NovelToon NovelToon
Makam Keramat Panjang

Makam Keramat Panjang

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Horor / Kutukan
Popularitas:178
Nilai: 5
Nama Author: ayaelsa

Di balik utang yang mencekik, janji gaib menanti di atas bukit.

Terdesak tagihan, biaya sekolah tertunggak, dan ancaman penyitaan toko besok pagi, seorang ayah di ujung keputusasaan mendengar rahasia: tetangganya Pak Kasan mendadak kaya setelah mendatangi Simbah, juru kunci Makam Keramat Panjang.

Makam berukuran tak lazim di bukit itu konon memberi pinjaman tanpa bunga bagi yang terdesak. Tapi di dunia gaib, tak ada yang benar-benar gratis. Saat wangi pandan basah dan tanah kuburan mulai menyelimuti kamarnya, ia harus memilih sebelum subuh: seberapa mahal harga yang dibayar, saat yang dipertaruhkan bukan harta, melainkan nyawa sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20 — BAYANGAN DARI PUNCAK BUKIT

Kehidupan toko grosir kami di tepi desa kini telah mencapai puncak kejayaan yang sangat melimpah.

Setiap pagi, puluhan mobil bak terbuka milik pedagang kota berderet panjang mengantre di halaman rumah.

Aroma bau pandan basah dan wangi kamboja busuk masih saja tercium tipis dari balik karung-karung beras.

Aku berdiri di balik meja kasir kayu, melayani pembayaran warga dengan telapak tangan kiri yang cekatan.

Kerah kemeja leher tinggiku tetap terancing rapat, menyembunyikan sisik hitam gaib yang membeku di leher.

Sreeek!

Suara pintu pagar bambu depan halaman toko digeser kasar oleh rombongan pembeli grosir dari kota.

Pak Leksa bersama lima pedagang besar melangkah cepat mendekati meja kasir dengan raut wajah kaku.

“Selamat pagi, Pak Leksa, pagi sekali sudah datang membawa truk grosir ke toko saya,” sapaku tersenum ramah.

“Saya mau borong beras sepuluh ton sama minyak goreng seratus dus hari ini, Surya,” kata Pak Leksa datar.

“Suara bicaramu kok terdengar sangat berat dan kaku sekali hari ini, Pak Leksa?” tanyaku heran.

“Entah kenapa kalau sehari tidak belanja ke tokomu ini, pikiranku rasanya resah tidak tenang, Surya,” jawabnya.

“Padahal harga barang di kota lebih murah, tapi kakiku seperti diseret harus datang ke sini,” lanjut Pak Leksa.

“Mungkin ini karena tuah kualitas barang dagangan toko saya selalu terjaga kesegarannya, Pak,” kelitku.

Aku segera mencatat seluruh daftar pesanan grosir Pak Leksa di atas lembaran nota kertas kasir.

Pak Leksa menyerahkan tumpukan uang kertas merah nominal seratus ribuan dalam dua kantong plastik tebal.

Begitu jemari tangan kiriku tersenggol kantong plastik berisi uang kertas itu, rasa dingin menusuk tulang.

Noda hitam berbentuk batu nisan di bawah kuku ibu jari tangan kananku berdenyut-denyut kencang.

Hawa dingin membekukan merambat menyengat dari jempol tangan kanan menembus pergelangan hingga ke leher.

“Uang pembayaran dari Pak Leksa ini pas jumlahnya seratus juta rupiah,” kataku menghitung cepat.

Pak Leksa memandangi kerah kemeja leher tinggiku dengan pandangan mata yang sangat heran dan curiga.

“Kenapa lehermu selalu ditutupi kemeja tinggi dan perban tebal sepanjang hari, Surya?” tanya Pak Leksa.

“Leher saya cuma terkena alergi gatal-gatal kulit akibat debu goni karung beras, Pak,” kelitku berbohong.

Pak Leksa menyambar nota pembayaran itu, lalu menyuruh anak buahnya mengangkut karung beras ke truk.

Mesin truk raksasa itu meraung keras saat kendaraan itu berbalik arah meninggalkan halaman toko kami.

Ningsih melangkah keluar dari dalam rumah panggung membawa baki kayu berisi dua cangkir teh hangat.

Istriku kini memakai kalung emas tebal dan gelang mewah hasil keuntungan melimpah toko grosir kami.

