Alvierra Zea Khanza atau biasa dipanggil Zea rela menjadi gubernur demi mewujudkan impian sang nenek. Tapi sejak menjabat, berbagai teror dan ancaman mulai mengincarnya.
Demi keselamatan Zea, sang kakek mengirim seorang pengawal pribadi bernama Sagara Arya, kapten dingin yang ternyata menyimpan misi rahasia yaitu membunuh Zea.
Sayangnya, menghadapi gubernur yang bar-bar, keras kepala, tetapi begitu tulus mencintai rakyatnya membuat Kapten Sagara perlahan melupakan misinya.
Di antara ancaman, rahasia, dan perasaan yang tak seharusnya tumbuh, sang kapten justru jatuh cinta kepada perempuan yang seharusnya menjadi targetnya.
Ketika tugas dan cinta berada di dua sisi yang berlawanan, akankah Sagara memilih perintah atau melindungi perempuan yang telah mencuri hatinya?
Yuk stay tune ya. Yang gak suka silakan skip.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melindungi
Warga langsung terdiam dengan wajah terkejut melihat Zea memukul.
Intan langsung tersenyum lebar. “Zea hajar mereka semua. Kasih paham kalau gubernur kita bukan kaleng-kaleng.”
Zea tidak menjawab karena dua orang lain sudah bergerak ke arahnya.
Ia menghindari serangan pertama dan menahan serangan berikutnya, lalu memberikan dorongan kuat hingga pria tersebut mundur beberapa langkah.
“Gampang itu,” jawab Zea santai.
Sagara yang melihatnya hanya bisa menghela napas. “Gampang?”
“Kenapa?”
“Tidak ada apa-apanya yang normal dari Anda.”
Zea menyeringai. “Terima kasih.”
“Itu bukan pujian.”
Di sisi lain, para kepala desa dan Pak Lurah mulai kehilangan senyum mereka. Mereka tidak menyangka gubernur yang selama ini mereka anggap hanya wanita muda dari keluarga kaya ternyata mampu menghadapi orang-orang yang mereka bawa sendiri.
“Bagaimana mungkin?” gumam salah seorang kepala desa.
Pak Lurah juga tampak pucat. “Dia ... bisa bela diri?”
Para warga yang selama ini bungkam karena ketakutan mulai memberanikan diri mengintip dari tempat persembunyian mereka.
Mereka melihat Zea dan Sagara berdiri berdampingan menghadapi jumlah orang yang jauh lebih banyak. Tidak ada lagi gubernur yang hanya dikenal lewat layar televisi di hadapan mereka, melainkan seorang pemimpin yang memilih tetap berdiri ketika rakyatnya ketakutan.
Zea melirik Sagara. “Kapten.”
“Ya?”
“Masih sanggup?”
Sagara menatap puluhan orang di depan mereka, kemudian kembali menatap Zea. “Saya seharusnya yang bertanya begitu kepada Anda.”
Zea tersenyum percaya diri. “Saya baik-baik saja.”
Sagara menghela napas. “Saya sudah menduga.”
Keduanya kembali mengambil posisi.
Zea dan Sagara yang semula berdiri bersebelahan kini tanpa sadar saling membelakangi, masing-masing menjaga arah yang berbeda.
“Jangan lengah,” ujar Sagara singkat.
Zea mengangguk. “Aku juga tidak berniat lengah.”
Kali ini tidak ada lagi candaan di antara mereka. Dari sorot mata para pria di hadapan mereka, Zea dan Sagara tahu bahwa kelompok itu benar-benar berniat mencelakai mereka.
Beberapa pria maju bersamaan. Zea langsung menangkis serangan yang datang dari depan, kemudian bergerak cepat menghindari serangan berikutnya.
“Jangan ganggu gubernur kami!” teriak salah seorang warga dari kejauhan.
Zea tidak sempat menjawab. Perhatiannya sepenuhnya tertuju kepada para pria yang terus menyerang.
Sementara itu, Sagara menghadapi beberapa orang sekaligus. Gerakannya tetap terukur, tetapi kali ini jauh lebih serius daripada sebelumnya.
Seorang pria mencoba menyerang Zea dari samping. Zea segera berbalik dan menangkisnya, lalu membuat pria itu kehilangan keseimbangan.
Bugh!
Mereka kembali bergerak tanpa banyak bicara. Tanpa disadari, setiap kali salah satu dari mereka berada dalam posisi sulit, yang lain akan segera bergerak untuk menutup celah.
Beberapa warga yang menyaksikan dari kejauhan mulai menyadari hal tersebut. Zea dan Sagara bahkan tidak perlu saling memberi aba-aba karena gerakan mereka seolah sudah saling menyesuaikan.
Saat Zea sedang fokus menghadapi dua pria di depannya, salah seorang preman yang berada agak jauh diam-diam merogoh bagian belakang celananya.
Sebuah badik terlihat di tangannya. Pria itu menatap Zea yang sedang membelakanginya. Ia kemudian bergerak cepat mengangkat senjata tersebut.
“Zea! Awas!” teriak Intan dengan suara panik.
Zea langsung menoleh. Matanya membesar ketika melihat pria itu sudah berada tidak jauh darinya.
