NovelToon NovelToon
Datang Untuk Membayar

Datang Untuk Membayar

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Horor / Iblis
Popularitas:295
Nilai: 5
Nama Author: ayaelsa

DATANG UNTUK MEMBAYAR

(Orang Mati Datang Membayar Janjinya)

"Tanggal delapan saya bayar, Cik..."

Maya berjanji melunasi utangnya tepat tanggal delapan. Lalu ia menghilang.

Hingga malam itu, pintu digedor. Maya berdiri di sana — menyerahkan uangnya.

Namun pagar terkunci rapat dari dalam. Dan kabar menyebut: Maya sudah meninggal dua minggu lalu.

Siapa yang baru saja membayar?



Tentang janji, kehormatan, dan sosok yang melintasi kematian demi menepati kata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25: GORESAN DI TIANG PAGAR

Sinar matahari sore hari Sabtu tanggal empat belas Oktober membias keemasan di permukaan teras.

Hawa hangat siang hari perlahan berganti tiupan angin sejuk yang berembus dari arah perbukitan selatan.

Suara burung gereja yang berkicau di dahan pohon mangga tua terdengar tenang di tengah suasana sore.

Deru mesin sepeda motor dinas kepolisian terdengar melaju perlahan dan berhenti tepat di depan halaman rumah.

Bripka Haryono turun dari sepeda motor bersama seorang petugas penyidik Polsek yang membawa koper sampel besi.

Pak RT dan Pak Wo melangkah mendampingi kedua petugas kepolisian tersebut menuju teras depan rumah kami.

Aku segera membukakan pintu pagar besi depan untuk menyambut kedatangan petugas kepolisian dan pengurus warga.

"Selamat sore, Bu Sari," sapa Bripka Haryono menganggukkan kepala secara sopan di ambang teras depan.

"Selamat sore, Pak Bripka, Pak RT, Pak Wo. Dherek pinarak lenggah teng teras rumiyin, Pak," sambutku ramah.

"Matur nuwun sanget, Bu Sari. Tadi siang Pak Wo melaporkan ada temuan goresan tanah merah di tiang pagar nggih?" tanya Bripka Haryono.

"Inggih, Pak Bripka. Pak Wo tadi siang pas melintas melihat goresan tanah merah basah di tiang kayu pagar pekarangan sebelah," terangku.

"Mari kita periksa lokasi tiang kayu pagar pekarangan kosong sebelah barat itu bersama-sama sekarang, Pak Bripka," ajak Pak Wo.

Bripka Haryono, petugas penyidik, Pak RT, dan Pak Wo berjalan menuju pekarangan kosong sebelah barat rumah.

Dini dan Ranti mengikutiku dari belakang, melangkah pelan di ubin semen koridor samping luar rumah kami.

Petugas penyidik Polsek mendekati tiang kayu pagar pekarangan kosong yang berjarak lima meter dari dinding luar.

Di permukaan kayu pagar yang kusam, sebaris goresan tanah merah basah membentang tipis sepanjang jari tangan.

Goresan tanah merah itu membiaskan kilau lembap yang belum mengering kaku di bawah paparan sinar matahari sore.

Petugas penyidik berjongkok, mengarahkan kamera ke tiang kayu pagar pekarangan luar tersebut.

Clek! Clek!

Lampu kilat kamera penyidik menyala dua kali, memotret goresan tanah merah yang menempel tipis di kayu.

Petugas penyidik mengikis sampel tanah merah itu menggunakan kuret stainless steel ke dalam wadah plastik.

"Goresan tanah merah di tiang pagar niki teksturnya masih agak basah dan berpasir kasar," terang petugas penyidik.

"Kandungan pasir gunung dan warna merah pekat pada goresan niki serupa dengan sampel tanah di galian tua," tambah penyidik.

"Apakah goresan niki menunjukkan ada bagian tubuh atau benda basah yang sempat tersenggol di kayu, Pak?" tanya Pak RT.

"Inggih, Pak RT. Tekanan goresan niki membentang miring, seolah ada material berkerak tanah yang menyapu tiang," jawab penyidik.