Namun raut wajah Ningsih tetap terlihat sangat cemas dan muram setiap kali menatap kerah kemejaku.

“Mas... uang di dalam brankas lemari kamar kita sekarang sudah menumpuk puluhan juta rupiah,” bisik Ningsih.

“Tapi kenapa aura dingin di dalam kamar tidur kita makin hari makin menusuk tulang?” tanyanya cemas.

“Jangan terlalu banyak cemas, Ningsih, yang penting kebutuhan sekolah Dedek selalu tercukupi,” hiburku.

“Tolong bantu aku merapikan tumpukan nota pembayaran di atas meja kasir ini, Ningsih,” pintaku lembut.

Ningsih menghela napas panjang, lalu berjalan mendekati meja kasir kayu dengan langkah ragu-ragu.

Namun baru melangkah dua pijakan, Ningsih memekik kaget sambil menunjuk ke arah sudut meja kasir.

“Mas! Kenapa tumpukan uang kertas di dalam kotak kasir ini berembun air es?” jerit Ningsih gemetar.

Aku bergegas mendekati Ningsih, memperhatikan lembaran uang kertas merah di dalam kotak kayu kasir.

Seluruh permukaan uang kertas seratus ribuan itu tampak dilapisi oleh butiran embun es batu yang dingin.

Aroma wangi bunga kantil busuk dan bau tanah kuburan basah menguar pekat dari dalam kotak kasir.

“Ini cuma karena hawa embun pagi yang masih tebal di dalam toko kita, Ningsih,” jawabku berbohong.

“Tapi uang kertas di toko lain tidak pernah berembun es dan berbau bunga kamboja, Mas!” amuk Ningsih.

“Jangan membuat para pembeli panik, Ningsih, simpan saja uang itu ke dalam brankas,” potongku menyela.

Ningsih mengusap air mata kecemasannya, lalu memasukkan tumpukan uang dingin itu ke dalam kantong goni.

Ia bergegas berjalan masuk ke dalam rumah panggung dengan rasa takut yang sangat membakar dada.

Aku duduk sendirian di atas kursi kayu kasir toko, memandangi ibu jari tangan kananku yang dibalut.

Meskipun penyebaran sisik hitam di leherku telah terhenti kaku, penderitaan batin ini tak pernah usai.

Setiap kali aku bernapas, rasa dingin membekukan dari sisik hitam itu menusuk-nusuk persendian dadaku.

Srik!

Suara gersak dedaunan kering di samping halaman toko membuatku terkejut setengah mati dan berdiri.

Ujang melangkah keluar dari balik rimbunan pohon pisang liar dengan raut wajah sangat tegang tinggi.

“Surya! Apakah kamu merasai gejolak energi tuah pesugihan di tokomu hari ini?” tanya Ujang berbisik.

“Uang kertas di kotak kasirku mendadak berembun es dan berbau bunga kantil tebal, Jang,” jawabku pelan.

Ujang mendekatkan posisi berdirinya ke dekat telingaku, berbisik dengan nada suara yang sangat misterius.

“Itu tanda kalau tuah harta dari Makam Keramat Panjang sedang menuntut pembaharuan sajen!” tegas Ujang.

“Pembaharuan sajen apa lagi yang dituntut oleh penunggu makam itu, Jang?” tanyaku tegang dan cemas.

“Toko grosirmu sekarang sudah menjadi yang paling kaya di seluruh pelosok kabupaten, Mas,” jelas Ujang.

“Karena hartamu makin melimpah ruah, jadwal ritual Selasa Kliwon lusa dinaikkan tingkatnya!” tambah Ujang.

Darahku terasa membeku seketika mendengarkan penetapan jadwal ritual baru yang disampaikan oleh Ujang.

“Sajen apa lagi yang wajib kuserahkan ke puncak bukit Selasa Kliwon lusa, Jang?” tanyaku pasrah.

“Kamu wajib membawa tujuh ekor ayam cemani hitam mulus dan tujuh liter minyak mawar!” tegas Ujang.

“Tujuh ekor ayam cemani hitam mulus dan tujuh liter minyak mawar?” tanyaku dengan suara tercekat.

“Iya, Mas! Sajen tujuh ekor ayam cemani itu adalah bukti pengikat kejayaan tokomu tahap empat!”

