.
Olivia mengambilkan Siska segelas air putih. "tenang sis... kamu kenapa?" tanya Olivia.
"via.. dimas.... kamu ndak dengar lengkingan di kamar tadi?" ujar Siska bingung
"aku ndak dengar apa-apa sis" ucap dimas di ikuti anggukan oleh Olivia.
Siska berusaha mengatur nafasnya, nafasnya masih tersenggal.
"apa yang kamu dengar?" tiba-tiba tejo bertanya kepada siska.
"suara lengkingan sangat keras mas... telingaku sampai sakit. masak kalian semua ndak dengar?" ucap Siska memandang Olivia, dimas dan tejo secara bergantian. ketiganya menggelengkan kepala.
"ada apa ini mas?" ucap Olivia kepada tejo.
"aku ndak tau vi... nanti tanyakan kepada mbah sukir" jawab tejo.
tatapan Olivia kosong, duduk termenung di samping Siska.
"sayang... tenang... " dimas merengkuh tubuh kekasihnya itu, berusaha untuk menenangkannya.