Bripka Haryono mencatat penjelasan teknis petugas penyidik ke dalam lembar formulir olah TKP kepolisian.

Garis raut wajah Bripka Haryono tampak makin sigap di bawah sinar matahari sore yang kian miring.

"Hasil sampel goresan niki bakal langsung kami bawa ke laboratorium Polsek sore niki buat analisis lanjutan," kata Bripka Haryono.

"Matur nuwun sanget atas penanganan dan pemeriksaan cepat dari tim Polsek, Pak Bripka," balasku lega menyimak penjelasan.

"Lalu pripun perkembangan tim penyisiran di kawasan sekitar tungku pembakaran kapur sore niki, Pak Bripka?" tanyaku mengejar kabar.

"Tim gabungan Polsek, Polres, dan petugas Perhutani sore niki sudah mengepung seluruh area tungku kapur," terang Bripka Haryono.

Dini dan Ranti yang berdiri di dekatku seketika menahan napas mendengarkan penjelasan resmi Bripka Haryono.

"Apakah tim penyisiran menemukan jejak baru di dekat tungku pembakaran kapur tua itu, Pak Bripka?" tanya Dini.

"Petugas bersama petugas Perhutani menemukan sisa abu pembakaran dingin dan serpihan serat goni basah," jawab Bripka Haryono.

"Jejak pijakan kaki berkerak tanah merah di sekitar tungku itu mengarah semakin tinggi ke kawasan lereng puncak bukit," tambah Bripka Haryono.

"Berarti posisi Rian makin terdesak naik mendekati lereng puncak bukit nggih, Pak Bripka?" tanya Pak RT.

"Inggih, Pak RT. Tim penyisiran sekarang mendirikan pos penjagaan tambahan di celah lereng atas bukit," jawab Bripka Haryono.

"Kami juga minta warga Linmas gang tetap siaga menjaga lingkungan selama pos ronda malam berjalan," pesan Bripka Haryono.

"Pasti, Pak Bripka. Kulo dan seluruh anggota Linmas warga siap bersiaga penuh keliling gang sepanjang malam niki," sahut Pak Wo mantap.

"Matur nuwun sanget atas kerja keras Bripka Haryono dan seluruh tim kepolisian," ucapku mengangguk hormat.

Bripka Haryono dan petugas penyidik merapikan koper peralatan sampel, lalu berjalan menuju kendaraan dinas di depan.

Bunyi klip besi koper penyidik terkatup rapat di udara sore yang mulai temaram di halaman.

Pak RT dan Pak Wo mengantar keberangkatan dua petugas kepolisian tersebut sampai ke pintu pagar besi depan.

Deru mesin sepeda motor dinas kepolisian terdengar menjauh, meninggalkan keheningan sore di halaman rumah kami.

Aku memutar anak kunci kuningan pintu depan dua putaran penuh setelah mengantar kepulangan pengurus warga.

Pukul lima sore lewat lima puluh menit, hawa dingin lereng gunung mulai turun menyelimuti perkampungan gang.

Langit senja membiaskan warna jingga keunguan di atas atap rumah-rumah warga perkampungan kami yang tenang.

Aroma asap kayu bakar dari dapur warga sekitar berembus tipis menyatu bersama tiupan angin malam.

Dini dan Ranti membantuku merapikan meja makan ruang tengah untuk makan malam keluarga sederhana.

Mangkuk porselen berisi sayur lodeh manisa hangat dan tempe goreng tersaji di atas meja kayu.

Uap gurih sayur lodeh membumbung halus di udara dapur, memberikan suasana hangat di dalam rumah.

Dini menyendokkan nasi hangat dan sayur lodeh ke piringku dengan gerakan lembut dan sangat telaten.

Ranti menata cangkir teh hangat di sebelah piring nasi, lalu mendudukkan diri di bangku kayu.

"Bu... kalau tim polisi sudah kepung area tungku kapur, Rian mboten bisa turun ke bawah nggih?" bisik Ranti.

"Iya, Ran. Petugas polisi dan petugas Perhutani menjaga sangat ketat seluruh celah lereng puncak bukit," jawabku menenangkan.

"Syukurlah... Pak Wo dan warga Linmas juga siaga keliling ronda malam nggih, Bu," ujar Dini menyendok nasi.

