Zemima dan Arsyad sudah menikah selama dua tahun. Selama itu pula pernikahan mereka baik-baik saja. Apalagi Arsyad juga selalu bersikap baik dan lembut sebagai suami.
Selama itu pula mereka belum di karuniai anak, dan Arsyad tak mempermasalahkan hal itu. Tapi berbeda dengan sang ibu yang menginginkan cucu dengan alasan Arsyad sudah mapan dan memiliki pekerjaan bagus. dia sudah harus punya keturunan.
Namun beberapa bulan terakhir, suaminya sering sekali ke rumah ibunya tanpa mengajak Zemima. Namun suatu hari, saat Arsyad tengah malam pergi diam-diam, Zemima mengikutinya. ternyata Arsyad pulang ke rumah ibunya dan di sambut wanita hamil.
Apa Zemima akan menghancurkan keluarga Arsyad yang sudah membohonginya? padahal pekerjaan bagus yang di dapat Arsyad tak lepas dari bantuan Zemima. Mereka tidak tahu kalau Zemima adalah pewaris tunggal perusahaan besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zemima 10
Suara mesin mobil Arsyad yang menderu di garasi pada pertengahan minggu kedua menjadi satu-satunya tanda bahwa pria itu masih hidup di rumah mereka. Hubungan yang baru saja menguji kehangatan itu perlahan kembali mendingin, tergerus oleh jeda, jarak, dan deretan alasan yang tak kunjung usai.
Arsyad tidak lagi pulang sore. Janji untuk meluangkan waktu berbalik menjadi rutinitas baru, koper yang selalu terbuka di sudut kamar, kemeja kerja yang menumpuk di keranjang cucian, dan ponsel yang makin sering berada dalam mode senyap dengan layar menghadap ke bawah.
Pagi itu, aroma kopi hitam memenuhi dapur. Zemima berdiri mengaduk cangkir seraya memperhatikan Arsyad yang terburu-buru mengancingkan lengan kemejanya. Matanya sembap, tanda kurang tidur.
"Mas berangkat sekarang? Bukannya jadwal penerbangan ke Surabaya baru jam sepuluh?" tanya Zemima pelan, meletakkan cangkir kopi di meja bar dapur.
Arsyad tak langsung menjawab. Tangannya cekatan meraih tas dokumen, lalu mengambil cangkir tanpa sempat menatap mata istrinya.
"Ada briefing mendadak dengan tim lapangan sebelum terbang, Dek. Mas nggak bisa terlambat. Proyek cabang ini sedang krusial-krusialnya," jawab Arsyad cepat, menyesap kopinya yang masih kepulan asap.
Zemima mendekat, merapikan kerah kemeja Arsyad yang sedikit terlipat.
"Ini sudah minggu ketiga Mas bolak-balik luar kota terus. Sabtunya juga cuma di rumah sebentar, habis itu rapat lagi via Zoom. Kamu bahkan belum sempat makan masakan rumah minggu ini, Mas."
Arsyad menghentikan gerakan tangannya, menghela napas pendek yang terdengar lelah. Ada usapan tipis di lengan Zemima, namun terkesan formal dan tergesa-gesa.
"Sabar ya, Sayang. Semua ini kan demi kita juga. Demi jabatan pimpinan cabang itu. Kalau posisi itu sudah di tangan Mas, keuangan kita benar-benar mengunci keamanan tingkat atas. Kamu nggak perlu pusing lagi memikirkan apa pun."
"Aku nggak pusing soal uang, Mas," potong Zemima lembut namun tegas. Tangannya turun dari kerah suaminya.
"Aku cuma merasa... kita makin jauh. Kata kamu kemunduran jadwal program kehamilan cuma tunda beberapa bulan, tapi jangankan ke dokter, ngobrol santai sepuluh menit tanpa dipotong telepon kantor saja sekarang susah."
Ponsel Arsyad di atas meja bergetar nyaring. Nama 'Pak Dimas - Dirut' tertera di layar. Arsyad langsung menyambarnya dengan cepat, seolah panggilan itu adalah pelampung di tengah lautan.
"Ya, Pak Dimas? Saya sudah siap berangkat ke bandara... Baik, berkas usulan proyek sudah saya bawa. Baik, Pak."
Arsyad mematikan panggilan, lalu menatap Zemima dengan tatapan bersalah yang terpasang secara mekanis.
"Mas harus jalan sekarang. Lalu lintas ke bandara sedang padat. Soal program hamil, kita bahas lagi kalau Mas pulang minggu depan, ya?"
Arsyad mengecup dahi Zemima kilat, sentuhan dingin yang nyaris tak terasa lalu menyeret kopernya keluar pintu. Suara pintu depan yang tertutup rapat menyisakan keheningan yang menyesakkan bagi Zemima.