“Di mana aku bisa mendapatkan tujuh ekor ayam cemani hitam mulus dalam waktu singkat, Jang?” tanyaku panik.

“Simbah sudah menyiapkan tujuh ekor ayam cemani itu di rumahnya di dalam hutan bambu, Mas,” jawab Ujang.

“Kamu cuma perlu menyerahkan uang lima belas juta rupiah buat biaya pembelian ayam itu,” tambahnya.

“Apakah uang hasil penjualan toko grosir ini boleh dipakai buat membayar ayam itu, Jang?” tanyaku.

“Tentu saja boleh, Mas, uang itu memang hasil pemberian tuah Makam Keramat Panjang!” tegas Ujang.

“Ingat baik-baik, jangan pernah mencoba menunda atau membatalkan sajen tujuh ayam ini!” ancam Ujang.

“Kalau kamu alpa... segel sisik hitam di lehermu akan jebol menelan seluruh mukamu!” ancamnya keras.

Aku menelan ludah yang terasa sangat pahit dan menyiksa tenggorokan mendengarkan ancaman Ujang.

“Baiklah, Jang, aku pasti akan menyerahkan uang lima belas juta rupiah itu sore ini,” janji pasrahku.

“Baguslah kalau kamu paham, siapkan uangnya dan temui Simbah sore ini di hutan bambu!” pesan Ujang.

Ujang menepuk bahuku keras, lalu berbalik melangkah jalan menuju kendaraan sepeda motornya.

Deru mesin motornya meraung pelan sebelum akhirnya menghilang ditelan keheningan sore perkampungan.

Siang harinya, Dedek pulang sekolah dengan wajah gembira, melompat-lompat menaiki tangga teras rumah.

“Bapak! Lihat nilai ujian Matematika Dedek dapat angka seratus hari ini!” seru Dedek gembira.

“Anak pintar... Bapak bangga sekali sama kamu, sayang,” puji ku merangkulnya dengan tangan kiri.

“Terima kasih ya, Bapak, sudah membelikan Dedek sepeda baru dan tas sekolah bagus!” seru Dedek.

“Sama-sama, sayang, yang penting Dedek rajin belajar dan selalu patuh pada Ibu,” jawabku lembut.

Dedek tersenum lebar gembira, lalu berlari masuk ke dalam kamar tidur buat berganti pakaian sekolah.

Aku memandangi kepolosan wajah anak kandungku dengan derai air mata keharuan yang ditahan erat.

Demi keselamatan dan kebahagiaan anak inilah, aku rela menanggung siksaan sisik hitam gaib di raga.

Sore harinya pukul lima tepat, aku memacu sepeda motor tua menuju rumah panggung Simbah di hutan bambu.

Aku membawa kantong goni berisi lima belas juta rupiah tunai hasil penjualan toko grosir kami.

Suara raungan mesin motor tua saya memecah keheningan hutan bambu yang gelap dan sangat lembap.

Setibanya di halaman rumah panggung Simbah, aroma bau kemenyan dan melati busuk menyengat pekat.

Simbah duduk bersila di atas lantai kayu teras rumah panggungnya, menghisap rokok klembak menyan.

“Kamu datang membawa uang lima belas juta rupiah buat sajen tujuh ayam cemani itu, Surya?” tanya Simbah.

Suara bicara Simbah terdengar sangat serak berat, bagaikan gesekan dua batu nisan tua di pekuburan.

“Saya datang membawa uang lima belas juta rupiah utuh buat biaya sajen tujuh ayam, Mbah,” sahutku.

Aku menyerahkan kantong goni berisi tumpukan uang kertas merah ke atas lantai kayu teras.

Simbah merogoh tumpukan uang kertas dingin itu dengan jemarinya yang keriput dan berkuku hitam.

“Uang hasil tuah Makam Keramat Panjang ini sangat melimpah memadati tokomu, Surya,” kata Simbah.

“Tapi sisik hitam di lehermu terasa dingin membeku menahan rasa sakit kan?” tebak Simbah.

Aku terperanjat kaget, tidak sanggup membantah tebakan tepat yang keluar dari bibir Simbah.

“Apakah sisik hitam di leher saya ini akan aman selama saya mematuhi jadwal ritual, Mbah?” tanyaku.