"Inggih, Din. Pengamanan dari warga gang kita malam niki pancen sangat ketat, teratur, dan sangat tanggap," balasku mengusap bahunya.

"Ibu merasa jauh lebih tenang karena polisi dan Linmas bekerja cepat menangani goresan pagar tadi," tambahku.

"Inggih, Bu. Ranti juga merasa jauh lebih aman kalau banyak warga Linmas yang keliling ronda di gang," sahut Ranti tersenyum.

Kami bertiga menikmati makan malam bersama dalam ketenangan meja makan keluarga kami yang hangat.

Pukul delapan malam lewat dua puluh menit, suasana jalan gang depan rumah kami terdengar ramai.

Suara langkah kaki warga Linmas dan ketukan kentungan kayu ronda malam terdengar teratur di kejauhan.

Tung... tung... tung...

Bunyi kentungan kayu ronda malam itu bergema halus, menandai kesiapsiagaan warga menjaga lingkungan gang.

Aku, Dini, dan Ranti duduk tenang di sofa ruang tengah sembari mendengarkan ketukan kentungan luar.

Lampu ruang tengah dan koridor samping kubiarkan menyala terang untuk menerangi setiap sudut rumah.

Pukul sembilan malam lewat lima belas menit, suara ketukan pelan kembali terdengar dari pintu teras depan.

Tok! Tok! Tok!

Suara ketukan tangan di daun pintu kayu depan membuat kami bertiga berdiri dari sofa kayu.

Aku melangkah mendekati pintu depan tanpa menggeser kunci selot besi bagian atas pintu teras.

"Sinten teng luar?" tanyaku penuh kewaspadaan dari balik daun pintu kayu yang tertutup rapat.

"Kulo, Bu Sari... Pak RT bersama Pak Wo," sahut suara Pak RT dengan nada tenang dari luar teras.

Aku menghela napas lega, segera memutar anak kunci kuningan dan menggeser selot besi dua kali.

Kreeek...

Daun pintu kayu terbuka perlahan, memperlihatkan Pak RT dan Pak Wo yang berdiri rapi di teras depan.

Pak Wo mengenakan seragam linmas cokelat tua, memegang lampu senter besar di tangan kirinya.

Pak RT membawa lembar papan jepit catatan ronda warga di bawah sinar lampu teras yang terang.

"Selamat malam, Pak RT, Pak Wo. Dherek pinarak teng teras, Pak," sambutku ramah membukakan pintu.

"Matur nuwun sanget, Bu Sari. Kami cuma mampir sebentar mau menyampaikan kabar perkembangan ronda," ujar Pak RT.

Pak RT dan Pak Wo mendudukkan diri di kursi rotan teras depan rumah kami.

Dini keluar membawa dua gelas air teh hangat, meletakkannya perlahan di atas meja kayu teras.

"Matur nuwun sanget, Mbak Dini," ucap Pak Wo tersenyum tipis menerima gelas dari Dini.

"Pak RT, wonten kabar baru dari tim penyisiran bukit malam niki nggih?" tanyaku mengejar informasi.

"Inggih, Bu Sari. Tadi pukul delapan malam Bripka Haryono memberi kabar lewat telepon ke pos ronda," terang Pak RT.

"Petugas pos penjagaan di lereng atas menemukan barang bukti baru di celah bebatuan puncak," ungkap Pak RT.

Dini dan Ranti yang berdiri di dekat pintu teras seketika menyimak dengan cermat penjelasan Pak RT.

"Barang bukti apa yang berhasil ditemukan petugas pos penjagaan di celah bebatuan puncak itu, Pak RT?" tanya Dini.

"Petugas menemukan potongan tali karung goni basah dan bekas ikatan sabut kelapa bernoda tanah merah," jawab Pak RT.

"Potongan tali goni basah itu bernoda tanah merah yang teksturnya sangat mirip dengan sampel di tiang pagar," tambah Pak RT.

"Berarti Rian memang bergerak naik melewati celah bebatuan puncak itu nggih, Pak RT?" tanya Pak Wo.