Satu bulan berlalu, berubah menjadi dua bulan.
Komunikasi di antara mereka memburuk secara signifikan. Pesan singkat Zemima yang menanyakan kabar atau sekadar mengingatkan makan kerap baru dibalas lima hingga enam jam kemudian dengan jawaban singkat: "Masih rapat, Dek" atau "Baru mendarat, langsung ke hotel ya."
Malam itu, hujan deras mengguyur kota. Jarum jam dinding menunjuk angka satu dini hari ketika pintu utama terbuka. Zemima yang tertidur di sofa terbangun. Ia melihat Arsyad melangkah masuk dengan wajah sangat layu dan pakaian yang kusut.
Zemima bangkit, berjalan menghampiri suaminya untuk mengambil alih jas kerja yang dipegang pria itu.
"Mas baru sampai? Katanya pesawat mendarat jam sembilan malam tadi?" tanya Zemima.
Arsyad melepas sepatu dengan kasar, melangkah menuju kulkas tanpa menatap Zemima. Ia meneguk air dingin langsung dari botolnya.
"Macet total di tol. Ditambah lagi ada masalah teknis di vendor cabang yang bikin pusing," jawab Arsyad ketus, nada suaranya ketat oleh stres kerjaan.
"Mau aku panaskan sup? Kamu pasti belum makan malam," tawar Zemima, mencoba mengabaikan nada bicara Arsyad yang tidak bersahabat.
"Nggak usah. Mas nggak nafsu makan. Mas cuma mau tidur," tolak Arsyad dingin, berjalan melewati Zemima begitu saja menuju kamar mandi.
Zemima berdiri mematung di tengah remang ruang tengah. Hatinya berdenyut nyeri. Bukan cuma kehangatan yang hilang, tapi juga keterbukaan yang sempat Arsyad janjikan. Pria di hadapannya saat ini tampak asing, terlalu terobsesi pada ambisi, hingga menutup mata pada wanita yang memegang kunci dari seluruh keberhasilannya.
Beberapa hari kemudian, saat Arsyad sedang berada di luar kota lagi, Zemima duduk di ruang kerjanya sendiri di rumah. Di hadapannya, sebuah dokumen rahasia dari Holdings Company perusahaan induk yang membawahi cabang tempat Arsyad bekerja, terbentang rapi.
Telepon genggam Zemima berdering. Nama pengacara keluarga sekaligus jajaran direksi utama muncul di layar.
"Selamat siang, Bu Zemima," sapa suara di ujung telepon.
"Siang, Pak Hendra. Bagaimana perkembangan pengajuan proyek baru di cabang utara?" tanya Zemima dengan suara tenang, sangat berbeda dengan suaranya saat menjadi istri yang penurut di rumah.
"Semua berjalan sesuai rencana Anda, Bu. Pak Arsyad saat ini sedang berupaya keras memimpin proyek tersebut untuk memuluskan jalannya meraih posisi Pimpinan Perusahaan Cabang."
Zemima menyandarkan punggungnya di kursi kerja. Matanya menatap foto pernikahan mereka di dinding, di mana Arsyad tersenyum lebar memeluknya.
"Bagus," ujar Zemima pelan.
"Pastikan semua prosesnya berjalan lancar tanpa ada hambatan dari jajaran direksi lain."
"Baik, Bu Zemima. Tapi... apakah Pak Arsyad masih belum mengetahui bahwa seluruh saham mayoritas dan penentuan pimpinan anak perusahaan berada sepenuhnya di tangan Anda?"
Zemima tersenyum tipis, sebuah senyuman misterius yang menyimpan rahasia besar.
"Belum. Dia terlalu sibuk mengejar bayang-bayang jabatannya sendiri sampai lupa memperhatikan siapa yang sebenarnya memberi dia jalan." Zemima jeda sejenak, meraba perutnya yang masih rata dengan tatapan penuh kehangatan yang tertahan.
"Biarkan dia berjuang sedikit lagi. Kejutan manis baru akan sempurna kalau diberikan di titik tertinggi pencapaiannya nanti."
"Tentu, Bu. Kami akan menunggu instruksi Anda selanjutnya pada rapat pemegang saham bulan depan."
Panggilan terputus. Zemima menyesap teh hangatnya perlahan. Ia membiarkan Arsyad tenggelam dalam kesibukan dan ambisinya untuk sementara waktu, membiarkan pria itu percaya bahwa takdir dan kariernya murni hasil dari kerja kerasnya sendiri. Saat waktunya tiba, saat kehidupan baru hadir di antara mereka dan jabatan tertinggi itu berhasil diraih Arsyad Zemima akan membuka seluruh kartunya.