NovelToon NovelToon
PERMAISURIKU DARI ABAD KE-21

PERMAISURIKU DARI ABAD KE-21

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:978
Nilai: 5
Nama Author: Ve Love

Aku masuk ke dalam tubuh calon permaisuri sial dan terdampar di Kerajaan Langit. Di kepalaku, Sistem yang jatuh dari langit aktif!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ve Love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8 - HUJAN PERTAMA DI PAVILIUN MAWAR

Sudah tiga hari Pangeran Tirta Anantya tinggal di istana sebagai tamu.

Selama tiga hari itu, Paviliun Mawar ku tidak pernah sepi. Para selir, pelayan, bahkan beberapa menteri tua datang silih berganti. Bukan untuk menemuiku, tapi untuk menemui Pangeran Tirta yang sering duduk di teras paviliun ku sambil membaca buku.

Tentu saja, ada satu orang yang tidak suka dengan keramaian itu.

Kaisar Segara El-Bhumi.

Setiap kali dia lewat dan melihat teras paviliun ku penuh, rahangnya mengeras. Dia tidak pernah menegur, tapi sorenya, laporan kerajaan yang biasanya dia baca di teras ku, tiba-tiba dia baca di dalam paviliun ku, duduk tepat di antara aku dan Pangeran Tirta. Tanpa bicara, hanya membaca dengan tatapan dingin yang membuat Pangeran Tirta salah tingkah sendiri.

Mbok bilang, "Itu namanya cemburu yang tidak mau mengaku, Gusti."

Aku hanya tertawa. Rasanya lucu melihat Kaisar Tanpa Hati yang ditakuti satu kerajaan, cemburunya seperti anak SMA.

Sore ini, langit Kerajaan Langit mendung. Awan hitam menggantung rendah. Angin bertiup kencang membawa aroma tanah basah.

"Gusti, hujan akan turun besar. Mari masuk ke dalam, Gusti," kata Mbok sambil melipat jemuran.

Aku mengangguk dan masuk ke dalam. Dari jendela kaca baruku hadiah Sistem, aku bisa melihat Taman Mawar Putih yang bergoyang diterpa angin.

Lalu hujan turun.

Bukan hujan biasa. Hujan deras, sangat deras. Air turun seperti dicurahkan dari langit. Dalam sekejap, halaman paviliun yang biasanya bersih, berubah menjadi genangan lumpur cokelat.

Dan dari paviliun pelayan di belakang, terdengar suara jeritan.

"Gusti! Gusti Permaisuri! Air masuk ke paviliun pelayan! Kasur kami basah semua!"

Aku berlari ke jendela belakang. Benar saja, paviliun pelayan yang letaknya lebih rendah dari paviliun ku itu sudah kebanjiran setinggi mata kaki. Para pelayan perempuan muda panik mencoba menyelamatkan kasur dan baju mereka yang hanyut.

Selokan di istana ini ternyata sangat kecil dan tersumbat oleh daun mawar yang gugur. Air tidak mengalir.

Tanpa pikir panjang, aku mengangkat gaun biru langit ku setinggi lutut dan berlari keluar menerobos hujan.

"Gusti! Gusti jangan keluar! Nanti Gusti sakit!" teriak Mbok, tapi aku sudah berlari.

Hujan menghantam wajahku. Dingin. Gaun ku basah kuyup dalam sekejap. Rambutku yang disanggul rapi jadi berantakan dan menempel di wajah.

Aku sampai di paviliun pelayan. Airnya sudah setinggi betis. Para pelayan perempuan itu menangis melihat barang-barang mereka basah.

"Jangan panik! Semua ambil ember! Kita buat saluran air sementara!" teriakku.

Aku adalah mahasiswi Sejarah, tapi aku pernah ikut kerja bakti membersihkan selokan di kampus saat banjir. Aku tahu, air harus diberi jalan.

Aku mengambil sekop kecil dari gudang dan mulai menggali tanah di samping paviliun, membuat parit kecil menuju ke taman yang lebih rendah. Tanganku kotor penuh lumpur. Gaun biru langit hadiah Segara itu sudah penuh lumpur cokelat.

Para pelayan awalnya hanya menatapku dengan kaget. Permaisuri menggali tanah di tengah hujan? Tidak pernah terjadi di sejarah Kerajaan Langit.

Tapi melihatku tidak peduli kotor, mereka akhirnya ikut. Mereka mengambil sekop dan cangkul, ikut menggali parit bersamaku di bawah hujan deras.

"Kearah sini! Buat lebih dalam sedikit! Biar air mengalir cepat!" aku memberi arahan sambil terus menggali.

Setengah jam kami menggali di bawah hujan. Tubuh kami semua basah kuyup, kotor penuh lumpur. Tapi perlahan, air yang menggenang di paviliun pelayan mulai mengalir melalui parit kecil yang kami buat, menuju taman.

Genangan surut.