"Inggih, Pak Wo. Bripka Haryono memastikan penyisiran gabungan bakal berlanjut besok pagi di lereng puncak," jawab Pak RT.

Aku mengangguk-angguk pelan, mencerna informasi resmi kepolisian yang disampaikan Pak RT di teras depan.

Penemuan potongan tali goni di lereng atas membuat penyisiran kepolisian semakin terarah.

"Matur nuwun sanget atas informasi resminya dari Polsek, Pak RT. Kami bertiga merasa sangat tenang mendengar seluruh perkembangan niki," sahutku lega.

"Sami-sami, Bu Sari. Kami warga Linmas bakal terus keliling menjaga gang sampai fajar," pesan Pak Wo mantap.

"Pasti, Pak Wo. Tolong kalau ada hal mencurigakan sekecil apa pun langsung beri tahu kami nggih," balasku mengangguk.

Pak RT dan Pak Wo berpamitan, lalu melangkah keluar menyusuri jalan gang yang diterangi lampu ronda.

Aku dan Dini segera masuk ke dalam ruang tengah, memutar anak kunci kuningan pintu depan dua putaran penuh.

Pukul sepuluh malam lewat tiga puluh menit, hawa dingin malam makin pekat menembus celah ventilasi.

Aku, Dini, dan Ranti bersiap untuk tidur di kamar tidur utama demi menjaga keselamatan bersama.

Ganjal kursi kayu jati dipasang kencang di belakang pintu kamar utama setelah kunci kuningan diputar dua kali.

Di atas tempat tidur kamar utama, Dini dan Ranti berbaring merapat di bawah selimut tebal.

Suara langkah kaki warga Linmas yang sesekali melintas di jalan gang luar memberikan rasa aman.

"Bu... kalau potongan tali goni sudah ditemukan di lereng puncak, Rian pasti makin terdesak nggih?" bisik Ranti.

"Iya, Ran. Besok pagi tim gabungan polisi bakal menyisir seluruh lereng puncak bersama petugas Perhutani," jawabku pelan.

"Ibu bangga sama kalian berdua yang selalu tenang dan saling menguatkan di rumah," tambahku memegang tangan mereka.

"Inggih, Bu. Kami berdua di rumah juga bakal tetap sangat disiplin mengunci seluruh pintu rapat-rapat," janji Dini.

Kami bertiga membaca doa bersama dalam bisikan lembut sebelum memejamkan mata di kamar tidur utama.

Keheningan malam Minggu menyelimuti perkampungan gang kami dengan hawa dingin lereng gunung yang tenang.

Cahaya fajar hari Minggu tanggal lima belas Oktober membias perlahan menembus kaca jendela kamar.

Suara burung gereja berkicau riuh di dahan pohon mangga tua, menyambut fajar hangat yang damai.

Pukul enam pagi, aku memutar anak kunci kuningan kamar utama dan melangkah keluar menuju koridor samping.

Dini dan Ranti mengikutiku dari belakang, memandangi pintu samping yang masih tertutup ganjal kayu jati.

Ganjal kayu jati tebal di bawah pintu samping masih tertancap kokoh dan terkunci selot dari dalam.

Aku mendekati jendela kayu koridor samping, mengintip melalui celah kaca ke arah pasak terali selokan.

Garis kuning pita pengaman Polsek masih terikat kencang di tiang besi selokan koridor luar.

Di lekukan pasak besi terali selokan luar, sebutir biji tanaman liar kering tersangkut di lipatan kawat.

Biji tanaman liar itu berukuran sebesar ujung jari, terbungkus kerak tanah merah basah yang mengering kaku.

"Bu... coba lihat di pasak besi selokan luar itu, ada sebutir biji tanaman liar tersangkut di lipatan kawat!" bisik Dini menunjuk.

"Inggih, Din. Biji tanaman liar berkerak tanah merah itu tersangkut kencang di kawat pasak," sahutku menatap cermat.

Aku mempererat genggaman tanganku pada jemari Dini dan Ranti, memandangi biji tanaman liar di pasak besi.

Ganjal kayu jati di bawah pintu samping kupastikan tertancap makin dalam dan kencang di ambang semen dari dalam.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!