Simbah terkekeh pelan, sebuah tawa serak mengerikan yang mengeluarkan asap menyan dari mulutnya.

“Sisik hitam itu adalah baju keabadianmu sebagai abdi penunggu Makam Keramat Panjang, Surya!” kata Simbah.

“Selama kamu rajin membawa sajen tujuh ayam cemani, jiwamu aman di rumahku!” tegasnya.

Darahku terasa membeku seketika mendengarkan penegasan syarat gaib dari mulut juru kunci tua itu.

“Tugasmu Selasa Kliwon lusa adalah menyembelih tujuh ayam cemani itu di atas nisan!” perintah Simbah.

“Bawalah tujuh liter minyak mawar segar dan sembelih ayam itu tepat tengah malam!” tambahnya.

“Kalau kamu alpa satu detik saja... segel sisik hitam itu merambat menelan mukamu!” ancam Simbah.

Aku menundukkan kepala dalam-dalam, menerima takdir pahit yang kini telah mencengkeram ragaku.

“Saya janji akan datang menuntaskan penyembelihan tujuh ayam cemani itu Selasa Kliwon lusa, Mbah,” pasrahku.

“Baguslah kalau kamu paham, pulanglah sekarang sebelum kegelapan hutan menelan jiwamu!” perintah Simbah.

Aku berdiri melangkah turun meniti tangga kayu rumah panggung Simbah dengan tubuh gemetar lemas.

Aku memacu sepeda motor tua menyusuri jalanan tanah hutan bambu menuju rumah panggung kami.

Sesampainya di rumah, aku memarkir motor di bawah pohon mangga dan melangkah masuk ke teras.

Ningsih sedang duduk di atas tikar pandan ruang tengah sambil melipat pakaian bersih Dedek.

Istriku memandangi kedatanganku dengan mata yang sembap, menyimpan duka spiritual yang amat dalam.

“Mas... apakah kamu baru saja pergi menemui Simbah di dalam hutan bambu itu?” tanya Ningsih berbisik.

“Iya, Ningsih, aku baru saja menyerahkan uang biaya sajen tujuh ayam cemani buat lusa,” jawabku pelan.

Ningsih memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan air matanya mengalir deras membasahi pipinya.

“Sampai kapan kita harus hidup dalam cengkeraman ketakutan sajen iblis ini, Mas?” rintih Ningsih.

“Sampai ragaku hancur menjadi tanah, Ningsih... demi keselamatan kalian berdua,” jawabku jujur terisak.

Ningsih memeluk erat tubuhku, menangis histeris di atas dadaku dengan kepasrahan yang teramat sangat.

Aku membalas pelukan Ningsih dengan derai air mata keharuan dan tekad yang makin terpatri bulat.

Malam harinya, angin dingin bertiup sangat kencang menggoyangkan pelepah pohon pisang di samping rumah.

Gumpalan awan hitam pekat menutup rapat pendar sinar rembulan di atas atap rumah panggung kami.

Dedek dan Ningsih telah tertidur lelap di dalam kamar tidur dengan lampu minyak yang dimatikan.

Aku duduk sendirian di atas kursi kayu teras depan, mengusap kerah kemeja leher tinggiku.

Di dalam kegelapan malam, sisik hitam di leher kanan saya memancarkan pendar cahaya kebiruan redup.

Aroma bau tanah kuburan basah dan kamboja busuk menguar pekat dari pori-pori sisik hitam di leherku.

Rasa nyeri membekukan menusuk-nusuk persendian leherku, seolah ada jarum-jarum es yang menancap abadi.

Suara bisikan gaib mendesis halus mendadak bergema sangat dekat di samping daun telinga kiriku.

“Selasa Kliwon... tujuh ayam cemanimu sudah menunggu di nisanku, Surya...” bisik suara gaib itu.

“Sembelih leher ayam-ayam itu... atau sisik hitamku menelan mukamu malam nanti...” ancam suara itu.

Aku memejamkan mata rapat-rapat, menggenggam erat telapak tangan kananku hingga terasa sakit.

Perjanjian berdarah di Makam Keramat Panjang kini telah merayap masuk membungkus jiwaku.

Hari Selasa Kliwon penetapan sajen tujuh ayam cemani di puncak bukit kini tinggal menghitung hari.

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!