Para pelayan perempuan itu bersorak senang. Beberapa bahkan menangis haru sambil memelukku, tidak peduli gaun permaisuriku kotor.

"Terima kasih, Gusti Permaisuri... Tidak ada permaisuri yang mau kotor-kotoran bersama kami saat hujan seperti ini..." kata salah satu pelayan muda sambil menangis.

Aku tersenyum. Napasku terengah-engah. Wajahku penuh percikan lumpur.

Pada saat itulah, dari balik tirai hujan, aku melihat seseorang berdiri di teras Paviliun Mawar ku.

Kaisar Segara El-Bhumi.

Dia berdiri di sana dengan payung sutra hitam yang dipegang oleh pengawalnya. Jubah hitamnya tidak basah sama sekali. Wajahnya datar, tapi matanya menatapku yang sedang berdiri di tengah lumpur dengan gaun kotor penuh tanah, dengan tatapan yang sangat sulit diartikan.

Dia berjalan mendekatiku, menerobos hujan tanpa payung. Pengawalnya panik ingin memayunginya, tapi dia mengangkat tangan, menyuruh pengawalnya berhenti.

Dia berhenti tepat di depanku. Hujan membasahi rambut dan jubahnya. Air menetes dari ujung rambut hitamnya yang tergerai.

"Kau gila, Kahiyang?" tanyanya pelan. Suaranya hampir tidak terdengar karena derasnya hujan. "Gaun yang kuberikan kau buat main lumpur?"

Aku mengira dia akan marah. Memarahiku karena gaun biru langit kesayangannya kotor.

Tapi dia malah melepas jubah luarnya yang masih kering dan menyampirkannya ke bahuku yang basah kuyup dan menggigil.

Jubah itu hangat dan masih menyisakan aroma cendana miliknya.

"Kau permaisuri. Seharusnya kau memerintah pelayan untuk menggali, bukan menggali sendiri sampai seperti anak desa begini," katanya lagi, tapi kali ini suaranya tidak dingin. Ada nada... khawatir yang disembunyikan di sana.

Aku menatapnya. Air hujan menetes dari bulu matanya.

"Kalau aku hanya memerintah, mereka akan tetap kebanjiran, Gusti Kaisar. Kadang seorang pemimpin harus kotor dulu bersama rakyatnya, baru rakyatnya mau percaya," jawabku santai, dengan napas masih terengah.

Itu kalimat yang pernah dikatakan dosen Sejarah ku di abad ke-21.

Segara terdiam mendengar jawabanku. Dia menatap lumpur di tanganku, lalu menatap wajahku yang kotor tapi tersenyum.

Lalu, tanpa peduli lumpur, tanpa peduli hujan, tanpa peduli para pelayan yang melihat, dia mengulurkan tangannya dan mengusap sedikit lumpur di pipiku dengan ibu jarinya.

Gerakannya sangat lembut.

"Pemikiran dari keluarga Adiningrat lagi?" tanyanya pelan.

Aku mengangguk. "Warisan keluarga Adiningrat memang aneh-aneh, Gusti Kaisar."

Dia tidak menjawab. Dia hanya menarik jubahnya yang ada di bahuku agar lebih rapat, lalu menggandeng tanganku yang penuh lumpur itu dan menarikku kembali ke Paviliun Mawar di tengah hujan.

Para pelayan yang melihat itu langsung bersimpuh dan menunduk, tidak berani menatap. Tapi aku tahu, besok pagi, satu istana akan heboh dengan cerita "Kaisar Tanpa Hati menggandeng Permaisuri yang penuh lumpur di tengah hujan."

Di dalam paviliun, Mbok sudah menyiapkan air hangat dan handuk.

Segara melepaskan gandengannya. Dia menatapku yang masih basah kuyup.

"Mandi air hangat. Jangan sampai sakit. Jika kau sakit, siapa yang akan membuatkan parit lagi saat hujan berikutnya?" katanya dingin, tapi telinganya merah lagi.

Dia berbalik dan berjalan keluar, jubahnya basah kuyup karena hujan.

Di kepalaku, Sistem berbunyi pelan di tengah suara hujan.

[MISI KEMANUSIAAN: SELAMATKAN PAVILIUN PELAYAN DARI BANJIR - BERHASIL!]

[HADIAH: 1 PAK PEMBALUT ABAD 21 + BUKU PANDUAN DRAINASE SEDERHANA]

[KETERTARIKAN KAISAR SEGARA EL-BHUMI +10% - TOTAL 95%]

[STATUS: MULAI TAKUT KEHILANGAN]

Aku memeluk jubah hitamnya yang hangat itu. Jubah yang masih basah karena hujan, tapi hangat karena tubuhnya.

Hari ini memang hanya hujan pertama yang santai. Tapi rasanya ngena sekali. Karena untuk pertama kalinya, aku merasa istana yang dingin ini, sedikit demi sedikit, mulai terasa seperti rumah.

Bersambung..

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!