Tapi ebelum Zea sempat bergerak, Sagara langsung menerobos ke hadapannya.
“Kapten!”
Sagara berhasil melindungi Zea, tetapi lengannya terkena sabetan senjata tersebut. Beberapa warga langsung menjerit melihat kejadian itu.
“Sa–gara!”
Zea langsung berbalik dan menatap lengan Sagara dengan wajah terkejut. “Anda tidak apa-apa?”
Sagara hanya menggeleng. “Tidak apa-apa.”
“Kau terluka!”
“Saya masih bisa berdiri.”
Zea hendak mengatakan sesuatu, tetapi Sagara sudah kembali menatap pria yang memegang badik tersebut.
Tatapannya berubah dingin.
Pria itu bahkan belum sempat mengangkat senjatanya kembali ketika Sagara bergerak cepat. Dalam satu gerakan terukur, ia berhasil menjatuhkan pria tersebut hingga tidak sadarkan diri.
Zea terdiam beberapa saat.
Sagara kemudian berdiri kembali. “Jangan lengah.”
Zea mengangguk. “Baik.”
Para preman lainnya kembali mencoba menyerang, tetapi kali ini mereka mulai kehilangan keberanian.
Dengan bantuan Zea dan Sagara, kelompok tersebut akhirnya satu per satu berhasil dilumpuhkan hingga tidak ada lagi yang mampu berdiri.
Beberapa warga keluar perlahan dari tempat persembunyian mereka.
“Sudah selesai?” tanya seorang warga dengan suara ragu.
Zea mengatur napas lalu mengangguk. “Sudah.”
Tepat saat itu, suara sirene polisi terdengar semakin jelas dari arah jalan utama.
Pak Lurah dan para perangkat desa yang sejak tadi berada di belakang langsung saling pandang.
“Kita pergi!” bisik salah seorang kepala desa.
Mereka mulai bergerak mundur secara diam-diam.
Intan yang melihat gerakan mereka langsung berkacak pinggang. “Oh, kalian mau kabur, heh?”
Mereka berhenti.
“Tidak bisa!”
Intan melihat sebuah batang pohon pisang yang tumbang tidak jauh dari tempatnya berdiri. Tanpa banyak berpikir, ia menariknya dan melemparkannya ke arah mereka.
“Ini!”
Bugh!
Brak!
Batang pohon itu jatuh melintang di depan mereka. Pak Lurah dan beberapa perangkat desa yang berusaha melewatinya kehilangan keseimbangan dan jatuh beramai-ramai.
Intan tersenyum puas. “Nah, duduk dulu di situ.”
“Kurang ajar!” teriak Pak Lurah.
Intan menunjuknya. “Diam! Polisi sebentar lagi datang.”
Tidak lama kemudian beberapa mobil polisi memasuki halaman desa. Para petugas langsung turun dan mengamankan para preman yang sudah tidak berdaya, kemudian memborgol Pak Lurah, kepala desa, serta perangkat desa yang terlibat setelah memastikan situasinya terkendali.
Warga yang selama ini ketakutan akhirnya mulai berani keluar dari rumah mereka. Beberapa dari mereka bahkan mengucapkan terima kasih kepada Zea karena berani datang dan membongkar masalah yang selama ini mereka takut ungkapkan.
Zea tidak terlalu memedulikan ucapan mereka. Matanya justru tertuju pada lengan Sagara.
“Tanganmu luka,” katanya.
Sagara melihat lengannya sekilas. “Tidak parah.”
“Tidak parah bagaimana? Ada luka begitu!”
“Saya masih bisa bergerak.”
“Ya ampun, Kapten Es Batu, keras kepala sekali!”
Sagara hanya diam.
Zea kemudian menunjuk mobil salah seorang staf. “Ayo kita ke puskesmas terdekat. Lukanya harus diperiksa dan dijahit kalau memang perlu.”
“Saya bisa mengurusnya nanti.”
“Tidak.”
Sagara menoleh.
Zea menatapnya tegas. “Sekarang.”
Sagara menghela napas. “Baik.”
Zea kemudian berjalan lebih dulu sambil menarik tangan Sagara agar mengikutinya. Tanpa sadar, gadis itu malah menggandeng tangan sang kapten dengan erat.
Sagara langsung terdiam.
Ada sensasi aneh yang tiba-tiba menjalar di tubuhnya, seperti sengatan listrik singkat yang membuat langkahnya sempat tertahan.
Zea tidak menyadarinya sama sekali. “Cepat, Kapten. Jangan sampai lukanya tambah parah.”
Sagara menatap tangan mereka yang masih bergandengan, lalu mengalihkan pandangannya ke depan. “Saya bisa berjalan sendiri, Bu.”
“Bisa, tapi saya takut kamu malah kabur ke markas.”
“Saya tidak akan kabur.”
“Bagus.”
Zea tetap menggandengnya.
Sagara akhirnya memilih diam. Untuk pertama kalinya ia merasa, luka di lengannya bukanlah hal yang paling mengganggu pikirannya. Justru genggaman tangan Zea yang membuat pikirannya terasa jauh lebih sulit dikendalikan.
pimter sekali mereka bikin si kanebo kereing mati kutu
mau bilang apa lagi coba hadeh
hadeh mulai deh ngeles nya